I Love Him (Part 4)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 17 May 2019

Kuhempaskan tubuhku ke kasur. Rasanya sakit, sakit sekali. Bagaimana dia tega melakukan ini padaku?, kalau memang dari awal dia tidak mau pacaran sama Aku harusnya dia tidak memintaku agar menjadi pacarnya. Aku mengirim pesan untuk Kak Septiyan, meminta bertemu untuk membicarakan hal penting. Akhirnya kami sepakat untuk bertemu di sebuah taman dekat sekolah.

Sudah hampir satu jam Aku menunggu dia belum datang juga. Hujan turun dengan derasnya, Aku sengaja tidak meneduh. Rasa dingin menusuk tulang. Aku mulai gelisah sebenarnya kemana Ia pergi.

Tiba-tiba sebuah pelukan mendarat di punggungku dari belakang. Aku kaget tapi Aku segera tahu kalau itu Kak Septiyan. “Kak…” Aku berbalik kini Ia memelukku dari depan Aku tidak membalas pelukannya. Ia sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun. “Kak, Aku bingung kenapa akhir-akhir ini Kakak berubah, tapi sekarang Aku sudah tau apa penyebabnya” Aku menghela napas “Kak biar gimanapun juga, kakak harus milih antara Aku dan Nina” sebenarnya berat lidah ini mengatakan itu takut kalau ternyata Kak Septiyan milih Nina daripada Aku. Kak Septiyan tidak juga menjawab. “Kakak harus milih” ucapku lirih

“Aku harus gimana Sa?, Aku bingung Aku cinta sama Kamu tapi Aku…” kata-katanya terputus. Dia menangis. “Juga masih sayang sama Nina” pyar!! Bagai setumpuk piring yang dijatuhkan dari ketinggian. Hatiku pecah berantakan hanya dengan empat kata terakhir yang diucapkan Kak Septiyan. Aku melepaskan diri dari pelukannya. Tapi dengan sigap Ia menarik tanganku kembali ke pelukannya. Kali ini, Aku membalas pelukannya sangat erat. Nyaman, seperti menggunakan selimut tebal ditengah musim salju. Sayang, pelukan ini mungkin akan jadi pelukan yang terakhir.

Sekitar lima menit kami berpelukan dalam diam. “Aku gak bisa Kakak giniin, Kakak harus milih. Dan selama Kakak belum bisa nentuin pilihan dengan hati Kakak sendiri. Kakak jangan pernah temuin Aku. Dengan Kakak nemuin Aku tanpa sebuah kepastian itu sama saja Kakak menyiram luka yang terbuka dengan air garam” Aku melepaskan pelukannya, Ia sempat menahanku tapi Aku tidak bisa lagi berlama-lama di sini.

Sudah sekitar tiga bulan pertengkaranku dengan Kak Septiyan belum juga usai. Selama itu juga Ia berusaha untuk memenjelaskan suatu hal kepadaku. Namun, Aku selalu menghindarinya. Memang Kami masih berbicara satu sama lain. Tapi ketika dia mulai membicarakan tentang hubungan kami. Aku selalu menghindarinya. Namun, sudah seminggu ini Aku tidak melihatnya. Apa Ia sudah lelah dengan semuanya. Aku rasa ada yang hilang. Bukan rasa cintaku, tapi cintaku, Kak Septiyan. Ketika Aku dan Ega pergi ke sebuah mall Kami bertemu dengan salah seorang teman Kak Septiyan dan kebetulan Ega mengenalnya. Aku pun terlibat obrolan dengan mereka hingga Ega menanyakan kabar Kak Septiyan.
“Dia sih selama beberapa hari ini gak masuk kuliah, tapi Aku liat tadi dia ke arah bandara. Terus satu minggu yang lalu dia pesen tiket buat ke London tapi Aku juga gak tau tiket buat siapa” rasanya seperti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokanku. Aku ingin sekali tidak terpengaruh dengan segala hal mengenai Kak Septiyan. Namun, begitu berat bagiku melupakannya begitu saja. “Aku ke toilet bentar ya” ucapku pada Ega yang semakin asyik ngobrol.

Aku terkejut saat bertabrakan dengan seorang perempuan di depan toilet. “Eh maaf” keterkejutanku semakin menjadi karena ternyata itu adalah Nina. Aku melangkah pergi dari sana. Ia memanggilku “Raisa…” Aku berhenti tetapi tidak menoleh. “Aku pengen ngomong sama Kamu penting” ucapnya lagi.

Kami duduk di sebuah bangku panjang di depan sebuah stand toko sepatu, duduk berjauhan. “Aku minta maaf” ucapnya pendek
“Tidak perlu, Kamu gak salah. Dia tau apa yang dia lakuin” jawabku datar
“Enggak ini salahku, semuanya salahku” Aku menoleh padanya, menatapnya lekat-lekat.
“Sebenarnya, ini tentang ambisiku untuk mendapatkan cintaku. Aku yang memaksanya” Ia menghela napas “Perusahaan milik orangtua Septiyan pernah hampir bangkrut. Dan saat itu hanya Ayahku yang mampu menolong perusahaan milik orangtuanya hingga akhirnya perusahaan mulai pulih dan suskes sampai saat ini”
“Jangan coba-coba membujukku untuknya” sahutku memotong
“Aku gak membujukmu, Aku hanya mengucapkan kebenaran. Tolong dengarkan Aku sekali ini saja agar kamu gak nyesel” Aku membuang muka, tapi Ia tetap melanjutkan pembicaraan “Ini bukan masalah hutang uang tapi ini adalah hutang budi. Aku yang memaksa Ayah agar membuat perjanjian dengan Ayahnya Septiyan supaya membuat anaknya mau menjalin kasih denganku. Semua itu kebohongan soal dia bilang kalau masih sayang sama Aku itu bohong. Bahkan, kami tidak pernah pacaran karena cinta. Tapi kini Aku nyesel, Aku sadar, tidak ada gunanya memaksakan sesuatu yang memang bukan seharusnya terjadi. Percuma Aku memiliki raga Septiyan tapi tidak dengan hatinya. Aku sudah bicara dengan Ayahku agar membatalkan perjanjiannya dengan Ayah Septiyan. Ayahku juga tidak salah karena Ayahku hanya ingin melihat putrinya bahagia. Jadi intinya ini semua sepenuhnya kesalahanku tidak ada yang bersalah selain Aku” Ia mengakhiri pembicaraanya dengan isakan dan pergi. Sementara Aku hanya menatap ke depan kosong.

Aku meninggalkan orang yang tidak bersalah. Bayangan senyum, tawa, canda, tingkah konyol, juga tangis Kak Septiyan tempo hari di taman berebut masuk ke dalam pikiranku. Teguran salah seorang pengunjung membuatku tersadar akan sesuatu. Aku langsung berlari mencari taksi untuk menuju bandara. Jalanan macet, padat merayap. Aku menangis tidak sabar bertemu dengan Kak Septiyan. Aku berhenti di tengah jalan memutuskan naik ojek yang lebih mudah nyelip.
Sebuah panggilan terdengar dari handphoneku dari Ega. Dia bingung mencariku kemana. Aku hanya menjawab Aku sudah pulang. Pikiranku tidak lepas dari Kak Septiyan. Gimana kalau Kak Septiyan sudah bertolak ke London. London bukan kota yang dekat.

Aku langsung berlari ketika ojek yang kutumpangi memasuki area bandara. Perasaanku kalang kabut Aku berlarian mencari Kak Septiyan. Aku menemukannya, Aku menemukan punggung milik Kak Septiyan Aku sangat hafal dengan punggungnya Ia tengah menyeret sebuah koper. Aku mempercepat laju kakiku. Aku langsung memeluknya dari belakang. Aku bisa merasakan keterkejutannya namun Ia langsung tahu begitu mendengar suaraku “Maafin Aku, Aku gak mau Kak Septiyan pergi, jangan pergi kenapa Kakak tega sama Aku?” Ia membalikkan badannya kemudian memelukku “Kenapa Kakak jahat sama Aku?, setelah meluluhlantakkan hatiku kenapa kakak akan pergi tanpa bilang ke Aku!” Aku memakinya dalam pelukannya meskipun tidak terdengar jelas karena Aku masih dalam keadaan menangis, Aku tetap menumpahkan kekesalanku padanya “Kenapa Kakak segitu jahatnya ke Aku, Aku sudah dengar semuanya dari Nina sekarang apa Kakak gak bisa tetap di sini. Jangan pergi!!!”
“Hey,hey jangan nangis dengar Aku” Kak Septiyan memegang kedua pipiku “Aku gak akan kemana-mana, Aku tetap di sini. Aku gak akan ninggalin Kamu”
“Tapi kenapa Kakak ada di sini?, terus kenapa Kakak bawa koper?”
“Aku mengantar sepupu Aku, dia sekarang ada di toilet. Jadi Aku yang bawa kopernya” ujarnya menjelaskan.
“Tapi, katanya Kakak… Kakak…” Kak Septiyan kembali memelukku. “Sudah yang penting Aku kan gak kemana-mana, makasih ya untuk kesempatannya” Aku menangis di pelukannya. Namun, kali ini tangis bahagia. Aku memeluknya erat tidak peduli dengan orang yang berlalu-lalang di bandara.

Akhirnya setiap cinta yang hilang akan menemukan cintanya kembali. Tidak ada yang mampu menghalangi cinta menemukan cinta sejati kecuali yang menciptakan cinta itu sendiri.

End

Cerpen Karangan: N. Ratna. D
Blog / Facebook: NovitaRa Dewi

Cerpen I Love Him (Part 4) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jangan Pernah Lupakan Aku Lagi

Oleh:
Pagi ini, burung-burung tampak berkicau menyapaku. Sinar matahari yang hangat menyelimuti pagi yang indah ini. Aku mulai membuka mata dari tidur lelapku. Kulihat jam dinding biruku menunjukkan pukul 6

Sebuah Janji (Part 2)

Oleh:
Back to 8 years later… Arya membuka mulut perlahan, akan menjawab pertanyaan Rima. Namun saat ia akan menjawab, seseorang memasuki ruangan poklinik. “Permisi…” Ucap suara itu. “Oh silakan…” Kata

Lentera Terakhir Amira

Oleh:
Angin yang sedang berhembus kencang pagi itu berhasil membuat amira menggigil hebat. Hari itu ia tak seperti biasanya, ia pergi ke kampus dengan menaiki kendaraan umum. Entah apa sebabnya,

Helenathan

Oleh:
“Kamu kenapa, Sayang?” pertanyaan Nathan membuat Helen tersadar akan lamunannya. Helen tersenyum manis. “Enggak, kok. Aku gak papa,” “Serius?” tanya Nathan khawatir. “Iyaa,” jawab Helen. Semua murid yang mendengar

Berbeda

Oleh:
— Not Ten, One Hundred, or One Thousand, but One Zero, One Zero Zero, and One Zero Zero Zero. — “… I’ll love you for a thousand Years.. ah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *