Inilah Aku (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 20 March 2013

Kutunggu jawaban itu, sayang. Ayolah. Jawab. Don’t deceive me, please..
Randi lama melihati Aya yang sedang berdiam seperti patung. Aya seperti bingung ingin mengatakan apa.
“Aya?”
Aya pun kaget. “Eh, eh iya. Kenapa?”
“Kamu belum menjawab pertanyaanku, sayang.”
“Maaf, Ran. Aku enggak bisa jelasin sekarang. Tapi, suatu hari nanti kamu akan tahu sendiri kok.”
Randi hanya tersenyum mendengar jawaban itu. Hm. Mungkin, belum saatnya. Nikmatin aja lagi ini pesta. Pikir Randi. Randi pun kembali ke tempat pesta Aya digelar. Ia pun bertemu dengan Fadhil yang masih asyik menikmati kebersamaannya dengan Atri.

“Hey, Ran. Lho darimana saja?”
“Aku? Hm. Dari belakang. Kenapa? Kamu udah mau pulang?”
“Entar aja deh. Gue masih mau disini. Bete’ tau gue dirumah.”
“Lebay kamu, Dhil.”
Waktu telah menunjukan pukul 14.00. Sudah ada beberapa teman Aya yang sudah pulang. Antara lain, Lia, Shaka, Resky, Maul, dan Ningsih. Sisa Randi, Niel, Fadhil, Atri, Afi, Caris, Lina, dan beberapa teman Aya lainnya. Mereka tinggal ngobrol dan bercanda ria sambil mengganggu Fadhil dan Atri. Apalagi si adeknya Fadhil dan temannya. Dhill dan Adri. Mereka berdua yang paling heboh dalam mengganggu orang–maklum anak kecil.
Kini, waktu telah menunjukkan pukul 15.00. Lama juga mereka ngobrol. Kemudian, Afi, Caris dan Lina yang sedaritadi hanya mendengarkan kami bercerita sambil bermain Ipad, kemudian angkat bicara.
“Main yuk.” Ajak Afi.
“Mau main apa?” Tanya Randi
“Main apa aja. Aya, main yuk.”
“Bagaimana kalau kita main Boy?” ajak Aya.
“Boleh juga tuh.” Kata Niel.
“Tapi kami berdua enggak ikutan yah.” Kata Fadhil.
“Yaudah. Kalian seumpama jadi orangtua kami aja.” Kata Lina yang kemudian membuat Atri agak ilfiel.
“Awas lho, Lin.” Ancam Atri. Mereka semuapun tertawa melihat hal itu. Kemudian mereka pun bermain tanpa Fadhil dan Atri. Randi sekelompok sama Afi, Cia (adik Aya), Angie, Aziz (adik Aya) dan Dhill. Sedangkan Aya, dia sekelompok dengan Caris, Lina, Niel, Adri dan Owiy. Setiap bola yang dilempar kearah Randi, pasti Randi selalu mengasari Aya. Haha. Sungguh lucu. Hingga akhirnya, waktu telah menunjukan pukul 17.00. Sudah sore. Sebenarnya, mereka masih ingin bermain. Cuma, Afi, Caris dan Lina sudah ditunggu jemputannya. Terus, ditambah lagi Adri yang sudah dicari-cari orangtuanya. Kemudian, Adri pun mengajak Dhill pulang.
“Dhil, pulang yuk. Aku udah dicari sama mamaku nih.”
“Yaudah. Pamit dululah. Kak Aya, kami pamit mau pulang dulu. Makasih. Dan, mas fadhil, emang belum mau pulang?”
“Pulang aja sono duluan. Entar mas nyusul bareng Niel dan Randi. Hati-hati ya, dek.”

Kemudian, Randi duduk bersama Aya. Randi kemudian memainkan sebuah lagu menggunakan gitar. Sungguh indah sore itu. Kemudian, Niel pun mengajak pulang.
“Ran, Dil. Pulang yuk. Udah sore nih.”
“Yaudah. Yuk, Dil pulang. Atau, Atri juga sekalian mau diantar pulang? Ayo.” Kata Randi sambil mengajak Atri.
“Dan, Aya. Aku pulang dulu. Makasih. Sampai jumpa besok, sayang.” Ujar Randi sambil tersenyum kearah Aya. Aya pun membalas senyum manis Randi sambil berkata, “Ya. Aku juga mau berterima kasih. Hati-hati dijalan, sayang.”
Kemudian, Randi pun berjalan kearah mobilnya sambil melambaikan tangan. Randi pun segera naik didalam mobil karena dia sudah sedaritadi ditunggu oleh Niel, Fadhil dan Atri.
“Ran, rumahku belok kanan terus lurus ya.” Kata Atri.
“Ok.”

setelah sampai dirumah Atri, Atri pun segera turun sambil mengucapkan terima kasih kepada Randi dan Fadhil. Kemudian mereka bertiga melanjutkan perjalanan pulang. Diperjalanan, mereka bertemu dengan Adri dan Dhill.
“Fadhil, adekmu kan?” tanya Niel.
“Jelas. Kentara banget kalau Dhill.” Mereka pun mengikuti Adri dan Dhill sampai dirumah Adri. Mereka pun singgah sebentar. Randi pun mentraktir Niel, Fadhil dan Dhill minuman soda yang dijual Adri. Sempat, Randi ngobrol bersama Adri.
“Adri, aku ngerasa ada yang aneh sama Aya. Dia kenapa ya?”
“Kak, kak. Berapa hari inikan saya kurang dekat sama kak Aya. Soalnya kak Aya sibuk bener untuk menghadapi olimpiade itu. Dan yah. Dia pun sibuk mengurusi masalah OSIS yang tambah menjadi-jadi itu.”
“Soal OSIS? Hmm. Yeah. OSIS lagi sibuk-sibuknya walau aku udah bilang, urusan ini enggak usah dulu dikaitkan atau dipergunakan Aya dulu. Huh. Dasar Aya. Kalau soal olimpiade, oklah dia sibuk. Aku ngerti kok. Hmm. Mungkin, dia belum mau cerita.”
“Yeah. Sabar saja, kak. Kakak jangan musingin itu terus.”
“Hmm. Ok, dek. Makasih. Bay the way, coca-colanya 4. Jadi, semuanya berapa, Dri?”
Adri tersenyum kemudian berkata, “20.000, kak.” Randi pun kemudian menyodorkan satu lembar uang duapuluhan, kemudian pamit ke Adri dan melanjutkan perjalanan pulang sambil mengkawal Dhill, adik Fadhil. Yang pertama diantar, ya, Fadhil. Kemudian, Randi mengantar Niel.

Sesampainya dirumah, Randi kemudian masuk kekamarnya dan kemudian dia memikirkan hal yang tadi. Hmm. Kemudian, ada sms masuk. Dia berharap itu dari Aya, tapi ternyata dari Fadhil.
“Ran, besok kesekolah klo naik mobil gue nebeng ya?”
“Hmm. Terserah. Dan kayaknya memang aku kesekolah besok ngendarai mobil. Motorku mau dipake bang Rian besok.”
“Ok deh.”
Huuh. Randi sungguh tak menyangka hari ini itu sungguh spesial. Tapi, itu dia. Dia masih mengingat masalah yang tadi. Astaga. Pikiran Randi kini kacau. Tiba-tiba, ada orang yang mengetuk pintu kamarnya. Akh, siapa lagi. pikir Randi. Tiba-tiba terdengar suara dari luar,
“Ran, udah waktu makan malam. Ayo makan dulu.” Ternyata, kakaknya, Rian. Dengan malas, Randi keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang makan. Disana, sudah ada papa, mama, Zahra (adik Randi) dan kak Rian.
Randi pun hanya makan sedikit, kemudian kembali ke kamarnya. Dia masih bingung dengan sikap Aya. Hah. Aya. Gadis cantik, manis, dan pintar. Semoga, dia dapat menjadiyang pertama dan terakhir dihatiku. Pikir Randi. Tiba-tiba, telponnya berbunyi. Sms doang. Pikir Randi. Setelah dia lihat, ternyata sms dari Adri. Smsan sama Adri ah. Hilangin jenuh bentar. Paling-paling, ini anak mau curhat tentang Altaf lagi. tapi, entahlah. Pikir Randi.
“Malam, Ran.”
“Malam, Dri. Ada apa?”
“Ini, ada kabar baru tentang kak Aya.”
“Apaan?”
“Err, sebelumnya, Adri mau nanya, lomba band itu kapan, Ran?”
“Mungkin minggu depan hari Rabu. Kenapa?”
“Minggu depan, tepatnya hari Senin, kak Aya lomba Biologi. Terus, katanya nggak ada yang anterin. Terus, saya dengar dari Dhill, yang ikut lomba dalam seminggu itu libur ya? Kenapa, kak Randi enggak pergunain waktu itu saja untuk tahu lebih lanjut? Atau kamu bisa nanya ke Atri (klo dia mau)??”
Randi pun berfikir. Betul juga ya yang dibilang ini anak.
“Widih.. Betul juga ya, Dri. Lancar bener otak lho. Tapi, dia lomba jam berapa?._.”
“Hehehe.. Andrian gitu lho. Jam 9 klo nggak salah.”
“Jam 9? Okok.. Sesudah antar Zahra, aku jemput Fadhil dan Niel, mungkin habis itu bisa kali ya aku antar Aya?”
“Yop. Semoga saja. Bay the way, udah dulu ya kak. Aku mau tidur nih. Gnite. Have a nice dreams.”
“Too” Randi pun memikirkan hal itu matang-matang.
(TBC)

Cerpen Karangan: Nurul Fatimah Az Zahrah
Facebook: azzahrahnurul[-at-]blogspot.com

Cerpen Inilah Aku (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Unconditional (Part 3)

Oleh:
Sesunggunya, yang paling menyakitkan dari sebuah perpisahan adalah karena kehilangan yang tiba-tiba. Seperti halnya seorang perok*k yang dipaksa berpisah dengan rok*knya. Atau pecandu nark*ba yang suplainya dihentikan tiba-tiba oleh

Penguntit

Oleh:
HAH! HAH! HAH! Dengan napas yang terengah-engah, Della masuk ke rumahnya dan segera mengunci pintu. Della masuk ke rumahnya dengan perasaan lega. Dia lalu merebahkan dirinya di atas kasurnya,

Bukan Cinta yang Salah

Oleh:
Tadi, aku memperhatikanmu, kau tahu? Tapi aku berusaha mundur. Lagi pula tidak ada penyesalan disini, atau bahkan tidak ada penyelesaian atas semua yang sedang terjadi sekarang. Aku hanya berusaha

Paris For My First Love

Oleh:
Seorang gadis cantik berusia pertengahan dua puluh tahunan duduk di sofa menghadap ke televisi sambil mengigit kuku milik jari mungilnya. “Saya akan mengumumkan siapa orang yang beruntung yang akan

One Call Away

Oleh:
“Kenapa aku?” “Ya kamulah.” Tania menjawab jutek. Aku hanya menunduk. “Sekarang gini deh, yang pacar aku siapa? Kan kamu! Masa aku minta tolong orang lain buat ngelakuin hukuman aku?

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *