Hujan Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 28 January 2016

Hari Minggu adalah hari saatnya aku latihan dance bersama timku untuk tampil di salah satu acara festival besar Jejepangan. Musim hujan melanda kota kami. Hampir setiap sore, hujan turun membanjiri kota ini. Namun, beberapa wilayah di kota ini terkadang tak tersentuh hujan, hanya dihampiri awan mendung dan pekat. Saat itu, aku juga berencana bertemu pacarku, namanya Daemi namun aku lebih suka memanggilnya Dam. Jadi, sebelum latihan kami memutuskan untuk bertemu dan berbincang-bincang melepas rindu karena kami jarang bisa bertemu.

Sesampainya di sebuah tempat di mana kami berencana bertemu, hujan tiba-tiba mengguyur dengan deras. Karena Daemi masih dalam perjalanan menuju ke sini, aku berlari mencari tempat berteduh tepatnya di tempat pemberhentian bus. Menunggu dan menunggu sambil melayangkan lamunan pada titik-titik air hujan, akhirnya datang kabar dari Daemi bahwa ia sudah sampai. Lalu, aku bertekad menghampirinya dan nekat melawan hujan yang masih lumayan deras.

Tetapi, Daemi menyuruhku tetap di situ, katanya ia akan menjemputku. Aku memutuskan menunggunya datang sambil menoleh-noleh mencari batang hidungnya yang sangat ku rindukan. Tiba-tiba ada seorang laki-laki, tubuhnya mirip dengan Daemi, berlari-lari sambil menutupi kepala dari rintik hujan, berlari ke arahku. Karena merasa yakin itu Daemi, aku bergegas menjemput kehadirannya dan mengajaknya berlindung sebentar di tempat itu. Aku kira dia akan menjemputku dengan motornya, ternyata dia menjemputku jalan kaki, jadi kami sama-sama jalan kaki.

Menunggu hujan sedikit reda, aku mendekapnya karena sudah terlalu rindu. Ia tersenyum sambil merangkulku.
“Aku lepas sweaterku ya supaya kita ke sana tapi kamu tidak kehujanan.” Ujarnya.
“Tidak usah. Aku pakai jaket. Aku bisa melepasnya supaya kita dapat melindungi diri dari hujan.” Jawabku.
“Ah, jangan. Pakai sweaterku saja. Ya?” Desaknya.
“Yah, nanti kamu kehujanan dong”

Dia tersenyum dan menjawab, “Halah, tak masalah. Yang penting kamu tidak kehujanan.”
“Sudahlah, tidak usah, Dam. Tunggu saja hujannya sedikit reda.”
Lalu, kami terdiam dan saling mendekatkan diri. Tak lama kemudian, hujan sedikit lebih reda. Kami memutuskan berlari menuju suatu tempat yang lebih aman untuk berteduh. Kami berlari menyeberangi jalan raya, tangan kirinya merangkulku dan tangan kanannya melindungi kepalaku dari hujan. Sehabis menyeberangi jalan raya, kami berhenti sejenak melihat genangan air di dekat trotoar.

“Duh, kamu pakai sepatu ya. Ya udah, aku gendong saja ya agar sepatumu tidak basah karena menginjak genangan air ini,” ujarnya dengan wajah sedikit khawatir.
“Ah, tidak usah, Dam. Biarkan saja basah, tak masalah kok.” Jawabku meyakinkannya.
“Ah, jangan. Nanti sepatumu susah kering. Sudahlah, aku gendong saja ya,” ujarnya dan tiba-tiba ia menggendongku melewati genangan air itu. Aku berteriak sambil tertawa dengan apa yang baru saja ia lakukan. “Ah, Daemi. Sudah ku bilang tidak apa-apa kok tetap nekat gendong aku,” ujarku. “Halah, tidak masalah. Yang penting kami baik-baik saja,” jawabnya sambil merangkulku dan melindungi kepalaku dari rintik hujan.

Sesampainya di tempat kami berteduh, kami beristirahat sejenak. Duduk, menunggu hujan reda sebelum Daemi mengantarku ke tempat aku latihan. Tiba-tiba datanglah kapten timku menghampiriku, “Jess, habis ini kita menuju ke sana ya. Oh iya, Dam, aku numpang kalian berdua ya menuju ke sana,” begitu ujarnya kepadaku, lalu kepada Daemi. “Oh, jadi bertiga dong?” tanya Daemi sedikit menatap nanar. “Ya iyalah bertiga, tak mengapa, kan hanya dekat situ.” Lalu, Daemi mengiyakan permintaan kaptenku. Setelah hujan sudah reda kami bertiga menuju tempat latihan. Di sana kami latihan dance, dan di sana pula Daemi menungguku, dia diam, hanya menatap layar handphone, ia demikian karena tak ada yang ia kenali selain aku dan kaptenku.

Pukul 6 sore, saatnya latihan selesai. Satu per satu anggota timku beranjak pulang. Termasuk aku. Namun, sebelum pulang, tiba-tiba pacarnya kaptenku mengajak kami double date makan-makan di sebuah rumah makan. Namun, aku menolaknya karena aku harus pulang dan belajar. Jadi, kami double date minggu depan saja. Lalu, kami pulang. Kali ini aku yang memboncengkan Daemi naik motor. Selama perjalanan, ia memelukku dari belakang dan berbincang-bincang denganku. Terkadang kami tertawa, terkadang kami terdiam, terkadang hanya tersenyum malu. Ia menungguku hingga aku dijemput kakakku yang saat itu sedang perjalanan dari gereja.

“Dam, kamu yakin tidak apa-apa belum pulang hingga petang ini?” tanyaku mengkhawatirkannya.
“Tidak apa-apa, Sayang. Aku sudah izin orangtuaku kok. Tenanglah.”

Tak lama kemudian, kakakku sudah datang. Ia menghampiri kakakku dan mengajaknya bersalaman. Kakakku senang bisa mengenal Daemi sebagai seorang pacar yang baik bagiku. Yang melindungi dan menemaniku. Satu hal yang paling ku ingat dari dia saat itu berkata padaku, “Aku berjanji tidak akan merusak kamu. Aku menjadi pacarmu untuk menjaga kamu, bukan untuk merusakmu dengan hal-hal seperti itu.” Memang benar, selama 1 tahun bersama, aku tidak pernah mendapati dia berbuat hal yang tidak layak sebagaimana pacaran di usia SMA.

Petang sudah menyelimuti angkasa. Tanda kami harus berpisah. Ia ke kota, aku ke desa. Air hujan menyelimuti jalanan, memantulkan kilauan lampu motor, lampu-lampu di pinggir jalan dan terkadang menyiratkan air di kaki-kaki. Genangan air di sepanjang jalan pulang memantulkan wajahnya, senyumnya. Hujan yang indah, membanjiri dengan cinta.

Cerpen Karangan: Jessica Desideria Tanya
Facebook: Jessica Desideria Tanya

Cerpen Hujan Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Inilah Aku

Oleh:
Aku adalah perempuan pengecut yang hanya bersembunyi dibalik tembok disaat orang-orang berlomba-lomba mengejarnya. Aku hanyalah gadis kaku yang tak tahu caranya untuk menarik perhatianmu. Aku hanyalah gadis yang berani

Keajaiban Kentut

Oleh:
Banyak yang enggak tahu, kalau diem-diem kaya gini ternyata gue punya phobia sama yang namanya kentut. Yang gue namain kaentut phillia, yaitu rasa takut yang berlebih terhadap kentut. Bukan,

Anak Mami

Oleh:
Di sore hari, ku sendiri ditemani secangkir kopi sambil memandang indahnya alam yang telah tuhan ciptakan. Orang-orang bilang bahwa hidup itu harus ada perubahan, tujuan dan berani menatap masa

Cinta Yang Singkat

Oleh:
Cinta mungkin bisa dikatakan ilusi tapi nyata dan berbentuk, yang berawal dari kenyamanan dan kelembutan. Hari pertamaku dipertemukan denganmu, hari pertamaku mengenalmu, mengenalmu dalam diam, mengenalmu dari kejauhan dan

Setia (Part 2)

Oleh:
Mobil sedan Ez terparkir di tepi rumah Albi. Ketiga gadis tersebut turun dan menghampiri post satpam yang ada di dalam rumah. “Misi pak, ibunya ada?” Tanya Clay yang langsung

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *