Hot Bread Factory

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 27 June 2015

Ku terus berjalan menelusuri dinginnya udara malam. Cardigan yang saat ini aku gunakan kurasa kurang bisa menutupi udara dingin malam ini. Tak lupa juga kugunakan penutup kepala berbentuk minion untuk mungkin bisa menghangatkan sedikit tubuhku. Sesekali kuadukan kedua tanganku untuk mengurangi udara dingin yang terasa sangat menusuk kulit. Tujuanku saat ini adalah ‘Hot Bread Factory’ sebuah toko roti yang akhir-akhir sering ku kunjungi. Tentu kalian tahu apa yang akan saya lakukan di toko roti, yang pasti aku akan membeli roti. Tapi selain tujuan utamaku membeli roti ada tujuan lain yang aku lakukan dengan mengunjungi toko roti tersebut. Kalian pasti sedang menebak-nebak apa yang aku lakukan ke toko roti selain akan memberi roti. Menumpang gratis Wi-Fi? Tidak mungkin aku harus menerobos kejamnya suasana dingin hanya untuk menumpang internetan. Sekedar ingin jalan-jalan? Tidak mungkin aku hanya sekedar jalan-jalan malam ini, bukankah aku sudah bilang sejak awal bahwa aku akhir-akhir ini sering mengunjungi toko roti tersebut.

“Selamat datang di Hot Bread Factory” sapa seorang pelayan dengan ramah.
Tanpa kusadari sekarang aku telah berada di toko roti ini. Mungkin aku terlalu asik menceritakan kunjunganku malam ini. Apa kalian masih menebak-nebak tujuan lain aku kesini? Baiklah aku akan memberi tahu kalian apa tujuan lainku datang ke toko ini. Tapi kalian harus berjanji tidak akan memberi tahu ini ke siapapun. Ingat ya, setelah aku memberi tahu ini kalian tidak akan memberi tahukan siapapun. Tujuan lain aku datang kesini yaitu… aku jadi malu menceritakannya. Maaf aku telah mengulur waktu, baiklah aku akan beri tahu. Tujuan lain aku datang kesini adalah hmm… karena aku secara ‘tidak sengaja’ jatuh cinta pada seorang pria yang bekerja di tempat ini. Tolong garis bawahi kata tidak sengaja yang tadi aku ucapkan. Memang aku jatuh cinta pada pelayan tersebut secara tidak sengaja. Aku mungkin tidak akan menceritakan mengapa aku bisa ‘tidak sengaja’ jatuh cinta pada pria tersebut. Apa? Kalian ingin dengar ceritaku? Tapi kurasa aku tidak bisa menceritakannya. Kalian sungguh ingin dengar? Baiklah aku akan menceritakannya jika kalian memaksa.

Kejadian ini terjadi beberapa hari yang lalu. Sebenarnya aku juga tidak menyangka akan bertemu dengannya saat itu. Udara dingin tengah mencoba merasuki pakaian hangat yang aku gunakan saat itu, mungkin bukan hanya pakaianku tetapi pakaian orang yang sama denganku juga tidak lepas dari kejaran udara dingin. Sekarang aku tengah menunggu bus yang menuju daerah tempat tinggalku datang. Sudah hampir setengah jam aku menunggu di tengah dinginnya udara malam ini. Mungkin jika aku menunggu satu jam lagi aku yakin bahwa tubuhku tidak bisa dikenali sebagai manusia, melainkan sebagai patung es karena tubuhku telah beku dinginnya udara malam ini. Sesekali aku elus perutku karena merasakan cacing-cacing di perutku tengah berontak ingin segera diberi makan. Kulangkahkan kakiku mencari tempat yang menjual makanan di dekat halte ini. Kucium wangi roti matang yang membuat cacing-cacing di perutku berontak lebih parah. Ku langkahkan kakiku mengikuti wangi roti tersebut. Sampailah aku di sebuah toko roti di pinggir kota. Terlihat dari luar suasana di dalam toko roti tersebut sangat ramai. Segera kubuka pintu toko tersebut namun sebelum aku menyentuh gagang pintu tersebut sebuah tangan mendahului tanganku membuka pintu tersebut. Kuangkat kepalaku hanya untuk sekedar melihat wajah dari pemilik tangan itu, pemilik tangan itu tersenyum dengan sangat lebar. Kemudian ia berkata “Selamat datang di Hot Bread Factory”. Ku anggukkan kepala untuk mengisyaratkan aku berterima kasih padanya.

Jajaran roti yang tersusun rapih di etalase tempat roti berjajar kulihat dengan senyum mengembang. Bagaikan melihat Oscar di tengah gurun pasir. Berjalan menuju etalase tersebut dengan langkah perlahan. Bagaikan semua gerakan yang aku lakukan bergerak dengan gerak lambat. Tiba-tiba dari sisi sebelah kanan seorang pria yang berjalan dengan terburu-buru. Tanpa memperhatikan keadaan toko yang sedang ramai pria itu terus menerobos jalan. Saat dia melewati depanku kaki pria tersebut tersangkut dengan kakinya sendiri. Tentu kalian bisa dibayangkan seluruh makanan dan kopi yang dibawa pria tersebut jatuh tepat di depan tubuhku. Tubuhku yang tersenggol ikut oleng dan sekarang tubuhku jatuh dengan rasa panas di tanganku. Kuangkat kepalaku untuk melihat pria pelaku tersebut, saat kuangkat kepalaku pria tersebut sudah tidak ada lagi depanku. Sekarang ia telah pergi menuju pintu keluar toko roti ini.

Sebuah tangan kekar menyangga tubuhku dari belakang, segera tangan kekar itu membangunkanku. Kutengokan kepala ke belakang dan kulihat ternyata pemilik tangan itu sama dengan pemilik tangan yang tadi ku lihat saat membuka pintu toko roti ini. Dengan muka cemas pemilik tangan itu, -mungkin aku akan memanggilnya pelayan saja agar tidak susah menceritakannya- dengan muka cemas pelayan itu memandang tanganku yang kini tengah memerah karena terkena cairan panas dari kopi yang tadi dijatuhkan oleh pria sialan yang tidak bertanggung jawab itu.

Dituntun aku menuju ruang yang tertulis di depannya terdapat tulisan ‘Ruang Karyawan’. Dengan cekatan ia membukakan pintu dan mendorongku agar duduk. Mengambil kotak P3K dengan hati-hati ia mengolesi salep ke tanganku. Mukaku bingung karena aku diperlakukan seperti ini olehnya. Seperti menangkap raut wajahku pelayan itu segera berkata “Aku tidak bermaksud lain, aku hanya ingin mengobati tanganmu yang terkena kopi itu” tidak lupa sekaligus memasang senyuman andalannya. Dengan canggung aku pun segera berterima kasih padanya. Setelah mengobati tanganku ia memulai dengan berkenalan denganku dan awal perkenalan ku dengannya itu membuat kami terbawa suasana. Dan semenjak pertemuan itu aku jadi merasa bahwa aku ‘tidak sengaja’ jatuh cinta padanya.

Cukup ya ceritaku, aku jadi malu menceritakannya pada kalian. Nah itu awal aku jatuh cinta padanya, ingat ya jangan menceritakan ini pada siapapun. Aku rasa aku sudah terlalu banyak bercerita pada kalian. Maaf ya karena ceritaku terlalu panjang hehehe.. Sekarang aku mengantri membeli roti dulu ya, setelah itu pasti kalian tau kan apa yang akan aku lakukan selanjutnya.

Cerpen Karangan: Rizki Maulana
Blog: rimaula98.blogspot.com
Nama saya Rizki Maulana. Saya siswa kelas 10. Saya sekolah di SMKN 1 Kota Bekasi

Cerpen Hot Bread Factory merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hmm

Oleh:
Itu judul aneh yak? Eh begini sebenarnya mau curhat sih tentang bagaimana akhirnya aku bertemu dia. Aseek.. Pertama-tama yang paling utama, aku “sendiri” masih sekolah, terus sekolahnya agak jauh

Cinta di Ujung Senja

Oleh:
Ia selalu usil dan menggangguku. Membuatku kesal saja. Huft! Tapi kenapa setiap kali ia tak datang ke sekolah, aku merasa ada yang kurang. Anak yang nakal, tapi kenapa bikin

Tertabrak Cinta Bintang

Oleh:
Setelah jam kuliahku selesai aku berjalan ke luar kelas dan melihat jam tanganku, waktu menunjukkan pukul 09:15 pagi. karena masih pagi akhirnya kuputuskan menuju taman kampus, untuk menunggu sahabat

Hanya Sebuah Angin

Oleh:
Matahari menyinari halaman sekolah yang dipenuhi para siswa. Mereka akan segera melaksanakan upacara sekaligus pengumuman para juara dalam Lomba Pionering yang berlangsung dua hari yang lalu. Upacara berlangsung dengan

Kejora (Part 1)

Oleh:
Semuanya berawal dari kisah cinta sepasang anak manusia di bangku sekolah, sekolah menengah pertama lebih tepatnya. Namaku Zion dan aku ingin sedikit menceritakan sepenggal kenangan yang masih tersimpan rapi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Hot Bread Factory”

  1. Fitri A.R says:

    Cerpennya bagus..
    tapi.. menurut aku sih itu oase bukan oscar…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *