Kamu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 7 October 2017

“Kenapa sih?! Cari ribut mulu deh!” Teriakku pada sesosok pria yang ada di depanku. “Kok saya yang disalahin? Kan kamu duluan yang nuduh saya!” Timpalnya tak mau kalah. “Kamu itu cowok! Ngalah Kenapa sih sama cewek!” Ucapku penuh amarah. “Saya kan gak salah, jadi buat apa saya ngalah.” Lagi lagi dia tak mengalah. “Terserahlah!” Ucapku mengakhiri pertengkaran itu. Aku lelah beradu mulut dengan pria menyebalkan macam dia!

Hari hariku masih sama seperti biasa, tak ada yang spesial. Pagi ini seperti biasa aku harus berangkat ke sekolah untuk menuntut ilmu. Dengan langkah gontai kuarahkan kakiku menuju kelas. Tiba tiba pria menyebalkan itu menyenggol bahuku keras. “Aw! Aduhhh! Masih pagi juga udah ngajak ribut!” Sebalku sembari mengusap bahuku yang sakit. Biar kujelaskan sedikit awal mula keributan ini terjadi, entah karena faktor apa dia selalu mencari masalah denganku akhir akhir ini. Dari mulai menuduhku yang tidak tidak, mengomentari segala yang aku pakai, hingga hampir sering ia mencelakaiku. Aku tak tahu mengapa ia seperti itu?

“Gak sengaja. Jangan marah gitu dooong, nanti cepet keriput, loh!” Sahutnya dengan nada suara yang menyebalkan. Kuabaikan dia, lalu berjalan menuju kelas kesayanganku, karena hari ini aku harus melaksanakan tugasku. Piket kelas. Kusimpan tasku di atas bangku tempat dudukku, lalu mengambil sapu injuk yang disimpan di sudut belakang kelas. Dengan santai pria menyebalkan itu masuk tanpa permisi. Seperti ayam, tidak sopan! Ucapku dalam hati sembari masih menatap tajam ke arah pria menyebalkan itu. Tanpa menghiraukan tatapanku, ia berjalan menuju sudut kelas, lalu mengambil sapu yang sama sepertiku. Kali ini tatapanku menatapnya bingung. “Mau ngapain kamu?!” Tanyaku sinis padanya. Tanpa memandangiku ia menjawab, “Saya kasian sama kamu, pagi pagi gini sendirian piketnya. Manalagi ini kelas gede banget lagi,” Aku tertegun mendengarnya. Mesikipun nada suaranya menyebalkan, tapi ternyata di balik sifat menyebalkannya itu ia juga memiliki sifat yang penolong. “Kenapa sih liatin sayanya begitu banget? suka, ya kamu sama saya?” Ucapnya dengan nada menggoda. Kualihkan pandanganku darinya, dan kali ini aku merasa ada semburat merah merona di pipiku saat berada dekat dengannya. Apa benar aku menyukainya? Menyukai pria menyebalkan itu?

Piket pun selesai, sebelum para murid yang lain datang. “Makasih udah bantuin aku piket, ya, Rendy” Ucapku. Entah mengapa baru kali ini aku malu bicara padanya. Ia menyeka keringat di dahinya, menatapku dengan senyum manisnya dan berkata, “Sama sama. Tau dari mana nama saya? kamu stalking tentang saya, ya?” Tuduhnya dengan nada menggoda. Pipiku sepertinya sudah mulai memerah karena malu. “Ah! Apaan sih?! Baru juga baikan bentar, udah cari ribut lagi!” Gerutu dengan pipi mengembung. Dia tertawa melihatku seperti itu. Aku menatapnya terpesona. Baru kali ini aku melihatnya tertawa, menampilkan lesung pipinya yang dalam. Tampan. Ah! bicara apa sih aku ini?! Ngelantur! Teriakku dalam hati. “Ternyata piket kelas itu cape, ya? Huh!” Ucapnya tanpa memandang lawan bicaranya. Aku Menatapnya sebentar, lalu berdehem mengiyakan.

Semenjak kejadian itu, aku dan Rendy menjadi semakin dekat. Tapi masih saja ada ribut ributnya. “Hasna, nanti sore ikut aku ke suatu tempat, ya?” Ajak Maya padaku dengan tatapan memohon. “Mau ke mana?” Tanyaku bingung. “Gak usah banyak nanya! pokoknya kamu harus ikut!” Serunya dengan penuh penekanan. Aku menatapnya heran, kenapa dengan dia? Seperti ada sesuatu yang ia simpan. “Jangan liatin aku kayak gitu dong, Na… kan aku jadi ngeri,” Ucap Maya dengan wajah yang menurutku lucu. Aku kemudian tersenyum, membuat mataku menyipit dan lesung pipiku menonjol sedikit. “Kamu mau ajak aku ke mana?” Tanyaku memastikan. “Adalah pokoknya!” Jawab Maya yang menimbulkan rasa penasaranku. “Pulang sekolah, ya, Na!” Teriak Maya yang berlari menjauhiku. Entah mau ke mana ia.

Bell pulang sudah berbunyi, dengan gencar Maya menarik lenganku kencang. “Aduuhhh, May! Gak usah narik narik tangan aku bisa, kan?!” Gerutuku sebal. Maya tak menggubris pernyataanku itu, ia terus saja menarik tanganku hingga tepat di pinggir jalan. Berniat untuk menunggu taksi. “Huh! mau ke mana sih?! sampe sebegininya! sakit tau!” Ucapku dengan nada jengkel. “Sttt! ngedumel mulu deh dari tadi!” Jawab Maya meletakan jari telunjuknya di depan bibir. Kuhembuskan nafas sebal. Tak berangsur lama, taksi pun datang. Dan kami pun berangkat menuju tempat yang Maya maksud.

“May, jauh banget! ngantuk tau!” Ucapku dengan mata yang sudah 5 watt. “Bentar lagi! Sabar,” Jawab Maya santai. Karena terlalu lama, aku pun tertidur dengan pulasnya. Hingga tepukan di pipiku membangunkanku. Aku melenguh. “Bangun! nyampe, nih!” Suara Maya menggema di telingaku. “Buruan turun! dia udah nungguin!” Lanjutnya dengan nada tak sabaran. Kuletakkan tubuhku di posisi yang enak, lalu membuka pintu mobil dengan mulut yang masih menguap kelelahan. “Cuci muka sono! muka bantal kayak gitu gak enak diliat! sana, sana!” Usir Maya mendorongku ke arah pancuran air. Kuturuti saja biar cepat. Jernih dan segar airnya. “Nah! enak diliat kalau sekarang!” Ucapnya lalu menarikku cepat.

Biar kujelaskan tempat yang sedang kutapaki sekarang! Tempat ini sungguh indah, banyak bunga mawar yang berwarna warni, harum semerbak di setiap sudutnya dan suasananya romantis! Tempat apa ini? Tanyaku dalam hati. Terdengar dentingan piano yang merdu, menjadi nilai tambah dari suasana tempat ini. Kuarahkan pandanganku ke kanan dan ke kiri, mencari siapa orang yang mendentingkan suara piano dengan merdunya. “Rendy!!” Teriak Maya yang membuatku menatapnya heran. Emang di sini ada Rendy? Tanyaku dalam hati. Mataku kini tertuju pada pria yang memakai seragam yang sama denganku. Tampilannya jauh berbeda dari biasa aku lihat. Lebih rapi sekarang.

Dia mendekat, memberi senyum yang menimbulkan lesung pipinya yang dalam. Aku diam tak bergeming. Kaget, bingung mengapa Rendy ada di sini? Siapa yang sebenarnya dijebak? Akukah korban satu satunya yang ditipu? Hatiku lagi lagi berbicara. “Gak usah cengo gitu liat saya. Saya yang nyuruh Maya buat ngajak kamu ke sini. Saya mau bilang sesuatu sama kamu,” Ucapnya yang membuatku bungkam seribu bahasa. Dia melanjutkan kalimatnya, “Kamu tau, kenapa akhir akhir ini saya banyak mengganggu kamu?” Tanyanya yang mulai membuat darahku berdesir lebih cepat. Kurasakan ada gerakan pelan dari Maya yang berjalan mundur menjauhiku dan Rendy, rasanya ingin sekali menarik Maya biar tetap berdiri di sampingku, tapi entah bagaimana bisa aku beku tak bergeming. Rendy menarik nafasnya dalam, lalu melanjutkan kalimatnya lagi, “Kamu tau apa faktor utama yang membuat aku mengganggu hari hari kamu?” Dia diam sejenak menatap pupil mataku yang menatapnya keheranan. Lalu senyumnya terukir dengan indah. “Kamu. Kamu adalah faktor utama yang membuat aku tak berhenti mengganggumu.” Tunggu! Aku baru menyadari bahwa Rendy tak lagi menggunakan kata ‘saya’ padaku! “Maksud kamu apa sih, Ren?! Aku gak ngerti!” Akhirnya bisa juga ku buka mulut ini untuk bicara. “Aku mencintai kamu.” Ucapnya yang membuat aku menutup rapat mulutku. “A… a… apa kamu bilang?” Tanyaku dengan suara yang nyaris bergetar. “Aku mencintai kamu! apa masih belum kedenger juga?” Jawabnya dengan wajah yang mulai jengkel padaku. Aku mulai menormalkan kembali suara dan tubuhku agar tak terlihat gugup di depannya. “Cinta sama aku? kok bisa? kan aku musuh bebuyutan kamu?!” Timpalku yang menantangnya. “Kamu ini! hati yang bilang, kalo aku cinta dan sayang sama kamu! lagian sebelum aku bersikap menyebalkan, aku juga udah suka sama kamu! kamu itu…” Ucapnya yang membuatku kepo apa kelanjutannya. Kunaikkan sebelah alisku dengan senyum devilku, nampaknya ia kalang kabut menatapku. “Hahaha… ya udahlah! lagian sebelum kamu bilang suka sama aku juga, aku emang udah suka sama kamu. Bahkan sebelum kamu bersikap nyebelin kayak gini!” Jawabku jujur dengan rona merah di pipiku. Dia menatapku tak percaya. “Jadi?” Tanyanya memastikan. “Jadi apa?” Tanyaku memancing amarahnya. “Jadi kita?” Dengan nada suara yang jengkel padaku. “Ya!” Dengan semangat kujawab dengan sedikit teriak.

Satu detik, dua detik hingga tiga detik akhirnya Rendy sadar, bahwa aku menerimanya menjadi kekasihku. Hingga suara sorakan pun meriah di tempat ‘jadinya’ aku dan Rendy. “Akhirnya Hasna jadian juga sama Rendy!!” Ucap Maya yang menatapku penuh selidik. “Tinggal PJnya aja nih yang belum!” Timpal Daniel. “Nanti, nyusul!” Jawab Rendy dengan jempol yang ia angkat. “Sip!” Daniel bahagia nampaknya.

Hari dimana yang selama ini aku tunggu kini telah terjadi. Menimbulkan segudang kebahagiaan di hati ini.
Terima kasih, Tuhan, karena telah mengabulkan doaku yang selama ini aku inginkan. Terima kasih, dan kini aku bahagia…

Cerpen Karangan: Hana Nur A

Cerpen Kamu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Because Only You

Oleh:
16 MEI 2016 Malam ini sepi. Bulan dan bintang tertutup awan kelabu. Keadaan malam ini seperti hatiku, malam ini, aku baru saja ditinggalkan oleh orang yang aku sayangi, dia

Usap Air Matamu

Oleh:
Enam tahun yang lalu, tepatnya tanggal 20 Juli 2010 aku meninggalkan kampung halamanku. Dari Bekasi menuju sebuah desa yang berada di Pandeglang. Bersama empat temanku, kami mantapkan niat jauh-jauh

Jackpot

Oleh:
Tak terasa sudah 3 tahun setelah kepergiannya. Sudah 3 tahun pula aku menyimpan kesedihan ini. Sebuah kesedihan yang mempengaruhi hidupku. Kalau kata pepatah, sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Ya,

Satria, Males Gerak

Oleh:
Satria adalah pemuda kampung yang sok paling kesohor di seluruh belahan dunia, eh salah! di pojok kampungnya. Iya, di pojok kampungnya paling sudut. Itu pun cuma beberapa orang saja

Monas pun Jadi Saksi

Oleh:
“Oh My God, apakah aku sudah telat?” tak hentinya Janie melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Hari ini Janie mendapat tugas sebagai Koordinator Lapangan untuk suatu aksi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *