Kehadiranmu (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 5 January 2018

Kini aku merasa hidupku ini begitu hampa, hingga aku merasa, rasa ini sulit untuk kujelaskan walaupun kini aku tengah duduknya, bersama sahabatku Nita tapi hati ini tetap merasakan kehampaan yang benar-benar tidak aku pahami.

“eh Cin, coba deh liat bulan itu, kaya lagi senyum ke kita ya?” ujar Nita yang menunjuk ke arah bulan purnama di malam yang dingin ini, seakan ia ingin ada pembicaraan di antara kami.
Mendengar itu Aku melihat ke arah jari Nita menunjuk, ya itu adalah bulan purnama. Terlihat sangat indah memang, bayangkan saja di langit hitam yang kelabu terhiasi ribuan bintang atau bahkan jutaan bintang yang bersinar, ditambah lagi 1 hiasan lagi yang Allah ciptakan begitu indah yaitu Bulan purnama. Lengkap sudah langit di malam ini, ditemani dingin dan sepinya malam membuat aku mulai terpesona akan indahnya langit, aku tersenyum, aku bahagia, aku merasa bergitu terhibur seakan semangat hidupku kembali hidup dan menggebu-gebu. Waah aku tebang dalam lamunan, aku mengkhayal, aku membayangkan malam ini begitu indah, dan aku membayngkan malam ini aku ditemani oleh pangeran impianku yaitu Dimas. Waah indah sekali, aku sampai tak mampu melampiaskan kebahagiaanku yang dari tadi tersenyum terus-terusan

“cindy?!” kata Nita sembari menepuk pundakku yang spontan mengagetkanku dan menghapus lamunanku
“ah iya Nit, kenapa?” jawabku heran dengan nada sedikit kaget
“kenapa? Gak salah nanya? Kamu kali yang kenapa? Dari tadi senyam senyum mulu deh perasaan, padahal kan gak ada yang buat disenyumin kali, haha aneh deh kamu” katanya sembari sedikit menertawaiku
“ah enggak kok nit, aku cuman lagi ngebayangin aja, gimana rasanya kalo di malam yang indah ini, aku bisa duduk bareng sama Dimas. Pasti itu seru banget deh ya, secara dimas adalah orang yang selalu aku sebut dalam doa, dan orang yang selalu aku rindu dalam setiap waktuku.” Kataku dengan rasa penuh bunga-bunga kebahagiaan gak jelas gituh deh.
“dimas ya? Hmm, kayaknya sih bakalan asik tuh ya. Tapi itu kayaknya impossible banget deh, secara gituh tiap hari dia kan kerjaannya sibuk di organisasi mulu. Mending sama Adit, kan kamu udah sering bareng dia waktu dulu SMP Cin.” Katanya yang membuatku berpikir kembali tentang adit.
“Adit? Lah kok dia sih? Aku sama Adit tuh cuman temenan tau.” Ujarku dengan nada sedikit kesal
“yaelah itu mah aku juga tau, tapi gak usah pake acara muka kesel segala kali. ah udahlah udah malem besok kita sekolah, ntar kesiangan loh. dadah ” Ujarnya sembari beranjak pergi menuju kamer kostan.
“ih Nita kok ninggalin aku sih, tugguin ih” kataku sembari beranjak mengejarnya.

Sesampainya di dalam kamar, aku melihat Nita sudah dalam posisi hendak tidur, aku pun bergegas siap-siap untuk tidur. Tak lama aku pun mulai memejamkan mata dan aku pun mulai tertidur lelap.

Keesokan harinya, aku bangun seperti biasa, aku melihat Nita tengah bersiap-siap untuk pergi sekolah, melihatnya yang sudah memakai baju seragam putih abu, aku pun langsung bergegas mandi dan bersiap pergi ke sekolah. Beberapa menit pun berlalu, jam kini menunjukan pukul 6 pagi. Aku dan Nita pun bergegas pergi ke sekolah dengan berjalan kaki, karena jarak dari kostan ke sekolah pun tak terlalu jauh. Sesampainya di kelas aku melihat ruangan kelasku terlihat masih sepi dan sunyi, belum terlihat tanda-tanda kehidupan sedikitpun, hanya ada aku dan Nita. aku melangkah menyusuri petak petak lantai, langkah demi langkah terasa sama setiap harinya hingga aku sampai di meja, tempat aku biasa duduk dan mengikuti pelajar sekolah. Dan sesampainya di meja itu aku melihat sebuah amplop biru yang bertusikan untuk Cindy Anugrah Pratiwi. Aku yang Melihat itu pun terkejut dan sangat terkejut.

“eh nit, liat deh, ada surat bertuliskan untuk Cindy, buat aku dong ya? dari siapa ya kira-kira?” ujarku dengan nada keheranan sembari membuka isi amplop itu. kubuka amplop itu, aku masih merasa heran dengan hadirnya amplop ini. sampai pada akhirnya aku melihat sepucuk surat Di dalamnya dengan sedikit tinta biru yang terlihat sedikit rapih. Dan akhirnya aku memutuskan untuk membaca surat itu bersama Nita. Aku dan Nita pun membaca surat itu.

“Untuk kamu
Terima kasih atas hadirmu yang telah mengisi hari-hariku. Maaf aku tak mampu berkata langsung padamu dan aku hanya mampu menulis surat ini. Untuk saat ini aku masih mengumpulkan keberanianku untuk mengungkapkan semuanya kepadamu, tapi aku minta agar kamu masih bersikap sama hingga hari itu datang. Kamu adalah salah satu harapan yang ingin aku capai. Kamu adalah penyemangat hidup aku. Cindy makasih banyak buat hari- hari yang telah aku lewati bareng kamu. Canda tawa kita adalah hal terindah buat aku. Makasih Cindy. DYDI DY untuk kamu dan DI untuk aku”

“ahh Cindy, so sweet deh. Dari siapa itu?” ledek Nita yang membuat aku berpikir lebih, dari siapakah surat ini berasal? Mungkinkan dari Dimas? Ahh andai itu dari Dimas aku akan bergitu bahagianya, ah sudahlah lupakan. Gerutuku dalam hati.
“gak tau Nit, aku juga, dari siapa ya? Kok gak ada pengirimnya ya?” tanyaku keheranan sembari membola-balikan surat itu mencari barangkali ada nama pengirimnya.
“eh Cin, coba kamu liat lagi amplopnya barangkali ada benda lain dari si pengirimnya.” Kata Nita
“eh iya ada nih Nit, sebuah gantungan kunci loh” ujarku melihat benda yang ada didalam amplop yang terbuat dari kayu berbentuk kartun kesukaanku yang tak lain adalah doraemon, dengan tulisan “DYDI” di kantung putih doraemon itu.
“aah cie cie cindy punya penggemar rahasia” ledeknya lagi. Kami pun bercanda gurau mengenai amplop itu.

Selang beberapa menit KBM di sekolah pun berlangsung, ya seperti biasa, sedikit menyenangkan dan banyak membosankan tentunya. Dan tak terasa setelah menunggu lama akhirnya jam pulang pun datang juga, aku pun pulang bersama Nita. Ku susuri lorong-lorong menuju gerbang sekolah seperti biasanya, dipenuhi obrolan, candaan, dan bahkan ejekan bersama Nita. Di tengan perjalanan aku melihat Dimas sedang berpegangan mesra dengan perempuan lain, katanya sih pacar barunya tapi kok aku ngerasa sedih banget ya, ah nyesek seriusan. Aku bergegas memegang erat tangan nita, dan nita pun terlihat keheranan dengan tingkahku, tapi Aku dan Nita pun terus berjalan dan nita pun mencoba menenangkanku.

“udah Cin, jangan cemberut mulu sih kan gak lucu tau” ujarnya yang mencoba menghiburku
“ah apaan sih nit? Aku lagi sedih nih” kataku yang langsung berlari kencang pergi jauh meninggalkan Nita, Nita terlihat mengejarku tapi aku tak menghiraukannya.

Saat ini aku merasakan seakan hatiku teriris oleh sebuah benda tajam yang membuat hati ini merasakan rasa sakit. entah mengapa aku masih saja seperti ini, aku sudah sering melihat dimas bersama dengan perempuan lain, tapi mengapa aku masih menginginkan dimas untukku? Aku merasa diri ini begitu bodoh hingga aku tak pernah sadar untuk kesekian kalinya aku menangisi laki-laki yang sudah jelas-jelas bukan milikku. Aku menetas air mata lagi dan lagi, dan aku terus saja berlari pergi entah kemana menyusuri jalan, hingga akhirnya aku sampai di sebuah taman kompleks yang tak jauh dari daerah tempat aku ngekost. Di jalan yang kutapaki kini, Aku melihat sebuah ayunan kosong yang diterpa angin, dan akhirnya aku pun memilih duduk di ayunan itu, sejenak untuk menenangkan hati. Aku terdiam meratapi hidupku kini, Aku merasa begitu tragisnya hidupku karena aku terdiam di ayunan ini sendirian dengan suasana hati yang sulit kukendalikan dan bahkan aku pun masih menangisi Dimas, bodoh bodoh aku bodoh. Aku menggerutu terus menerus. Aku hanya terdiam lagi meratapi saat ini, aku merasa ini bukanlah aku yang dulu, semenjak aku beranjak dari siswi SMP menjadi siswi SMA, sikapku berubah secara drastis, Ah, sh*t, kenapa ini semua terjadi, aku bimbang dan aku…

“hai!” suara seseorang yang terdengar seperti orang yang aku kenal, yaitu Adit. Aku sadar bahwa itu Adit, aku sesegera mungkin menghapus air mataku. Aku menoleh ke arah suara itu berasal. Dan benar saja itu adalah Adit. Ternyata ia berada di sebelahku entah sejak kapan dia ada di sanapun aku tak tau.
“sendirian aja, kek jomblo ih.. haha” ledeknya yang emang bener fakta sih ya,
“biarin jomblo yang penting happy.” Jawabku dengan nada seperti orang yang sedang marah, maklumlah namanya juga orang udah nangis.
“happy itu yang mirip kerbau kan?” katanya dengan muka sedikit heran gaya orang lagi berpikir keras gituh deh.
“hah? Happy mirip kerbau? Maksudnya?” jawabku heran
“iya mirip kerbau. Masa kamu gak tau sih dasar kudet.” Katanya dengan muka pura-pura kesel gitu deh.
“apa sih dit aku gak faham deh” jawabku yang masih keheranan dengan sikapnya
“itu loh yang suka dijadiin hewan kurban kalo idul fitri tuh. Ah kamu loadingnya lama deh.” Katanya
“hmm hewan yang suka dikurbanin pas idul fitri? Terus mirip sama kerbau ya? Hmm, ohh aku tau. sapi maksudnya ya?” jawabku setelah beberapa saat
“nah itu. Tuh tau” jawabnya dengan muka datar
“dit, happy ke sapi itu bedanya jauh kali,” ledekku sembari tertawa lucu dengan kekonyolan-kekonyolan yang Adit lakuin, sama seperti biasanya, ia memang begituh.
“ih sama tau, Cuma beda dikit doang” jawabnya dengan muka yang sedikit memelas. Aku melihatnya mimik wajahnya pun semakin tertawa.
“iya sih tapi tetep aja beda kan? Duh adit kayaknya harus balik ke masa-masa SD lagi deh kayaknya biar bisa belajar huruf-huruf lagi. hehe” ledekku yang masih merasa lucu dengan kekonyolan adit.
“ah apaan sih Cin, gak lucu tau. uuuhh…” jawabnya dengan nada kesal. Kalo dipikir-pikir adit lucu juga pasang wajah kaya gituh deh.
“kamu kali tuh yang gak lucu. Udah tau muka jelek tapi tetep aja dipake, wlee” ledekku dengan nada puas padanya.
“wah wah, cin kamu gak tau seberapa gantengnya aku ya? Jelek-jelek ginih aku banyak yang suka loh, wlee” katanya dengan nada songong
“iya banyak yang suka, tapi sayang, cabe-cabean semua ya yang sukanya? Atau terong-terongan? Hehe viss candaan doang dit” ledekku terus-terusan padanya. Dia hanya terdiam dengan muka yang terlihat kesal dan kusut.

Selang beberapa detik, aku tersadar, saat adit datang menghampiriku, aku seakan melupakan semua bebanku. Semua kesedihanku seakan sirna dan pada akhirnya seperti biasa hanya Adit dan sahabat-sahabatkulah yang selalu menghiburku dikala aku sedih.
“dit makasih loh kamu udah bikin aku ketawa-ketawa mulu dari tadi, aku kaya orang gila deh jadinya ahh” kataku dengan penuh ketulusan
“ah iya cin, kamu emang mirip kaya orang gila, dan kamu bahkan pantes dibilang orang gila. Oh ya kalo misalnya kamu udah berstatus gila, kamu kabarin aku ya, because aku akan jadi orang pertama yang selalu dukung kamu biar kamu bener-bener resmi jadi orang gila deh. Tenang aja” katanya dengan nada yang cukup santai
“eh enak aja kamu kali yang gila, kalo aku gila ya kamu sebagai temen aku juga harus jadi orang gila lah biar adil wlee” tempasku
“aku rela kok jadi orang gila, asalkan kamu selalu ada buat aku kapanpun dan dimana pun. Dan asalkan kamu janji kalo kamu bakalan selalu tersenyum apapun yang terjadi, dengan atau tanpa adanya aku.” ujarnya dengan muka serius sembari tiba-tiba memegangi kedua tanganku.
“ah masa sih dit? Tapi tanpa kamu jadi orang gila pun aku mau kok dit” ujarku
“serius Cin?” katanya dengan nada penuh keyakinan seakan itu adalah kata-kata yang ingin ia dengar.
“serius dit” kataku
“serius bohong maksud aku. haha yey cindy ketipu yey haha” katanya sembari melepaskan kedua tangan dan tertawa kecil.
“ih tapi dit aku serius loh, serius bohongnya juga. wlee” ledekku balik padanya. Haha kami pun tertawa.

Tak terasa hari sudah mulai gelap.
“Cin pulang yuk udah malem, kasian loh, Nita pasti nunggu kamu di kostan” ujarnya
“iya dit, bener juga, aku pulang ya, daah” kataku sembari beranjak pergi meninggalkan adit.

Sesampainya di kostan aku melihat Nita tengah sendirian halaman kostan, aku yang melihat itu seakan kasihan dan aku langsung berlari menghampirinya dengan wajah yang masih bahagia karena candaan adit tadi.
“ya ampun cindy, kamu dari mana aja sih aku sampe pusing nyari kamu tau. Kamu kenapa sih? tadi kamu lari-larian sambil nangis dan sekarang kamu senyam senyum kaya orang bahagia, heran deh aku.” Katanya sembari langsung memelukku erat-erat. Pelukannya begitu terasa hangat, mungkin inilah arti ketulusan dari seorang sahabat. Aku paham jika ia merasa khawatir padaku karena sikapku tadi, tapi aku bersyukur malam ini ia memberikan pelukan kenyamanan ingin kepadaku.

Akhirnya aku pun menceritakan kejadian-kejadian yang aku alami sepulang sekolah. nita mendengarkan kata tiap kata yang kuucapkan, seperti biasanya dia selalu sabar mendengarkan setiap cerita yang kualami, bahkan setiap keluhan, dan tangisankun pun dia selalu ada untukku.

Cerpen Karangan: Nita Raspiniah
Facebook: Nita Raspiniah
Namaku nita. maaf jika cerpen ini kurang greget ataupun gimana. Maklumlah namanya juga pemula

Cerpen Kehadiranmu (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Seikat Mawar

Oleh:
Aku menatapnya kagum. Dave, lelaki yang ku kenal pendiam itu ternyata mahir memainkan sebuah lagu River flows in you. Jari-jarinya menari dengan lincah di atas tuts-tuts piano memainkan mahakarya

Romantic Knowledge (Part 2)

Oleh:
Istirahat kali ini aku makan sendirian, tanpa bayang-bayang Zara. Sebenarnya Zara tidak bersamaku karena dia sedang rapat dengan anggota OSIS. Dan di sinilah diriku, sendirian, di tengah keramaian. Dan

Love in Rain

Oleh:
Kaki kecil itu berlari menyisiri sudut rumah. Membuka pintu demi pintu. Memasuki pintu selanjutnya yang tanpa perlu dibukanya, menganga lebar, langkahnya terhenti. Sedikit susah bernapas, tersenggal-senggal. “Wah, cantiknya…” mata

Dan, Kita (Part 1)

Oleh:
Dari dulu aku selalu ingin bertanya pada diriku sendiri, Kenapa? Kenapa aku meninggalkanmu? Kenapa aku memutuskan untuk menjauh dan pergi? Sampai saat ini, ketika dia sudah mengisi waktu di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *