I’m Not Perfect (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sejati, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 5 December 2015

Dia berlari mendekat padaku yang masih sibuk menata hati. Biar bagaimana pun aku tak boleh terlihat lemah di depannya, aku hanya tidak ingin jika dia tahu bahwa aku mencintainya, amat sangat mencintainya. Ku tampakkan senyum manisku untuknya, dan dia kembali mencairkan hatiku lagi. Justru dia mengenalkanku pada gadis-gadis cantik yang ternyata hanya rekan kerjanya itu. Tangannya terus menggenggam erat tanganku yang merasa asing dan agak minder berkenalan dengan para model cantik yang terlihat begitu wah di mataku.

Keringatku bercucuran ketika aku dipusingkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan padaku. Beruntung Angga menarikku menjauh dari mereka dan tak membiarkan mereka tahu tentang kekuranganku. Aku agak kecewa padanya kali ini, karena dia tak jujur pada temannya itu bahwa aku gadis bisu. Jika mereka tahu bahwa aku bisu tentunya mereka tidak akan mencecarku dengan pertanyaan-pertanyaan yang ku anggap aneh.

“kenapa cemberut begitu sih? Senyum dong!!” tanyanya sambil menyantap hidangan dariku.
Aku pun dengan sigap membuka tabletku dan mengetik sesuatu untuknya.
“kenapa kamu tidak bilang ke mereka kalau aku ini gadis bisu? Biar aku tidak dikeroyok dengan pertanyaan mereka yang gak penting itu?” aku masih saja memasang wajah ketus memalingkan muka darinya.

“gak perlu, lagian kamu ke sini kan mau ngajakin aku sarapan.. sekarang ayolah temani aku sarapan pagi,” bujuknya mencoba menenangkan hatiku.
“apa kamu malu memiliki teman bisu sepertiku? Aku memang tidak pantas berteman denganmu yang setiap hari dikelilingi oleh wanita-wanita cantik yang lebih sempurna,” terusku masih bersikap ketus padanya. Membaca tulisan dariku, Angga berhenti makan dan menarik tanganku. Mengajakku menatap matanya lebih dekat dengan mendekap wajahku.

“dapat mengenalmu adalah anugerah terindah untukku. Aku hanya tidak ingin melihatmu menangis karena ulah mereka jika tahu kamu berbeda. Jadi jangan pernah berpikir serendah itu. Justru kamu lebih sempurna dibanding mereka, kamu tahu mengapa? Karena hatimu masih berfungsi. Duniamu masih sangat natural, kesetiaanmu sudah pasti terjamin, kamu tidak pernah mengucap kata-kata yang kotor. Dibanding mereka yang hanya menggunakan paras cantik untuk mendapatkan kepuasan mereka. Kecantikanmu itu alami, karena pancaran aura dari hatimu yang begitu tulus. Jadi tolong jangan pernah sebut mereka lebih sempurna darimu,” Ulasnya menatap mataku tajam.

Bulir-bulir cinta itu menyatu menggumpal di dalam hati ini, kali ini gumpalannya semakin besar seiring kemantapan hatiku untuk dapat merajut cinta dengannya. Ya, sejak saat itulah status hubunganku naik satu level menjadi sepasang kekasih. Sepasang kekasih yang ku harap dapat abadi hingga kelak maut memisahkan. Meski berbeda, aku ingin tampak seperti pasangan kekasih lain yang terlihat serasi. Bahkan aku ingin membuatnya merasa lebih beruntung dari mereka meski itu sangat sulit bagiku. Namun tekat dan asaku untuk mencintainya sudah sangat membuncah, aku rela melakukan apapun demi dirinya tetap bersamaku. Kejutan-kejutan kecil memang sering ku berikan padanya, dan aku berusaha menuangkan seluruh perhatianku untuknya setiap saat, meski berawal dari hal yang sepele.

09.30.
“Happy Anniversary 1 Year my Honey,” pesta kejutan dariku untuknya yang selama setahun ini masih mampu menjaga hatiku.
“terima kasih,” katanya memakai bahasa isyarat tangan.
“aku akan selalu mencintaimu di sisa waktu yang ada. Kita akan selalu bergandengan bersama meski ku tahu kau berbeda. Bagiku kamu lebih sempurna dibanding mereka,” terusnya memainkan tangan sebagai bahasa isyarat.

Air mataku pecah memandangi kesungguhan kekasihku untuk mengungkapkan perasaannya lewat bahasa isyarat. Aku tahu tidak mudah untuk mempelajarinya, karena tak semua orang mampu dan mau untuk mempelajari bahasa kaum minoritas seperti kami. Dia membuka tangannya menyambut pelukan dariku. Genap satu tahun, dia mampu bertahan denganku si manusia yang tidak sempurna. Bukan tidak sempurna, aku hanya berbeda katanya. Aku akan terus setia bersamanya apapun yang terjadi, karena hati ini sudah lumpuh olehnya.

“Ang.. Ang.. a..h,” rasanya lidah ini benar-benar kaku.
Aku memang sudah sejak lama belajar mengucap namanya, aku ingin suatu saat nanti dapat menunjukkan padanya bahwa aku bisa mengucapkan namanya dengan amat sangat indah, seperti dia yang sering mengucap Indah namaku.

Drrrt, Drrrrt, Drrrt
Getar ponselku terdengar, pertanda pesan dari orang terkasih telah sampai padaku. “keluarlah,”
Aku sontak berlari keluar kamar, melihat dari atas balkon. Kembang api bersahut-sahutan terlihat menghiasi langit rumahku malam ini. Indah memang, namun akan terlihat sangat berkesan lagi ketika aku dapat bertemu dengannya malam ini meski hanya sekejap. Ponselku kembali bergetar.

“kita bisa video call sekarang? Ada yang ingin aku tunjukan padamu,” tulisnya penuh mesra.
“ini kan udah lewat tengah malam? Sebaiknya kamu tidur aja, istirahat dulu ya sayang,”
“gak bisa tidur kalau belum lihat senyum manismu. Miss you,”

Aku memang terlalu bodoh bisa sesenang ini hanya karena rayuan gombal yang bisa saja dilakukan setiap lelaki. Namun istimewanya adalah dia yang pertama mengucap hal itu untukku. Ku pandangi wajah tampannya yang sudah terlihat mengantuk, aku melihat rasa lelah yang coba dia sembunyikan dariku. Dengan bahasa isyarat lagi-lagi dia berhasil mengundang air mata bahagiaku untuk mengalir lebih deras. Dia juga menyanyikan sebuah lagu cinta untukku, di tengah malam yang kian menusuk tulang rusuk ini. Tuhan, aku semakin tak ingin melepasnya, izinkan aku untuk dapat selalu merengkuh indahnya cinta bersama insan ciptaanmu itu.

Waktu berlalu begitu cepat, tak sadar hari ulang tahunku jatuh pada hari esok. Sementara Angga sekarang sibuk di luar kota untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sudah seminggu lebih memang dia tidak menghubungiku namun aku tetap percaya padanya. Aku masih tetap optimis menggenggam hatinya hanya untukku saja. Hingga tiba pada hari dimana aku dilahirkan, tak ada sebait ucapaan dari kekasihku itu. Beberapa puluh pesan yang ku kirim tak ada satu pun yang dia balas. Aku semakin takut, aku takut jika terjadi hal buruk padanya. Tuhan, jaga kekasihku untukku, lindungi dia hingga dia kembali padaku karena aku sungguh tak ingin dia terluka.

Beberapa minggu berlalu dan tak ada kabar darinya, dia seolah menghilang entah ke mana. Hari-hariku dipenuhi rasa gelisah cemas akan dirinya. Mungkinkah dia telah berpaling dariku? Apakah dia menemukan gadis lain yang lebih memikat dibanding aku si gadis cacat yang tak tahu diri ini? Hatiku bergejolak meragukan kesetiaan Angga.

“nda?”

Suara yang ku rindukan dari sosok penakluk hatiku itu memang sering terngiang di telinga ini. Aku di sini masih tetap bertahan menjaga kesetiaan cinta kita, meski aku tak tahu di mana dia sekarang. Tepat di tempat ini, aku bertemu dengannya. Di tepi sungai penyimpan kenangan indahku bersamanya. Aku teringat dulu ketika dia sibuk mencari barang miliknya yang tidak berhasil dia temukan. Pikirku mulai oleng, hasutan tak masuk akal mulai merajai hatiku, mendorongku untuk masuk ke dalam sungai. Aku kehilangan kendali, meluapkan kecamuk hati ini pada air tenang yang tak berdosa.

Aku melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Angga setahun yang lalu. Dengan air mata yang tak terbendung lagi, aku seolah membabi buta menyisir sungai itu. Tak peduli basah kuyup atau menjadi perhatian banyak orang sekali pun, asal aku dapat menemukan barang itu. Hingga kakiku terluka karena pecahan kaca yang tak sengaja terinjak olehku. Aku tak peduli, seberapa banyak darah yang kini menyatu dengan air di sungai itu. Akhirnya… Ku temukan sebuah kamera, ya ini sesuatu yang ku cari. Terima kasih Tuhan, kau tidak pernah meninggalkanku sedetik pun dalam kesusasahan.

“Ang….a, Ang..A,” kata itu yang selalu ku coba teriakkan meski sangat sulit.
Aku ingin dia mendengar jeritan hatiku yang hampir mati karena rindu yang begitu menyiksa. Tahukah dia, di sini ada air mata yang sedang menunggunya kembali.

19.00.

Aku masih menikmati lamunanku, menatap kosong dinding tak bernyawa itu. Sesaat aku mendengar suara Angga memanggilku pelan, “nda?” ucapnya pelan.

Lamunanku pecah, dan sontak aku berlari ke luar untuk menemui Angga yang terlihat berdiri bersama temannya di bawah. Angga? kaukah itu? Aku masih tak percaya. Ku pandangi tubuhnya yang kini terlihat lebih kurus. Ku peluk dia erat-erat seolah tak ingin dia pergi lagi. Aku mencoba mengajaknya berbahasa isyarat mengungkapkan kerinduanku yang amat mendalam padanya.
“Ang..a, A..u, in..a , aaa.. U,” ucapku terbata bata.

“percuma nda, sekarang kamu tidak perlu lagi menunjukkan tabletmu padaku untuk sekedar mengungkapkan perasaanmu padaku. Sekarang aku tidak lagi bisa melihat indah senyummu,” terangnya melepas kaca mata hitamnya. Ku lihat jahitan di kedua mata dengan luka menganga di keningnya. Dia memberiku sebuah album foto berisi beberapa gambarku yang diambilnya tanpa sepengetahuanku selama setahun ini. Kecelakaan di perjalanan pulang memang sangat tragis yang mengakibatkan dia harus merelakan penglihatannya.

“sekarang, aku sudah tidak dapat lagi mencuri pose-pose indahmu sayang. Sekarang kita tidak perlu menggunakan bahasa tubuh untuk sekedar mengobrol. Karena kita memiliki bahasa baru sekarang, yaitu bahasa hati,” terusnya mencoba tegar.

Air mataku semakin tumpah, mencoba menerima kenyataan memilukan ini. Aku kembali memeluknya erat-erat, berharap kita selalu disatukan hingga di surga kelak. Jika dulu saja dia mampu menerima kekuranganku, mengapa tidak denganku? Karena sejatinya cinta tidak memandang keindahan yang terlihat, namun merasakan kenyamanan yang berdiam di hati.

The End

Cerpen Karangan: Hanatul Ummah
Facebook: Hanatul Ummah

Cerpen I’m Not Perfect (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Andrea dan Andromeda (Part 1)

Oleh:
Beberapa orang butuh waktu lama untuk menyadari sesuatu Beberapa yang lain butuh waktu lebih lama untuk mengakuinya Banyak orang yang terlambat menyadari sesuatu sehingga menyesalinya di kemudian hari. Tapi

Unconditional (Part 1)

Oleh:
Gadis itu menyeruput jus jeruknya tanpa ekspresi nikmat. Lalu dia menyingkirkan anak-anak rambutnya, yang diterbangkan angin dari wajahnya, dengan gerakan yang gusar. “Dia bakal marah besar kalau tahu tentang

Menjemput Cinta di Melbourne

Oleh:
Malam ini langit Melbourne terlihat begitu cerah. Bintang-bintang nampak tersenyum seraya terus memancarkan sinar mereka yang terang secara serempak seperti pertunjukkan sirkus yang begitu menakjubkan. Bintang-bintang itu terus menghias

Senja Kita Yang Terakhir

Oleh:
Senja yang selalu kau rindu, kini hanya bisa kunikmati seorang diri. “Dulu setiap senja memang milikmu, tidak dengan senja yang sekarang sebab senja ini milikku” ucapku pada diriku sendiri.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “I’m Not Perfect (Part 2)”

  1. Tieckaa says:

    Cerpennya cukup menyentuh..i like it..bgus bnget

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *