I Just Love For You

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 6 December 2013

Sembari duduk di bawah pohon tua yang kokoh nan berdaun riang, membuat perasaanku terasa lebih baikan dari sebelumnya. Akhir-akhir ini setelah pulang sekolah, aku tidak ingin cepat pulang ke rumah, jadi tempat ini adalah tempat favoritku untuk merenung dan memikirkan segala masalah yang ada dalam pikiranku. Aku merasa waktu begitu cepat. Besok adalah hari dimana orangtuaku bercerai. Aku memilih untuk tinggal bersama bibiku daripada harus tinggal salah satu dari mereka.

3 minggu telah berlalu, kini aku hidup bersama bibi. Ia merasa senang karena ada yang menemani dan tinggal bersamanya.

Lonceng berbunyi, semua murid masuk kelas. Dan seperti biasa aku duduk di belakang dengan rau muka yang datar dan membisukan diri dari teman-temanku, entah kenapa suasana kelas hari ini terasa berbeda, arini adalah teman yang duduk di hadapanku sekaligus orang yang mengerti dan dapat memahami perasaanku, dia bilang sebentar lagi murid baru tiba jadi kita harus memberikan sambutan padanya agar ia merasa nyaman dengan kelas barunya… Beberapa menit kemudian, tiba-tiba guru masuk kelas, serontak ketua kelas nyaringkan volume suaranya “berdiri, beri hormat. Good morning for you sir” setelah guru merespon balik, kemudian kami duduk kembali
“hari ini kalian kedatangan murid baru di kelas kita, dipersilahkan…” ucap guru itu
Seorang laki-laki masuk memakai baju putih celana abu-abu dengan tas ranselnya juga tersenyum dengan bibirnya yang merah muda dan juga halus. Sentak membuat teman-teman histeris akan ketampanannya. Aku hanya melihatnya sesaat kemudian fokus untuk membaca buku dan diam tanpa kata.
“namaku ryetama aditya putra, senang bertemu kalian. Mohon bimbingan kalian semua, ucapnya dengan manis”

Tak ada gadis yang menolak untuk duduk di sampingnya, namun dia lebih memilih untuk duduk di sampingku karena hari itu rina teman sebangku denganku absen sekolah. Semua gadis menatap padaku seakan-akan berkata mereka marah. Aku kembali membaca buku dan tidak pedulikan mereka, pelajaran dimulai. Dia memulai percakapan padaku “kau bisa panggil aku rey sambil memberikan jabatan tangannya dan tersenyum”. Aku balas salam perkenalan itu dan “namaku marisa”. Hari itu pertama kali aku mengenalnya.

Pulang pulang pulang… Teriakan siswa sambil beranjak pergi keluar dari gerbang sekolah terkecuali aku, perlahan aku berjalan mundur kemudian terpaku duduk pada kursi. Dengan menadahkan kepalaku ke atas, “trep, mataku terkejip tak tahan melihat terikan matahari yang sedang tersenyum padaku”. Aku merasa bahwa ada seseorang yang tengah memperhatikanku dari belakang, namun aku abaikan saja. Sepuluh menit berlalu. Aku berjalan menuju tempat favoritku. Terhanyut dalam perasaanku “terbaring di bawah pohon seperti ini memang sangat menyenangkan” ucapku sambil menutup mata.
“benarkah? Aku juga ingin merasakan kesenangan sepertimu. Ucap laki-laki itu padaku”.
Aku menyadari kehadirannya. Kulihat laki-laki itu ternyata rey, murid baru di kelas kami. Dengan nada datar aku bertanya “mengapa kau berada disini?”
“aku ingin berteman denganmu? Ucapnya’ tatap rey dengan senyuman manisnya padaku.
“bisakah kau untuk tidak tersenyum di hadapanku!” aku benci hal itu.
Rey tertegan mendengar ucapanku, ia tidak menyangka bahwa marisa tidak menyukai senyumannya, padahal rey tersenyum begitu tulus dan mencoba untuk mendekati marisa. Rey merasakan sesuatu yang berbeda dengannya.
“kau benci ketika orang tersenyum padamu?’ kenapa?”
“karena senyuman seperti itu membuatku sedih dan juga bosan, aku tidak perlu senyumanmu itu. Tapi kau jangan perdulikan kata-kataku, kau bisa tersenyum pada mereka, kau bisa tersenyum pada dunia.
“ahh, aku mengerti. Karena kau tidak membutuhkan jadi aku tak perlu senyum padamu. Begitu kan..” Ucap rey sambil menatap pada gadis yang duduk di sampingnya, aku hanya diam tak memandangnya. Rey tetap berada di sampingku, ia tetap ingin menemaniku. Walaupun ku perintah dia pergi. Tak terasa jam menunjukkan pukul 15:00 sore, sesekali aku melihat rey. Dia sepertinya merasa bosan karena aku diam. Kemudian, “aku akan pulang ke rumah?”
Berdiri rey “mau kuantar pulang?”
“tidak usah, kita pulang masing-masing. Okey!!” Aku tersenyum tipis padanya, dia tersenyum kembali padaku.

Pagi kamis pukul 07:00 P.M. “Cepaaat bangun… Kau harus mandi sekarang juga”, teriak bibi padaku. “siap bilove!” bilove sebutanku pada bibi tercinta. Kami sarapan dan akan berangkat bersama-sama, bibi menolak untuk berangkat bersama. Mulai hari ini aku berangkat sekolah dengan tetangga baru menggunakan sepeda, aku tak menyangka ternyata rey adalah tetangga baruku yang baru saja pindah dua hari yang lalu. “Dia anak tetangga baru kita. Katanya dia satu sekolah denganmu jadi mulai sekarang kau berangkat bersama dengannya. Mengerti?” bisik bibi padaku, terus terang awalnya aku merasa terusik dengan kehadirannya, waktu demi waktu berlalu, semakin lama kami selalu berangkat bersama. Namun semenjak saat itu kami mulai bersahabat, kami selalu membuat lelucon dan tertawa riang bersama baik di sekolah maupun di rumah, kami belajar bersama, jalan bersama, dan saling berbagi bercerita ini dan itu.

Handphone berdering ada sms yang masuk. Malam itu rey memberikan pesan singkat padaku, “jika kau merasa kesepian aku akan selalu hadir untuk menghiburmu”.
Ku balas, “terima kasih”, tak lama kemudian rey memanggil dan aku harus angkat panggilan itu. “kau harus mengajakku jika ingin pergi ke pohon tua itu, ”
“pohon itu tepat dimana aku melampiaskan semua kekesalan dan kesedihanku. Aku tak ingin lagi pergi ke pohon tua itu, karena sekarang ada kau selalu berada di sampingku”
“benar. Kau bisa mengangkap aku seperti pohon tua itu agar kau dapat melampiaskan semuanya. Okey…” ucap rey padaku. Aku diam seketika dan merasa sepertinya sangat beruntung karena telah mengenalnya. rey marah karena ku tak memberi jawaban padanya. Kemudian pembicaraan kami terputus begitu saja.

Ketika itu hari jum’at. Tak ada guru yang masuk pada kelas kami. Sehingga kelas jadi gaduh. Semua teman melakukan aktivitas masing-masing, begitu pula rey dan aku. Untuk pertama kalinya rey tidak ingin diganggu dan sibuk menulis pada secarik kertas;

‘dear marisa’
“aku mulai menyukaimu sejak pertama kali aku masuk kelas ini,
Kau duduk diam melihatku tanpa ekspresi muka terpana seperti teman lainnya.
Aku menyukai gayamu yang sederhana, kau cerdas, cantik dan berbakat.
Aku selalu ingin duduk berdampingan denganmu seperti ini.
Saat itu aku mengikutimu, aku berada di belakangmu tapi kau tak melihatku.
Kau terus berjalan hingga berbaring di bawah pohon. Aku menyapamu dan tersenyum padamu.
Tapi kau malah marah, aku mencari tahu tentangmu pada bibi. Kau benci orang tersenyum karena ayahmu kan!! Ayahmu yang selalu tersenyum karena untuk menyembunyikan masalahnya padamu.
Karena itu aku ingin mengubah perasaanmu itu dan menerima orang lain tersenyum padamu, sepertinya usahaku telah berhasil. Aku dapat membuat orang yang kusukai tersenyum.
Aku mencintaimu
# rey

Rey memanggilku dan mengajakku ke kantin. Sesaat rey beranjak berdiri, kertas itu terjatuh tanpa ia sadari. Aku dan rey makan bersama. Namun beralih di kelas arini ternyata mendapati sepucuk surat itu dan memungutnya. Ternyata arini selama ini telah memendam rasa pada rey sejak pertama kali bertemu. Arini mulai membaca sepucuk surat yang didapatnya, ia kaget setelah apa yang ia takuti sekarang terjadi. Rey menyukai marisa, ia sadar selama ini rey hanya memberikan perhatian dan senyumannya pada marissa, arini sangat sedih akan hal itu namun mencoba untuk menerima semuanya.

Malam itu entah kenapa batinku memikirkan tentang rey. Terpikir olehku sejak pertengkaran-perceraian orang tua. Aku tak pernah mendapatkan kasih sayang dan juga perhatian kecuali dari bilove, sekarang rey memberikan segalanya untukku. Terlebih lagi ia memberikan senyuman yang dulunya pernah ku benci.
“huhh… Ada apa denganku, sepetinya aku akan gila hanya karena memikirkan dia. Aku tidak boleh memiliki perasaan ini. Rey adalah sahabatku. Aku tidak ingin merusak persahabatan kami”. Marisa kemudian mencoba memejamkan matanya dan membersihkan pikirannya dari rey.

Seperti biasa aku dan ray berangkat sekolah bersama. Namun ada yang berbeda saat di kelas. Arini memberikan sepucuk surat untukku, rey diam melihat.
Aku membaca surat itu perlahan, rupanya arini mengatakan sesuatu pada rey hingga membuatnya ketakutan, raut mukanya terlihat panik, bibirnya terlihat pucat seketika.

Jantungku berdetak tak karuan, tanganku terasa lemas, bibirku rasanya tak sanggup untuk berkata apapun. Aku benar-benar tak menyangka bahwa dia juga menyukaiku. Kali ini dia melihatku dengan tatapan yang berbeda seakan ada sesuatu yang ingin ia katakan. Aku mencoba untuk mengertinya.
“aku hanya ingin mengatakan… I just love for you. So, can you be girlfriend?” serontak semua teman-temanku menyoraki ku dan menyuruhku untuk menerimanya. Saat itu aku tak dapat bicara apapun selain menjawab “yes”.

5 tahun telah berlalu. Aku dan rey kuliah pada universitas yang sama. Kami melanjutkan hubungan kami hingga sekarang.

End

Cerpen Karangan: Nur Rafidah
Facebook: rafidah yoon eun hye

Cerpen I Just Love For You merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Untuk Satu

Oleh:
Benci, demikian yang ku rasa. Apa hal yang membuatku terjauhi? Inikah yang dilakukan oleh sang Kuasa? Tak adil rasanya. Aaah, apa daya. Orang bilang kita tak boleh menyalahi Tuhan.

Romantic Summer

Oleh:
Kemarau di bulan September. Nayla menutupi kedua wajahnya dengan tangan. Berusaha menepis sinar matahari yang menerangi wajahnya. Sejujurnya dia paling tidak suka dengan cuaca panas seekstrim ini. Selain membuat

Class Sweet Class

Oleh:
Angin kencang melanda bulan Oktober. Bagi kami yang tak dapat menikmati tidur siang di rumah, hal ini menjadi sangat menyebalkan. Berbagai macam raut sebal, bosan, jenuh, ngantuk dan malas

Cinta Lama Sang Rivalku

Oleh:
Awalnya aku tidak tahu siapa dia. Hingga suatu kejadian yang menyebalkan terjadi, dan membuatku mengenalnya. Namanya Athazuya, teman-temannya sering memanggilnya Zuya. Saat itu aku sedang mengunjungi perpustakaan untuk membaca

Musim Dingin Di Negeri Ginseng

Oleh:
Seperti yang semua orang katakan, aku dan mungkin seluruh keluarga besar dari sisi ibuku memiliki darah ‘lelet’ yang turun temurun tidak ada habisnya. Tentu, kami, atau bisa aku katakan,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *