I’m Not Perfect (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sejati, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 5 December 2015

Aku masih berharap keajaiban itu ada, meski logikaku sendiri pun meremehkan harapan itu. Walau parasku secantik bidadari kata mereka, namun itu tak sedikit pun membuatku merasa percaya diri. Bukan karena aku tak bersyukur atas hidup ini, namun aku hanya ingin seperti mereka yang bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Aku memang gadis pendiam yang lebih suka menyendiri. Menikmati aroma kehidupan yang damai di tepi sungai memang menjadi hal wajib yang harus ku lakoni setiap hari meski hanya sebentar.

Sementara mereka semua sibuk dengan hingar bingar dunia mereka, aku pun demikian. Aku menikmati duniaku sendiri tanpa seorang pun tahu nikmatnya tiada terkira. Bahkan setiap detiknya kehidupan ini sungguh terasa sangat luar biasa. Aku mengira mereka semua rugi jika mengabaikan rahmat Tuhan ini hanya untuk mencari harta dan tahta. Masih menikmati suasana tepi danau yang tenang, ku coba menutup mata dengan perlahan dan menghirup udara yang begitu hebat dampaknya untuk hidupku ini.

Cepluukkk!!
Mataku seketika terbuka ketika mendengar sesuatu terjatuh ke sungai, entah itu apa. Tiba-tiba datang seorang lelaki dan langsung mencebur ke sungai yang cukup dangkal itu. Mungkin sesuatu itu begitu berharga baginya hingga tingkahnya kelimpungan mencari barang yang tak ku ketahui sebelumnya. Aku hanya bisa memandangi lelaki yang sedang kebingungan mencari barangnya tepat di depan mataku. Setelah beberapa menit dia tak juga menemukan barangnya, hingga dia tampak putus asa. Lelaki itu memasang wajah lesu dengan keadaan basah kuyup. Matanya lirih seolah kehilangan semangat, sesekali dia meremas kepalanya dan berteriak sekeras mungkin dengan posisi membelakangiku. Sepertinya dia tidak melihatku yang sedari tadi memandanginya heran.

“Ehm,”
Ku keluarkan suara berharap dia tahu ada seseorang yang terganggu dengan tingkahnya. Lelaki itu berbalik dan mulai menyadari keberadaanku. Dia melangkah mendekat kemudian duduk di sampingku dengan tatapan asing. “kamu udah dari tadi ya di sini?” Tanyanya memiringkan kepala padaku.
Aku hanya membalasnya dengan senyum. Aku segera merogoh tasku dan memberikan sapu tangan untuk mengusap wajahnya yang terlihat basah kuyup.

“Innndah,” Ejanya membaca tulisan yang terajut di sapu tangan itu.
“namamu Indah?” Tanya lelaki itu semakin mendekatkan wajahnya padaku.
Aku pun hanya mengangguk tersipu malu.
“Aku Rangga, tapi orang biasa memanggilku Angga. Senang bisa bertemu denganmu,” sapanya mengulurkan tangan.

Jantungku berdegup kencang ketika berjabat tangan dengan lelaki yang baru ku kenal beberapa detik yang lalu itu. Sebelumnya memang aku belum pernah mengenal pria sedekat ini. Meski hanya berjabat tangan, namun rasanya sungguh dahsyat. Aku masih ingin berbincang dengannya, namun aku tak mau dia tahu bahwa aku ini berbeda dengan gadis normal lainnya. Tidak, aku tidak boleh jatuh cinta secepat ini, aku takut jika hanya aku yang merasakan ini, pikirku bergejolak. Aku merebut sapu tangan itu, dan berlari meninggalkannya.

“hey tunggu,” teriaknya padaku mencoba memintaku untuk tinggal.
Namun aku enggan berbalik arah, “aku pasti akan menemukanmu kembali.. aku janji,” ungkapnya lantang padaku yang semakin jauh meninggalkannya.

Seperti biasa, mentari masih memberi kehangatan untuk jiwaku yang sepi. Namun logika dan hatiku mulai tak sejalan sekarang. Jika hatiku masih membutuhkan kedamaian dan ingin segera ke tepi sungai seperti hal yang selama ini ku lakoni, justru logikaku melarangku ke sana karena aku tahu lelaki itu pasti sedang menungguku di sana. Ya, lelaki yang ku temui kemarin itu memang sempat membuat tidurku gusar semalaman. Kali ini ku putar balik langkahku, ku putuskan untuk menuju taman yang berada tak jauh dari pusat kota.

Rasanya tak jauh berbeda dengan sebelumnya, aku masih bisa menghirup udara segar di tengah kesibukan para pencari kehormatan itu. Aku ingin berteriak mengajak mereka meninggalkan aktivitas sejenak dan ikut merasakan rahmat dari Tuhan yang begitu nikmat ini yang terlalu sering mereka abaikan. Sesekali aku memejamkan mata untuk meresapi kemerduan suara sang pengamen yang menghampiriku. Jari-jarinya terlihat lihai memetik senar gitar tua itu, dan lagunya yang indah begitu membuatku ikut tenggelam di dalamnya. Masih memejamkan mata karena terlena dengan alunan musik melow, tiba-tiba si pengamen memiliki niat jahat. Pengamen itu meroyok tasku dan mencoba membawa kabur.

“To…ong!!! to…ong!!!” teriakku terbata-bata.

Ah, percuma saja aku berteriak, karena tidak ada yang mungkin mengerti bahasaku. Tuhan, lagi-lagi aku harus merasakan hal ini utuk kesekian kalinya. Ketika aku ingin mereka mengerti apa yang sedang aku rasakan, namun tak ada satu pun yang peduli. Aku berlutut lemas, seraya menangis meratapi nasib yang menimpaku di pagi yang semula cerah ini. Bukan karena tas itu, namun karena aku harus merasakan kesulitan Lagi, sebab kekuranganku ini. Tak lama kemudian, tangan seseorang menyerahkan tas milikku itu dan membantuku untuk bangkit. Mataku mula-mula melirik dari sepatu seseorang yang telah menjadi penolongku pagi ini. Senyum manis tersungging di bibirku, air mataku mulai ku usap dan ku ganti dengan lekuk manis penuh bahagia. Namun aku terkejut ketika mataku memanjat ke atas, melihat sosok lelaki berhidung mancung itu.

“sudah ku bilang, aku pasti akan menemukanmu kembali. Dan sekarang, Tuhan mengabulkannya kan?” sapanya penuh senyum.
Aku dengan sigap mengetik sesuatu di tabletku untuknya, “Terima kasih,”
“iya sama-sama,” jawabnya kembali melempar senyum padaku.
Aku segera pergi meninggalkannya, karena tak tahan melihat kerlingan matanya yang indah dengan senyum manis yang mampu menjerat hatiku itu.

“tunggu!” tangannya menarik lenganku yang mencoba pergi.
Terkesan berlebihan memang, jika jantungku berdegup lebih kencang dari kemarin.
“aku hanya ingin mengobrol denganmu, jika aku sudah menolongmu hari ini, tidak bisakah kamu menolongku untuk mengusir sepi?” terusnya dengan suara lirih.
Lidahku kaku, denyut nadiku seolah terhenti, dan pikiranku mulai melayang jauh ke awan. Namun di sisi lain logikaku menyeruak, bisikan ketakutan itu mulai muncul.

Aku takut jika nanti dia menjadi illfeel padaku karena keterbatasanku, aku takut jika semakin lama aku bersamanya, aku tak bisa mengendalikan perasaanku hingga melampaui batas.
“ayolah, nda,” ajaknya padaku yang masih membelakanginya.
Baiklah, untuk sekali ini saja ku menangkan hatiku untuk sekedar berkenalan dengannya, sebagai pengganti rasa terima kasihku padanya.
Dia melepas genggamannya dan membiarkanku melangkah lebih dulu menentukan tempat di mana kita akan mengobrol.

“kenapa harus ke tempat ini lagi?” matanya menyisir luas sungai.
“karena di sini aku mendapatkan kedamaian,” ungkapku lewat tablet miniku.
“kamu tidak heran mengapa aku hanya diam dari kemarin?” terusku padanya.
“tidak,” jawabnya dengan wajah datar.
Justru sekarang aku yang merasa heran, mengapa lelaki setampan dia masih mau mendekatiku padahal jelas-jelas dia tahu aku ini bisu.

Hari itu menjadi awal perkenalanku dengannya. Kami sering melakukan komunikasi lewat ponsel karena aku sadar diri bagaimana keadaanku yang tidak mungkin menggunakan bahasa isyarat yang sulit untuk dicerna olehnya. Meski kini kami hanya berteman, namun jauh di lubuk hati terdalam ini mendambakan lelaki sepertinya. Aku hanya ingin berkesempatan merasakan bagaimana indahnya cinta jika engkau izinkan Tuhan. Tabku memang sudah penuh dengan pesan darinya, dan pikiran ini juga mulai terpenuhi banyak hal tentangnya. Bunga cinta mulai bersemi, dan aroma khas parfumnya masih sangat melekat di penciumanku yang tajam ini. Aku hanya ingin menyebut namanya dengan indah, meski itu hal yang mustahil.

Sore ini Angga mengajakku ke suatu pantai tak jauh dari kota hanya untuk sekedar jalan-jalan menikmati indahnya sunset. Aku merasa aneh ketika dia memandangiku penuh mesra. Aku melihat kedamaian di mata indahnya itu, senyumnya begitu memikatku hingga aku tak ingin berpaling darinya. “nda? Aku udah mengenal banyak tentangmu, begitu juga kamu, udah terlalu banyak tahu tentang aku. Ya meski via ponsel, tapi aku udah merasa nyaman banget sama kamu. Jika dulu kita dipertemukan di tempat favoritmu, sekarang aku akan mengajakmu ke tempat favoritku salah satunya adalah di sini. Dan besok kamu bisa mengunjungi tempat kerjaku, kamu bisa kapan aja main ke sana karena sekarang kamu bukan orang lain lagi buatku,” Jelasnya menyorot mataku.

Tuhan, perasaan apa ini? Mataku rasanya tak mampu beralih dari sosok Angga. Dia terlihat datar mengucapkan hal itu, namun berbeda denganku yang merasa baru saja mendengar kata-kata indah dari seorang penyair handal. Dia adalah lelaki pertama yang masih mau mendekatiku meski tahu aku tidak sempurna. Aku berjalan ke bibir pantai untuk sejenak bersyukur atas terkabulnya doa yang ku panjatkan setiap malamnya pada Tuhan.

09.30. Aku memoles wajahku lebih cantik dari biasanya, memilah dan memilih gaun teranggun yang akan ku kenakan untuk menemui lelaki pujaanku. Aku menyiapkan menu spesial untuknya agar kita dapat sarapan bersama nantinya. Aku memang sengaja tak memberitahunya jika aku akan menyambanginya sebagai kejutan pagi ini. Langkahku kian pasti, sesekali ku ciumi kotak nasi ini karena tak sabar untuk menyantapnya bersama Angga. Sesampai di lokasi kerja Angga yang bertempat di sebuah taman itu, hatiku semakin membuncah. Aku tak sabar menebak ekspresi Angga yang pasti terkejut bahagia melihat kedatanganku.

Dan ternyata.. Denyut nadiku lagi-lagi seolah berhenti sekejap, namun kali ini bukan karena rona bahagia melainkan ada kejanggalan yang tertangkap oleh mataku. Aku melihat banyak wanita yang jauh lebih sempurna dariku. Mereka memiliki tubuh yang seksi dengan postur tubuh tinggi semampai. Sementara Angga terlihat sibuk memotret gadis berbusana minim dengan pose yang penuh gairah. Nyaliku menciut, aku merasa bagai si kerdil yang kehilangan rembulannya. Hatiku terluka, menyadari keterbatasanku yang tak mungkin mampu menggapai lelaki yang dikelilingi banyak wanita nan sempurna. Aku membalik kan badan mengubur niatan awalku dan mencoba melangkah pergi.

“Indah? Kaukah itu?” tanyanya lantang.

Bersambung

Cerpen Karangan: Hanatul Ummah
Facebook: Hanatul Ummah

Cerpen I’m Not Perfect (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Last White Rose

Oleh:
Kupandangi mawar putih yang berada di dalam vas transparan di atas meja riasku. Mawar itu selalu kurawat sehingga terlihat indah saat kupandang. Di samping mawar putih itu ada sebuah

Jurnal Mama

Oleh:
Pagi ini aku membuka lemari tua ayahku, setelah kepindahan ku kemari, kepindahan kembali tepatnya. Aku belum sempat melihat-lihat rumah tua ini, selain semak belukar di sekeliling rumah yang berencana

Dion (Part 2)

Oleh:
Masih di sebelah Dion aku duduk di mobilnya. Rasanya seperti biasa Dion mengajakku pergi jalan-jalan dulu, aku selalu duduk di samping Dion. Raisa di belakang dengan bonekanya yang selalu

Remember Rain

Oleh:
Senja kali ini memerangkapkanku dalam kerinduan yang semakin lama hadirnya semakin pekat terasa. Lengkap dengan nyanyian mistis tetes hujan yang menurunkan beribu cerita di setiap tetesnya. Tidak, rasanya hanya

Popeye For Naura

Oleh:
“Tangannya yang halus dengan hati-hati membelai tubuhku, aku terhanyut bersama senandung merdunya, statusnya tak membuatku tenggelam akan jalannya, dia terus memberitahuku betapa pentingnya arti menghargai, aku pun meninggalkannya dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *