Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sejati
Lolos moderasi pada: 16 August 2017

“zal… bangun zal!!!” seorang wanita yang rambutnya telah memutih mengguncang-guncang tubuhku. Baru sekitar 15 menit yang lalu mataku terpejam, dan sekarang dipaksa bangun.
“iya… kenapa eyang?” jawabku dengan mata tertutup rapat.
“tolong jemput Gendis di bandara, sopir eyang sakit. Gendis mau ke sini, bentar lagi pesawatnya mendarat.” Mendengar nama Gendis kantukku menguap, aku langsung mengambil posisi duduk,
“Gendis? Dia mau ke sini eyang?” tanyaku memastikan pendengaranku masih normal
“iya… dia mau kuliah di sini, cepetan jemput dia, kasian cucu eyang kalau harus nunggu lama.” Aku langsung beranjak menyambar jaket dan kunci motor, tanpa pikir panjang aku langsung menuju bandara. Tak kuhiraukan lagi suara eyang yang memanggil-manggil namaku, dalam benakku saat ini adalah bertemu Gendis, Seperti apa dia sekarang? Masih ingatkah dia denganku? Kalau tidak salah sudah hampir 10 tahun aku tidak bertemu dengannya.

Gendis adalah temanku waktu kecil, dia 2 tahun lebih muda dariku, rumah kita sebelahan. Sayangnya setelah lulus SD dia bersama orangtuanya pindah kesumatra.

Sudah sekitar 2 jam aku mengitari bandara, baru kusesali betapa bodohnya aku, kenapa tadi aku tidak membawa ponsel atau apalah yang sekiranya membuatku mudah mencari Gendis. Mataku terus memilah satu persatu orang yang aku temui,
“Rizal…” ku menoleh ke sumber suara, seorang gadis membawa ransel berjalan ke arahku. Tak salah lagi, itu Gendis. Jantungku berdetak sangat cepat.
“Rizal kan?” tanyanya,
“Yuuuup” jawabku, gadis itu langsung memelukku.
“Kenapa kamu tumbuh begitu baik?” katanya sambil melepas tangan yang melingkar di leherku dan tersenyum manis.
“Hahahaa… haruskah aku sepertimu? Gagal tumbuh. Seingatku dulu tinggimu juga segini.” Jawabku sekenanya.
“Nyebelin, tinggiku sudah nambah dari terakhir kita ketemu. Ayo pulang.”

Kita berjalan keluar bandara, hujan menyambut kami.
“Kita nunggu reda dulu ya?” kataku.
“Langsung aja, sekalian hujan-hujan.” Katanya antusias.
“Ya udah kamu tunggu di sini, biar aku ambil motor dulu.” Sebenarnya aku nggak suka kehujanan, tapi aku ngak tega menolak keinginannya. Naasnya di bagasi motorku nggak ada jas hujan, aku lupa membawanya. Terpaksa basah kuyup sampe rumah. Kusamperin Gendis, kulepas jaketku, memang ku tak suka dingin tapi aku lebih tak suka melihatnya kedinginan.
Selama perjalanan pulang kita saling diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Baru pertama aku merasa hujan begitu indah.

“Rizal…” suara bunda dari bawah memekakkan telinga,
“Iya Bunda… Kenapa?” teriakku tak bergemih dari balik selimut,
Tok… Tok… Tok…
“Masuk bunda, nggak dikunci” kataku, eh… tapi nggak biasanya bunda ketuk pintu sebelum masuk kamar, kusibakkan selimutku, ternyata Gendis di ambang pintu membawa nampan berisi makanan, segelas air putih dan obat. Dia tersenyum kemudian raut mukanya berubah
“Maaf zal, aku lupa kalau kamu alergi dingin,” Katanya dengan muka tertunduk
“Sudahlah, mana makananku? Keburu laper nih.” Jawabku, dia berjalan keranjangku, kuambil posisi duduk yang pas,
“Nih… kata bunda harus dihabisin.”
“Kata bunda apa kata Gendis?” tanyaku mencoba mencairkan suasana, kulihat raut wajahnya masih merasa bersalah.
“Iihhh… Besok temeni Gendis daftar kuliah ya?”
“Mau kuliah jurusan apa?” tanyaku dengan mulut penuh makanan.
“Sastra bahasa, kamu kuliah jurusan apa zal?”
“Teknik komputer.” Dalam hati aku berharap bisa satu kampus dengannya tapi sepertinya tidak mungkin, kampusku tidak ada jurusan sastra.
“Gimana? Bisa nggak?” tanyanya memastikan
“Siap, setelah itu temeni jalan-jalan ya?”
“Okee, ke candi ya? Udah lama nggak liat candi.”
“Iya … terserah kamu aja.”
“Kalau begitu makan yang banyak, terus minum obat biar cepet sembuh. Kan nggak lucu cewek cantik jalan-jalan sama cowok penuh dengan bentol-bentol. Hahaha.” Tak ada yang berubah dari seorang Gendis, dia masih seperti dulu, begitu menggemaskan.

Meski kita beda Universitas tapi tiada hari yang kulewati tanpa Gendis, dari hanya ngobrol biasa di teras sampai jalan-jalan keluar, entah kenapa Jogja jauh lebih indah sejak dia kembali di sini. Dan anehnya sekarang aku menyukai hujan, entah sengaja maupun tidak terkadang aku dan Gendis hujan-hujanan. Mungkin terdengar aneh dua remaja usang main hujan-hujan, tapi kami menyukainya, walaupun setelah itu kami harus mendengar bunda dan eyang ngomel, atau aku yang harus menelan obat alergi.

Malam ini hujan, aku dan Gendis duduk di teras rumahnya. Gendis bercerita tentang banyak hal, tapi kemudian kita sama-sama terdiam.
”Gendis?” kataku, membuka kembali percakapan
“Ya?”
“Kenapa kamu suka hujan?”
“Entah, seru aja. Keliatannya kamu juga suka hujan, kenapa?”
“Karena kamu.” Kata yang keluar begitu mulus, seketika itu juga aku menyesali apa yang aku katakan, kita kembali terjebak hening.

Pukul 9 malam aku baru pulang dari rumah teman. Kulihat bunda dan eyang duduk di teras rumah eyang, tumben Gendis tak ada, biasa tiga wanita beda generasi itu selalu kompak. Bunda memanggilku, kuberjalan gontai ke arah mereka, kulihat muka mereka cemas,
“Rizal, Gendis belum pulang kuliah, kamu cari dia ya.” Kata bunda,
“Sepertinya bentar lagi mau hujan, tolong cari dia.” Sambung eyang,
“Iya, Rizal pamit.” Tanpa berkata lagi aku langsung mengambil motorku dan kembali menyisiri jalan. Butiran air mulai turun membuatku mulai cemas, walau biasanya Gendis suka hujan-hujan tapi ini terlalu larut untuk hujan-hujan. Di persimpangan jalan kampus Gendis, aku melihatnya berjalan sendiri, perasaanku lega.
Bbbrraaaaaaaaak…

Kubuka mataku, kulihat atap, ini bukan kamarku, aku di mana? Kenapa seluruh tubuhku terasa sakit dan kaki tak bisa digerakkan. Kulihat sekelilingku, Bunda memeluk Gendis yang tengah terisak, eyang, kakak-kakakku, kakak-kakak iparku, dan ayah menatapku sedih. Semua bungkam. Kemudian ayah tersenyum parau,

“Bagaimana keadaanmu nak?” tanya ayah,
“Ayah aku kenapa?” timpalku,
“Kemarin kamu kecelakaan dan sekarang kamu lumpuh.” Kata bunda lirih, semua kembali gelap.
Kubuka mataku, kini di kamar ini hanya ada Gendis yang mentapku sedih.
“Kamu sudah sadar?” tanyanya, tapi aku hanya diam.
“Boleh aku minta sesuatu?”
“Apa?”
“Bolehkah aku menjadi kekasihmu?” sebuah pertanyaan yang dari dulu ingin kutanyakan padanya, tapi kini pertanyaan itu seperti membunuhku
“Jangan katakan itu karena kamu merasa iba padaku, aku tak apa-apa,”
Gendis menatapku semakin dalam, mata coklatnya kembali menangis. Dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya, sebuah kalung. Kalung yang kuberi sebelum dia pergi.

“ingat ini? Kalung ini selalu kubawa ke manapun aku pergi, aku kembali kesini bukan hanya karena eyang ataupun kuliah, tapi juga karena kamu, tak sehari pun kulewati tanpa merindukanmu tak peduli sekarang kakimu lumpuh, bahkan jika seluruh tubuhmu yang lumpuh aku akan tetap mencintaimu.” Dunia yang dua jam lalu kupikir mati bersemi dengan seketika, semua akan mudah jika dia ada di sisiku.
“Tapi setelah ini kita tak bisa berjalan di bawah hujan bersama” kataku dengan tersenyum. Dia beranjak memelukku dan berbisik
“Tak apa. Kita bisa menikmatinya di teras.”

Cerpen Karangan: Siti Muyasaroh
Facebook: Siti Muyasaroh

Cerpen Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bumerang Emas Penghias Hatiku

Oleh:
Ketika Aku tahu bahwa Dia menghubungiku, entah mengapa Aku merasa batin ini melompat kegirangan. Ya, walaupun hanya melalui seluler yang kini menjadi salah satu teman terbaikku. “Selamat malam, Mita.

Karena Hujan

Oleh:
Hujan turun lagi membasahi langit langit rumahku. Kali ini hujanya deras. Jalanan terlihat sepi. Hanya percikan percikan air yang kini dapat kulihat. Awalnya hujan sangat menyebalkan bagiku. Tidak bisa

Pangeran Mimpi

Oleh:
Tetesan air langit kini tiada lagi berhamburan ke bumi. Sang raja cahaya kini mulai menampakkan dirinya yang tersipu malu, terhalang oleh mega. Di balik celah-celah batuan terjal kaki gunung

Hujan Disaat Valentine

Oleh:
Biasanya di bawah tangisan langit aku dan dia bermain air disini. Tapi sekarang entah kenapa aku benci dengan tangisan itu. Melihatnya saja aku tak mau apalagi menyentuhnya. Sekarang terasa

Teman Yang Kucinta

Oleh:
Bagaimana caranya, jika aku mengalah, tapi sebenarnya ku masih cinta. Bagaimana caranya, ku ingin pergi, tapi sebenarnya ku tak bisa meninggalkanmu. Berdiri pun takkan mampu, melawan rasa yang kaku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *