Idol Scandal (Part 1)

Judul Cerpen Idol Scandal (Part 1)
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 24 November 2016

Suasana riuh penonton memenuhi stadium tempat konser penyanyi papan atas paling fenomenal abad ini, di antara lautan penonton yang berteriak dan menggila disini aku hanya bisa menggelengkan kepala sambil menutup telingaku. Anak-anak remaja begitu heboh disini mereka berteriak, loncat-loncat bahkan ada yang sampai menangis, dan salah satu remaja labil yang menggila di sini adalah adikku fans fanatik penyanyi ini. Aku tak mengerti ini konser musik atau apa karena aku sama sekali tak bisa mendengar suara si penyanyi, yang bisa kudengar hanya teriakan penonton yang menggila dan memekikan telinga.

Kepalaku benar-benar pusing mendengar kebisingan ini, kalau saja ibuku tidak memaksaku untuk menemani adikku aku tak akan mau membudegkan telingaku sendiri seperti ini. Aku merasa handphoneku bergetar sejak tadi, dengan susah payah aku mengambil handphone dari tasku ada beberapa panggilan tak terjawab dari nama kontak ‘killer men’. Mampus aku, mengabaikan telepon dari orang yang paling berpengaruh untuk kelangsungan hidupku. Dengan perjuangan keras melewati orang-orang yang berjingkrak bak cacing kepanasan akhirnya aku berhasil keluar dari keriuhan itu menuju lorong yang lumayan sepi meskipun sayup-sayup suara riuh itu terdengar.

“Ayan… kemana saja kau ini?” Suara keras memekikan telinga langsung mrnyambutku ketika telingaku menempel pada layar handphoneku.
“Aku tak ingin dengar alasanmu pokoknya materi untuk kuliah umum harus sudah ada di mejaku besok pagi.” teriak si penelepon.
Aku akan menjawab tapi si penelepon langsung menutup teleponnya, aku mengumpat kasar pada handphone tak bersalah saking kesalnya pada sikap si penelepon yang semau gue itu.

Namaku sebenarnya Ayana agak aneh memang, tapi itulah nama dari mendiang buyutku sebelum meninggal. Orang-orang memanggilku Ana tapi hanya si killer men itu yang memanggilku Ayan yah panggilan aneh menyerupai nama penyakit gitu. Aku sempat protes tapi dengan seenak dengkulnya dia bilang ‘Gajimu gak akan ditransfer bulan ini’ yah beginilah nasib asdos tak ubahnya pembantu bagi dosen sejenis si killer men, sejenis pria bujangan lapuk yang super kuno.

Selesai menelepon aku mencari kamar mandi untuk membenarkan dandananku yang pasti sudah acak-acakan karena berjubel dengan penonton tadi. Ketika membuka pintu aku langsung disuguhi dengan pemandangan yang tak layak dikonsumsi publik, secara spontan aku langsung lari dan membanting pintu yang sedang kupegang cukup keras. Nafasku sedikit tak beraturan saking kagetnya, aku mengsugesti diriku sendiri untuk menghapus tontonan yang tak layak untuk otakku yang polos ini. Aku berjalan mengendap-ngendap dari area toilet tapi baru beberapa langkah seseorang mencekal lenganku dan menarikku hingga terperangkap menempel di dinding.
“Aku tak melihat apa-apa… aku tak melihat apa-apa” ucapku cepat.
Orang yang menarikku tadi memperhatikanku dengan seksama, dia mendekatkan wajahnya padaku hingga aku bisa melihat jelas wajah orang itu mirip-mirip dengan wajah poster yang dipampang depan stadium. Dia memposisikan tangannya di sebelah kanan dan kiri kepalaku, dia semakin mendekatkan wajahnya membuatku ketakutan akan apa yang terjadi selanjutnya.
“Jika ada berita tentang skandal kami, maka kaulah orang yang pertama akan kucari” ancamnya.
Aku mengangguk mengerti dan langsung merendahkan badanku dan berlari setelah lepas dari kekangannya. Aku berlari ke luar stadium karena rasanya tak mungkin aku kembali ke tempat dudukku di dalam, terlalu melelahkan jika harus bertarung menerobos lautan fans yang menggila itu selain itu aku masih shock karena kejadian barusan. Aku menunggu di pinggir stadium beruntung disini banyak orang yang berjualan jadi aku tak merasa takut meskipun hari sudah malam.
Pukul 10:30 malam konser baru usai dan setelah menunggu hampir setengah jam barulah Yura adikku muncul dengan segala atribut dan pernak-pernik yang dia beli sebagai souvenir.

Paginya aku bangun kesiangan karena konser semalam, kepalaku masih nyut-nyutan sakit karena efek konser. Setelah menyiapkan segala hal dan tentu saja sholat subuh yang mendekati waktu sholat dhuha aku berangkat ke kampus yang celakanya si killer men pasti sudah sampai duluan di mejanya hingga mau tak mau aku harus menyiapkan telingaku untuk menerima amukan darinya karena keterlambatanku.

Aku tinggal di apartemen yang agak menjorok dari pusat kota sehingga buat nyari taxi aja ampun lamanya sehingga kendaraan yang paling pas adalah ojek, yah tapi mau bagaimana lagi tau kan bagaimana penampilan kita kalau naik ojek belum lagi macet ibu kota membuat si tukang ojek harus salip sana salip sini membuat kita harus relain lutut kita kejedot ini itu. Turun dari ojek semua mata tertuju padaku, aku bingung melihat orang-orang menatapku segitunya kuperhatikan penampilanku dan aku tak merasa ada yang salah dengan stelan bajuku. Celana bahan, kemeja berbalut blazer dan sepatu plat shoes, kuperhatikan tatanan rambutku yang kuikat rapi jadi tak mungkin mengembang seperti singa, aku hanya memakai bedak dan lipstik natural jadi tak ada yang salah dengan penampilanku. Aku tak menghiraukan tatapan mereka yang mengiringi setiap langkahku menuju tiang kematian di ruang dosen.

Aku membuka pintu dan si killer man sudah melotot untuk mulai ngamuk beruntung waktu perkuliahan sudah dimulai mau tak mau dia langsung meminta bahannya dariku tanpa ada acara ngamuk dulu. Sepanjang jalan semua orang terus menatapku dan berbisik-bisik di hadapanku, aku tak tahu apa yang terjadi tapi semua itu cukup menggangguku. Hingga di perjalanan pulangpun banyak orang yang menatapku hingga aku masuk apartemen Yura and the gang langsung menyerangku.

Yura and the genk memojokanku di dinding dan mengerubungiku sambil terisak menuduhku tega mengencani idola mereka. Aku bengong tak mengerti sikap para ABG labil di hadapanku ini, tapi mereka tak peduli dengan kebingunganku dan malah berorasi betapa berharganya Mark bagi mereka. Aku semakin tak mengerti, Mark, berkencan dan segala hal tentang Mark yang mereka ucapkan membuatku hanya bisa bengong bahkan aku juga tak kenal siapa Mark yang sedang mereka bicarakan dan tangisi itu.

Aku menyuruh mereka diam dan menghentikan drama picisan yang sedang mereka pertontonkan di hadapanku. Aku mendorong mereka satu persatu agar menyingkir dariku tapi belum sepenuhnya lepas dari mereka, aku sudah kembali ditarik untuk duduk dan menyodorkan ipad agar aku membacanya. Aku menuruti keinginan mereka dan membaca berita dari sebuah tabloid online yang telah membuat mereka jadi menggila seperi ini. Mataku langsung melotot melihat fotoku yang sedang berpose aneh dengan pria asing yang disebut bernam Mark itu merebak di situs online.
Ke-4 pasang mata di hadapanku menatapku dengan sengit meminta penjelasan. Belum selesai rasa kagetku karena berita di situs online itu suara bel di depan apartemenku membuatku terlonjak kaget. Aku membuka pintu dan mendapati seseorang memakai masker dan topi serta baju serba hitam berdiri di hadapanku diapit dua pria berbadan besar di belakangnya. Aku melongo melihat orang-orang yang berpakaian bak di film-film pembunuhan ini. Pria bermasker menarikku masuk ke rumahku sendiri dan menarikku menuju pintu kamar dan menutupnya, kejadian itu berlangsung sangat cepat hingga 4 pasang mata di ruang tamu pun hanya diam saja tak melakukan apapun.

Pria bermasker itu membuka masker dan topinya menampakan seorang pria tampan, aku hanya bengong melihatnya rasa-rasanya ini seperti aku masuk ke sebuah film dimana dialah peran utama prianya. Aku menggelengkan kepala mengusir pikiran tidak masuk akal di kepalaku, aku menatap pria itu yang rasanya pernah kulihat tapi aku lupa di mana.
“Siapa kamu?” tanyaku
Dia membelalakan matanya tak percaya mendengar pertanyaanku, dia menatapku garang dan mendekatkan wajahnya padaku.
“Siapa aku katamu, jangan pura-pura bodoh aku tahu kamu fansku, semalam kita baru bertemu kau tak ingat?” tanyanya garang.
Aku menatap bingung padanya, ‘wajahnya sih emang ganteng tapi apa iya dia seleb dan apa katanya aku fansnya sepertinya orang ini sedikit tak waras’ ucapku dalam hati. Aku mengingat-ingat orang yang sudah kutemui baru-baru ini dan sadar aku memang pernah bertemu dengannya.
“Kau orang mes*m di toilet itu kan?” tanyaku tanpa dosa.
Orang itu semakin melotot marah padaku, aku tak tahu apa yang salah tapi aku yakin memang dia orang yang mengancamku di dekat toilet kemarin. Orang itu menarik nafas berat dan membanting tubuhnya ke atas kasurku yang rapi sambil bergumam tak jelas. Aku melotot melihat tingkah tak sopannya dan mencerca kelakuannya tapi sebelum aku mulai bersuara orang itu langsung menarikku duduk di sampingnya.
“Aku ini Mark, penyanyi dan aktor papan atas yang konsernya kau tonton kemarin dan mengenai yang di toilet itu juga benar aku”
Jadi orang inilah yang dari tadi Yura and the genk ributkan dan dia pula yang menyeretku hingga aku masuk pemberitaan gosip tak masuk akal itu. Aku menatapnya tajam penuh emosi kemarahanku sudah sampai ke ubun-ubun hendak keluar tapi belum sempat aku bersuara ucapan Mark sukses membuatku terdiam. Mark seorang superstar memintaku untuk pura-pura jadi pacarnya untuk sementara waktu agar hubungannya dengan Alice tak terekspos ke media. Dia bilang Alice baru debut skandal sedikit saja bisa mempengaruhi kelanjutan kariernya, dia juga tak mau dicap sebagai penjahat wanita jika tidak mengakuiku sebagai pacarnya mengingat foto kami yang tersebar dengan pose yang pasti menimbulkan salah paham tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Aku menolak ide gilanya dan menyuruhnya untuk pergi dari tempat tinggalku, dia terus memohon dan memelas bahkan dia sampai menunjukan puppy eyesnya tapi aku tak terpengaruh sama sekali dan tetap menyeretnya ke luar. Aku tak mengenalnya maupun Alice apa untungnya aku menolong mereka gila aja aku mengorbankan diriku untuk jadi tameng mereka lagipula aku ini berwajah pasaran jadi tak mungkin mereka menyangka itu aku bukannya lama kelamaan gosip akan berlalu begitu saja. Mark menuruti perintahku untuk ke luar dari tempat tinggalku dan dia tak ke luar sendiri karena Yura and the genk yang merupakan fans fanatiknya langsung ikut ngerubunginya. Aku tak peduli dengan mereka karena aku sangat lelah dan yang ada di kepalaku adalah tidur.

Esoknya ketika aku ke luar dari gedung apartemen wartawan langsung memburuku, aku hanya bengong melihat mereka beruntung tukang ojeg langgananku sudah stand by menungguku sehingga aku langsung capcus kabur dari para pemburu berita itu. Di kampus kondisi tak jauh beda, aku sampai heran darimana mereka bisa tahu siapa aku, tempat tinggalku hingga tempatku bekerja. Aku masuk ke kampus dengan mengendap-ngendap tapi ternyata fans fanatik Mark sudah menungguku dan langsung memburuku ketika melihatku lewat. Keadaan kampus menjadi gaduh karena wartawan dan para ABG labil penggemar Mark yang memburuku hingga ujung-ujungnya aku kena peringatan karena aku dianggap dalang dari kekacawan ini.

Dalam sekejap hidup tenangku berubah karena kehadiran idol gila yang masuk ke hidupku. Wartawan dan fansnya memburuku kemana-mana hingga aku harus menutupi wajahku dan mengendap-ngendap untuk pulang ke rumahku sendiri seperti maling. Sesampainya di gedung apartemen keadaan lobi gelap, ‘Huh apalagi sekarang?’ keluhku dalam hati. Aku masuk ke gedung itu tak berapa lama cahaya lilin menyala satu persatu menerangi ruangan itu hingga aku bisa melihat Mark berdiri di hadapanku. Aku melotot padanya dan siap mengeluarkan makianku padanya tapi ekor mata Mark menyuruhku melihat ke sekelilingku. Aku melihat fans Mark berkumpul di kanan kiriku bahkan orangtua pun ada disini ditambah lagi wartawan sudah berjubel di belakangku.

Mark mendekat ke arahku, dia berbisik ke telingaku dengan halus tapi penuh dengan nada ancaman. Dia menyuruhku untuk menerima lamaran darinya atau diamuk fansnya apalagi di sini juga ada orangtuaku, dia bilang dia sudah mengantongi restu dari orangtuaku. Aku menatapnya sangar tapi dia malah tersenyum manis, aku tak tahu kenapa idol gila ini bertindak sejauh ini tapi mau tak mau aku menerimanya ketika dia menarik tanganku dan menyematkan cincin di jari manisku. Semua orang riuh bertepuk tangan menyaksikan betapa romantisnya Mark pada pacarnya sedangkan aku ingin rasanya melumatkan tulang-tulang Mark karena menyeret hidupku ke kehidupan rumitnya.

Setelah pertunangan konyol itu hidupku jauh dari kata nyaman, apartemen kecilku menjadi sarang berkumpul fans fanatik Mark yang diketuai Yura. Hampir setiap hari aku mendapatkan surat kaleng bernada ancaman, di kampus si killer men selalu ngamuk dan mencari-cari kesalahanku agar dia bisa meledekku yang tak kompeten tapi berpacaran dengan idol. Penggemar Mark banyak yang mendukung hubungan kami tapi tak sedikit juga yang menentangnya. Kehidupan tentramku benar-benar terenggut setelah mengenal Mark dan tersangka pengganggu hidupku itu dengan seenaknya bolak-balik ke apartemenku layaknya rumah sendiri. Dia memiliki kunci apartemenku lebih parah lagi dia bahkan membawa Alice juga untuk menyambangi rumahku. Berulang kali aku mengusirnya tapi dasar tak punya malu dia balik lagi balik lagi ke apartemenku.

Cerpen Karangan: Nina
Facebook: min hyu na

Cerita Idol Scandal (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jangan Pernah Lupakan Aku Lagi

Oleh:
Pagi ini, burung-burung tampak berkicau menyapaku. Sinar matahari yang hangat menyelimuti pagi yang indah ini. Aku mulai membuka mata dari tidur lelapku. Kulihat jam dinding biruku menunjukkan pukul 6

Bukan Sembarang Hati

Oleh:
Baginya, merasakan cinta dari seseorang itu indah dilihat, dan manis dirasakan. Merasa diperhatikan, disayang, juga dihargai. Ya! Like a watermelon. Pipi yang bersemu merah bila hati terasa sedang bergetar.

Antara Jarak, Waktu dan Cinta

Oleh:
Malam itu mungkin menjadi malam terindah bagi ku, bahkan menjadikan malam layaknya tempat impian yang penuh akan harapan yang membahagiakan. Bagai malam penuh bintang yang menghiasi langit malam, di

Takdir, Aku dan Aries (Part 2)

Oleh:
Dear Aries… Kamu masih penasaran kan dengan kelanjutan ceritaku? Kau tahu betapa aku merindukanmu? Seandainya aku bisa menceritakan kisah ini langsung padamu. Kamu mungkin tak punya waktu membaca semua

The Other Side of A Fault

Oleh:
Wajah polos itu menatap padang rumput yang terbentang luas di hadapannya. Pikirannya melayang jauh dari tempat raga itu berpijak. Matanya terpejam secara perlahan seiring hembusan angin. Terdengar suara alam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Idol Scandal (Part 1)”

  1. Lulu Mahmudah A says:

    Cerpennya kayak nanggung banget. Greget jadinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *