Her Glamour Heels

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 3 March 2018

Apa yang akan kalian pikirkan bila mendengar kata heels dan berlian?. Pasti di khayalan kalian akan tergambar sebuah sepatu hak tinggi mewah dengan harga selangit. Itu pasti, tetapi bagiku, yang terpikirkan adalah DIA.

“owh ayolah Chatrine. Stop it, kamu kira uang Daddy dengan enaknya diambil dari pohon apa?. Sepatu yang baru saja sehari kau beli kini akan mendapat pengganti?.” Tanya daddy melihatku yang sudah siap ke Mall mencari sepatu.

Oh well, kenalkan. Namaku Ariana Chatrine si dewi penggila sepatu. Sudah hampir sepuluh lemari penuh berisi sepatuku. Yang ada di pikiranku hanyalah, sepatu-sepatu-sepatu. Hidupkuku dedikasikan pada sepatu. Oh, juga pada anak-anak didikku di sekolah.

“yes dad. Aku harus beli sneakers untuk acara penggalangan dana bantuan sekolah rimba tahun ini.” Keluhku.
“nope. Sneakers yang daddy bawakan dari Italy kan masih ada. Tak usah membeli lagi.”

“daddy…, masa mau ke penggalangan dana pakai sepatu made in Italy. Apa kata orang-orang nantinya.”
“ya sudahlah. Dasar kau dewi maniak sepatu.”
Aku tertawa. “bye dad. Love you.”

Setelah siap-siap dan pamit pada ayah, aku pergi menuju salah satu toko sepatu favoritku.
“sudah pak, di sini saja.” Ucapku pada pengemudi taksi dan segera menyerahkan beberapa uang tunai padanya.

Aku tengah bersedia menyeberang jalan menuju toko yang memang posisinya berada di seberang jalan. Belum sempat aku melewati zebra cross tersebut, tetapi…
“AWAASSS!!!.” Teriakku dan segera berlari menuju anak kecil berseragam sekolah yang nyaris menabrak sebuah mobil di hadapannya. Seketika aktivitas di sekitar jalan raya itu terhenti.

“dek, kamu nggak apa-apa?.” Tanyaku. Anak itu mengangguk.
“permisi, mbak dan adeknya gak apa-apa kan?.” Tiba-tiba suara bariton seorang lelaki terdengar. Aku menoleh mengadahkan kepala ke arah sang empunya suara.
Di sana, berdiri seorang pria tampan berjas warna biru navy dengan dasi berwarna senada. Wajahnya benar-benar menampakkan maha karya Tuhan yang sempurna!.

Sedetik…
Dua detik…
Tiga detik…
Oh God!!, Chatrine…!! jangan terpesona dulu…!!!.

“Heh, Kau!. Apa kau fikir jalanan ini milik nenek moyangmu?. Bisa-bisanya kau seenaknya jalan tanpa melihat keadaan sekitar!!.” bentakku pada pemuda itu.
“maafkan aku. Aku sedang terburu-buru.”
“terserah. minggir!!.”
Aku segera menggandeg anak kecil di sebelahku dan segera pergi dari situ.

Tplakk…
Tpllakk…
Aneh, aku menoleh ke arah kakiku setelah berada di seberang. Dan kalian tahu, heelsku patah!. Heels seharga satu juta tiga ratus berwarna pink baby milikku sekarang telah patah.
Daddy… My shoes…!!!!

“yah, bagaimana ini?.” Gumamku pelan.
“ada apa?.” Lelaki yang tadi tiba-tiba datang dan bertanya padaku. Aku hanya menunjukkan high heelsku yang patah ke arahnya.
“heelsmu patah?.” tanyanya. aku mendengus kesal. Bukankah ia sudah melihatnya, kenapa bertanya?!.
“tunggu sebentar.” ucapnya.

Setelah 5 menit, lelaki itu datang kembali sembari membawa sepasang heels yang sangat mewah. Heels tersebut berwarna putih dengan beberapa aksen mutiara pink di sana. Tampak mewah dan elegant. Aku berdecak kagum karena itu adalah heels terglamour yang pernah aku lihat.

“silahkan dicoba, semoga muat.” Ucapnya sambil menyerahkan heels itu padaku. Dengan perlahan, aku mencoba sepatu cantik tersebut. Syukurlah, sepatu tersebut muat di kakiku.
“ya Tuhan…” lelaki itu langsung terperanjat kaget dan melihat ke arahku dengan tatapan tak percaya.
“apa ini cukup di kakimu?.” Tanyanya dengan suara bergetar. Aku mengangguk.

Laki-laki tampan itu berdiri, diulurkannya tangannya padaku. “siapa namamu?.”
“Ariana Chatrine.”
“kau cantik.” Tukasnya meninggalkanku. Dan juga meninggalkan heels itu.

Aku langsung merebahkan diriku setibanya di rumah. Keinginan untuk berburu sepatu hari ini musnah seketika karena pemusatan pikiranku pada si pria misterius dan sepatu mewahnya. Aku kembali melirik ke arah heels berwarna putih itu. Ah, zaman sekarang mana ada orang dengan cuma-cuma memberikanku heels mahal tersebut.
“Neikhalegies.” Aku mengeja label di salah satu sepatu tersebut.

Kuraih ponselku yang berada di atas nakas meja dan segera mencari kata tersebut. Aku makin terperanjat kaget. Bagaimana tidak, sepatu yang ada di hadapanku ini adalah sepatu milik keluarga Eigar yang hanya satu dan turun-temurun dari generasi ke generasi. Terus, lelaki yang tampan tadi itu adalah, Gabrieel Eigar?!!. pewaris selanjutnya Group Eigar yang kaya raya itu.
Astaga…, apa yang harus kulakukan…?.

Dan di sinilah aku, di dalam mobil si Gabrieel itu. Entah apa yang membuat ia datang pagi-pagi buta ke rumahku dan menyuruhku untuk ikut dengannya.

“kita mau ke mana?.” Tanyaku.
“kau akan tahu nanti.” Jawabnya tenang.

“apa rasanya sakit mengenakan heels itu?.”
“tidak, ini heels ternyaman yang pernah kupakai.” Aku tersenym senang sembari melihat ke arah bawah, dimana di sana ada sepasang high heels cantik yang menggantung di kedua kaki jenjangku. Dari ekor penglihatan mataku, kudapati Gabrieel yang juga ikut tersenyum.

“kita di mana ini?.” Tanyaku saat kami tiba di sebuah rumah megah. Wah, istana negara saja mungkin kalah luasnya dengan rumah ini.
“ayo masuk.” jawab Gabrieel. Ia langsung memegang pinggangku. Merangkul posesif yang mebuatku risih.
“hei..!!!.” aku mencoba melepaskan tauntan tangannya di pinggangku.
“ssttt…, ayo.”

Kami pun memasuki rumah megah tersebut. Setelah itu, kami disambut oleh beberapa pelayan dan petugas keamanan. Wah, sekarang aku percaya bahwa sepatu ini benar-benar milik keluarga Eigar.

“ke mana ibu?.” Gabrieel buka suara kepada salah-satu pengawal berjas hitam.
“anda ditunggu di ruang keluarga.” Jawab pengawal tersebut. Dengan santainya, laki-laki di sampingku melangkah maju dengan posisi masih merengkuh posesif pinggangku.

“wait, apa kita akan bertemu keluargamu?.”
“yes.”
“tapi kenapa?. Apa karena heels ini?. Baiklah, akan kukembalikan.” Aku hendak melepaskan heels mewah yang tengah kugunakan itu, namun Gabrieel mencegahnya.
“jangan pernah dilepas. Kau benar-benar orang yang pantas untuk mengenakan high heels tersebut.” Aku hanya mengangguk pasrah.

“ibu.., nenek. Ini dia orangnya.” Gabrieel mengenalkanku pada ibunya dan neneknya. Nenek Gabrieel langsung bangkit dan menghampiriku.
“astaga.., cucuku. Akhirnya kau menemukannya juga.” Nenek itu langsung memelukku.
“kau benar-benar dapat memakai heels itu?.” Tanya ibunya Gabrieel.
“ya, nyonya. Sepatu ini nyaman sekali.” Kataku. Ia langsung melihat ke arah kakiku.

“Dialah orangnya, el. Nona cantik, siapa namamu dan apa pekerjaanmu?. Berapa umurmu?”
“namaku Ariana Chatrine. Saat ini aku menjadi seorang guru IPA di sebuah sekolah dasar. Usiaku sekarang 24 tahun.”
“sungguh menantu idaman. Cantik, pintar, dan hatimu pasti baik. Kau memang cocok bersanding dengan putraku.” Kemudian ibunya Gabrieel ikut memelukku sambil tersenyum senang.
Menantu?. Apa maksudnya?.

“aahh…, ibu, bisakah aku mengajak Chatrine jalan-jalan sebentar?.” Tanya Gabrieel.
“kau ini, el. Tak bisakah kau meninggalkan calon pengantinmu itu dengan kami sebentar. Aku masih ingin mengenal gadis cantik ini.” sahut si nenek.

Gabrieel pun mengajakku untuk ikut dengannya. Rumah ini benar-benar luas sekali. Kata Gabrieel kami akan pergi ke taman belakang rumahnya, tapi sampai sekarang belum sampai juga.

“apa maksudnya dengan calon pengantin?.” tanyaku setelah kami duduk di bangku taman belakang. Hufth, aku lelah sekali setelah menempuh jarak yang jauh untuk sampai di sini.
“heels itu.”
Hah?!. Aku menyegritkan dahiku.
“heels yang kau pakai adalah heels kutukan keluarga Eigar. Setiap pewaris keluarga ini hanya bisa menikahi wanita yang mampu mengenakan heels itu. Memang ukurannya pasaran. Tetapi, hanya wanita berhati baik, jujur, dan bersih lah yang mampu memakainya.” Terang Gabrieel. Aku tertegun, merasa ini seperti cerita cinderella saja.

“tapi apa kutukannya?.”
“itu tadi. Seberapa cintanya kau pada wanita, bila wanita itu tidak dapat mengenkan high heels mewah itu, maka ia akan dicampakkan oleh si wanita.”
“terus?.”
“yah, untungnya aku tak pernah dekat dengan seorang wanita pun. Mangkanya aku masih sendiri di umurku yang ke 28 tahun ini. Sungguh berat dan panjang untuk dapat menemukanmu Chatrine.” Gabrieel kemudian berjongkok di bawahku.

“hei, Chatrine. Sepertinya aku jatuh hati padamu?. Maukah kau menikah denganku, calon pengantinku?.” Tanyanya. Oh God, apa ia melamarku sekarang?.
“kau…?. tapi…”
“tak apa. Kita akan selalu bahagia bersama dan saling mencintai. Percayalah padaku Chatrine.” Gabrieel mengecup singkat punggung tanganku.
“yes, i will.” Jawabku malu-malu.

“baiklah nyonya Eigar. Ayo masuk, kita makan siang.” Kami pun segera beranjak pergi dari tempat itu.
“terimakasih karena kau orangnya.” Katanya lembut.
“terimakasih juga Gabriel Eigar. Terimakasih karena dirimu dan sepatu glamourmu. Oh, mungkin sekarang adalah my glamour heels. Terimakasih. Terimakasih banyak.” Ucapku dalam hati.
Kami sama-sama tersenyum. Membiarkan Tuhan mengatur dan menumbuhkan cinta dalam diriku dan Gabrieel. Kami pasti akan bahagia. Hari-hari yang bahagia!!.

Cerpen Karangan: Putri Syahrani
Facebook: Putri Syahrani Putte
ini merupakan cerita kedua saya, Cerita pertama dengan judul ‘salah ngasih bikin jatuh hati’. Cerita pertama saya juga telah tersedia di wattpad dengan judul yang sama. Silahkan mengunjungi akun saya @tempeorek_23 untuk membaca cerita-cerita saya yang lain. Nah, tolong dong di share dan tag akun FB saya, ‘Putri Syahrani Putte’ bila kalian ingin cerita ini juga di buat dalam versi panjangnya di wattpad.
Regards, Putri Syahrani.

putri syahrani memiliki sejumlah cerita dan cerpen yang dapat kalian baca. berbagi cerita di wattpad dengan akun @tempeorek_23
sedang merevisi salah satu ceritanya untuk diterbitkan.

Cerpen Her Glamour Heels merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pencuri Hati

Oleh:
Seperti biasa, Renia sibuk mempersiapkan roti-roti yang akan dipajang di etalase coffeshop tempat ia bekerja. Hampir tiga bulan lamanya Renia bekerja disana dan selama itu pula ia dipercaya oleh

Secantik Sakura

Oleh:
Terik mentari menyambut jiwa yang bangkit dari tidur malamnya. Seperti biasa diceknya hp sebelum pergi ke kamar mandi dan seperti biasa pula pasti ada sms dari kekasihnya, “Selamat pagi,

Reboisasi Hati

Oleh:
Namaku Kevin, aku lahir dari keluarga yang sangat kaya. Sejak kecil aku dimanjakan dengan berbagai kemewahan. Bahkan terlalu dimanjakan di rumah, aku tak pernah ingin tahu dunia luar. Yang

Cemburu

Oleh:
Aku sulit mengerti kenapa dia selalu menjadi daya tarik bagi setiap wanita yang ada di dekatnya. Aku tidak habis pikir, atau entah aku cemburu… — Setiap hari ada saja

Aku Rindu

Oleh:
Terima kasih atas janji yang selalu kau tepati untuk selalu pulang dengan keadaan baik-baik saja. Terima kasih atas senyum yang selalu kau perlihatkan saat kepulanganmu itu. Aku selalu menyukai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *