Janji Bulan dan Bintang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 22 November 2017

Rani menangis di depan kubur ibunya. Ayah Rani terdiam melihat putrinya meratapi dewinya yang kini sudah kembali ke sisi-Nya. Sudah dua jam mereka ada di tempat peristirahatan terakhir Santi -ibu Rani.

“Rani… Sudah ya… Ayo pulang kita main di taman yuk”, ajak Dhani -ayah Rani berusaha tegar.
“gak mau Rani mau nemenin mama di sini… Rani gak mau ninggalin mama…”, jawab Rani terisak.
“Rani gak capek duduk di sini terus? Ayo pulang nanti mama malah nangis lo di surga ngeliat anaknya yang cantik nangis…”
“Rani gak mau ninggalin mama…”, ucap Rani polos. Dhani menghela nafas panjang lalu mencari cara untuk membujuk Rani agar mau beristirahat di rumah.
“Rani tau kan kalo mama gak suka ngelihat anaknya nangis…”, Rani mengangguk-angguk.
“nah… Makannya Rani gak boleh nangis… Ayo pulang nanti papa ajak ke taman ya”. Usaha Dhani berjalan mulus. Rani kini luluh dengan perkataan ayahnya. Rani mendahului ayahnya.
“Santi kamu yang tenang ya di sana”, ucap Dhani pelan. Lalu ia menyusul putri satu-satunya itu menuju mobil yang terparkir di depan pintu makam.

Senyum manis belum sepenuhnya terukir di wajah Rani. Senyum itu adalah senyum pura-pura. Ia berusaha kembali ceria seperti anak-anak yang lain. Ayahnya setia menemaninya bermain. Perih masih sangat terasa di hati Dhani setelah kepergian sang istri, namun ia tak ingin terlihat lemah di depan putrinya. Apapun yang ia punya akan ia kerahkan bagi putri semata wayangnya itu.

Tiba-tiba hp Dhani berbunyi. Ia segera mengangkat teleponnya dan meninggalkan Rani bermain sendirian tanpa pengawasan. Melihat ayahnya pergi, Rani kembali merasakan sakit yang sangat perih. Barusan ia merasakan sedikit kebahagiaan dari ayahnya, tapi sekarang ayahnya pergi meninggalkan dirinya sendiri dan lebih memilih pekerjaan. Wajahnya kembali murung. Ia duduk di ayunan di taman menundukkan kepalanya melihat tanah. Tanpa sadar Dhani telah meninggalakan Rani selama dua jam. Dan Rani hanya bisa menunggu dan menunggu.

Tiba-tiba muncul seorang anak laki-laki seperantaran dengan Rani.
“kamu kenapa?”, tanya anak itu berusaha menatap mata Rani yang masih terfokus sama tanah. Mata Rani terbelalak melihat wajah anak itu. Ia segera menegakkan kepalanya lalu menatap dengan tatapan heran.
“kamu kenapa?”, tanya anak itu kembali.
“ehm… Eng enggak kok… Kamu siapa?”, jawab Rani gugup.
“aku Andi, nama kamu siapa? Oh ya kamu belum jawab pertanyaanku lho?!”, ucap Andi kesal karena pertanyaannya belum terjawabkan.
“eh… Namaku Rani mamaku udah dikubur terus terus papaku teleponan sama temennya… Aku ditinggal sendiri”, jawab Rani terisak. Tak kuat menahan bendungan air mata, akhirnya Rani menangis. Andi dengan sigap menghapus air mata Rani. Lalu ia memeluk tubuh Rani dengan lembut. Dan berkata…
“kata mamaku kalo ada orang nangis berarti perlu dipeluk”, kata Andi polos. Rani membalas pelukan hangat Andi dan mengis dalam pelukkan itu.
“kalo kamu masih nangis jangan dilepasya pelukkannya”, kata Andi lagi. Rani mengangguk dan mempererat pelukkan itu.

Setelah selesai ia melepas pelukkan hangat Andi lalu tersenyum lagi pada anak di depannya.
“makasih ya…”, kata Rani sambil menepuk pundak Andi. Anak laki-laki itu melepas kalung dengan gantungan bintang dan bulan yang ia pakai. Ia melepas gantungan bulan dan memberikkan pada Rani. Lalu ia memakai kembali kalungnya.
“apa ini?”, tanya Rani bingung.
“simpen ini ya… Nanti kalo udah kuliah kita ketemuan di sini lagi ya”, jelas Andi sambil tersenyum. Rani ikut tersenyum manis melihat gantungan cantik itu. Tiba-tiba Andi mencium pipi Rani lalu pergi meniggalakan Rani.
“inget ya!”, kata Andi sambil berlari. Wajah Andi akan selalu tersimpan di memori Rani sampai kapanpun. Dan Andi akan selalu mengingat Rani sebagai perempuan tercantik yang pernah ia temui di dunia setelah ibunya.

10 tahun kemudian…
Sinar matahari menembus jendela kamar Rani yang masih terlelap dalam mimpi indah. Tak lama samar-samar ia mendengar suara lembut tante Fina adiknya ayah Rani.
“Rani ayo bangun… Hari ini kan hari pertamamu masuk sekolah baru… Masa murid baru telat? Ayo! Keburu siang”
“hem… Lima menit ya”, rengek Rani.
“ayo! Gak pake tambahan waktu!”, paksa tante Fina. Dengan malas ia berjalan menuju kamar mandi.

Setengah jam kemudian Rani sudah siap dengan penampilan rapinya. Jantungnya berdegup kencang berada di mobil tante Fina yang menuju sekolah barunya. Setelah sampai di gerbang sekolah. Kaki Rani mulai gemetar perutnya mules, keringat dingin keluar dari kening mulusnya. Ia berusaha menahan rasa sakit itu.

“have a nice day!”, seru tante Fina dari dalam mobil. Rani hanya mengangguk ragu.
Kakinya melengkah menuju satpam yang berdiri tegak di gerbang sekolah.
“permisi pak… Ruang kepala sekolah ada dim ana ya? “, tanya Rani sopan.
“murid baru ya?”, rani mengagguk sambil tersenyum.
“mari saya antar”, kata bapak itu ramah.

Dari luar sekolah itu terlihat sangat besar. Ornamen simpel nan menawan menghiasi setia sudut koridor sekolah. Satpam itu menunjuk ke arah ruangan dengan pintu besar berwarna coklat.
“silahkan…”, kata satpam ramah.
“makasih pak…”.

Ia memasukki ruangan itu dengan jantung yang melompat lompat. Sambil komat kamit membaca doa Rani memasuki ruangan itu. Seorang pria paruh baya menatap Rani dengan tatapan elang. Seketika tubuh Rani kaku. Ia melihat nama di seragam pria itu. “Tarnowijoyo Joko ir. S.Pd”, gumam Rani pelan. “Deftarani Crista Putri Rose Nindiy murid pindahan dari Surabaya”, tatapan elang itu kini berubah menjadi hangat. Pria yang sempat ia cap sebagai salah satu guru killer, kini berubah menjadi seorang ayah yang hangat. Ia berdiri dari singgasananya lalu mendekati Rani yang masih terpaku didekat pintu.
“Gak usah takut… Ayo bapak antar kamu ke kelasmu”. Lalu pria paruh baya itu membawa Rani ke kelas 11.2 di lantai 3. Ia memasukki kelas dengan jantung masih berdegup kencang.

Kepala sekolah itu memberi pengumuman pada murid-muridnya tentang siswa baru. Lalu ia memberi isyarat pada Rani umtuk memperkenalkan diri.
“selamat pagi… Namaku Deftarani Crista Putri Rose Nindiy kalian bisa panggil aku Rani, umurku 16 tahun asal sekolahku SMA Pelita Surya Surabaya, sekian”. Banyak dari mereka yang malah senyum senyum sambil melirik Rani.
“ok, perkenalannya selesai kamu bisa duduk di sebelahnya Andi”, kata guru muda itu sambil menunjuk tempat duduk yang ada di pojok. ‘Andi?’, tanya Rani dalam hati. Ia melihat wajah orang yang ada di sebelahnya. Dan benar! Itu Andi! Andi yang dulu bisa membuatnya hangat, Andi yang bisa membuatnya tersenyum kembali, Andi yang membiatnya semangat. Wajah Rani seketika berubah menjadi semerah tomat. ‘kayak di film-film aja…’, kata Rani dalam hati. Ia menundukkan kepalanya berusaha menutupi wajahnya.

Istirahat
Semua anak keluar kelas. Tak ada yang mau Menemani Rani berkeliling kelas. Tunggu ada Andi di ambang pintu kelas. Rani segera menghampiri cowok tampan itu.

“elo Andi? Inget gue gak?”, tanya Rani penuh semangat. Andi hanya mengagguk. Rani melihat perubahan drastis Andi. Andi sekarang jadi pria dingin, Andi yang hangat kini berubah menjadi seorang pria sedingin es. Tapi Rani malah tak mempedulikan hal itu, ia malah terus berbicara panjang pada Andi. Walaupun selalu dicuekin, Rani tetap dengan semangat bercerita pada Andi. Sebenarnya Andi tidak pernah nyuekin Rani, ia selalu mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir manis Rina. Tapi rasa gengsi membungkam bibirnya. Sikap cool yang ia bangun sejak pertama masuk SMA sudah tak bisa lagi dirobohkan. Jadi ia memilih diam dan mendengarkan setiap cerita Rani.

Karena kebiasaan itu, saat kelas 12 Rani jadi dianggap cewek caper. Sikapnya yang selalu terbuka pada Andi malah dipandang jelek oleh teman-temannya. Jadi kini Rani banyak memiliki musuh dalam selimut. Mereka tak tau jika Andi sebenarnya mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan Rani. Sampai suatu ketika kebohongan yang dirahasiakan dari teman-temannya sampai di telinga Rani. Ia baru menyadari apa yang telah ia perbuat hanya dianggap angin bagi Andi. Dan saat itu juga ia mulai menjaga jarak dengan Andi. Hatinya remuk ketika tau Andi hanya menganggap omongannya sebagai angin walaupun sebenarnya hal itu adalah hoax.

Andi pun melihat perubahan sikap Rani. Tak ada lagi cerita-cerita yang keluar dari mulut Rani. Bahkan ia sudah tak pernah bertemu dengan Rani selain di kelas. Cewek itu selalu membuang muka saat Andi berusaha menatap wajah manis Rani.

Beberapa minggu kemudian rasa rindu yang dipendam Andi sudah tak dapat ditahan kembali. Dengan paksa ia membawa Rani ke sebuah cafe di dekat sekolah. Dengan penuh keberanian ia bertanya apa yang telah mengganjal di hatinya.
“Ran… Kamu sekarang kok berubah?”, tanya Andi lembut. Tak ada jawaban dari Rani. Sebenarnya cewek itu ingin membalas pertanyaan Andi, tapi ia juga ingin Andi merasakan apa yang ia rasakan selama ini. Jadi ia memilih bungkam.
“Ran… Kamu kenapa?”. Rani tetaptak menjawab, namun tanpa sadar cairan bening itu keluar dari mata indah Rani. Tanpa berkata apapun, akhirnya Andi mengerti apa maksud air mata Rani. Ia sebenarnya juga sudah mendengar berita tentang dirinya dan Rani. Tapi ia tak begitu peduli, yang ia mau yaitu mendengar sepatah kata dari wanita yang diam-diam ia sukai setiap harinya.

Tangan Andi menghapus setiap tetes air mata yang mengalir terus dari mata Rani.
“aku selalu denger cerita kamu kok… Aku merhatiin kamu kok… Aku gak pernah nganggap omonganmu itu angin kok”, kata Andi sambil memegang pipi Rani. Lalu memeluk perempuan itu seperti 10 tahun yang lalu. Hangat…, nyaman…, tenang… Seketika rasa kesal terhadap Andi kini musnah dan berganti rasa bahagia. Bahagia karena bisa memeluk lelaki yang ia rinduka kembali. Bahagia karena ceritanya tak pernah dianggap angin oleh Andi.

Setelah kejadian itu kini mereka menjadi dekat kembali. Malahan sekarang yang lebih banyak bercerita adalah Andi. Mulutnya jadi mudah sekali mengeluarkan setiap cerita yang barusan ia alami. Dan tak lama kemudian munculah rumor mereka berpacaran. Sektika rumor itu dibantah Rani. Tapi anehnya Andi malah kegirangan mendengar rumor pacaran itu. Ia membiarkan rumor itu membludak di sekolah hingga mereka berdua lulus.

“Di… Janji ya sama aku kalo kita bakal ketemuain lagi di taman yang dulu… ”
“kapan? “, tanya Andi pendek.
“ehm… Gimana kalo abis lulus kuliah?”
“kelamaan”, protes Andi.
“lha?! Terus kapan? Kan kamu kuliah di luar negeri…”
“kamu kulah di Surabaya kan?”, Rani mengangguk.
“Ok gampang kalo gitu”. Kening Rani berkerut.
“maksudnya?”
“liat aja nanti”, Rani masih bingung dengan perkataan Andi.

4 tahun kemudian…
“Rani!! Ada yang manggil elo!!”, kata Dian teman kuliah Rani dengan semangat. “siapa?”, tanya Rani bingung. “ayo cepet!!”, kata Dian sambil menarik tangan Rani. “apaan sih?! Gak usah tarik tarik dong!!”, protes Rani.

Dari atas ia melihat di bawah ada seorang pria yang ia kenal sedang berdiri sambil membawa bucket bunga dan dikelilingi oleh sekelompok mahasiswa yang juga membawa bucket bunga berwarna putih dan merah. Lalu tak lama kemudian lagu Bruno Mars dengan judul Just the way you are menggema di bawah. Lalu pria yang ia kenal sebagai Andi itu memegang mic dan berkata…
“Bulan! Kamu mau gak nemenin bintang? Biar bintang gak kesepian… Biar bintang jadi sempurna…”, kata Andi penuh percaya diri.
“Bintang tau dari mana bulan kuliah di sini?! “, teriak Rani dari atas.
“ada deh…”, jail Andi. Rani tersenyum lalu pergi turun kebawah. Dari loby ia melihat wajah rupawan Andi yang memakai baju serba hitam.
“bintang… Bulan pasti mau kok nemenin bintang… Tapi maaf… Bulan bukan orang yang sempurna buat bintang”
“bintang gak pernah minta bulan buat jadi sempurna… “. Wajah Rani kini semerah apel.
“jadi… Mau apa gak?”. Rani menganggugukkan kepalanya malu-malu. Senyum di wajah Andi langsung terukir. Ia langsung memeluk perempuan yang ada di depannya dengan sangat erat. Mereka seketika dihujani tepuk tangan dan teriakan dari para penonton.

Cerpen Karangan: Grace
Blog: Grace putri.com

Cerpen Janji Bulan dan Bintang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kaulah Kamu Ku

Oleh:
“Siska siapa?” Gadis bernama Cherry itu menatap lelaki di hadapannya dengan seksama. “Siska?” Lelaki itu tampak berpikir. “Wah lo kepoin sms gue yah?” Raffi merebut handphone-nya yang ada di

Cinta Tak Pernah Salah (Part 2)

Oleh:
Setelah aku putuskan untuk move on dari Zhoumi rasanya pekerjaanku menjadi sedikit berat. Apalagi sekarang pekerjaanku semakin berat karena perusahaan akan mengadakan ulang tahun perusahaan sekaligus pernikahan putri presdir,

Midnight in Tokyo

Oleh:
Gemerlap cahaya kota tokyo menerangi sepanjangan jalan. Menerangi jalan seorang gadis yang kesepian, ia memilih untuk menyendiri di malam hari karena dia tidak mau bertemu siapapun, ia telah ditinggalkan

Burung Pipit dan Seekor Singa (Part 1)

Oleh:
Sangat sulit menjelaskan mengapa aku sangat mencintainya. Kesempurnaan yang begitu nyata dari segi fisiknya. Namun, pengorbanan yang tak begitu tulus membuatku selalu mengalah. Tapi aku yakin suatu saat nanti

Cinta Yang Lebih Besar

Oleh:
Mataku menatap lesu ke arah luar jendela kamar, memandangi dedaunan yang menunduk tertimpa setetes demi setetes air hujan. Petir saling sahut menyahut bergemuruh di langit, tidak ada panas menyengat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *