Kado Cinta di Sweet Seventeen

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 20 July 2017

Malam ini sepi, aku berdiam di teras sambil menemani bintang-bintang terang di langit yang menjulang. “Malam minggu lagi ya?” gumamku.

“Assalamu’alaikum” ucap sesorang, aku melihatnya, “Eh kamu Vin, aku pikir siapa?”, “Ngapain bengong aja, kasihan itu bintangnya”, “Lhoo emang kenapa?”, “Bintangnya bisa nangis kalau diliatin terus sama kamu, soalnya dia kalah terang dibanding kamu”, “Ada-ada aja kamu”.

Kevin, dia memang selalu datang saat malam minggu tiba dan dia akan menemaniku sampai jogging. Dia adalah sahabat yang terbaik untukku, tapi terkadang dia bisa cuek melebihi orang yang tidak aku kenal. Seperti hari ini, aku sedang membaca buku di perpustakaan, “Hey Rika, sendirian aja?”, “Oh hey Nin, iya nih”, “Boleh aku temenin?”, “Yupz” Nino duduk di sampingku sambil membaca buku lain yang tak kubaca judulnya. Aku sempat melihat Kevin melintas di depan perpustakaan, setelah ia melihat Nino di sampingku dia mengurungkan niatnya untuk masuk dan kembali ke kelas.

Pulang sekolah aku menuju tempat parkir dan baru menyadari bahwa Kevin tidak bersamaku, “Astaga, tuh anak ke mana sih, dari tadi nggak keliatan” kusapu seluruh sekolah sampai terlihat Kevin sedang berjalan dengan Soraya, aku mencoba menghampirinya tapi dia berlalu tanpa menghiraukan aku, “Gila. Cuek banget tuh bocah, awas loe ya”. Rupanya Kevin mendengar teriakanku, tapi ia tetap berjalan tanpa mempedulikanku.

Saat sampai di rumah, aku masih memikirkan sikap Kevin yang aneh seharian ini. “Kenapa Kevin bisa kayak gitu ya, tapi mungkin itu cuma untuk hari ini palingan besok juga udah baikan”, aku berinisiatif untuk meneleponnya. Suara sambungan telepon terdengar, ada yang mengangkat, “Hallo, dengan siapa?” ucap suara di seberang, “Hallo, ini Rika tante, Kevinnya ada?”, “Oh Rika, ada kok sebentar ya tante panggilkan dulu” suara tante Bertha memanggil Kevin, “Hallo, ngapain loe tumben nelepon” ucap Kevin, “Kok loe jadi kasar gitu sih ke gue, dari kemaren loe gue cariin ngilang terus”, “Kenapa sih loe tuh jadi cewek ribet banget”, “Gue nggak ngerti sama sikap loe, muak gue gue sama keegoisan loe”, “Ya udah terserah” telepon itu terputus.

Beberapa hari ini Kevin tidak menyapaku, “Hay Rika, kok tumben nggak bareng Kevin?” Tanya Nino, “Eh, emm… aku lagi ada masalah sama dia”, “Lho ada masalah apa emang?”, “Nggak tahu, dari minggu kemarin dia nggak mau ngomong sama aku”. Aku melihat ke arah kelas Kevin, aku tahu dia sempat menatapku sebelum akhirnya Soraya mengalihkan perhatiannya.

Hari ini Nino mengantarku pulang karena keadaanku yang mulai melemah sejak kemarin membuat aku sering pusing dan pandangan kabur, Kevin melangkah seorang diri menuju gerbang dan menegurku, “Ehm… udah ada yang baru sekarang, jadinya yang lama dilupain”, “Apaan sih, nggak jelas tahu”, “Cewek tuh emang gampang berpaling, hati-hati bro mungkin setelah ini loe juga bakal dilupain kalau dia udah nemu yang baru” Nino seperti ingin memukul Kevin tapi aku pingsan sehingga dia membiarka Kevin berlalu.

Aku sempat merasa pusing saat membuka mata, kucoba duduk di tepi tempat tidur, “Sebenernya apa yang terjadi sama Kevin, kenapa dia jadi kayak gitu?”

Setelah lama menimbang-nimbang akhirnya aku memutuskan untuk menemui Kevin di rumahnya.
“Assalamu’alaikum” tante Bertha membukakan pintu, “Eh Rika apa kabar?”, “Baik tante, Kevinnya ada tante?”, “Ada itu di belakang lagi sama temennya”, “Siapa tante?”, “Nggak tahu tante juga baru liat, selama ini kan yang sering main sama Kevin cuma kamu”, “Mungkin teman sekelasnya tante”, “Iya mungkin soalnya dia non-muslim”. Soraya, pasti Kevin sedang bersama Soraya, “Ya udah tante, aku ke belakang dulu ya”, “Iya”.

Saat sampai di belakang, hatiku merasa hancur seketika melihat Kevin menyuapkan tiramisu cake pada Soraya, tanpa berkata apa-apa aku berlari ke luar saat lelehan air mataku terjatuh membasahi pipi. Hujan gerimis tak kurasa saat berjalan menuju rumah, sakit rasanya saat ada orang lain yang menyamai diriku di sisi Kevin, “Sejak kecil cuma aku yang kamu suapin tiramisu, cuma aku sama kamu yang selalu tertawa bersama kamu dan sekarang ada orang lain selain aku”.

Aku sekolah seperti biasa, aku tak lagi mempedulikan Kevin yang biasanya selalu aku perhatikan meski ia selalu membuang muka terhadapku, “Hay, kamu masih marahan ya sama Kevin?”, “Ehmm iya Nin, lagian juga aku cape’ nurutin maunya, aku nggak tahu apa yang dia inginkan”, “Kamu yang sabar ya, semua pasti akan kembali seperti semula”, “Iya, makasih Nin”.

Akhir bulan ini aku merenung di samping kolam renang, “Malam ini adalah pergantian tanggal ulang tahunku, tapi kenapa sweet seventeenku menyedihkan”, aku membuka kotak memory yang pernah diberikan Kevin saat usia kita 16 tahun. Di dalamnya ada surat, foto dari kita kecil sampai berusia 16 tahun, kulihat lilin yang menyala berjumlah 17 yang kuletakkan di dekat kolam renang, “Aku rindu kamu, selama ini kita selalu bertengkar tapi kita tidak sejauh ini, aku ingin kamu tahu di usia 17 ini aku ingin kita lebih dekat” ucapku, “Aku juga ingin seperti itu” ucap Kevin, kubiarkan ia duduk di sampingku, “Ngapain kamu malem-malem ke sini?”, “Disuruh mama”, “Buat?”, “Ya nemenin kamu di malam pergantian usia kita”, “Ouwh”.

Lama kubiarkan suasana hening, “Kenapa diem?”, “Nggak ada garing aja”, “Kok bisa?”, “Ya iyalah, udah dua minggu di diemin sama loe”, “Emangnya kenapa, kan kamu juga yang bikin masalah duluan”, “Kok jadi aku? Masalah apa emang?”, “Pikir aja sendiri”, “Ouwh jadi kamu nyalahin aku, kamu cuek sama aku itu salah aku, kamu mesra-mesraan sama Soraya aku yang salah, terus aku nelepon kamunya marah-marah itu salah salah aku. Okey!” Kevin menatapku, “Masih nggak nyadar juga?” aku diam, hatiku panas bersama dengan lelehan air mataku yang menetes ke foto yang kupegang. Kevin melihatku dan dia melihat lelehan itu, diambilnya setetes yang jatuh di pipiku, “Kenapa harus menangis?”, “Hanya itu yang kamu tanyakan? Kamu nggak nanya gimana perasaan aku saat kamu jauh dari aku, kamu nggak nanya gimana cemburunya aku saat kamu dengan mesra suap-suapan sama Soraya, kamu nggak nanya butuhnya aku saat aku pingsan di sekolah gara-gara mikirin kamu. Nggak nanya itu kamu?” kutatap Kevin dengan pilu dan aku beranjak masuk ke rumah. “Yang aku maksud kesalahan kamu adalah saat kamu ada di perpustakaan sama Nino, aku cemburu ngeliat kamu deket sama cowok lain. Dan kamu nggak pernah ngerti gimana perasaan aku, kamu nggak pernah tahu gimana khawatirnya aku ngeliat kamu pingsan” Kevin menghampiriku, ia memelukku, “Maaf jika aku telah membuat air mata kamu menetes” aku hanya diam dalam pelukan Kevin, lagi-lagi aku merasa sangat nyaman ada dalam pelukan Kevin. “Aku sayang sama kamu, aku punya cinta buat kamu”, “Maksud kamu apa Vin?”, “Aku cinta sama kamu Rika, aku mau kamu jadi orang yang paling istimewa dalam hidupku” Kevin menghapus air mataku.

Waktu menunjukkan pukul 24. 00 WIB, “Happy Birthday Rika”, “Happy Birthday Too Kevin” malam itu aku dan Kevin merayakan ulang tahun berdua, dia memberikan aku kado yang terindah. Kado cinta di Sweet Seventeen.

Cerpen Karangan: Ikke Nur Vita Sari
Facebook: Ikke N Vita Sari

Cerpen Kado Cinta di Sweet Seventeen merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Friendzone

Oleh:
“Loe suka ya sama tu orang” tanya tian yang seketika ngebuat gue jadi deg degkan bukan main, mata tian masih terfokuskan ke gue tapi telunjuknya terus menunjuk seseorang yang

Akhir Dari Penantian (Part 1)

Oleh:
Dia tak pernah peduli dengan amarah ayah, yang penting aku tidak lagi sedih. Dia juga tidak peduli dengan sikapku yang nakal dan selalu menjahilinya, yang penting aku tidak menangis

Senyuman Yang Mengangis

Oleh:
Gadis itu terus saja termenung di salah satu bangku panjang yang ada di taman kota. Angin begitu sejuk hingga menerpa helaian rambutnya, membuatnya semakin indah sebagai ciptaan tuhan. Pandangannya

Forbidden Space

Oleh:
16 Februari 2011 “Vas! Woi!” Teriakan dari arah jam tiga memekakkan telinga gue. Gue sudah sangat hapal siapa itu. “Kenapa?” ucap gue jutek. “Eh, kalian duluan aja. Bentar doang

Membuatnya Berkata Pada Mereka

Oleh:
Aku berjalan terburu-buru ke tempat parkir yang masih kosong. Hanya satu motor yang sudah terparkir di sana, yaitu motorku. Teringat baju olahragaku yang tertinggal di rumah, mengharuskannya untuk kembali

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *