Karena Hujan (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 7 March 2018

Sabtu pagi ini cuaca mendung. Aku melangkahkan kakiku berjalan ketaman dekat rumahku yang ada di komplek. Kenalkan namaku Sifa Harita Putri (nama yang panjang dan ribet), Aku sangat menyukai hujan, makanya aku pergi ke taman untuk bermain hujan. mengisi waktu liburku.

Sesampainya di taman.
Aku mengeluarkan hp dan headphone, memutar lagu sambil menunggu hujan turun. Tak beberapa lama kemudian hujan turun dengan lebat. Aku melepas headphone dan meletakan hp, Berjalan ketengah tirai hujan yang turun.
“Andai aja lo turun tiap hari dan dengan waktu yang tepat.” gumamku sambil bermain hujan.

Tak beberapa lama kemudian.
“Hei!! lo gila main hujan.” teriak seorang cowok. aku tidak menghiraukannya dan terus bermain hujan.
“Woi gue bicara sama lo.” teriak cowok itu.
“Apa?!” balasku sambil berjalan kearah cowok itu.
“Apa?!” tanyaku lagi.
“Lo gila main hujan sepagi ini! lo bosan hidup ya!” bentak cowok itu.
“Gue gak gila cuma gue gila sama pesona hujan.” jawabku sambil menadahkan tangan ke atas menampung air hujan.
“Lo gak takut sakit?” tanya cowok itu.
“Gue gak pernah sakit karena hujan.” jawabku.
“Terserah lo.” jawab cowok itu sambil memasukan tangan kedalam kantong celananya.

“Apa yang dilakukannya di sini dengan baju jas dan kemeja juga dasi yang rapi?” gumamku.
“Lo ngapain di sini?” tanyaku.
“Ya menikmati tirai hujan tapi bukan di tengah tirai hujan.” jawabnya.
“Lo kok gak mau coba di tengah tirai hujan?” tanya ku lagi.
“Gue gak mau sakit karena hujan.” jawabnya.
“Lo sekolah mana?” tanya cowok itu.
“SMA Bakti jaya.” jawabku.
“Satu sekolah tapi gue gak pernah lihat lo. kelas berapa?” tanyanya lagi.
“X-a ipa. Lo kelas?” jawabku.
“XI-a ipa.” balasnya.
“Berarti kakak kelas gue dong.” balasku.
“Nama lo siapa?” tanyanya.
“Lo interogasi gue ya!” bentaku.
Dia tak menjawab.

Tak beberapa lama kemudian ada pesan masuk dari mamaku. disuruh pulang. Aku mengambil hp dan headphone. dan mulai berjalan pulang di tengah tirai hujan.
“Tunggu!!” teriak cowok itu dan berjalan ke sampingku sambil melepaskan jasnya sebagai payung.
“Lo ngapain lepas jas lo, nanti basah.” kataku.
“Buat payung.” jawabnya dan mulai berjalan.
Aku terdiam sesaat. “Kenapa dia baik baget.” gumamku.

“Woi cepat jalan!” bentak cowok itu memecahkan lamunanku.
“Iya iya.” jawabku. sambil berjalan ke sampingnya.
“Nama lo siapa?” tanyanya.
“Gue sifa.” jawabku.
“Nama gue nicolas.” balasnya.
“Gue gak ada tanya nama lo.” balasku.
“Panggil gue pake sebutan nama aja.” balasnya sambil tersenyum jahil.
“Ko nico.” kataku.
“Apa tadi yang lo bilang gue gak dengar.” katanya.
“Ko nico.” jawabku sambil tersenyum malu malu.

“Arah rumah lo di mana?” tanya ko nico.
“Lurus aja dulu.” jawabku.
Lalu berjalan terus.
“Stop. udah sampai.” kataku.
“Ooo rumah lo sebelah rumah gue.” kata ko nico.
“Rumah lo sebelah rumah gue? tapi gue gak pernah lihat lo.” tanyaku bingung.
“Gak tau mungkin belum jodoh.” jawabnya sambil tersenyum jahil membuatku tak bisa bicara.

“Woi mama lo udah nunggu depan pintu rumah.” kata ko nico.
“Thanks udah antarin gue pulang.” balasku sambil tersenyum.
“Sama sama.” jawabnya sambil memakai jaket dan berjalan dengan tangan yang dimasukkan ke dalam kantung celana.
“Apakah itu gaya dia? cukup menarik.” gumamku sambil berjalan masuk ke rumah.

Di dalam rumah.
“Anak mama ketemu cowok ya.” goda mamaku.
“Gak lo ma dia cuma sekedar teman.” kataku.
“Yakin, sekarang teman besok jadi teman spesial.” goda mamaku.
“Gak ada lo ma.” jawabku sambil berjalan ke kamar lalu mandi dan ganti baju.
“Kok satu sekolah rumah sebelahan tapi kok aku gak pernah lihat ko nico.” gumamku.
“Lihat siapa?” tanya mamaku yang sudah tegak didepan pintu kamarku.
“Gak ada ma.” jawabku.
“Cowok yang tadi namanya siapa?” tanya mamaku.
“Ko nico.” jawabku.
“Cie cie.” goda mamaku lagi.
“Terserah mama lah.” balasku.
“Ya ya ya.. ya udah gak usah gambek. mendinggan bantu mama masak.” kata mamaku sambil merangkut bahuku
“Siip.” jawabku. Sambil berjalan ke dapur bersama mamaku.

“Masak apa ma?” tanyaku.
“Bentar mama lihat dulu bahan bahan yang ada di kulkas.” jawab mamaku sambil membuka kulkas.
“Sifa bisa tolong mama beli bahan masak?” tanya mamaku.
“Emang gak ada ya?” tanyaku balik.
“Kalau ada gak akan mama suruh pergi beli bahan masakkan.” jawab mamaku.
“Oke bahan apa aja?” balasku.
“Nanti mama catatkan.” jawab mamaku.

Tak beberapa lama kemudian mamaku memberi selembar kertas dan uang.
“Cepat belanjanya hati hati di jalan ya.” kata mamaku.
“Oke ma, siip.” jawabku sambil mengambil jaket dan tas kecil. karena masih hujan.
“Ma sifa pergi dulu ya.” kataku.
“Iya hati hati ya.” jawab mamaku.

Lalu aku berjalan ke luar rumah mengenakan jaket. Baru saja aku berjalan ke luar komplek.
“Woi lo mau ke mana?” teriak seseorang.
“Seperti suara ko nico, tapi gak mungkin deh.” pikirku sambil berbalik.
“Emang kenapa?” tanyaku balik.
“Gue nanya. lo kok malah balas nanya lagi gak yambung.” jawabnya. sambil berjalan mendekat.
“Gue mau ke hypermat mama suruh.” jawabku sambil memasukkan tangan ke kantong jaket.
“Sama gue mau ke hypermat juga.” balasnya.
“Gak nanya tuh.” balasku.
“Mau gak bareng.” ajaknya.
“Terserah lo.” jawabku.
“Gue udah bilang panggil gue pake nama.” kata nicolas.
“Iya terserah lo.” jawabku.
“Kan baru gue bilang pake nama.” balasnya.
“Iya iya… ko nico.” jawabku.
“Gitu.” balasnya.
“Sekarang kapan ke pasarnya?” tanyaku.
“Ya udah yuk.” jawabnya sambil berjalan.
“Lagi lagi lo masukkan tangan ke kantong celana lo. Gaya yang memarik.” gumamku.
“Woi cepat jalannya.” bentak nicolas.
“Nama gue bukan woi.” balasku sambil berjalan cepat.
“Terserah lo.” balasnya.

Sesampainya di luar komplek.
“Kita naik apa?” tanya nicolas.
“Naik angkot.” jawabku sambil melihat ke kiri dan ke kanan.

Tak beberapa lama kemudian angkot pun datang lalu kami naik.
“Lo mau beli apa?” tanyaku.
“Nih banyak banget gue gak hafal. Lo sendiri mau beli apa?” jawabnya.
“Nih banyak juga.” balasku sambil mengeluarkan hp dan headphone dari tasku.
“Lo ngapain keluarkan hp sama headphone?” tanyanya.
“Ya gue mau putar lagu.” jawabku sambil memasang headphone.
“Bang kiri bang.” kataku kepada sopir angkot.
“Yuk turun.” ajakku ke ko nico.
lalu turun dan membayar.

Sesampainya di hypermat.
Aku masih memakai headphone.
“Yuk cari bahan yang disuruh.” ajakku.
“Iya tapi lepas dulu headphonenya.” jawabnya.
“Iya iya.” sambil melepaskan headphone menggantung di leher.
Lalu kami mulai mencari bahan bahan yang disuruh.

“Sifa gue udah selesai cari bahan, lo?” katanya.
“Oke gue satu lagi.” jawabku sambil mencari barang.
“Udah siap?” tanya ko nico lagi.
“iya bentar.” jawabku.
“Gue sudah.” sambungku.
“Yuk ngantri.” ajaknya.
“Yuk.” jawabku sambil berjalan ke kasir.

Setelah lama mengantri akhirnya siap.
“Pulang yuk.” ajakku.
“Nanti gue mau beli es cream dulu.” balasnya.
“Oke gue tunggu.” jawabku.

Tak beberapa lama kemudian, ko nico datang.
“Ih es cream buat lo.” katanya sambil memberikan es cream.
“Thanks.” jawabku.
“Gue tau lo suka es cream corneto.” balasnya.
“Lo tau dari mana?” tanyaku.
“Gak usah kepo.” jawabnya.
“Terserah lo, thanks es cream cornetonya.” balasku sambil tersenyum.
“Sama sama, Ya udah yuk balik.” ajaknya sambil tersenyum.
“Senyumannya manis sekali.” pikirku.
“Woi yuk balik.” panggilnya memecahkan lamunanku.
“Yuk yuk.” jawabku grogi.

“Lo ngapain menung gak akan sampai rumah.” bentaknya.
“Iya gue tau.” balasku sambil berjalan.
“Lo gak makan es cream nya?” tanya ko nico.
“Iya nanti.” jawabku datar.
“Sini biar gue bukakan.” balasnya sambil mengambil es cream dari tanganku dan membukanya.
“Nih makan.” ulurnya sambil masih memegang es cream. Tapi aku langsung memakannya.
“Biar gue pegang sendiri aja.” kataku.
“Ya udah yuk pulang naik taksi aja.” katanya sambil mengeluarkan hp dan menelpon.

Tak beberapa lama kami menunggu taksi pun datang kami naik.
“Ko nico gue gak pernah lihat lo di sekolah.” kataku membuyakkan sifat dingin di antara kami.
“Tumben panggil gue pake nama.” katanya sambil tersenyum jahil.
“Terserah lo.” jawabku.
“Karna lo sibuk dengan kerja lo gue sibuk dengan kerja gue.” balasnya. Aku hanya mengangguk untuk menjawabnya dan kami tak ada bicara lagi.

Sesampainya di gang dalam komplek. kami pun turun dan berjalan ke rumah masing masing.
“Besok pagi gue tunggu lo di taman komplek.” kata ko nico sambil membuka pintu pagar rumahnya.
“ngapain?” tanyaku.
“Lihat aja besok. Byee…” jawabnya sambil berjalan masuk.
“Terserah lo!!” gerutuku. sambil membuka pintu pagar lalu masuk ke rumah.

Di dalam rumah.
“Ma..ma.. sifa pulang.” panggil ku.
“Iya letak aja belanjaannya di dapur.” jawab mamaku seperti lagi di dalam kamar.
Lalu aku berjalan ke dapur dan meletakan belanjaan, lalu berjalan ke kamar.
“Kenapa tadi aku bisa sama ketemu ko nico waktu mau pergi ke pasar?” pikirku.
“Ini pasti ada apa apanya. tapi gak apa apa lah, dia cukup keren.” gumamku.
“Stop!!! gue kok jadi mikirin dia?!” pikirku.

Jam 17.43
“Sifa bangun makan lagi.” panggil mamaku.
“Iya satu menit lagi.” jawabku malas.
“Cepat sekarang.” panggil mamaku.
“Iya bentar…” jawabku malas. sambil berdiri dari kasur.

“Katanya mau bantuin mama masak kok jadi tidur.” balas mamaku.
“Sorry tadi sifa gantuk banget.” jawabku.
“Nih tadi ada orang yang nitipkan es cream kamu.” kata mamaku sambil menyerahkan plastik berisi es cream.
“Siapa yang nitip ma?” tanyaku.
“Gak tau.” jawab mamaku sambil berjalan ke dapur.
“Kapan orang itu nitip es cream buat buat sifa?” tanyaku.
“Tadi waktu kamu tidur. Udah sekarang makan lagi nanti sakit perut.” kata mamaku. Aku hanya menjawab dengan anggukan dan memasuk es cream itu kekulkas dan duduk dimeja makan.

Setelah siap makan dan cuci piring aku mengambil es cream di kulkas dan berjalan ke kamar.
“Siapa yang mengirimkan es cream ini?” pikirku sambil memegang es cream itu aku menemukan secarik kertas kecil dan membukanya.
*es cream kesukaan lo, jangan lupa dimakan sama besok pagi kita ketemuan.*
“Ooo… jadi pengirimnya adalah ko nico.” pikirku. sambil membuka es cream itu dan memakannya.

Cerpen Karangan: Winne Chintia
Facebook: winne chintia
Thx for reading 🙂

Cerpen Karena Hujan (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Anak Bangsa

Oleh:
Rasa kesal di hati membuatku geram. Seperti kata guru seniku bahwa Angklung LAGI LAGI diklaim negara tetangga. Apa-Apaan mereka itu!. Seperti tidak ada kebudayaan Hai, namaku Ara. Aku adalah

Menembus Waktu

Oleh:
Bukan dunia namanya jika tidak dipenuhi oleh hal-hal yang membingungkan. Hampir semua diciptakan selalu memiliki hal yang berseberangan. Ada cinta, ada benci. Ada senang, ada sedih. Ada tua, ada

Sarwono Sang Pemandu

Oleh:
Kini telah tiba masa masa menegangkan, masa dimana sering kali menjadi pertaubatan manusia kelas 3 SMA yaitu semester akhir pembelajaran. Di ruang kelas F bu Sri selaku wali kelas

Membenam Rasa Kepedihan

Oleh:
Hati ini belumlah lupa bagaimana ia menilaiku. Tak melihatku dan semakin melupakanku, terdiam tiba-tiba aku di tepi jembatan kota jakarta ini. Dengan berlinangan air mata dalam hati ku pantulkan

Lipatan Halilintar

Oleh:
Sebelum aku memikirkan, memutuskan dan memantapkan hati buat fokus nulis, dulu aku punya kegiatan super bareng dua temen ter-super anehnya, saking anehnya mungkin kita bertiga bisa masuk dalam katagori

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *