Kembalilah, Karena Aku Untukmu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 18 April 2016

Berdiri di bawah terangnya lampu yang berada di dalam stasiun. Jarum pada jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku tepat tertuju pada angka 8. Suasana stasiun sunyi, sepi. Hanya hembusan angin yang menemaniku malam itu, dan sesekali ku dengar suara pemberitahuan kereta api yang masih terngiang-ngiang di telingaku. Aku menghembuskan napas dan menebar pandangan ke sekelilingku. Hanya tinggal aku sendiri di bawah lampu ini, dan terlihat beberapa orang yang ku tafsir usianya hampir mencapai lima puluh duduk di tempat penantian kereta. Sudah hampir dua jam aku berdiri di sini. Bukan karena kereta yang ku tunggu tak kunjung datang, tetapi, setiap kali kereta itu tepat berhenti di hadapanku, nampaknya aku akan sulit bernapas jika memaksakan diri untuk naik ke dalamnya. Jadi, ku putuskan untuk menunggu kereta selanjutnya, selanjutnya, dan selanjutnya, sampai keadaan stasiun seperti sekarang ini. Ini adalah menit ketiga puluh dari keberangkatan kereta terakhir. Aku menghela napas dengan dalam dan menghembuskannya perlahan.

“Drrrrtt.. Drrrtt.. Drrrtt.. Drrrrtt,” Getaran handphone menyadarkan aku dari lamunanku. Segara ku ambil handphone dari dalam tas yang ku kaitkan di pundak kanan dan mendapati sebuah nama yang tertera di layar tersebut.

“Ha-ha, halo,” Sapaku terbata-bata.
“Apa kau percaya takdir, Ana?” Suara laki-laki di seberang sana membuat aku mengerutkan kening.
“Umm, ya. Kenapa?” Kini aku berjalan menuju kursi panjang yang berada tidak jauh dari tempatku berdiri.
“Berarti kau percaya bahwa aku dan kamu tidak akan pernah bisa terpisahkan,”
Aku terdiam. Memikirkan apa maksud dari perkataan lawan bicaraku ini.
“Sampai kapan kau akan berada di sana? Sudah ku bilang, tetaplah tinggal di sini. Bersamaku, Ana,”

Spontan aku menggelengkan kepalaku dengan cepat. Meskipun aku tahu, dia tidak dapat meilhatnya.
“Dan sudah berapa kali aku bilang bahwa aku tidak mencintaimu, Airel!” Nada bicaraku kini naik satu oktaf.
“Aku juga sudah bilang, kalau kau itu adalah jodohku. Kau tidak bisa menolaknya,” Nada bicaranya tetap tenang tapi kini seperti sedikit diiringi tawa yang menyindir.
“Stop berbicara apa yang pernah kau bilang! Aku tidak mau lagi mendengarnya! Dan satu lagi, berhentilah bersikap seperti ini! Semua yang kau ingin, tidak selamanya akan kau dapatkan!” Aku langsung menyentuh simbol berwarna merah pada layar handphone-ku dan segera memasukkannya ke dalam tas setelah berhasil mematikannya.

“Hfffhh. Dari mana dia tahu bahwa aku masih berada di sini?”
Aku memejamkan mataku dan menyandarkan kepalaku ke sandaran bangku panjang yang aku duduki.
“…”
“Pulanglah Ana. Tempatmu di sini. Bersamaku. Selamanya,”
Aku membuka mataku perlahan, dia berdiri di hadapanku. Untuk apa dia ke sini?
“Mau apa lagi kau, Airel?! Apa surat permintaan ceraiku itu tidak cukup?! Apalagi maumu?!” Bentakku dengan cukup kencang, tetapi laki-laki yang berdiri di hadapanku ini tetap tersenyum.

“Kau,” Jawabnya singkat tanpa menghilangkan lengkungan di wajahnya itu.
Aku menggeram pelan dan menatap matanya dengan tajam.
“Pulanglah, Ana. Kembalilah padaku,” Kini laki-laki itu mengulurkan satu tangannya ke arahku yang dengan cepat dapat ku tangkis.
“Stop, Airel, stop!!! Berhenti memohon seperti itu! Aku bukanlah untukmu! Carilah kebahagiaanmu sendiri! Dan aku pun akan mencari kebahagiaanku sendiri!” kini air mataku mulai mengalir membasahi pipiku.

“Kebahagiaanku adalah bersamamu,” Jawabnya datar. Seketika senyumnya menghilang.
“Aku mohon Airel, berhenti bersikap seperti anak kecil! yang apa-apa harus dituruti,” Air mataku terus mengalir bahkan kini semakin deras.
“Hssshh. Jangan menangis seperti ini, Ana. Aku tidak kuat melihatnya. Lagi pula, siapa yang bersikap seperti anak kecil? Aku hanya tidak ingin membuatmu menyesal karena telah mengambil keputusan yang salah. Karena aku sangat yakin bahwa kita ditakdirkan untuk bersama selamanya,” Jelasnya panjang lebar sambil mengusap keningku.

Dia berhasil membawaku ke pelukannya karena kini dia duduk tepat berada di sampingku. Tapi jujur, ini adalah salah satu hal yang memberatkanku untuk pergi. Kehangatan yang dia berikan dalam dekapan selalu dapat menenangkanku dalam situasi apa pun. Aku akui itu. “Kenapa kau sangat yakin bahwa kita ditakdirkan untuk bersama selamanya? Pernikahan ini ada karena perjodohan. Dan kita belum saling mengenal sebelumnya,” aku makin membenamkan wajahku di dadanya yang bidang.

Dia mengangguk. Senyuman itu kembali nampak di wajahnya, “Aku tahu itu. Aku juga baru menyadarinya beberapa minggu ini. Awalnya, aku juga menolak keras perjodohan itu. Dengan alasan, yaaa sama sepertimu. Pada saat itu aku tidak mengenalmu, bahkan posisiku saat itu aku sudah mempunyai seorang pacar yang niatnya akan ku perkenalkan kepada kedua orangtuaku dalam waktu dekat,” Aku mendongakkan wajahku untuk menatap wajahnya. Dia bercerita dengan sangat serius. Pandangannya lurus ke depan seolah sedang memutar kembali ingatannya satu tahun lalu.

“Sudah tahu punya pacar, kenapa kau tidak menolak perjodohan ini dan menikah dengan pacarmu itu?! Dasar bodoh,” Aku kembali membenamkan wajahku. Dia mengangkat bahunya dan tersenyum simpul. “Aku juga tidak tahu. Sepertinya Tuhan memang menginginkan kita bersama. Sa..”
“Jangan mulai lagi, Airel!” Aku mencubit lengannya dengan wajah yang masih ku benamkan dalam dekapannya.
“Jangan suka memotong pembicaraan orang lain! Itu tidak sopan!” Dia mencubit hidungku pelan yang dibalas dengan anggukan olehku.
“Saat itu aku menolak keras perjodohan itu dan tetap ingin memperkenalkan Firyal kepada kedua orangtuaku. Tapi..”
“Oh, jadi namanya Firyal,” Aku menganggung-ngangguk dalam dekapan Airel.
“Ck. Sudah ku bilang jangan suka memotong pembicaraan orang lain, istriku..” Ujarnya lembut sambil memainkan rambutku.
“….”

Suasana seketika menjadi hening. Aku terhenyak. Kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing. “Istriku,” Ucapku dalam hati. Aku adalah istrinya. Ya, aku adalah istrinya, dan dia adalah suamiku. Kami telah terikat dalam suatu ikatan suci, yaitu pernikahan. Dia bersikap baik kepadaku layaknya suami kepada istrinya selama satu tahun pernikahan kami. Meski aku tahu, dia tidak mencintaiku. Tapi, dia menghargai pernikahan ini. Ikatan suci ini. Apa pun alasan kami menikah, kini kami sudah terikat pada suatu ikatan suci. Dan seharusnya aku harus bisa mempertahankan semua itu. Ini adalah takdir yang dituliskan-Nya untukku dan Airel. Ya. Aku percaya takdir. Seharusnya aku tidak bersikap seperti ini. Oh.. Ternyata aku yang bersikap seperti anak kecil. Menghindar dan lari dari sebuah masalah. Bukan menghadapinya dengan dewasa. Aku malah membiarkan Airel, suamiku ini menghadapi semuanya sendirian. Padahal ini juga bukan kemauannya. Bukan kemauan kami. Tapi dia bisa menyikapi semuanya dengan tenang dan seolah semuanya baik-baik saja. Salut.

“Tapi, seperti yang aku bilang tadi. Sepertinya Tuhan memang meninginkan kau dan aku untuk bersama. Sehari sebelum aku memperkenalkan Firyal kepada kedua orangtuaku, aku tiba-tiba hilang contact dengannya. Dia tidak dapat dihubungi. Saat aku datang ke rumahnya pun aku tidak mendapati dia di sana. Rumahnya kosong. Aku sangat pusing, saat itu. Bingung apa yang harus aku lakukan. Akhirnya aku meng-iya-kan perjodohan ini,” Pandangannya tetap sama.
“Jadi, kau menikah denganku karena terpaksa, hah?” Tanyanyaku dengan nada manja.
Dia tertawa. Aku mendongakkan wajahku. Ternyata suamiku ini sangat tampan, dengan alisnya yang tebal, senyum yang manis. Hmm, “Dia sempurna, Tuhan,” Ujarku pelan.

Dia berhenti tertawa, sepertinya dia mendengar ucapanku. Oh my god. Apa yang sudah aku katakan? Aku berani bertaruh, sebentar lagi dia akan membangga-banggakan dirinya sendiri. Dia menatapku. Semenit. Dua menit. Tiga menit. Sampai di menit ke sepuluh, dia membuka suaranya. “Kau pun sempurna, Ana,” Aku kembali menatapnya. Jantung ini berdetak tidak seperti biasanya. Ada apa denganku? Apa aku mulai mencintai laki-laki yang sedang memelukku ini? Rupanya aku mulai mencintai suamiku. Lebih tepatnya, aku mulai menyadari perasaan itu.

“Berhenti menatapku dengan tatapan memuji seperti itu, Ana! Aku tahu aku tampan, baik hati, ti..”
Aku mengecup bibirnya singkat dan berhasil membuatnya menghentikan ucapannya yang membuatku muak itu. Apa aku bilang? “Aku mencintaimu, Rey Airel Sham,” Tatapan kami bertemu. Kami tidak pernah seperti ini sebelumnya. Meskipun kami telah menikah, tapi aku tidak pernah berada dalam pelukannya seperti ini. Tidur pun kami tidak pernah bersama. Dia mengalah untuk tidur di sofa kamar, sedangkan aku tidur di tempat tidur. Dia sangat baik. Dan aku akan meninggalkan laki-laki sebaik ini? Oh Tuhan. Aku hampir saja melepas malaikatku. “Aku lebih mencintaimu, Citra Sahanaya,” Dia tersenyum, kemudiam mencium keningku dengan lembut dan penuh kasih sayang.

Tapi aku menggeleng dengan cepat. “Mulai sekarang, nama panjangku Citra Sham,” Lontarku dengan gaya seperti komandan yang sedang memerintah prajuritnya. “Siapppp, nyonya Sham!” Laki-laki di hadapanku ini berdiri dan menirukan gaya prajurit yang sedang hormat kepada komandannya. Sikap tubuhnya dibuat tegak. Dia lucu sekali. “Aku ingin tidur di pelukanmu, boleh?” Tanyaku dengan hati-hati.
“Suami macam apa aku jika tidak mengizinkan istrinya tidur di pelukannya?”
Tawaku berhambur. Aku pun tertidur di pelukannya. Rasanya aku ingin menghentikan waktu. Aku suka suasana ini. Tetap seperti ini. Hanya ada aku dan dia, suamiku.Aku bersamanya.
“….”

“Maaf nyonya, waktu sudah larut malam. Sudah tidak ada lagi kereta yang beroperasi. Apa nyonya akan tidur di sini?”
Suara laki-laki itu membangunkanku dari tidurku. Di mana Airel? Kenapa dia meninggalkanku sendiri di sini? Mataku menyapu seluruh sisi stasiun. Mencari sosok yang sedang memelukku tadi. Sosok yang aku cintai. Tapi nihil. Aku tidak menemukannya.

“Hmm, aku akan pulang. Terima kasih sudah membangunkanku,” Ujarku kepada laki-laki separu baya di hadapanku ini dan pergi meninggalkan stasiun.
“Ternyata tadi hanya mimpi,” Ujarku seraya berjalan menuju pintu ke luar stasiun. Tapi, sepertinya aku benar-benar telah jatuh hati kepada Airel. Aku tidak ingin meninggalkannya, mimpi itu telah menyadarkanku. Aku akan pulang. Kembali kepada Airel, suamiku,” Aku mengehentikan ucapanku sejenak.
“Andai sajaa, mimpi tadi adalah nyata. Itu adalah momen terindah yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku,” Lanjutku pada diriku sendiri sambil tersenyum malu.

“Nyonya Sham?” Aku menoleh dan mendapati sosok yang ku cari tadi. Sosok yang sabar menghadapiku selama satu tahun ini. Sosok yang ternyata aku cintai. Dia berdiri di belakangku sambil tersenyum manis ke arahku.
“Airel?” Sapaku setengah tak percaya dan langsung memeluknya dengan erat.
“Kenapa kau meninggalkanku sendirian di dalam stasiun, bodoh?!” Ujarku setelah berhasil melepas pelukanku dengan Airel. “Berhenti memanggilku bodoh, Ana! Aku ini pintar!”
“Yayayaya, whatever! Jawab pertanyaaku!” Jawabku dengan memberi tatapan menginterograsi.

“Tadi kau tidur dengan sangat pulas. Aku tidak tega membangunkanmu untuk mengajakmu ke parkiran. Apalagi aku memarkir mobilku di parkiran luar stasiun karena parkiran di dalam stasiun tutup pukul tujuh malam. Jadi aku memutuskan untuk mengambil mobil di parkiran luar dan memindahkannya ke depan stasiun. Agar aku mudah membawamu ke mobil. Kau tahu kan, aku tidak cukup kuat untuk menggendongmu terlalu jauh. Berat badanmu kannnn..”

“Apa? Berat badanku kenapa, hah? Ayo lanjutkan kalimatmu!”
“Tidak, tidak papahhh,” Dia terlihat menahan tawa dan tiba-tiba dia menggendongku di atas pundaknya.
“Turunkan aku, Airel! Aku bukan anak kecil!” Aku memuluk-mukul punggung Airel agar dia menurunkanku dari pundaknya ini, tapi dia malah mengacuhkanku dan terus berjalan menuju mobilnya. Aku pasrah. Dia tetap saja tidak mendengarkanku. Dan aku harus mengikuti caranya ini sampai ke mobil.

Cinta akan datang kepada siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Sekuat apa pun kita menolaknya, jika takdir sudah dituliskan-Nya, kita bisa apa? Ikuti saja alurnya.
“Tumbuhkanlah cinta, bukan mencarinya. Karena cinta ada untuk dirasakan.” –Amelia Yahya­.

Cerpen Karangan: Amelia Yahya
Blog: ameliayahyaaa.blogspot..com
My name is Amelia Yahya, you can call me Amel. I was born in Bekasi, 04 July 1998. I like write, read, travelling, etc. You can found me on email at Ameliayahya85[-at-]gmail.com or in my instagram: AmeliaYahya, or in ask.fm: @Amellyhy

Cerpen Kembalilah, Karena Aku Untukmu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Love You Ken

Oleh:
Namaku Odelina Azkanah sebut saja Lin. Aku dibesarkan oleh nenekku di bandung, karena orangtuaku yang sibuk dengan pekerjaannya. Setelah umurku 15 tahun aku pun ikut kedua orangtuaku. Disini aku

Terimakasih

Oleh:
Pelangi setelah hujan? Apakah akan selalu ada? Sejatinya seperti rumput yang terkena embun setelah turunnya hujan.. Mempelajari berbagai hal, perasaan, keadaan.. Ingin memperbaharui perasaan ini, tetap pada orang yang

Aku Ingin Menikah

Oleh:
Present.. Entah kapan aku akan merasakannya.. * Apakah karena takdir? Atau hanya suratan nasib hidupku? Berulang kali kutanam benih asmara, namun tak kunjung berbuah. Selama ini aku hanya menjadi

Bidadari Senja di Tepi Jalan

Oleh:
Namaku Adi Prasetyo. Dalam bahasa jawa kuno ‘adi’ berarti besar dan ‘prasetyo’ berarti kesetiaan. Entah hanya sekedar memberi nama yang trend saat itu atau memang kedua orangtuaku berharap bahwa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Kembalilah, Karena Aku Untukmu”

  1. Lyneta says:

    Bagus banget ^_^… terus berkarya ya kak. Nambah terus cerpennya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *