I Found My Love In A Robbery

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 17 January 2017

Delapan jam. Ya, sudah delapan jam aku menatap layar monitor selebar empat belas inchi. Game online selalu berhasil membuatku lupa waktu. Hooaahh… Aku menguap, cepat-cepat aku menutup mulut dengan tanganku, aku tidak mau gadis di sebelahku merasa terganggu atau menjadi illfeel padaku.

“Aray, kamu mengantuk? Sebaiknya kamu pulang saja”, suara Tiara terdengar lembut.
“Ah tidak, aku hanya butuh minuman soda dan cemilan kemudian fokus dan staminaku akan kembali lagi seperti semula”, aku memundurkan kursi untuk memberi ruang lebih banyak pada kakiku di bawah meja komputer yang sempit.
“Kamu yakin? Kamu masih belum pulang ke kost sejak pulang kuliah kan?”, selidik Tiara sambil memicingkan matanya yang sipit hingga terlihat seperti sedang memejamkan mata.
“Eh iya hahaa… Tidak apa-apalah, lagipula besok tidak ada mata kuliah pagi”, aku berusaha memberi alasan yang cukup masuk akal.
“Benarkah? Bukankah kamu memang tidak mau pulang karena sedang bertengkar dengan David?”, Tiara benar-benar mendesakku.
“Baiklah, baiklah… Ya, aku malas pulang ke kostku karena tidak mau bertemu dengan David, bertetangga dengan orang yang menyebalkan itu memang merepotkan”, aku bangkit dari kursi dan meraih ransel hitamku yang tergantung di dinding. Aku membuka resleting paling depan, mengambil dompet.
“Ah dasar cengeng… Aku titip orange juice dan snack rumput laut ya, seperti biasa”, aku hanya membalas pesan Tiara dengan senyum kecil.

Aku berjalan meninggalkannya, melangkah ke luar dari warnet. Aku melirik jam tanganku, pukul satu dini hari. Udara malam kota Bandung di bulan Desember ini memang lebih dingin dari biasanya. Aku menyesal tidak mengenakan jaket yang lebih tebal. Nampak samar-samar di ujung jalan tertangkap oleh mataku sebuah neon box bertuliskan MINI MARKET.
Cih, kenapa hanya itu yang masih buka, pikirku. Padahal seharusnya ada dua lagi mini market di sepanjang jalan ini yang hanya beberapa meter dari warnet. Sialnya, mereka tidak buka selama dua puluh empat jam. Baiklah, aku harus berjalan kaki sejauh seratus lima puluh meter.

Aku menyusuri trotoar, jalan raya sangat sepi sehingga beberapa kali aku turun dari trotoar dan memilih berjalan di pinggiran jalan raya. Pohon-pohon besar dan tiang listrik yang tertanam di trotoar menyulitkanku untuk terus berjalan di atasnya.

Akhirnya, sampai juga. Mini market ini hanya dijaga oleh satu orang kasir dan satu orang pelayan yang sibuk merapihkan tumpukan mie instan. Mungkin bisnis waralaba mini market sedang dalam keadaan buruk sehingga mereka hanya mampu mempekerjakan dua orang saja pada shift malam. Tapi sepertinya bukan masalah, melihat keadaan mini market yang sangat sepi ini.

Aku langsung menuju lemari es besar yang berisi banyak minuman soda. Aku mengambil sebotol, membukanya, meminumnya sedikit kemudian menutupnya lagi dan bergeser dua langkah ke samping.
GUBRAK…!! Aku menyenggol seorang gadis yang menenteng keranjang belanjaan hingga keranjang itu terjatuh menumpahkan semua isinya. Gadis itu segera menunduk untuk memungut sebungkus biskuit, pasta gigi dan pisau pencukur kemudian meletakannya lagi ke dalam keranjang.
“Maaf, maaf… Aku tidak sengaja. Maaf…”, ucapku cepat-cepat sambil membantu memungut belanjaannya yang berserakan.
“Iya iya… Tidak apa-apa kak… Sudah biarkan saja”, suara gadis itu terdengar tidak asing.
“Loh, Liana?”, mataku terbelalak kaget. Tak kusangka, dia Liana. Adik kelasku yang pendiam. Salah satu mahasiswi terbaik di kampus. Si kutu buku yang langganan juara lomba karya ilmiah.
“Wah, kak Aray tau namaku?”, dia tersipu malu melihat ekspresi wajahku yang memang terlihat kaget sekaligus senang.
“Kamu tinggal di sekitar sini? Aku kira hanya aku yang keluyuran malam-malam begini”, tanyaku.
“Iya kak, aku baru pindah kost ke sekitar sini, kostku yang sebelumnya terlalu jauh dari kampus”, jelas Liana dengan suara sedikit serak. Suara yang sexy.

Gadis ini terlihat sangat manis dengan pakaian kasualnya. T-shirt putih polos dengan celana kolor panjang bermotif garis-garis. Rambutnya yang panjang lurus dibiarkan terurai. Dahinya tertutup poni yang rapih. Kacamata bulat dengan bingkai berwarna coklat sangat memperkuat karakter wajahnya yang manis dan imut. Berbeda sekali dengan Liana yang sering terlihat di kampus. Ia selalu mengenakan kemeja dan rok panjang, sangat rapi. Persis seperti pekerja kantoran. Mungkin penampilannya itulah yang membuat para pria enggan mendekatinya. Terlebih ia selalu berada di sekitar dosen killer yang mempekerjakannya sebagai asisten dosen. Aku pernah berada di kelas yang sama dengannya, walaupun kami tidak pernah bicara tapi aku sangat menghapal wajah dan suaranya yang sering menggantikan si dosen killer itu menerangkan materi pelajaran di kelas kami.

Aku dan Liana selesai memasukan seluruh belanjaan yang berceceran kembali ke dalam keranjang.
Triing… Triing… Bel pintu mini market berbunyi, tanda bahwa seseorang baru saja membuka pintu untuk masuk atau keluar.
Aku bangkit, menoleh ke arah pintu mini market sambil berjinjit untuk melihat dari atas rak siapa yang membuka pintu. Dua orang pria berbadan besar dengan setelan serba hitam baru saja masuk ke dalam mini market. Salah satunya segera masuk ke wilayah kasir, berdiri di samping si kasir mini market. Kasir berbadan kurus itu menjadi pucat, sepertinya ia ketakutan.

Seorang pelayan yang baru saja selesai di rak mie instan berjalan menghampiri mereka.
“Ada apa pak?”, tanya si pelayan dengan ramah kepada pria berbadan besar yang berdiri di depan meja kasir, pria botak.
Si pria botak berbadan besar memasukan tangan kanannya ke dalam jaket kemudian dikeluarkannya lagi sambil memegang sebuah benda yang mirip… Pistol. Sh*t! Itu pistol!
Aku langsung kembali menunduk, berjongkok. Berusaha menyembunyikan tubuhku. Liana menatapku heran, ia mengernyitkan dahi seolah bertanya apa yang aku lakukan. Aku menempelkan telunjuk kananku ke bibirnya. Memberi isyarat bahwa ia tidak boleh bersuara. Liana menurut. Walau ia masih nampak heran akan sikapku, tapi ia tidak berusaha melawan perintahku. Ia tetap berjongkok bersamaku dan tidak bersuara.

Seketika semua lampu mini market itu mati secara serentak. Sepertinya seseorang mematikan sumber listriknya. Liana tersentak kaget. Hmmmp… Aku menutup mulutnya dengan tanganku, khawatir ia berteriak.
“Sebaiknya kamu tetap tenang, kita tidak boleh memberitahukan keberadaan kita. Ini perampokan”, aku memberi penjelasan padanya dengan berbisik.
Liana terbelalak menatapku. Aku bisa merasakan kekhawatiran dan ketakutannya. Ia mencengkeram bahuku, mendekatkan tubuhnya hingga menempel erat denganku.

“Buka, cepat!! Masukan semuanya ke tas ini, cepat!”, terdengar bentakan salah seorang pria.
Aku tidak bisa melihat apa yang sedang mereka lakukan di meja kasir. Padahal aku bisa saja mengintip untuk menjawab rasa penasaranku, tapi aku tidak mau mempertaruhkan resiko bahwa mereka akan mengetahui keberadaanku bersama Liana di sini. Bukan saja nyawaku, tapi nyawa Liana juga akan menjadi terancam. Sudah jelas sekali bahwa mereka sangat membenci keberadaan saksi mata.

Kriing… Kriing… bel pintu kembali berbunyi. Aku bisa mendengar suara sepatu boot yang melangkah keluar dari mini market. Aku bergerak menuju ujung rak sambil tetap berjongkok untuk mengintip. Benar saja, kedua pria berbadan besar itu keluar dari mini market. Mereka segera pergi mengendarai sepeda motor besar dengan berboncengan. Aku memberi aba-aba pada Liana untuk tetap diam di sini.

Aku memberanikan diri untuk berdiri. Berjalan mendekati meja kasir. Aku mendapati kedua pelayan mini market itu terkapar di lantai. Mereka tidak sadarkan diri. Aku menoleh ke belakang, merasakan pergerakan seseorang. Ternyata Liana menyusulku. Sepertinya ia juga memiliki rasa penasaran dan sedikit memberanikan diri. Liana menyentuh leher kedua pelayan itu dengan jarinya.
“Mereka masih bernafas, hanya pingsan”, terang Liana.
“Sepertinya mereka dibius”, aku mencoba menyimpulkan.
“Apa sebaiknya kita telepon polisi?”, tanya Liana dengan nada serius.
“Kau bawa ponsel? Karena aku meninggalkan ponselku di warnet”, tanyaku.
Liana menggelengkan kepala dengan lemas.
Sial… Aku langsung menggeledah kedua pelayan itu dengan harapan menemukan ponsel mereka.
“Mereka juga tidak punya ponsel”, ucapku lemas.
“Mungkin perampok tadi juga mengambil ponsel mereka”, terka Liana.

Aku menarik tangan Liana. Berjalan perlahan-lahan mendekati pintu. Aku membuka pintu menggunakan tangan kiriku dengan sangat hati-hati, aku tidak mau membunyikan bel pintu yang tidak terpengaruh dengan listrik mini market yang padam ini, aku menyimpulkan bahwa bel pintu ini menggunakan batu baterai.
Aku dan Liana berdiri di luar mini market. Kami melihat sekeliling. Sepi sekali. Tidak ada satu orang pun atau kendaraan yang lewat. Sial…

“Kita ke warnet saja, aku harus mengambil ponselku untuk menelepon polisi. Disana juga ada Tiara”, aku melemparkan ide pada Liana yang masih kebingungan.
“Tidak, tidak… kita ke kostku saja. Kostku lebih dekat, ada jalan pintas dengan melewati pemakaman yang hanya dua gang dari sini”, Liana menujuk ke arah kanan dengan tangannya.
“Tapi arahnya berlawanan dengan warnet tempat Tiara menungguku, aku khawatir dia malah menyusulku kesini karena aku pergi terlalu lama, itu bisa membahayakannya juga”,
“Benar juga, mungkin para perampok itu masih di sekitar sini”, Liana berpikir sejenak, membuat wajahnya yang serius terlihat sangat memesona.
Itu adalah satu detik paling lama dalam hidupku. Seolah waktu terhenti saat aku memandang wajah Liana yang sedang berpikir.

“Baiklah, aku ke kostku sendirian, kamu kembali ke warnet”, ucap Liana penuh percaya diri.
“Apa kamu tidak apa-apa?, aku khawatir”, aku memegang pundak Liana yang mungil.
“Tidak apa-apa, aku bisa lari kok”, ucap Liana meyakinkan.
“Baiklah…”, aku mengangguk penuh makna.

Sekejap kemudian aku segera berlari ke arah utara menuju warnet sedangkan Liana berlari ke arah selatan.
Aku menurunkan kecepatan untuk menoleh ke belakang, terlihat Liana berbelok masuk ke dalam gang. Aku menghentikan langkahku, sebuah sepeda motor dari seberang jalan ikut masuk ke dalam gang yang sama. Seketika perasaanku menjadi was-was. Sekelebat bayangan mengerikan terlintas di pikiranku.

Aku berbalik mengubah arah. Aku berlari lebih kencang menyusul Liana.
Butuh tiga puluh detik bagiku untuk sampai di sebuah pemakaman di dalam gang sempit itu. Gelap sekali.
“Toloong…”, suara Liana sayup-sayup terdengar dari dalam pemakaman.

Aku segera masuk ke dalam area pemakaman yang luas itu. Berjalan menuju arah suara Liana tadi. Aku memperhatikan langkahku, memilih pijakan agar tidak menginjak dedaunan kering dan menimbulkan suara. Dugaanku semakin buruk.
Benar saja. Aku bisa mengintip dari balik pohon mangga, Liana dalam keadaan terancam. Ia duduk terpojok di dinding pembatas area pemakaman yang menjulang tinggi. Seorang pria botak yang di mini market tadi sedang berjalan menghampirinya. Seorang lagi yang berambut mohawk duduk di atas sepeda motor yang terparkir beberapa meter di belakangnya. Sial, aku tidak tau harus melakukan apa. Mengingat pistol yang kulihat di mini market tadi membuatku berpikir terlalu banyak.

Si pria botak berhasil mendapatkan Liana. Ia membekap Liana dengan sapu tangan, Liana meronta-ronta. Melihat kejadian itu, tubuhku memanas, seperti ada bara yang tersulut di dalam diriku. Seketika pikiranku menjadi kosong.
Aku berlari menghampiri si pria yang duduk di sepeda motor dan menghantamkan kepalan tanganku tepat di bagian belakang kepalanya. Ia tersungkur ke depan dan jatuh dari sepeda motor, tangannya tidak siap untuk menahan tubuhnya sehingga dadanya menghantam sebuah batu nisan. Ia menggeliat dan mengerang kesakitan.

Si pria botak menoleh ke arahku, dilepaskannya Liana dari dekapannya. Liana kembali duduk bersandar di tembok, tubuhnya lemas. Si pria botak menodongkan pistol ke arahku.
“Hey bocah, cukup bernyali juga kamu. Mau mati?”, suara pria itu menggema penuh aura jahat yang dapat dirasakan seluruh aliran darahku.
Aku menjadi gugup.
Aku tidak mau mati secepat ini dengan cara seperti ini. Dibunuh oleh penjahat? Sial, ini bukan tipe cara mati yang ideal bagiku.
Liana menangis tersedu sedan, ia memeluk lututnya sendiri yang sepertinya kesakitan.
“Jangaan… Tolooong…”, Liana merengek dengan suaranya yang semakin parau.
Si pria botak sudah berdiri dua meter di hadapanku dengan pistol yang diarahkan tepat pada dahiku. Aku terpaku. Tubuhku terasa seperti batu yang sulit bergerak. Aku ketakutan.

JEPRET…!!
Tiba-tiba sebuah cahaya yang sangat terang menyinari kami. Suasana pemakaman yang semula gelap gulita menjadi sangat terang benderang. Lampu sorot yang mengarah tepat ke tempat kami berada menyilaukan mata si pria botak. Ia memalingkan wajahnya untuk menghindari sorotan lampu itu. Aku tidak membuang waktu sedikitpun mendapatkan kesempatan itu. Segera kutubruk tubuh pria besar itu sekuat tenaga hingga ia terdorong ke belakang. Pistolnya terlepas dari genggamannya dan terlempar ke arah Liana.
“Aaarrgghh…”, pria besar itu mengerang kesakitan.
Punggungnya menghantam baru nisan yang sangat keras. Aku berguling beberapa centi ke samping, segera bangkit dan memasang kuda-kuda. Bersiap kalau-kalau dia melakukan perlawanan.
Liana menyeret tubuhnya sendiri mendekati pistol yang tergeletak di hadapannya, ia meraihnya dan menodongkan pistol itu ke arah si pria botak.

Tiba-tiba empat orang pria berseragam lengkap berlari menghampiri kami.
“Kami polisi! Menyerahlah!”, ucap salah seorang pria berseragam lengkap.
Aku dan Liana beradu pandang. Ada perasaan lega sekaligus heran. Bagaimana polisi bisa tiba-tiba berada di sini?

“Aray!”, terdengar teriakan sebuah suara yang sangat akrab di telingaku.
Tiara. Ia berlari ke arahku dan segera memelukku dengan erat.
“Oh ya ampun… Kamu tidak apa-apa kan?”, tanya Tiara penuh kekhawatiran.
“Tiara… Kamu… Jadi kamu yang…”, sebelum sempat melanjutkan kalimatku, Tiara segera memotong.
“Ya, kamu pergi terlalu lama dan aku khawatir, saat aku menyusulmu ke mini market, aku melihatmu berlari ke arah sini”
“Oh my God, maafkan aku Tiara”,
“Ya, setibanya di mini market aku langsung menyadari kenapa kamu lari tergesa-gesa begitu, jadi aku langsung menelepon polisi”, Tiara menjelaskan sambil menahan isak. Ia tak henti-henti menciumi bahu dan leherku sambil tetap memelukku dengan erat.

Liana bangkit dibantu salah seorang polisi.
“Aray, maaf membuatmu hampir terbunuh… dan… terimakasih karena mau mempertaruhkan nyawamu untukku”, ucap Liana sambil menyeka air matanya.
Aku menjawab Liana dengan menganggukkan kepala dan menatap matanya penuh makna.
“Pak, cepat bawa dia ke rumah sakit”, perintahku pada polisi yang memapah Liana berjalan.

Kedua pria besar itu sudah diborgol dan dimasukan ke dalam mobil patroli berbentuk SUV. Keadaan sudah terkendali. Liana masuk ke mobil yang berbentuk sedan bersama polisi yang akan membawanya ke rumah sakit. Seorang polisi lagi pergi dengan mengendarai sepeda motor milik pelaku.

Aku dan Tiara berjalan keluar dari gang, kembali ke trotoar. Tiara tidak mau melepaskan pelukannya dari lenganku. Ia benar-benar mengkhawatirkanku. Aku bisa merasakannya. Aku benar-benar merasakan kekhawatiran Tiara akan keadaanku. Sesekali aku meliriknya, wajah oriental dengan rambut coklat pendek yang cantik. Wajah seorang gadis yang selalu menemaniku dalam setiap keadaan. Wajah sahabat terbaikku di kampus. Orang pertama yang kukenal sejak aku pindah ke Bandung. Orang yang kukenal saat hari pertama ospek universitas. Orang yang menyelamatkanku dari kematian pada malam ini.

Muncul perasaan yang aneh dalam hatiku. Aku ingin selalu bersamanya. Menghabiskan seluruh waktuku dengannya. Memberikan segalanya hanya untuk dia. Aku ingin mengubah tangis kekhawatirannya ini menjadi sebuah tawa yang penuh kebahagiaan. Aku ingin memilikinya sepanjang hidupku.

Kami tiba di warnet. Liana segera mencabut mouse dan headphones, memasukannya ke dalam tas. Aku mencabut charger ponselku dan meraih ransel hitamku. Kami memberesi perlengkapan dan segera kembali meninggalkan warnet.
“Kita ke kost-ku saja. Pakai mobilku untuk ke rumah sakit menyusul Liana”, usul Tiara.
“baiklah, setelah itu aku harus mampir ke kantor polisi untuk memberi kesaksian, kau tetaplah tunggu di rumah sakit temani Liana”,
“Tidak, aku tidak mau kita berpisah. Aku akan menemanimu. Aku masih khawatir”, sergah Tiara.
Aku melihat wajah Tiara yang sangat serius dengan ucapannya hingga membuatku tidak berani menyangkal lagi.

Beberapa saat kemudian kami dalam perjalanan menuju rumah sakit. Aku mengemudikan mobil milik Tiara. Tiara duduk manis di sampingku tanpa melepaskan genggamannya dari tanganku. Aku hanya menggunakan tangan kananku untuk mengendalikan kemudi mobil. Untunglah Tiara memiliki mobil dengan transmisi otomatis, jadi aku bisa membiarkan tangan kiriku tetap dalam genggamannya.

“Kau tau bodoh? Aku tidak akan rela jika terjadi apa-apa denganmu”, ucap Tiara penuh makna.
“Eh? Apa maksudmu?”, tanyaku singkat.
“Aku sangat menyayangimu, sebaiknya jangan ada lagi hal-hal semacam ini ya… Aku benar-benar tidak akan bisa hidup jika sesuatu yang buruk menimpamu”, Tiara terdengar sangat serius dengan ucapannya, membuatku sangat terpanah.
Aku tidak tau harus menjawab apa. Jauh di hatiku aku merasa sangat senang. Ketenangan yang melebihi apapun. Hatiku seperti mekar dengan sempurna. Aku bahagia. Tiara mengungkapkan perasaannya yang tulus padaku. Aku pun merasakan hal yang sama.

“Aku mencintaimu Aray…”, ucap Tiara dengan mantap.
“Aku juga sangat mencintaimu Tiara, terimakasih… Kau selalu hadir di saat-saat yang tepat, ini bukan pertama kalinya kau menyelamatkanku”, aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku.

Kemudian kami membiarkan keadaan menjadi hening. Memberi kesempatan kepada hati untuk merasakan ketenangan seindah mungkin. Mengosongkan pikiran dari segala hal negatif yang mengganggu.

Jalanan kota Bandung nampak begitu indah dan tenang. Rintik hujan mulai memintaku menyalakan wiper untuk mengusap-usap kaca depan mobil. Tiara menyandarkan kepalanya di bahuku. Kami hanyut dalam ketenangan di sisa malam ini.

Aku lepas dari ancaman kematian dan Tuhan mempertemukanku dengan cinta. Cinta yang saat ini berada di sisiku. Cinta yang menjadi malaikat penyelamatku malam ini. Cinta yang sempurna.

Cerpen Karangan: Rona Iswara
Blog: Iswararona.wordpress.com
iswararona[-at-]gmail.com
reverbnation.com/pepermintpocketpepo

I Feel… I Create… I Serve…
www.facebook.com/ronaiswara
www.youtube.com/channel/UCtsoDMJ-VGTCDBuBxS0rzYQ

Cerpen I Found My Love In A Robbery merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Other Side of A Fault

Oleh:
Wajah polos itu menatap padang rumput yang terbentang luas di hadapannya. Pikirannya melayang jauh dari tempat raga itu berpijak. Matanya terpejam secara perlahan seiring hembusan angin. Terdengar suara alam

Cinta Setengah Sadar

Oleh:
Aku termenung menyaksikan jutaan rintik hujan yang sedang turun mengguyur bumi, berharap hujan segera reda. aku terjebak di perpustakaan daerah oleh hujan yang dari tadi semakin deras. Namaku Zahra

I’m Not Perfect (Part 2)

Oleh:
Dia berlari mendekat padaku yang masih sibuk menata hati. Biar bagaimana pun aku tak boleh terlihat lemah di depannya, aku hanya tidak ingin jika dia tahu bahwa aku mencintainya,

Oh My God

Oleh:
Dunia itu emang sempit, katanya sih. Pagi ini aku dan Flo, sohibku akan mengunjungi museum, awalnya sih aku nggak mau karena bagiku museum itu membosankan hanya ada benda-benda kuno.

Tembok Cinta Nan Megah

Oleh:
Telingaku menangkap hiruk-pikuk yang kemudian memaksa ku untuk membuka mataku lebih lebar lagi. Jiwaku belum terkumpul sepenuhnya. Ragaku belum juga bertenaga. Namun ku paksakan untuk berdiri. Aku berada di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *