Karena Hujan, Aku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 6 June 2017

Kupaksakan kakiku untuk menopang perjalanan menuju pulang, tubuhku pun dibiarkan basah begitu saja. Sudah terlanjur! Rintikan hujan sedari tadi tak membuatku dan Ara berhenti berjalan, kami berjalan menyusuri jalan setapak di antara sisi-sisi pesawahan. Kami baru usai belajar di sekolah.

Hanya bertahan sampai warung jajanan, kami berdua memutuskan untuk berteduh di situ. Hujan di siang bolong seperti ini sangat deras kali ini.
“Fiuhh..!!” Ara mengusap wajahnya dengan punggung tangan kanannya
“Kita berteduh di sini saja dulu!” Seruku sambil membenarkan jilbab putihku.

Kami hanya memandang hamparan pesawahan yang sangat luas, padi yang baru ditanam kembali ikut terguyur hujan. Hujan sangat deras membuat pesawahan di depan mata terlihat membentang jauh seperti lautan.
Aku menatapnya jauh, begitupun Ara, teman sekaligus sahabatku.

Suasana yang cukup dibilang dingin membuat Ara tak betah berdiri di sini, ia pun memutuskan untuk duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu yang sudah tersedia dan menikmati susu hangat yang baru saja ia beli dari warung ini.
Ketika aku memalingkan pandanganku untuk kembali memandang air hujan, dari arah barat kulihat Dion berjalan menuju kemari, kuurungkan niatku karena melihatnya.
“Dion!” Seruku memastikan pria yang mengenakan kaos merah polos itu.
Pria itu menyipitkan kedua matanya lalu kembali membulatkan matanya.
“Hey!” Sepertinya ia mengenaliku walaupun jaraknya masih agak jauh
“Siapa Sel?” Ara mencoba untuk mencari seseorang yang kupanggil
“Itu Dion, Ra” aku menunjuk Dion yang sudah hampir dekat menuju kemari.
Setibanya, “kalian sedang apa di sini?” Tanya Dion mengintrogasi kami
“Nunggu hujan reda!” Tandasku cepat.

Sungguh keberuntunganku! Hujan yang deras ini mengantarkanku untuk bertemu kembali dengan pria yang berkulit hitam manis itu. Dion mengajakku dan Ara ke rumahnya, daripada di warung kedinginan tak ada salahnya kan aku tak menolak ajakannya. Batinku terkekeh.
Walaupun aku harus mati gaya d ihadapannya, setidaknya ia dapat melihat reaksiku yang menggigil kedinginan. Istilahnya caper.
Berkali-kalI aku mempergoki dia yang tengah mencuri-curi pandang padaku, dan hanya sebuah anggukan pelan dan senyuman kikuk untuk membalasnya. Ia pun tersenyum kembali dengan meggaruk-garuk kepalanya yang terlihat tak gatal itu.

“Tanya-tanya kek! Pada kenal kaaan..” Seru Dion tiba-tiba, mungkin ia melihat tingkah Panca terhadapku.
Ah.. Dion membuat pipiku memerah saja! Sudah tahu nerves, Dion malah membuat suasana kaku seperti robot.
“Eu.. H..hey!!” Kulihat Panca menyapaku terbata-bata
“Hey..” Senyuman yang paling terindah mengantarkan sapaanku kembali untuknya, dadaku saja berdesir lebih cepat dari biasanya.
Huuuh.. Degupan jantungku kali ini membuat rongga hidung pernapasanku tak teratur. Mendapat sapaan darinya saja serasa menyita beberapa detik nafasku, entah itu gugup ataupun salah tingkah yang pasti hati ini terasa bergetar hebat.
“Eh Seila, tubuh lo kenapa tiba-tiba dingin gini!” Selidik Ara yang mengepal-ngepal tanganku.
Jleb!! Ara membuka aibku. Mataku membulat hebat, entah reaksi apa yang terjadi selanjutnya. Yang kutakutkan, Panca, Dion dan Aldi menertawakan kekonyolanku. Ara sialan.. Awas saja nanti! Gerutuku pelan.

Pagi ini awan memperlihatkan jati diri yang sesungguhnya, putih cerah mengambang di atas permukaan bumi. Siulan burung ikut bersenandung laksana mengantarkan langkahku menuju gudangnya ilmu, seakan pagi ini memberikan isyarat bahwa aku harus menikmati kesejukan juga kedamaian pagi ini, sedamai hatiku saat ini.
Di tengah perjalanan, aku melihat Panca berjalan seorang diri. Kudapati punggungnya yang mengendong tas hitam. Aku tahu betul perawakannya, tinggi semampai, tidak gemuk tidak kurus, dan gaya rambut cepaknya, itu pasti benar Panca. Batinku menerka.

“Apa kabarmu Sel?” Panca menyapaku dengan senyuman tulusnya
“Ah, aku baik Panca. Bagaimana denganmu?” Tak kalah senyumku terpancar jelas dengan deretan gigi putihku yang terlihat walaupun sedikit menahan malu
“Sama sepertimu!” Kilahnya dengan cepat.

Saat itu juga, hatiku tak bisa diam menyeloteh. Semenjak putus dengannya 5 bulan yang lalu, baru kali ini kami kembali bertegur sapa. Walaupun satu sekolahan tapi tak membuat mulut kami bergeming untuk sekedar menyapa. Hanya mulutku saja yang diam membisu, kecuali ia yang menyapaku lebih dulu.

“Kapan yak terakhir kita kencan?”
Duh! Pertanyaan macam apa itu. Apa tujuannya? Apa ia sengaja ingin memutar kembali memori kenangan itu. Tenang Seila! Jangan ge’er dulu okey. Pikirku berlalu.
“Sore hari, tepat ketika hujan deras turun!”
Senetral mungkin aku perlihatkan untuk terlihat normal di hadapannya.
“Jam berapa sih sekarang?” Tiba-tiba saja ia menanyakan waktu
“16.25! Kenapa memangnya?” Cecarku ingin tahu
“Tepat ketika dulu kita berteduh di bawah pohon cemara!” Celetuknya dingin membuatku tercengang.
Sudah kuduga! Panca memutar kembali kenangan dulu, memang persis seperti saat ini, hanya yang membedakan tempat dan sikap ia dulu, ia menarukan switer hitam di punggungku dari belakang dengan lembut diikuti bibirnya yang menyungging tersenyum manis padaku.
Ah.. Aku terlalu berlebihan, mungkin itu biasa saja menurutnya. Batinku memelas.

“Hey! Kenapa kau diam?” Tegurnya membuatku terhentak.
Belum aku menjawabnya, ia tiba-tiba melepas jaket merahnya lalu menarukannya di atas punggungku.
“Aku tahu, kau pasti kedinginan” dengan entengnya ia bawakan sebuah senyuman yang manis yang kembali membuat pikiran ini menerka masa itu
“Ta-tapi..” Aku tak bisa menutupi gerogiku ini
“Syutt!! Aku tahu apa yang kau pikirkan” telunjuknya tepat merapat dengan bibirku, aku pun kembali tak bergeming.
Apa maksudnya? Apa yang ia tahu tentang pikiranku! Apa dia memikirkan hal yang sama sepertiku, kembali flashback tentang kenangan kita dulu.

Rupanya sudah sampai, sepanjang perjalanan aku sibuk mengingat kejadian kemarin, hingga tak terasa kaki ini sampai menuju gerbang sekolah.
Kubuang ingatan tragedi kemarin di rumah Dion untuk tidak kembali berharap lebih, aku tahu.. Panca adalah orang yang pintar menarik hati sekalipun pernah dikecewakan. Pikirku berlalu dan bergegas menuju kelas.
Setibanya di kelas, Ara dan Ririn menyapaku dengan hangat. Tentu saja balasku penuh sumbringah, entah kenapa hari ini terasa damai.

“Eh Seila, kemarin dia update status di Sosmed ngetag lo sama yang lain, lo deket lagi sama si cowok playboy itu?” Cetus ririn menyelidikku
“Eu.. Tidak Rin, kemarin hanya kebetulan saja kok”
Memang benar kan hanya kebetulan, jika ditanya kembali dekat, entahlah! Aku sendiri pun belum bisa memastikannya.
“Ayo jujur..!!” Desak Ririn membuatku kaku setengah bingung
“Iya gak deket, tapi cuman flashback dadakan Rin” Ara menimpali, lebih tepatnya menegaskan kejadian kemarin
“Aha..ha..ha!!” Gelak tawa kami mengisi kegaduhan kelas ini.
Rasanya aku benar-benar nyaman memiliki sahabat yang selalu ada di sampingku. Ara dan Ririn selalu memahamiku. Oiyah.. Aku belum cerita kepada sahabatku yang satu lagi.

“Jangan bilang lo akan balikan sama dia!”
“Tidak Uni.. Kemarin kan hanya kebetulan!”
Setelah aku menceritakannya pada Uni, kulihat ekspresi wajahnya begitu panik. Mungkin ia terobsesi pada kejadian dulu ketika Panca mengakhiri hubungannya denganku tanpa alasan, Uni khawatir jika aku akan kembali terpuruk setelah kehadiran Panca kembali yang mengusikku.
“Bukannya gue larang lo balikan sama Panca, tapi..? Apa lo gak kapok sama pengkhianatannya dulu! Lo udah dua kali terjun ke jurang yang sama Sel, gue gak mau lihat lo nangis lagi gara-gara Panca.” Paparnya.
Uni menegurku, aku tahu ia amat peduli sampai mengatakan seperti itu, tapi.. Bukan itu yang aku permasalahkan.
“Iya Uni.. Gue bakalan pegang janji kita berdua, kita gak akan pacaran sampai kita lulus sekolah!” Kuangkat jari kelingkingku dan menyodorkannya untuk tanda perjanjian.
Uni meraihnya dan menerima dengan mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingkingku.

“Boleh saja Panca pacarin lo, tapi satu! Biarkan dia menanti lo Sel. Kalau dia serius dia pasti nunggu lo sampe kapanpun” kembali Uni menasihatiku.
Ada benarnya, jika Panca serius dengan pendekatan kali ini ia pasti sanggup berjuang dan rela menantiku.
“Tapi.. Panca kan udah punya pacar Sel, gue ragu dia deketin lo lagi niatnya apaan!” Uni bertaut dengan dahinya yang mengernyit menerka-nerka
“Tapi dia bilang kalo dia cumann serius sama gue Ni, dia gak berani putusin pacarnya tanpa alasan yang jelas” timpalku yang sebenarnya.
Panca sendiri yang mengatakannya malam tadi lewat chatting di facebook.
“Apapun itu! Lo harus hati-hati sama dia.“ Ucapnya mengawasiku.

Aku tak bergeming.
Aku paham betul niat Uni, tapi bagaimana dengan hati? Tak bisa kubohongi diriku sendiri, perasaan yang tak wajar ini tak pernah pudar pada Panca sedari dulu. Dan aku pun tahu, Panca sudah memiliki kekasih, tetapi..
Apa kalian tahu? Sudah tiga kali kami sengaja bertemu aku merasakan kenyamanan seperti dulu bahkan lebih. Walaupun status ia milik orang lain, tapi raganya terkadang bersamaku. Kekasihnya yang jauh sehingga tak menghalangi pertemuan kami berdua. Ia sendiri pernah mengatakan “walaupun aku miliknya, tapi hati ini milik kamu Seila.. Panca sayang dan serius sama kamu.”
Perempuan mana yang tidak tersanjung! Semenjak hujan selalu turun di sore hari, selalu menambah kedekatan kembali antara aku dan Panca. Ya tuhan.. Apa aku ini PHO? Tidak-tidak! Panca sendiri yang berawal mendekatiku.

Sebentar lagi langit akan menampakkan jingganya. Permukaan bumi sudah tak lagi kering, hampir dasar tanah pun tak mampu menyerap air lagi ke dalam tanah. Dinding luar rumah pun ikut kebasahan karena derasnya air hujan di senja hari. Aku masih bersama Panca dan teman yang lain tengah mengadakan acara masak di rumah Afi.

“Ih kamu apa sih ngikutin aku terus” tak hentinya setiap aku melangkah Panca terus saja mengekor di belakangku
“Aku gak mau aja jauh dari kamu apalagi harus kehilangan kamu!” Senyum jailnya membuatku tersenyum geli
“Ah kamu alay deh!” Ucapku menahan malu.

Aku kembali duduk di kursi tamu dengan membawa secangkir susu hangat, tentunya Panca ikut duduk di sebelah kiriku duduk.
Kau tahu? Sejak tadi sepulang sekolah kami sengaja mampir ke rumah Afi, dan semenjak tadi pula Panca terus membuntuti kemanapun aku pergi. Mulai dari cuci tangan ia mengekor, mengambil handphone di meja tv yang usai di charger ia mengekor, bahkan aku memotong sayuran untuk acara memasakpun ia ikut-ikutan memotong, semua yang aku lakukan ia mengikutiku. Konyol bukan! Tapi justru sikap inilah yang membuatku terkekeh melihat tingkah konyolnya. Selama hubungan pacaran dulu pun aku belum pernah melakukan hal konyol seperti ini, jangankan berkumpul bersama Panca dan teman-teman, Panca mengajakku bertemu saja aku menolaknya.

Ya, memang akhir-akhir inilah aku sering menghabiskan waktu dengan Panca, Dion, Uni, Ara, Ririn, Afi, Idris, Dewi, Bayu dan Egi. Mereka semua teman-teman sekolahku yang sering berkumpul.

“Panca! kalo emang lo serius sama Seila, lo gak akan pacaran sama cewek lain” kali ini Uni menasihatI Panca secara langsung
“Gue kan udah bilang, gue cuma serius sama Seila.”
“Buktinya apa?”
Uni membenarkan posisi duduknya sehingga berdekatan dengan Dion juga Panca.
“Gue cuekin cewek gue demi Seila!”
“Cuman itu!” Tandasnya, dahi Uni mengernyit
“Lagian kalopun gue putusin pacar gue, belum tentu Seila mau balikan lagi sama gue.”

Aku dan Dion hanya menyimak perbincangan mereka berdua.
“Gue bingung, kalian berdua punya janji!” Panca menatap kosong
“Tapi cara kek gini salah Panca!” Uni melirik ke arah Dion, “coba lo lihat si Dion! Dion juga sama, tahu perjanjian gue sama Seila.”
“Terus?” Panca menaikkan kedua alisnya
“Ya.. Menurut yang lo lihat apa?” Kembali Uni menatap Panca
“Kalian berdua akrab terus deket banget”
“Apa kita berdua pacaran?”
Panca mengernyitkan dahinya, dan mungkin menerkanya.
“Nah Dion juga sama seperti lo Panca, tapi dia tetep menunggu perjanjian gue sama Seila habis, dia menanti karena dia ingin membuktikan ketulusan dan keseriusannya sama gue!!”
“Kalo emang lo beneran serius sama Seila lo gak akan menjaga perasaan orang lain selain orang yang lo sayang, lo gak boleh rakus lah. Kalo lo serius sama cewek lo, perjuangin dia dan tinggalin Seila sekarang juga, dan sebaliknya ketika,”
Belum selesai Uni bicara, Panca langsung pindah posisi dan sedikit merapat dengan pergelangan tangan kananku. Panca merogoh ponsel dari saku celana abu-abunya.
“Lihat hape ini!” Pinta Panca dengan tatapan menerkam.

Kulihat jari tangan Panca mengetik sesuatu dari keyboard touch gadgetnya.

Apa? Mataku terbelalak tak percaya.
“Ris maafin gue ya, mulai sekarang kita udahan aja.. Gue gak bisa nerusin hubungan ini!” Isi pesan BBM untuk pacarnya.
Nafasku cukup tercekat, kutelan ludahku tertanda terkejut, keringat dingin mengucur ke pelipisku. Aku tercengang, apa yang ia lakukan? Mengapa.. Pikirku menerka-nerka.

“Demi kamu aku lakukan ini untuk pembuktian keseriusanku!” Desis Panca dengan tatapan serius, mulutku saja tiba-tiba terkunci rapat tak bisa mengucapkan satu kata patahpun, aku tak mampu.

“Kenapa lo tiba-tiba gini tanpa masalah sedikitpun :(” respon Rista pacar Panca yang baru ia putuskan
“Gak kenapa2, maaf gabisa nerusin hubungan ini.”
“Tapi apa salah gue Panca? :'(”
“Lo gak salah ko, maafin gue”
“Gak perlu minta maaf :(”
“Maaf!”
“Iya gapapa :(”

Read!
Panca tak membalasnya lagi. Kedua mataku menatap nanar pada gadget yang Panca genggam. Dia benar membuktikannya. Batinku tak percaya.

“Kurang bukti apalagi?” Kini Panca menatapku dalam
“Tak perlu!” Kataku menggeleng pelan
“Apa? Gak perlu!” Nada kalimatnya meninggi.

Panca bangkit dari duduknya.
“Gue udah berusaha buat buktiin sayang gue ke elo, tapi? Lo dengan santainya bilang gak perlu! Gak ngehargain banget sih lo.” Panca pergi dari hadapanku dan berlalu meninggalkan taman belakang rumah milik Afi.

Kenapa.. Kenapa Panca jadi marah! Bukan itu yang kumaksud, aku hanya,
“Seila!!” Gertak Uni mencabut lamunanku
“Lo samperin dia, gue tahu dia cuman salah paham sama lo” Uni menarik pergelangan tanganku untuk berdiri, lalu mendorong tubuhku untuk pergi menyusul Panca.
“Gimana caranya!” Tanyaku lirih
“Apapun! Sana gih.” Kedua kalinya Uni mendorong tubuhku.

Dengan berat hati, aku melangkah pergi untuk menjelaskan maksudku, aku hanya tak percaya ia bisa lakukan ini demi aku. Sebelumnya ia belum pernah lakukan ini, aku terkesiap melihatnya. Kamu salah paham Panca. Pikirku berlalu

Dibidik ke sela-sela sudut rumah Afi, tak kutemukan hidung batangnya pun. Kemana ia? Apa ia pulang. Batinku getir mencarinya.

“Kalian lihat Panca gak?” Tanyaku kepada teman-temanku yang tengah asyik menonton tv
“Ada tuh di teras depan.” Timpal Dewi tanpa menoleh ke arahku, matanya sibuk dengan tontonan layar lebar di tv.

Sesegera aku pergi dengan sedikit berlari menuju tempat yang Dewi beri tahu.

Tap-tap-tap! Kuperlambat tiap langkahku setelah kudapati punggungnya yang tengah menekuk kedua lututnya di atas keramik putih.

“Panca..!!” Ucapku lirih untuk menyapanya
Ia menoleh ke arahku sebentar, lalu kembali membuang muka.
Sangat datar! Tak ada sedikitpun semburat senyuman dari bibirnya. Dan itu membuatku semakin merasa serba salah padanya.

Kuhentikan langkahku, kududukkan tubuhku diatas teras dengan amat perlahan. Aku duduk tepat di sebelah kirinya duduk.
“Panca, aku minta maaf” ucapku lirih.
Kusentuh pundaknya penuh perasaan, berharap ia akan meresponku dengan permohonan maafku yang sederhana.
“Tak perlu Seila!” Dengan angkuhnya ia tak mau melirikku
“Kenapa? Kau bilang aku tak menghargaimu, kau salah paham Panca. Maksudku bukan itu, aku minta maaf membuatmu tersinggung. Aku,”
“Kau tak perlu minta maaf!” Tandasnya memotong kalimatku
“Tapi, kau sendiri yang mengatakan kalau ak-”
“Kamu gak salah!” Suara Panca semakin meninggi.

Kini Panca menoleh ke arahku.
“Untuk apa kau minta maaf?” Giliran ia yang bertanya
“Untuk.. Membuatmu tak marah padaku.” Kepalaku sedikit merunduk menahan rasa bersalahku
“Aha..ha..ha!!” Suara gelak tawanya bak menandingi derasnya gemuruh hujan saat ini.

Kepalaku semakin merunduk, seakan tawanya meremehkan perkataanku, aku pastikan akan takut untuk menatap matanya saat ini, aku hanya bisa diam terpaku.
“Marah! Kau bilang aku marah?” Dapat kurasa ia mencondongkan wajahnya padaku.
Aku hanya mengangguk pelan. Aku berjanji tak akan melihat wajahnya selama ia dongkol, aku takut..
“Siapa yang marah padamu?” Timpalnya datar, posisi kepalanya kembali ke semula.
Aku mendongak. Barusan apa yang ia bilang? Tak marah. Lalu.. Keningku mengkerut menerka maksudnya.
“Hey!! Aku tak marah.. Aku hanya sedikit akting saja barusan, aku hanya ingin melihat kamu resah memikirkanku Seila! Yang benar saja aku marah, kalimatmu tadi memang tak ada yang salah. Aku cuman ngerjain kamu doang Sel..” tutur Panca dengan senyuman jailnya.

Ah.. Mengapa tadi aku percaya begitu saja ketika ia marah padaku, kenapa tak aku biarkan saja. Sungguh, warna pipiku berubah menjadi merah padam saat ini.
“Panca! Kau..” Ucapku menggantung.
Panca menaikkan kedua alisnya dan dihiasi senyuman manisnya yang membuat takaran ketampanannya semakin bertambah.
“Iya apa peri kecilku?” Dengan manja ia mencubit hidungku yang kurang mancung namun tak pesek pula
“Kau hampir membuat jantungku berperang” rutukku kesal
“Hahaha..” Ia terkekeh pelan, “tenang peri kecilku! Mulai sekarang aku berhenti memainkan wanita, dan mencoba untuk memperjuangkan kisah kita yang pernah tertunda, biarkan hujan yang menjadi saksi kita berdua. Aku akan berubah demi kamu, dan akupun siap menunggumu sampai lulus sekolah kita nanti, bahkan aku siap untuk menunggu restu dari kedua orang tua kamu nanti. Aku mohon kamu jangan berubah ya, aku takut kehilangan kamu aku sayang sama kamu Seila.” Panca terus menatapku penuh lekat, dari matanya kutemukan ada titik ketulusan disana.

Karena ada kenangan sempat aku kubur, namun semenjak ada hujan kugali kenangan itu lalu kuhapus menjadi pelangi hati yang muncul dengan berwarna-warni seperti hatiku saat ini. Karena hujan, aku dapatkan kembali kebahagiaanku yang sempat tertunda.

The End

Cerpen Karangan: Ismat Anisah Mianansya
Facebook: Ismat Anisah M. Yang opsionalnya (ciee ngestalk)
Namaku Ismat Anisah, aku kelahiran Cianjur, Jawa Barat, aku lahir 8 juni 1998. Status masih pelajar. Saya hanya seorang penulis amatir yang sedang menggeluti membuat karya cerpen sebanyak-banyaknya sebagai hobi saya! Semoga cerpen postingan pertamaku memuaskan para pembaca 🙂
03 Desember 2016.

Cerpen Karena Hujan, Aku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cintaku Semanis Gulali

Oleh:
Aku berjalan keluar dari kelas bersama Bella. Menuruni tangga lalu berjalan lagi melewati taman sekolah sampai akhirnya keluar dari sekolah. Bukan hari yang buruk tapi hari yang cukup menegangkan,

Luka Ini Penyemangatku

Oleh:
Aku merasa hidupku begitu sempurna… Karena aku punya kekasih yang sangat aku sayangi dan juga menyayangiku, Indra… Dia penyemangat hidupku, tak mungkin aku bisa bayangkan bila gak ada dia.

Aku Tak Seperti Yang Lain

Oleh:
Aku memang remaja yang berbeda dari remaja lainnya. Aku yang tidak punya banyak teman, yang mungkin sulit bergaul, dan bahkan belum pernah punya pacar seperti remaja lainnya. Aku memang

Bad Day

Oleh:
“08.17.” “Arrgghh!!! Aku telat!!!” teriakku keras saat melihat jam di handphoneku. Teriak-teriak gak jelas sambil memakai baju, mulutku terus mengoceh kesal. Dan kali ini aku ke kampus tanpa make

Tetanggaku

Oleh:
Seperti biasa, sore itu Afira dan temannya Tanti jualan Jus di depan rumah Tanti untuk berbuka puasa, setelah lama menunggu gak ada juga yang beli, tiba-tiba datang seorang cowok

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *