Kamu Perlu Percaya Atau Terluka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 4 August 2016

Langit sepertinya sedang bergelung resah, sedari pagi mendung menggantung namun tak juga menurunkan rintik. Sama halnya seperti gadis di sudut jendela itu, menatap langit dengan wajah merengut sedih. Sesekali dilihatnya ponsel yang beraa di dalam genggaman, sepertinya yang ditunggunya tidak juga memberi kabar. Lunglai ia melangkah meninggalkan jendela, lalu menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur sambil mendengus kesal.

“Mel, kamu nggak jadi ikut festival?” terdengar suara sang mama dari balik pintu kamar, sepertinya ia khawatir dengan keadaan putrinya.

“Masuk aja ma” Melissa bangkit lalu membukakan pintu untuk mamanya

“Mel, kamu kan bisa bawa mobil, kenapa harus nunggu hendri yang jemput?” Hendri adalah pacar melisa, mereka sudah berpacaran sejak masa SMA sampai saat ini mereka bersama-sama sedang berada di bangku kuliah. Hubungan mereka telah direstui, Hendri adalah sosok yang berkepribadian dan mapan.

“Ma, kalau aku berangkat sendiri nanti Hendri jemput aku gimana? Dia gak bisa dihubungi ma, sedangkan acaranya 30 menit lagi dimulai” Genangan air mata mulai menghiasi pelupuk matanya

Setelah terlibat pembicaraan akhirnya Melissa memutuskan untuk berangkat. Dengan berat hati ia menyetir mobil dengan gesit guna mempersingkat keterlambatannya. Di setiap lampu lalu lintas yang membuatnya berhenti, ia sempatkan untuk mengecek ponselnya, berharap ia telah mendapatkan kabar dari Hendri. Nihil, layar ponselnya kosong, tidak ada pemberitahuan apapun tertangkap disana.

Gedung festival musik sudah di depan mata, ia turun dan berlari langsung menuju backstage untuk bersiap-siap. Sepuluh menit jelang ia akan tampil membawakan dentingan pianonya, Hendri belum juga memberi kabar. Gugup, gelisah, khawatir, banyak perasaan berkecamuk dalam benaknya. Ditambah lagi kedua orangtuanya tidak dapat menyaksikan penampilannya. Pada akhirnya ia menaiki tangga menuju piano di tengah panggung, duduk dan meraba piano itu dengan getir, gaun yang digunakannya seakan tak bercahaya.

Lampu diredupkan, salah satu lampu sorot difokuskan pada dirinya, dan dimulailah alunan melody itu. Nada sedih yang ia mainkan benar-benar menggambarkan suasana hatinya yang gusar. Melissa mengakhiri permainannya dengan melody bernada sepi dan kecewa. Semua penonton terkesima, tepuk tangan bergemuruh, namun hati Mellisa tetap sunyi. Menjelang selesainya acara dan pengumuman pemenang, Melissa tidak lagi betah berlama-lama duduk dalam diam ditemani ponselnya yang membisu. Pengumuman pemenang dimulai, sudah ditebak ia adalah pemenang pertama, namun apa artinya? semua terasa tak lagi berkesan.

Selesai pengumuman, seluruh peserta kembali duduk di kursi untuk menyaksikan penampilan penutup dari sang juara.

“Sebelumnya saya mengucapkan banyak terimakasih untuk kuasa tuhan yang telah menganugerahi saya bakat ini, selanjutnya kepada panitia penyelenggara dan para juri yang telah memberikan penilaian terbaiknya untuk saya, saya akan berusaha untuk terus memperbaiki diri saya. Permainan penutup ini secara khusus saya persembahkan untuk semua pendukung saya, orangtua, dan juga kekasih saya yang berhalangan untuk hadir, terimakasih”

Melodi itu kembali mengalun, masih sedikit sedih namun di bibirnya masih ada sedikit senyum. Tiba-tiba satu persatu orang yang entah dari mana asalnya berjalan baik ke atas panggung lalu meletakkan setangkai mawar, terus begitu sampai permainannya selesai dan disambut dengan sebuket mawar merah yang dibawa oleh orang terakhir. Masih di atas panggung, dengan bingung ia melirik ke sisi kanan panggung untuk berkoordinasi pada kru, namun para kru tidak meresponnya dengan baik.

Sepersekian menit perlahan terdengar dentingan piano dari balik layar, hal ini terjadi biasanya untuk pergantian penampilan, di stage kedua, tetapi ia belum turun panggung. Perlahan ia mencoba mengimbangi permainan itu, pada akhirnya terbentuklah nada yang tidak pernah ia dengar sebelumnya, sebuah melody yang menggambarkan kesempurnaan. Tirai belakang terangkat dan ternyata Hendri adalah pemainnya, ia terkesima. Permainannya terhenti begitu saja, bahkan ia lupa dimana tempatnya kini berada.

Sambil tersenyum, Hendri mengahampiri Melissa yang membeku. Ia meraih buket bunga di atas grand piano itu lalu memberikannya pada Melissa. Bingung harus bersikap bagaimana, ia hanya meraih buket itu dengan gugup. Ternyata di antara bunga itu terselip sebuah sesuatu yang berbentuk seperti kelopak mawar yang merekah. Hendri mengambilnya perlahan lalu berlutut.

“Mel, ini gak seberapa dibanding dengan cinta yang udah kamu kasi ke aku” dibukanya kotak itu perlahan ternyata isinya adalah sebuah kalung bermatakan berlian yang dibentuk mirip dengan kelopak mawar.

“Mel, Will You Marry Me?”

Semua penonton bertepuk tangan serentak, benar-benar menimbulkan gemuruh yang memekakan telinga. Melissa tak dapat membendung air matanya, perlahan ia menganggung dan berkata…

“Yes I Will”

Tepuk tangan semakin semarak, entah siapa kini yang memainkan melodi penuh cinta dari piano di belakangnya, kinia ia hanya terfokus pada Hendri. Pelukan hangat itu melekat di tubuhnya, menenangkan hati yang tadinya gusar. Kini semua seolah jelas dan jauh lebih terang, ia melangkah menurui panggung mawar kembali berjatuhan mengiringinya dan Hendri. Semua mata memandang penuh makna dan mereka berakhir bahagia.

the end

Cerpen Karangan: Widya Saraswati
Facebook: Widya Saraswati
Namaku Ni putu widya saraswati
akrab dipanggil saras atau widya
aku bersekolah di SMAK KESUMA MATARAM
Di bangku kelas 11
salam kenal.

Cerpen Kamu Perlu Percaya Atau Terluka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


That Rainy Day

Oleh:
6 Mei 2013 Lagi-lagi hujan.. Perempuan itu menatap langit berselimut hitam. Cuaca terlihat kurang baik. Aku benci hujan. Ia langsung berlari menerobos hujan yang masih rintik-rintik menuju halte yang

The Seniors Novelist

Oleh:
Aneh, dia selalu memandangku seperti itu. Layaknya singa lapar yang menemukan mangsa. Dan sedetik selanjutnya, dia akan tertawa seperti sedang menoton stand up comedy. Nicholas Yovian, Kakak Kelas menyebalkan

Love? Just Be Patient (Part 2)

Oleh:
Rain datang ke rumahku, membawa parcel buah, aku sedang menghibur diri di depan rumah melihat bunga-bunga. “Hi! Rain!” aku setengah terkejut. “Nona sudah terlihat membaik.” Rain membuka pembicaraan. “Iya

Dion (Part 2)

Oleh:
Masih di sebelah Dion aku duduk di mobilnya. Rasanya seperti biasa Dion mengajakku pergi jalan-jalan dulu, aku selalu duduk di samping Dion. Raisa di belakang dengan bonekanya yang selalu

Salah Paham Tapi Masih Cinta

Oleh:
“Tok… Tok… Tok” Suara ketuakan pintu terdengar dari luar kamar Windy. “Win bangun, ini gue Visya” Suara lantang Visya sontak membangunkan Windy dari tidurnya. “Iya Sya masuk aja gak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *