Kawan Lamaku, Alfeus (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Kristen
Lolos moderasi pada: 6 October 2017

“Halo sahabat lamaku, Alfeus. Bagaimana kabarmu? Aku sangat mengkhawatirkanmu, karena aku merindukanmu. Bukan hanya itu, aku juga akan mulai mengaku bahwa aku mencintaimu. Kau kaget? Aku bahkan menulis surat ini ketika aku benar-benar merasa kaget dengan perasaanku. Dan sedihnya, ini bukan candaan receh seperti yang selalu kulontarkan. Bagaimana cuaca di sana? Di sini Hujan. Padahal hari masih sangat pagi tapi hujan sudah kembali datang untuk membasahi bumi. Mungkin perasaan bumi saat ini sama sepertiku karena air mataku juga sama, masih sepagi ini tapi sudah mengalir deras di pipiku. Jika kau bertanya apa ini salahmu, jawabnya bukan. Ini bukanlah salahmu. Ini justru salahku, Alf. Bukankah kau sendiri yang berkata tak baik berkhayal terlalu tinggi karena jika jatuh kau akan rasakan akibatnya. Ya, aku yang keras kepala ini bahkan tak mempedulikanmu dan teguh pada pendirianku bahwa mimpi harus diterbangkan ke tempat yang tinggi, sampai tak kupedulikan bagaimana cara untuk menggapainya. Dan kesalahanku yang paling parah adalah menjadikanmu sebagai mimpiku Alf.

Maaf Alf, aku sering memimpikanmu tanpa ijin. Aku sering bermimpi kita menjadi sepasang kekasih. Hal yang mungkin terlintas di pikiranmu saja tidak pernah. Aku sering bermimpi berada di altar gereja menggandeng tanganmu. Seperti yang kita lakukan dulu sewaktu masih TK. Apa kau mengingatnya Alf? Sewaktu kecil kita selalu menantikan hari minggu. Kau atau aku selalu meminta orangtua kita menunggu bergantian supaya kita dapat masuk gereja bersama dengan bergandengan. Aku juga ingat, sekali waktu kau memintaku memakai gaun putih, dan kau memakai jas hitam. Itu seminggu setelah pernikahan guru sekolah minggu kita. Lalu kita bergandengan tangan memasuki gerbang gereja. Kau yang ompong karena terlalu banyak makan permen berkali-kali tertawa sambil menutupi mulutmu, membuatku geli. Aku juga ingat, kita tidak pernah mau duduk di bangku tengah, apalagi belakang. Kita selalu mengincar bangku paling depan. Seharian itu kau yang masih bau kencur memperlakukanku seperti permaisuri. Kau bahkan tak melepaskankan tanganmu dari genggamanku. Aku sampai meminta tolong ibumu untuk memegangi tanganmu selagi aku ke toilet. Sedihnya, sekarang gedung gereja itu sudah jadi puing-puing, Alf. Tapi gereja yang baru tak kalah bagusnya loh meskipun lebih jauh dari perumahan kita.

Alf, pernahkah kau merasakan sesuatu yang janggal antara kita? Antara persahabatan kita? karena aku merasakannya Alf. Rasa yang berbeda dari sebelumnya. Rasa yang aneh yang tak kutemui dari sahabat-sahabat kita lainnya. Apa kau ingat Bu Iva? Guru kimia kita sewaktu kelas 10? Beliau sering sekali menggoda kita. Katanya kita tak terlihat seperti hanya bersahabat. Kita lebih terlihat seperti sepasang kekasih. Saat itu kau tertawa terbahak-bahak membuat Bu Iva manyun karena ledekannya tak berfungsi tapi sekaligus membuatku terus memikirkannya. Jika Bu Iva dapat merasakan hal itu, mengapa kamu tidak Alf?

Ya, Alkitab kita selalu benar. Kitab Amsal berkata seorang sahabat dapat menjadi saudara dalam kesukaran. Demikian dengan kamu. Tapi aku juga bertanya, dapatkah kau bukan hanya menjadi saudaraku. Tapi menjadi pasanganku. Seseorang yang nantinya akan berjanji sehidup semati denganku. Aku mengenalmu bukan 1-2 tahun. Aku mengenalmu semenjak kita masih berusia 4 tahun. Aku selalu mendukungmu meskipun kau nakal atau melakukan kesalahan pada teman-teman di sekolah minggu kita. Melihat aku selalu saja membela dan mendukungmu membuat ibumu selalu menemui mama ku ketika kita akan naik tingkat sekolah. Ia selalu bertanya mau lanjut di mana aku setelah ini? Dan buru-buru membujukmu masuk di sekolah yang sama denganku. Ibumu sangat senang membuat kita berada di satu sekolah yang sama, bukan? Apa ibumu juga merasakan hal yang sama denganku Alf?

Tahukah kau Alf, aku sering menyebutmu sebagai “Bang Toyib” karena sudah 4 tahun ini kau tak pernah kembali ke kotamu, bahkan liburan semester sekalipun. Kau malah meminta orangtuamu datang ke kota rantauanmu. Apa kau sama sekali tak merindukanku Alf? Harusnya aku tak menanyakan hal itu, aku tau pasti kau sedang sibuk merebut gelar Sarjana Hukum yang kau inginkan. Aku pun demikian. Berjuang mati-matian mendapat gelar Sarjana Pendidikan yang selalu kau rekomendasikan padaku. Oh ya, bulan depan aku akan wisuda loh. Bagaimana denganmu? Kau tak pernah memberiku kabar. Ya, kau keterlaluan. SMS ku tak pernah kau balas, media sosialmu selalu aktif tapi tak pernah mengabariku, email yang kukirimkan pun selalu kau balas 3 bulan setelahnya. Dan mungkin sewaktu kau membaca surat ini aku sudah menjadi Charlotte Natalia, S.pd . Bukan sombong tapi hanya sebagai pengingat. Dulu sewaktu SMA aku pernah bilang padamu kan, jika aku sudah mendapat gelarku aku juga akan merantau ke kota orang. Jadi kemungkinan besar aku tak dapat menghadiri pernikahanmu. Setidaknya aku lega dapat menulis email ini yang dapat menyampaikan apa yang aku rasakan kepadamu.

Aku mengatakan itu karena kudengar kau sudah menemukan orang yang tepat, yang ingin kau berikan kontrak mati yang diikat janji suci pernikahan ya? Selamat Alf. Jika berkenan, aku ingin menitipkan pesan pada orang itu, untuk menjagamu. Bilang juga padanya, sahabatku yang satu ini bandel tapi hatinya sangat lembut. Sehingga dia tak mampu merasakan perasaan yang janggal antara kami. Tidak, tidak aku hanya bercanda. Jangan katakan padanya bahwa aku mencintaimu Alf. Katakan saja dia sangat beruntung dapat menggapai mimpi yang kuterbangkan tinggi sekali. Maaf Alf, aku hanya sangat terpukul sewaktu mamaku bilang kau akan segera pulang dan menikah dengan seseorang. Aku akan pergi tanpa mengingat perasaanku kepadamu. Setelah merantau aku akan mendapat banyak teman baru, dan kupastikan aku takkan mengganggumu dan istrimu. Selamat tinggal Alfeus, kawan lama. Aku pergi dulu. Gbu” Charlotte lalu mengirimkan pesan itu pada kawan lamanya, Alfeus. Selagi menulis pesan Lagu Club 80’s – Cinta dan Luka sengaja diputar oleh Charlotte. Lagu itu terdengar sayu untuk pagi yang menggigil ini. Ia kembali menangis. Bulan depan, tepat seminggu setelah wisuda Charlotte akan pergi ke Jogja, ia akan menyewa tempat tinggal di sana untuk mencari pekerjaan.

Akhirnya saat yang ditunggu oleh Charlotte tiba. Saat seorang dosen menyebut nama dan gelarnya, ia menangis. Semua ini membuatnya sangat bersyukur pada Tuhan. Orangtua Charlotte terlihat menangis haru, demikian juga adiknya yang ingin segera menyusul menjadi sarjana

“Puji Tuhan ya Charlotte!! Akhirnya selesai juga 4 tahun masuk nerakanya hahaha”, “Asyik nih S.pd”, “Rasanya kekmana jadi sarjana hah?!” Beribu kata-kata senada dengan 3 kata tadilah yang akhirnya membuat senyum Charlotte mengembang. Ia sangat senang hari ini. Sehingga ia tak mau mengakhiri hari. Tapi kembali ia mengingat kawan lamanya, Alfeus. Seminggu lagi ia akan pergi ke Jogja. Namun kemungkinan besar, Alfeus akan mengetahuinya 2 bulan lagi. karena Alfeus punya kebiasaan untuk membaca email Charlotte 3 bulan sekali. Hal yang membuat Charlotte membenci Alfeus, tapi tetap tidak bisa mengurangi rasa cintanya.

Cerpen Karangan: Gloria Christi Naviri Setiyawan

Cerpen Kawan Lamaku, Alfeus (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Catching Lyn (Dwilogi Part 2)

Oleh:
“Maaf Pak Sam, untuk bagian kasir sudah ada beberapa orang yang mengirimkan surat lamaran mereka. Akan lebih baik jika kita segera menginterview mereka, karena karyawan lain sedikit keteteran harus

Dia Selalu Ada Untukku Di Dalam Dirinya

Oleh:
Hawa sore ini begitu indah. Langit lazuardi tampak berwarna oren kemerah-merahan. Aku duduk di padang ilalang di belakang rumah. Mataku tajam menatap ke langit. Aku sendiri. Ya, semenjak kematian

It Started From The Wrong Address

Oleh:
“Lo jadi ngirim paket ke gue nggak sih?” Fania berbicara pada temannya yang terlihat di layar laptop. “Jadi, emang belum sampai? Gue kirim udah hampir dua minggu lalu.” Balas

Keluarga? Not Bad

Oleh:
Aku hidup dengan keluarga yang sederhana. Hampir setiap pagi, sejak dua tahun lalu aku selalu mendengar perdebatan antara mereka, orang tua ku. Aku bersikap tidak tahu apa-apa penyebab mereka

Rainy Days

Oleh:
Tiga tahun yang lalu, tepatnya hari minggu pada pertengahan bulan Februari, aku bertemu dengannya. Gadis yang membuat hatiku tiba-tiba bergetar saat pertama kali melihat mata besarnya. Aku dan teman-teman

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *