Kehadiranmu (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 5 January 2018

Malam pun berlalu seperti biasa, keesokan harinya aku berangkat bersama Nita. Sesampainya di kelas aku melihat sebuah amplop biru lagi di atas mejaku. Amplop yang sama seperti dulu. Kubuka amplop itu secara perlahan, entah mengapa aku merasa ada kehangatan di amplop ini, dan aku pun membacanya.

Untuk kamu. Cindy, maaf ya, aku gak bisa nepatin janjin aku yang kutulis di amplop waktu itu, kini saat nya aku pergi meninggalkanmu, meninggalkan dirimu untuk bahagia bersama orang yang kamu cintai, aku tau, aku bukanlah orang yang kamu cintai, tapi asal kamu tau, kamu adalah cinta pertamaku dari dulu, sekarang dan untuk selamanya akan menjadi sebuah kenangan untukku. Terima kasih untuk waktu yang cukup lama ini, aku pergi dan entah kapan aku akan kembali lagi kesampingmu. tolong Jadilah sosok Cindy yang selalu aku kenal dari masa kita SMP ya. Salam DY untuk Cindy dan DI untuk adit. Berbahagialah, tolong jangan menangis, dan maaf aku tak bisa menemani kesedihanmu lagi.

Aku terpana melihat surat itu, kata tiap kata, huruf tiap huruf yang kulihat memang persis seperti tulisan Adit, entah mengapa tetesan tiap tetesan air mata ini jatuh di pipiku, amplop yang aku kira dari sosok Dimas ternyata adalah amplop yang sahabatku kirim, bodoh aku tak sadar akan hal itu. Aku menangis membayangkan jika adit benar-benar pergi dari hidupku, bagaimana dengan aku? Sosok yang selalu menghiburku dikala aku sedih, kini pergi, kini tinggal kenangan, ah aku benar-benar bodoh, aku mengingat sekilas kenanganku bersama dengan adit, saat kami tertawa, saat adit menjailiku, saat adit mencoba menghiburku disetiap kesedihanku, dan saat-saat dimana adit selalu ada untuku kapanpun, dan dimana pun. Aku menangis sejadi-jadinya, entah mengapa, aku benar-benar merasa kehilangannya.

Nita yang melihat aku aku menangis, memelukku dan berkata “Cin, maafkan aku karena aku tak memberitahumu akan kepergian adit yang mendadak ini. Sebenarnya kemarin adit melihat mu menangis sambil berlari makanya adit mengejarmu hingga ke taman itu. Dan kamu tau? Kemarin jugalah yang menjadi hari perpisahanmu dengannya. Maafkan aku cin. Maaf aku tak memberitahumu.” Katanya dalam pelukan hangat ini. Tangisku semakin menjadi mendengar hal itu. Aku benar benar bodoh ya Allah. Aku spontan melepaskan pelukan ini aku merasa heran mengapa Adit pergi secara tiba-tiba ini.” nit jawab pertanyaan aku dengan jujur, kenapa Adit pergi dengan cara seperti ini? Adit pergi ke mana nit? Jawab aku?” kataku dengan nada emosi penuh haru.
“adit pergi ke…” jawab nita yang masih belum selesai
“ke mana nit, ke mana? Jawab nit!”
“Adit pergi ke Singapore cin, dia pindah sekolah ke Singapore” katanya dengan nada yang lembut.
“Singapore? Jauh banget? Sejahat itukah dia hingga dia tak sempat pamitan dengan aku?”
“cin, dia pengen pamitan sama kamu, tapi kamu ajakan kerjaan nangisin dimas terus, kalo enggak kamu suka baper gak jelas. Dia gak mau ngerusak suasana hati kamu karena dimas. Dia beneran sayang sama kamu cin, kamu adalah cinta pertama dia.” Mendengar itu aku merasa bergitu bersalah pada adit. Aku mencoba menenangkan diriku, karena kelas sudah mulai ramai.

Aku terdiam, terbang dalam khayalan, entah seberapa jauh tapi begitu jauh hingga tak ada satu mata pelajaran pun yang aku perhatikan. Aku masih merasa tak percaya, selama ini aku tak pernah menghargai rasa sayang dan cinta yang adit beri untukku. Bodohnya aku, aku selalu memikirkan dimas, selalu. Tapi adit tak pernah marah akan perhatian yang lebih sering aku beri untuk dimas dibandingkan dengan dia yang selalu ada untukku. Akhirnya jam sekolah pun selesai. Aku dan Nita pulang ke kostan. Sesampainya di kostan aku benar-benar merasa begitu malas melakukan apapun, hidupku seakan sepi. Kubaringkan tubuh ini ke atas kasur biru ini. Aku kembali terbang dalam hayalan, terbang jauh, jauh dan sangat jauh, hidupku terasa begitu hampa setelah kepergian adit, padahal belum genap 1 hari adit meninggalkanku.

“cindy, nyari makan yuk!” ajak nita kepadaku
“males ah, lagi gak laper” jawabku
“ih kamu kenapa?” tanyanya
“nit, kenapa ya aku ngerasa bener-bener kehilangan adit?”
“kehilangan adit? Bukannya selama ini kamu selalu memikirkan dimas? Lantas mengapa saat adit pergi kamu malah jadi gini?”
“aku juga gak tau nit, saat ini yang aku pikirkan hanyalah adit.” Kataku dengan raut yang begitu menyedihkan. Nita menghampiriku, duduk di sampingku, dia menatapku dalam dan berkata,” sadarkah kamu, jika kamu memang benar-benar merasa kehilangan adit, mungkinkah kamu mencintainya?” katanya. Jleb kata-kata itu merasuki pikiranku, mungkinkah aku benar-benar mencintai adit?, gerutuku dalam hati.
“jika benar kamu mencintai adit, mungkinkah kemarin kamu menangis karena kamu melihat adit yang tengah bercanda dengan perempuan lain? Ataukah kamu memang menangis karena dimas? Jika memang karena dimas, aku rasa kamu gak akan sesedih ini saat adit pergi.” Ujarnya. Ah entahlah aku makin merasa bimbang. Aku kembali terbang, tapi kali ini aku terbang ke dalam ingatanku di hari kemarin. Aku mengingat dalam-dalam, ah ya aku baru sadar kemarin aku melihat adit dengan permpuan lain, benar seperti yang nita bilang. Mungkinkah memang aku mencintai adit?

“nit, aku baru ingat, ya! kemarin aku memang melihatnya, melihat adit bersama perempuan lain. Sepertinya memang aku menangis karena itu nit, aku bimbang nit, bimbang. Aku gak mau kehilangan adit nit” kataku
“jika cinta kamu selama ini salah diartikan karena kamu berpikir bahwa kamu mencinta dimas dan ternyata itu salah, lalu bisa saja cinta kamu itu untuk adit. Sama seperti kamu yang menjadi cinta pertama untuk adit.” Katanya.
“jika aku benar mencintai adit, aku bodoh, karena aku tak menyadari itu. Kini adit pergi, dan entah kapan kembali. Aku gak tau harus ngelakuin apa dan aku gak ngerti semua ini nit,” kataku sembari langsung memeluk nita dan tetesan air mata ini kembali jatuh.
“cin, aku mau jujur sama kamu, kalo sebenernya adit pergi bukan buat sekolah, tapi adit pergi karena ia harus berobat keluar negri. Dan aku tak tau pasti akan hal itu, yang jelas mungkin jika kamu mencoba menghubunginya, setidaknya kamu mempunyai harapan untuknya. “
“berobat? Maksud kamu?” tanyaku dengan penuh keheranan, sela ini adit gak pernah cerita apapun tentang itu, aku pun tak mengetahuinya, yang aku tau dia adalah orang yang terlihat begitu ceria tanpa terlihat sedikit kesakitan pun
“ya dia sakit cin, dia mengidap sebuah penyakit yang aku pun tak pernah dia beri tau.”
“ah aku kok bisa sebodoh ini, hingga aku tak menyadari itu.” aku kembali menangis.

Tiba-tiba Nita menyodorkanku handphonenya dan berkata “coba telepon aja cin, mungkin masih ada harapan” aku mencoba menghubungin, dan ya tersambung. setelah beberapa detik, akhiranya adit mengangkatnya dan berkata
“halo nit? Gimana kabar Cindy? Dia baik-baik aja kan? aku berharap kamu bisa jaga dia tanpa aku.” Katanya dengan nada yang begitu lembut dan begitu pelan. Terdengar ada sedikit rasa kesakitan yang ia alami di setiap kata-kata yang ia ucapkan. Aku kembali menangis lagi dan lagi. Aku tak bisa berkata apa-apa suara adit begitu merasuki tubuhku, aku merasa rasa kenyamanan, kehangatan kembali menyelimutiku.
“halo nit? Kok aku denger suara tangisan Cindy ya? Cindy gak papa kan?” katanya lagi
“dit, kamu jahat dit, aku di sini nunggu kamu pulang dan kamu gak nyapa aku?” kataku dengan pipi yang benar-benar basah karena air mata.
“cindy? Ini cindy? Nita mana? Aku berharap kamu gak lagi nangisin aku.” Katanya
“adit kamu bener-bener jahat dit, gimana aku gak nangisin kamu, pertama kamu pergi tanpa pamit, kedua kamu jahat karena kamu gak pernah ngasih tau tentang penyakit itu, aku disini dit, ngehawatirin kamu, karena kamu adalah orang yang paling berharga buat aku” kataku tanpa henti tangisan ini.
“kamu nangisin aku? kamu cengeng cin. Cindy yang aku kenal itu cindy yang cerewet, bawel, dan gak pernah nangisin cowok jelek ini.” Katanya sambil sedikit tertawa.
“dit aku di sini lagi nangisinkamu, dan sekarang kamu malah bercanda? Gak lucu dit. Aku sayang kamu dit aku gak mau kehilangan kamu. Karena kamu adalah sosok orang gila yang selalu aku cari dit.” Kataku dengan spontan.
“aku mungkin gila cin, tapi aku gila karena kamu. Kamu yang udah ajari aku gila seperti ini. Karena kamu adalah cinta pertama untukku dan untuk selamanya. Aku janji akan hal itu. Aku pergi cin, sampai jumpa, aku berharap takdir kan mempersatukan kita kembali di suatu suasana dan tempat yang indah untuk mengukir hidup bersama yang indah. Sampai jumpa cin. Adit sayang cindy” selesai dia berbicara, telepon itu pun terputus. Aku menangis sejadi jadinya aku memeluk Nita, membayangkan kini aku telah berpisah dengan adit entah sampai kapan, aku pun tak tahu.

Hari demi hari berlalu, dan hari ku kini tak seperti dulu, tak ada lagi sosok adit yang dulu. Kini aku sadar akan rasa cintaku yang sebenarnya adalah untuk adit. Jikalau dulu aku sering menyebut nama dimas, itu hanya karena aku mengangumi dimas saja. Dan kini aku harus belajar melewati hari-hari tanpa sosok orang yang aku cintai. Hanya ada nita sahabat sejatiku yang sejatinya selalu ada untukku.

“nit gini ya rasanya hidup.” Kataku mengawali pembicaraan dengannya.
“ya gitu deh cin, kadang apa yang terjadi itu berbeda dengan apa yang kita bayangkan.” Ujarnya
“eh Nit, gimana ya kabarnya adit? Udah hampir 3 bulan aku gak denger kabar dari dia, aku kangen dia deh jadinya.” Kataku sembari duduk termenung.
“entahlah cin, aku juga gak tau, mungkin adit emang lagi bener-bener berobat. Dia gak mau kamu sedih lagi. Kan kamu tau kan adit itu paling gak suka liat kamu sedih. Ntar kalo kamu sedih bisa-bisa aku dimarahin adit dong.” Katanya
“hmm.. inikah yang namanya kehidupan? Saat fakta tak mampu seindah mimpi. Akankah fakta hidup aku akan memiliki ending ya indah ya Nit?”
“aku harap cin.” Katanya singakat.

Cerpen Karangan: Nita Raspiniah
Facebook: Nita Raspiniah
Namaku nita. maaf jika cerpen ini kurang greget ataupun gimana. Maklumlah namanya juga pemula

Cerpen Kehadiranmu (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The True Love

Oleh:
Hai namaku Ika, kisah cinta ini berawal dari kelas 1 SMA, di SMA Karya Bangsa terdapat 1 cowok yang paling nge-hitz di sekolah, namanya Fery dia adalah kapten tim

Brother Complex (Part 1)

Oleh:
Terkadang apa yang kau inginkan tidak selalu kau dapatkan. Dan apa yang kau dapatkan tidak selalu yang kau inginkan. Namun intinya, cukup terima dan kau akan mendapatkan sesatu yang

The End (Part 2)

Oleh:
Tak terasa, ujian semester pertama dimulai. Aku, Richard, dan yang lainnya tengah menjalani ujian. Sering tertangkap oleh mataku Richard terlihat pucat. Terkadang ia memegang bagian perutnya. Itu membuatku cemas.

Tidak Harus ke Jepang

Oleh:
Malam yang gelap, dan dingin yang menusuk tulang, aku masih di teras rumah sambil berdiam diri, itulah yang kulakukan. Aku Algi Farry, duduk di bangku kelas 1 di salah

Three First Things In The Last Time

Oleh:
Aku terduduk cukup lama di kasur sambil memikirkannya. Waktu menunjukan pukul 2 siang, itu berarti aku masih punya waktu satu jam sampai Kemal datang ke kostan-ku. Tidak pernah ku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *