Kenangan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 26 March 2018

Bulan purnama tergantung di langit Kota Praya. Kelap-kelip bintang mewarnai alun-alun Tastura. Tempat masyarakat kota menghibur diri setelah hari yang berat terlewati. Aku di sana memperhatikan orang-orang yang menikmati malam dengan cara masing-masing. Ada yang bercengkerama, anak-anak saling kejar-kejaran, muda-mudi yang bergandengan tangan mengitari alun-alun, dan dengan cara yang lainnya. Aku juga tengah menikmatinya dengan cara sendiri. Ditemani secangkir coklat panas yang baru aku pesan, aku memetik senar gitar dengan nada yang aku kenal. Aku sedang menyanyikan lagu baruku.

Seorang gadis berdiri di hadapanku. Senyumnya manis sekali. Parasnya ayu rupawan. Mimpikah aku, aku membatin.
“Boleh saya duduk di sini”, dia membuyarkan lamunanku.
“Boleh. Silahkan”, berusaha aku menyembunyikan kegugupanku. Hampir tidak berkedip aku memandangnya. “Tiara”, dia ulurkan tangan padaku. “Dimas”, aku menyambut. Aku tidak bisa melupakan pertemuan pertama aku dengan dia. Meskipun itu telah berlalu tiga minggu.

Sudah tiga minggu aku mengenalnya. Sudah tiga minggu aku dekat dengannya. Ya, setelah malam itu kami tetap berhubungan. Sering keluar bareng. Sekarang aku berada di depan cermin di dalam kamarku. Memperhatikan bayanganku yang tersenyum padaku. Hari ini aku akan bertemu dengan Tiara. Kami sudah membuat janji untuk jalan sore ini. Dan aku, aku sudah tiga puluh menit berdiri di depan cermin.

“Kita mau pergi ke mana?”, tanya Tiara ketika aku menjemputnya.
“Aku sudah ada rencana. Kamu ikut saja”, jelasku. Dia mengangguk dan naik ke motor. Dalam perjalanan, kami tidak banyak bicara. Hingga sampai di pantai awang. Tempat yang menjadi tujuanku mengajak Tiara. Dia tampak senang aku ajak ke sana.

Ketika sampai, dia langsung berlari-lari di pantai. Aku tersenyum melihat tingkahnya.
“Ayo sini…”, teriaknya. Aku menghampirinya.
“Fotoin ya?”, pintanya dengan manja. Dia berpose bagai seorang model. Aku mengambil gambarnya. Kembali aku senyum sendiri memperhatikan tingkahnya. Gadis ini sungguh dapat membuat aku terkagum, batinku. Sejak pertama aku mengenalnya, bahkan sejak dia berdiri di hadapanku di malam itu, aku jatuh hati padanya.

Lama aku melamun tentang dia. Aku menghampirinya yang sedang asyik dengan pasir pantai. Dia tersenyum ketika melihatku berada di sampingnya. Aku memberikan handphoneku padanya. Dia memperhatikan layarnya. Dia nampak terkejut. Aku menjadi gelisah. Aku menjadi was-was.
“Apa maksudnya ini, Mas?”, tanyanya. Deg. Aku bagai tersambar petir. Jantungku seakan berhenti berdetak. Aku tidak mampu berkata.
“Apa maksudnya ini?”, tanyanya lagi sambil menyerahkan handphone itu padaku. Betapa terkejutnya aku demi melihat layarnya. Tidak ada apapun di sana. Aku tertawa sendiri. Aku mencari gambar yang ingin aku tunjukkan padanya, lalu aku menyerahkan kembali padanya. Dia diam melihat layar. Pandangannya silih berganti tertuju pada layar dan padaku. Lalu, dia berlalu begitu saja dari hadapanku.

Aku merasakan detak jantungku berhenti. Aku menyusulnya. Dia terus berdendang. Berlari menyusuri pantai. Ketika aku di dekatnya, dia mengembalikan handphoneku. Layar utama yang ditampilkan.
“Jadi bagaimana? Apa jawabanmu?”, tanyaku dengan serius. Dia tersenyum. Aku semakin tidak mengerti.
“Apa harus dengan kata-kata aku menyatakan perasaanku?”, tanyanya. Aku semakin bingung dibuat olehnya. “Aku sudah menjawabnya. Bahkan sebelum kamu bertanya. Aku sudah menjawab pertanyaan yang kamu ajukan sekarang di malam pertama kita bertemu”.
Jawabannya membuat aku tidak berdaya. Lidahku kaku, tidak mampu berkata. Aku seakan tidak percaya dengan yang aku dengar darinya.

Aku mencari kembali gambar yang aku tunjukkan padanya. Namun aku tidak dapat menemukannya. Gambar itu adalah fotonya yang aku tambahkan dengan sebaris pertanyaan, MAUKAH KAMU MENJADI PACARKU? “Aku sudah menghapusnya.”, dia membuatku kaget. Dia kembali berlarian di pantai. Bermain-main dengan air. Lalu..

Kejadian di pantai itu terjadi delapan tahun yang lalu. Dan di sinilah aku, di pantai yang sama, mengingat segala kenangan bersamanya.

Cerpen Karangan: Ahmad AHB

Cerpen Kenangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Last Firework’s Festival

Oleh:
Sehari sebelum festival kembang api, aku dan pacarku, Arata, sibuk memilih Yukata yang serasi untuk kami. Festival kembang api tahun ini adalah yang terbaik. Aku sangat mengharapkan momen seperti

Laras

Oleh:
Angin berhembus malu-malu membawa aroma laut yang berada di ujung barat sana. Matahari mulai tenggelam karena memang hari sudah hampir senja. Laras menendang-nendang tembok pembatas atap sekolah. Sudah hampir

Kembalilah

Oleh:
PROLOG *Syurrrrrrrrr Hujan deras membasahi daerah Jakarta. Terutama sekitar daerah sekolah Dan rumah gue, daerah gue emang lagi rentan banjir. Makanya pulang sekolah kali ini gue lewat dari sekitar

A Road To The Endless Love

Oleh:
Malam itu terasa sangat dingin menusuk hati, membalut jiwa-jiwa yang sedang perih hatinya. Meskipun musim dingin telah berakhir di Vancouver, namun malam ini terasa sangat dingin dari hari-hari biasanya.

Ulang Tahun

Oleh:
“An, apa yang kamu inginkan?” Tanya Ahmad pelan saat Ana sedang melipat baju di kamar. “Haa? Maksud mas?” Ana menjawab dengan bingung sembari menaikkan alis sebelah kirinya. “Yaa… maksudku,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *