I Wuf You

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 6 November 2017

Semilir angin berhembus dikebalut senja. Menghadirkan nuansa jingga di angkasa. Di sini… di atas batu karang ini. Kunikmati mentari yang perlahan melambaikan tangannya pada bumi. Seolah mengucapkan sampai jumpa untuk hari esok.

Seketika nuansa jingga itu berganti dengan kanvas berwarna hitam pekat bertabur bintang sebagai pengindah angkasa malam. Ku tatap sang rembulan yang malu menampakkan wujudnya meski sang gemintang sudah merayu lewat sinar terangnya. Saat itu aku berfikir bahwa kau dan rembulan sama. Sama-sama malu menampakkan wujudmu di hadapanku. Aku yang selalu memendam segenap rasa yang terpatri di hati tanpa sedikit pun kau ketahui.

Oh Tuhan kutukkan apakah ini? Apa saat ini dia yang terkutuk atau malah sebaliknya? Aku lah yang dikutuk semesta. Kuharap angin malam menyampaikan rinduku yang tak berwujud ini padamu. Aku seperti hantu yang tak kasat mata di hadapanmu. Sedih, sendu bertumpuk menjadi satu.

Aku yakin entah kapan itu saatnya tiba. Kau akan tahu bahwa aku mencintaimu.

“Keren juga puisi lo?” Suara penuh karisma itu menelusup di kupingku. Aku segera menutup diary-ku lalu beralih menatap pria yang berdiri di sampingku. Dia adalah tokoh utama dalam balada puisi yang kutulis tadi. Dia Devan. Pria sederhana yang puluhan tahun lalu menobatkan dirinya sebagai sepupuku. Anak dari adik perempuan ibuku. Aku tersenyum canggung menatapnya. Ahh… aku salah tingkah.

“Terbitin aja. Karya lo bagus.” Saran Devan padaku seraya meraih diaryku lalu membukanya.

Ssstt…
Aku segera menepis diaryku dari tangannya. Tak ingin ia melihat diary yang over all about him. Devan menatapku aneh lalu menghembus pelan napasnya.

“Hah… ya udah deh. Eh… makan yuk! Gue habis panen nih. Lagi isi nih benda.” Ucap Devan seraya mengacungkan dompet miliknya.
“Ha… boleh. Tapi BBS aja. Gue juga lagi isi kok.” Balasku
seraya tersenyum padanya. Devan membalas senyumanku kemudian menganggukkan kepalannya sebagai isyarat mengajakku berangkat.

Di sebuah restoran yang terletak tak jauh dari rumah kami. Aku duduk di sebuah kursi makan sembari menunggu Devan memesan makanan kami. Kuketuk-ketuk meja membuat sebuah irama abstrak guna menghilangkan rasa bosannya menunggu.

Sesaat kemudian Devan menghampiriku dengan membawa nampan berisi makanan pesanan kami. Ia menatapku dengan senyuman teduhnya. Senyuman yang selalu berhasil meluluhkan hatiku. Kuakui perasaanku padanya adalah salah besar. Kami ini saudara. Dia sepupuku. Anak dari adik perempuan ibuku yang juga tante kandungku. Tapi seperti kebanyakkan manusia berkata. Cinta itu buta. Ia tak mengenal apa itu sahabat dan saudara. Yang jelas aku jatuh cinta dan itu tanpa syarat.

“Time to lunch! Ayo makan!” Ucap Devan seraya melahap makanannya. Aku mengikuti aksi yang serupa. Makan sembari menatap wajah teduh itu di hadapanku. Wajah yang sudah belasan tahun lamanya berkeliaran di pikiranku. Ahh… aku jadi nggak fokus. Minggir… minggir… huss.. huss…

“Lo kenapa, Em?” Tanya Devan seraya menatap aksi anehku yang saat ini tengah menghalau bayangan wajahnya di pikiranku.
“Ha… hehe nggak. Banyak laler.” Balasku asal seraya menyantap makananku sambil sesekali menatapnya kik kuk.
“Hahaha… laler mana yang berani singgah di ruangan sebersih ini, Em? Lo aneh-aneh aja.” Devan menggelengkan kepalanya lalu kembali melanjutkan makannya yang sempat tertunda.

“Oh ya… habis ini kita ke taman, yuk!” Ajak Devan padaku sambil terus menyantap makanannya.
“Taman? Ngapain?” Tanyaku sambil menatapnya heran.
“Main lah. Hunting, hang out. Ngapain aja. Yang jelas seharian ini kita happy happy.” Balasnya seraya tersenyum manis. Ralat (sangat manis).
Aku mengangguk mantap sembari tersenyum.

Entah mimpi apa aku semalam hingga aku bisa menghabiskan waktu seharian ini bersamanya. Dia cinta terlarangku. Kami duduk di sebuah bangku yang ada di taman. Menatap ratusan bunga yang tengah bermekaran indah. Sama indahnya dengan kisahku hari ini. Kutatap sekilas wajah teduh di sampingku. Dia tersenyum seraya membidik kameranya ke arah bunga-bunga indah di taman ini. Lagi-lagi aku tersenyum. Hah… meski ia tak pernah bersikap romantis apa pun padaku, tapi tetap saja aku selalu ikhlas mengukir senyumanku untuknya. Romantis? Hahaha… aku ini ngaco. Mana mungkin dia melakukan hal terlarang itu padaku. Kami kan saudara. Tapi aku berharap suatu hari nanti ia bisa mendekapku lalu membisikkan kata I Love You di telingaku. Hal yang tak mungkin terjadi.

Cekrek…
Aku dikagetkan oleh bunyi bidikkan kamera yang mengarah padaku. Apa? Sungguhkah? Barusan dia memotretku. Aku segera merubah posisi tubuhku agar terlihat lebih tegap. Lalu tersenyum dengan mengangkat dua jariku ke atas.

Cekrek…
Devan kembali memotret diriku. Aku tertawa karena kurasa ini kali pertama ia memotret objek manusia. Padahal Devan biasanya lebih senang mengabadikan gambar alam dari pada manusia. Kenapa ini? Dia aneh hari ini.
Devan pun menyudahi aktifitasnya memotretku lalu menatapku sambil tersenyum.

“Lo senang?” Tanyanya padaku seraya tersenyum menatap lurus ke depan.
“Ha? Ya. Sangat.” Balasku sembari menatap nanar rerumputan di taman lalu tersenyum,
“terimakasih.” Lanjutku sembari beralih menatapnya.
“Buat apa?” Tanyanya keheranan sembari menatapku.
“Because to day you give me happines.” Balasku seraya menatapnya dengan senyuman tulus. Devan menatapku dengan ekspresi datar. Tak mengerti dengan arah bicaraku. Aku segera membekap mulutku. Sepertinya aku keceplosan mengungkap kata-kata itu. Siapa yang tidak merasa heran jika seseorang tiba-tiba bersikap dramatis. Aku diam tertunduk tanpa sedikit pun menatap Devan. Malu. Itulah yang kini berkecamuk di pikiranku.
“Kan kita udah biasa kayak gini, Em. Tiap hari malahan. Nggak usah selebay itu lah.” Balas Devan sembari tertawa menatapku.

Aku beralih menatap Devan. Sepertinya hanya aku yang merasakan getaran itu di hatiku. Getaran yang entah sampai kapan akan berbalas. Mungkin hingga dunia tak lagi ada perasaan ini takkan mungkin terbalaskan. Karena cintaku padanya dikutuk Tuhan.

Aku beralih menatap mentari senja yang mulai terbenam. Seolah melambaikan tangannya pada dunia sebagai salam perpisahan.
Andai saja waktu bisa diulur kembali. Andai saja waktu itu kita dipersatukan bukan sebagai saudara. Andai saja Tuhan sedikit membuka celah hatimu. Andai saja kamu mengerti tentang isi hatiku. Andai saja.. ya.. semua hanya berawal dan berakhir dengan kata andai. Dan aku takkan pernah bisa menggantikan kata andai menjadi sebuah kata pasti. Karena kamu pun tak pernah membuka sedikit celah untuk aku bisa menelusup mengetuk pintu hatimu. Bahkan Tuhan pun tak mengizinkan itu. Tuhan… semerana inikah rasanya jatuh cinta?

“Udah malam. Kita balik yuk!” Ajak Devan seraya menatap langit malam.
“Bisakah kita seperti ini satu jam lagi?” Pintaku sambil menatapnya ditengah gelapnya malam. Devan menatapku dengan kerutan di keningnya. Mungkin dia merasa aneh akan sikapku sedari tadi yang tak pernah berhenti bersikap dramatis padanya. Tak banyak tanya Devan mengangguk pelan lalu kembali menatap malam yang kini dihiasi oleh gemerlap bintang.

“Devan!” Sapaku padanya seraya menatap langit malam.
“Hmm….!” Balas Devan dengan gumaman sembari mengukuti arah pandangku.
“Jika aku jatuh cinta pada apa itu salah?” Tanyaku seraya menatapnya dengan mata berbinar.
“Hahaha… pertanyaan lo aneh sekali. Ya jelas nggak lah. Bukankah Tuhan yang menitipkan rasa itu pada umatnya. Itu tandanya jatuh cinta adalah hal yang suci.” Jelas Devan sembari menatapku lalu bertanya,
“memangnya kenapa? Lo jatuh cinta sama siapa?” Tanya Devan.

Aku tertunduk diam seribu bahasa. Hanya senyumanku yang membalas pertanyaannya. Rasa sesak yang sedari dulu menghujam jantungku ketika bersamanya. Sesak ingin mengutarakan bahwa aku mencintainya. Sesak yang entah sampai kapan menjadi lega. Seperti ada ratusan belati yang menghujam jantungku. Sakit… itu yang kurasa.
“Tapi jatuh cinta yang kurasakan ini begitu sakit.” Balasku sesaat kemudian sembari menatap nanar langit malam.

Devan menatapku seraya bertanya…
“Siapa orang yang lo cintai, Em? Sampai lo segitu merananya.”

Aku tertawa getir. Tawa penuh kepedihan. Sungguh aku ingin memaki diriku sendiri saat ini. Betapa bodohnya aku menaruh rasa pada saudaraku sendiri. Aku tak menyalahkan rasa cinta yang Tuhan berikan ini padaku. Tapi mengapa harus dia orang yang aku cintai. Ini hal yang mustahil terjadi. Aku tak mungkin berkoar mengatakan bahwa aku mencintainya. Apa jadinya hubungan persaudaraan kami? Sungguh, aku ingin Tuhan menghapus semua rasa ini sedari dulu. Tapi semakin aku berniat untuk melupakannya, semakin aku mencintainya. Tanpa sadar anugerah terindah yang Tuhan berikan ini menjadi racun bagiku sendiri. Racun yang seketika memusnahkan semua kebahagiaan dalam hidupku.

Tik…
Sesak. Aku tak mampu lagi menahan sesak yang terus menghujam jantungku. Hingga tangis mengakhiri perdebatan hatiku. Devan menatapku khawatir.

“Lo kenapa nangis, Em?” Semakin ia bertanya air mataku semakin tumpah. Devan segera menyeka air mataku lalu menatap lamat-lamat mataku yang dihujani air mata.
“Hiks.. hiks…” aku terisak. Tangisanku semakin membuncah tatkala Devan mendekapku erat. Mencoba menenangkanku dalam pelukkannya. Sungguh saat ini juga ritme jantungku berdegup semakin kencang. Pelukkan pertama yang kurasakan darinya. Hangat dan damai. Perlahan Devan membelai lembut rambutku. Aku masih berada dalam dekapannya. Memukul kecil dada bidangnya seolah meluahkan segenap emosiku di sana. Kesal karena aku tak pernah bisa mengungkapkan segala hasrat yang terpatri kuat di hatiku.

Devan pun menyudahi dekapannya. Ditatapnya mataku lamat-lamat lalu menyeka air mataku perlahan dengan ibu jarinya. Lagi-lagi ia menuai senyuman. Senyuman tertulus yang selalu ia hadiahkan untukku.

“Emily! Kamu tahu? Bahwa kita punya cerita yang sama.” Ucapan Devan seketika menghentak kesedihanku. Mataku dengan cepat menatapnya.
“Maksud kamu?” Tanyaku padanya sembari menatapnya datar.
“Hah… jatuh cinta itu hal yang lazim, Emily. Siapa pun berhak merasakannya. Hanya saja…,” Devan menghentikan ucapannya lalu beralih menatapku.
Aku menatapnya seolah menunggu jawaban selanjutnya dari mulutnya.

“Aku mencintaimu, Emily!”

Deg…
Seolah ada benda jatuh di jantungku. Sungguh aku tak menyangka kata-kata itu akan keluar dengan mudahnya dari bibirnya. Kata-kata yang sejatinya juga ingin kulontarkan padanya. Antara bahagia, sedih, dan haru. Semua berkumpul menjadi satu. Aku tak bisa merangkai kalimat lagi setelah itu. Jika ada kata indah selain bahagia maka aku akan menggunakannya.

“De..van… kamu…”

Cup…
Mataku membulat sempurna ketika merasakan sentuhan lembut bibirnya menyentuh bibirku. Jantungku semakin berdegup kencang tatkala lidah kami bersatu. Kulihat matanya sudah terpejam. Sungguh aku tak dapat memejamkan mataku. Antara perasaan bersalah bercampur dosa. Kupejamkan perlahan mataku. Sungguh saat ini juga aku ingin menghentikan waktu. Bahagia. Tentu saja. Namun aku tak tahu mau dibawa ke mana hubungan kami setelah ini.

Kami pun menyudahi ciuman kami. Mataku masih terpejam tak percaya akan apa yang barusan terjadi. Devan pun begitu. Ia menyentuh bibirnya dengan jarinya. Dia berkeringat. Sepertinya dia tak menyangka akan hal yang ia lakukan barusan. Kami saling terdiam. Tak ada satu pun kata terlontar setelah kejadian tadi.

“Emily!”
“Devan!” Kami serempak memanggil nama masing-masing. Gurat cemas dan malu terlihat jelas di wajahnya. Devan menggaruk kepalanya seraya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
“Jangan katakan siapa-siapa tentang kejadian barusan. Sungguh aku minta maaf.” Ucapnya tanpa menatapku. Mungkin saat ini ia malu.

Aku mengangguk cepat seraya menatap nanar rerumputan di taman. Sungguh aku juga tak berani menatapnya saat ini. Entah apa yang ada di pikirannya hingga ia dengan beraninya menciumku. Jika cinta cukup dengan rasa saja. Tidak usah menciumku. Apa kata dunia? Dunia akan menertawakan kita saat ini. Bahkan kupastikan Tuhan mengutuk kita saat ini juga.

“Sekarang apa jadinya kita?” Tanya Devan sesaat kemudian seraya menatapku. Aku beralih menatapnya canggung. Perlahan aku menggeleng. Menjelaskan bahwa aku juga tak tahu ke mana arah hubungan kami setelah ini.
“Bisakah aku menjalin hubungan yang lebih serius denganmu, Emily?” Tanya Devan seraya menggengam tanganku. Lalu mengusapnya dengan ibu jarinya.
“Devan… kamu tahu kan kita ini apa? Kau sepupuku. Anak dari adik perempuan ibuku. Kita sepupu kontan.” Balasku seraya menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Devan menghembuskan kasar napasnya lalu melepaskan genggamannya dari tanganku.

“Aku bodoh! Mengapa aku mengungkapkannya, ya? Harusnya ini tak kulakukan. Ck… sudahlah. Lupakan semuanya. Kita takkan bisa bersatu, Emily.”

Seperti ada dentuman keras yang menghantam jantungku. Aku bagai terseret ke pelosok dinding lalu terhempas ke dasar jurang. Baru saja aku bahagia mendengarkan kalimat dramatis itu dari mulutnya. Kini ia hempas kembali dengan kalimat menyayat hati yang sama sekali tak ingin kudengar. Ya, sampai kapan pun kami takkan pernah bisa bersatu. Entahlah, mungkin saja di akhirat nanti Tuhan berbaik hati untuk mengizinkan kami bersatu. Meski sangat kecil kemungkinannya.

“Devan… aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Namun apa jadinya hubungan ini? Kita takkan pernah bisa bersatu hingga dunia ini lenyap. Selamanya.” Batinku berucap seraya menangis menatapnya.

“Hubungan cinta kita takkan mungkin terjadi. Tapi setidaknya aku lega. Karena aku bisa mengungkapkannya padamu.” Ucapnya seraya tersenyum menatapku. Satu sentuhan lembut dari tangannya mendarat di kepalaku. Aku tersenyum menatapnya. Sungguh aku tak ingin mengatakan hal yang sama padanya. Hal yang selama ini selalu menghujam jantungku. Menyesakkan dadaku dan mematikan seluruh sel sarafku. Aku sama sekali tak punya keberanian untuk mengatakan bahwa aku mencintainya. Biarlah kusimpan semua rasa ini sendiri. Tak usah aku turut mengungkapkannya padanya. Karena itu akan semakin menyakitinya. Cukup dia yang mengucap cinta. Aku tak perlu. Karena percuma. Tuhan tak merestui kita bersama. Bahkan dunia menghujat cinta kita.

Yang pasti satu hal yang harus kamu tahu. Aku mencintaimu dalam diam. Itu sudah cukup. Terimakasih karena telah jujur padaku. Devan, i Wuf you.

Cerpen Karangan: Indah Laras
Facebook: Indah Laras

Cerpen I Wuf You merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Coldest Love

Oleh:
Boston, 20 September Tepukan meriah menyambut hangat ketika gadis itu menunduk manis di atas podium. Ia kembali menegakkan tubuh sambil melambaikan tangannya. Gadis itu tersenyum. Setelah merasa puas menyapa

Sekuntum Bunga Yang Mekar

Oleh:
Prisya dikenal dengan gadis tomboy yang ceria, dia mempunyai dua sahabat namanya Rey dan Rezza. Rey dikenal dengan lelaki yang tampan, bertubuh tinggi, berkulit putih, dan religius, sedangkan Rezza

Cinta Pandangan Pertama (Part 1)

Oleh:
Seperti halnya kota metropolitan yang lain dimana masyarakatnya setiap hari sibuk dengan urusannya demi memenuhi kebutuhan hidup yang semakin hari semakin mencekik untuk segelintir orang. Aku pun demikian, menginjak

Sahabat Itu Nggak Ada Putusnya

Oleh:
Aku masih menatapnya tidak percaya saat ia mengatakan dengan jelas, di depan wajahku, dia memutuskan tali persahabatan yang telah terjalin sejak lima tahun yang lalu. Aku menggeleng-geleng, menatapnya nanar.

Monochrome

Oleh:
Gadis tersebut menumpukan dagunya pada kedua tangannya, ia tengah mengamati seseorang dengan hikmat. Tanpa sadar seulas senyum terbit di wajahnya dan kedua manik matanya tampak sangat berbinar. Jika seseorang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *