Karena Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 11 January 2017

Hujan turun lagi membasahi langit langit rumahku. Kali ini hujanya deras. Jalanan terlihat sepi. Hanya percikan percikan air yang kini dapat kulihat.

Awalnya hujan sangat menyebalkan bagiku. Tidak bisa beraktivitas, main di luar, jalan jalan dan masih banyak lagi hal yang tidak bisa kulakukan saat hujan turun.
Namun kini berbeda. Aku sangat menyukai hujan. karena hujan telah mempertemukanku dengan sesosok malaikat tanpa sayap. karena setiap kali hujan ingatan tentangnya kembali hadir dalam benakku.
Tapi karena hujan pula perpisahan itu menjadi sangat berat bagiku. Merelakan aku tak sanggup. Sampai saat ini aku terus mengingatnya dan ingin bertemu denganya.

Tiba tiba aku tersenyum melihat bingkai foto yang terletak di dinding kamarku. Foto kebersamaan antara aku dan dirinya. Foto itu memang jelek. karena saat itu temanku mengabadikan kebersamaanku dengan malaikatku secara tidak sengaja. Tapi foto itu mengingatkan kembali tentang masa lalu yang sangat singkat saat bersamanya.

Dalam waktu satu bulan, dia mampu memahami sikapku. Begitupun diriku. Mampu menghadapi sikapnya yang kadang sok romantis, sok cool, tapi juga baik dan pengertian.
Sekarang aku benar benar merindukannya. Merindukan satu bulan bersamanya. Tapi kini dia telah jauh. Meninggalkan sejuta kenangan dan janji padaku.
Dimana kamu?

Hari ini tepat hari ulang tahunku. Tapi rasanya tidak ada kebahagiaan dalam meriahnya pesta yang sengaja orangtua persiapkan untukku. Apa aku benar benar kehilanganya? Dua tahun tak ada kabar dan entah dimana dia sekarang.
Semua orang merasa senang dan menyanyikan lagu ulang tahun untukku. Tapi rasanya masih ada yang kurang tanpa kehadiranya.

Keesokan harinya aku pulang sekolah dengan malas. Bagai kehabisan energi. Tapi ini beda. Perasaan sedih muncul saat hari ulang tahunku kemarin. Dan sampai saat ini rasa sedih itu kembali menghantuiku dengan semakin kuat.

Tak terasa hujan mulai berjatuhan. Mengenai kepala dan seluruh tubuhku. Tanpa sadar aku berjalan pergi ke taman. Entahlah, ada suatu keyakinan bahwa aku akan menemukan kebahagiaan disana.

Sampai di taman aku melihat seseorang yang tengah duduk dibangku taman. Ia juga basah sepertiku. Dan hujan kembali turun dengan deras.

“Rafika?”.
Aku berhenti melangkah saat namaku disebut orang yang tidak kukenal itu. Aku pun berbalik badan dan melihat siapa yang baru saja menyebut namaku.
“Rafika? Kaukah itu?”.
Mataku membelalak dan mulai menitikkan air mata. Tak berapa lama saling bertatapan, dia langsung menarikku ke dalam pelukanya. Dan tangisku pecah dalam kehangatannya.
“Aku sangat merindukanmu”. Ucapnya.
Kulepas pelukanya dan kembali menatapnya. Masih terlihat tampan.
“Kamu kemana aja? Kenapa nggak ada kabar? Aku fikir kau sudah melupakanku?”. Ucapku disela sela tangis.
“Mana mungkin aku lupa denganmu. Kukira kau yang lupa dengan orang yang mencintaimu ini”. Jelasnya.
Aku tercengang mendengarnya. Aku dapat merasakan pipiku yang mulai memerah karena malu. Dan yang lebih parah suaraku tidak bisa keluar saat ini.
Kebisuan kembali hadir dalam kebahagiaan ini. Air mukanya sangat menunjukkan bahwa ia senang bertemu denganku. Senyum bahagia tidak hilang dari wajahnya sejak tadi.

Tiba tiba dia meraih tanganku dan menggenggamnya di dalam jemari jemarinya.
“Dengan kesaksian hujan, maukan kamu jadi kekasihku?”.
Sejenak aku terdiam dan kemudian menarik nafas panjang.
“Bagaimana bisa aku menolaknya!”. Ucapku kemudian.
Dia menarikku dan mengajakku pulang ke rumah. Selama perjalanan menuju rumahku, genggamanya tidak lepas dari tanganku.

Kata orang hujan itu romantis. Dan aku baru merasakan keromantisannya hanya darinya. Oh! Aku sangat bahagia.
Aku tidak akan membenci hujan lagi. karena hujan dulunya menisahkanku dengan orang yang sangat kusayangi. karena hujan pula aku dipertemukan lagi denganya. Dan dia berjanji, tidak akan meninggalkanku lagi.

Tamat

Cerpen Karangan: Endang Roro Palupi
Facebook: Endang Palupi

Cerpen Karena Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujan Musim Semi

Oleh:
Hujan masih mengucur deras. Baru beberapa menit aku duduk di kursi ini. Memandangi tetes-tetes hujan yang tak berhenti. Sekolah berakhir setengah jam yang lalu. Aku enggan beranjak dari ruang

Andrea dan Andromeda (Part 1)

Oleh:
Beberapa orang butuh waktu lama untuk menyadari sesuatu Beberapa yang lain butuh waktu lebih lama untuk mengakuinya Banyak orang yang terlambat menyadari sesuatu sehingga menyesalinya di kemudian hari. Tapi

Andrea dan Andromeda (Part 3)

Oleh:
Semua orang punya masa lalu, tapi tidak semua orang punya masa depan, Terutama orang-orang yang membiarkan hidupnya berhenti di masa lalu. Andrea bersungguh-sungguh dengan kata-katanya. Ketika Andromeda bertemu dengan

Aku dan Aling

Oleh:
Batu tempatku berdiri ini masih sama seperti dulu, tak terkikis dengan hantaman ombak yang berulang kali menerpa. Sama seperti ingatanku akan kenangan-kenangan yang ada di pantai ini, di batu

Annisa

Oleh:
Rumah ini sudah penuh dengan barang-barang ditambah dengan debu yang sudah mengelilingi seluruh lantai sampai-sampai membuatku enggan untuk menginjakkan kaki di rumah itu kembali. Rumah lama yang sudah kujual

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *