Kenangan Di Secangkir Kopi Sore (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 10 June 2016

Hujan turun di luar sana dan aku memandang lewat dinding kaca transparan yang membatasiku dengan dunia luar kantorku. Waktu masih menunjukkan jam 3 sore, dua jam lagi waktu untuk pulang. Hari ini tidak banyak pekerjaan di kantor, aku sendiri di ruangku. Aku memandang rintik hujan yang jatuh, aku menatap ke bawah. Air hujan mendarat mulus tanpa hambatan di halaman kantor yang cukup jauh jaraknya dariku. Bila aku berdiri di sini aku selalu merasa aku semakin dekat ke langit, ruanganku yang ada di lantai 7 membuatku semakin menikmati langit. Aku sangat suka langit, dari dulu aku selalu menatap langit pagi hari, siang, senja dan malam. Dan langit favoritku adalah langit senja karena memberi warna yang sangat indah. Dan saat ini langit tidak terlihat jelas karena air hujan yang lelah berdiam dalam awan. Hem… aku melirik ke meja kerjaku. Secangkir kopi tergeletak manis di meja kerjaku. Aromanya menggelitik hidungku membuatku terganggu menikmati langit dan hujan. Aku berjalan ke meja kerjaku dan meraih secangkir kopi itu, aromanya semakin menyeruak ke hidungku. Ku teguk sedikit… hemmm hangat rasa pahit bercampur manis tercampur sempurna, Kopi buatan pak Didin memang mantap. Aku melangkah menuju dinding kaca tempatku tadi berdiri sambil membawa secangkir kopi di tanganku dan kembali menikmati langit dan hujan plus secangkir kopi. Sore ini begitu sendu membuatku teringat kenangan manis yang membuatku menyukai kopi. Aku tersenyum, di usiaku yang sekarang ini kenangan adalah hal yang paling sering menjadi senyumanku. Di usiaku ini begitu banyak pertanyaan yang di tujukan padaku membuatku tak tahu harus berkata apa. Pertanyaan-petanyaan itu biasanya sangat sulit ku jawab. Lebih sulit dari pertanyaan penguji saat ujian Sarjana. Bagaimana aku bisa menjawabnya sedang aku sendiri pun bertanya dan belum mendapatkan jawaban. Pertanyaan-pertanyaan itu terkadang sering membuat senyum hilang dari wajahku yang cantik –mereka yang mengatakan aku cantik, aku sendiri melihatku biasa aja-. Aku nggak pernah menduga di usia 36 tahun aku belum menikah, semua berjalan begitu saja dan aku belum menemukan seseorang yang bersedia mendampingi sampai tutup usia. Aku kembali meneguk kopi di tanganku. Langit masih buram dengan air hujan. Sekilas kenangan muncul di pikiranku, masa itu saat aku kuliah di semester akhir. Ku mengenal sesosok pria yang lucu dan baik. Dia selalu membuatku tertawa. Setiap ada di sisinya aku merasa seperti wanita yang begitu berharga.

Suatu sore kami bertemu di lapangan olah raga kampus, aku beserta temanku sedang melintas di pinggir lapangan. Ada beberapa mahasiswa yang sedang beristirahat di lapangan, sepertinya habis main bola. Tiba-tiba seorang cowok menghadang jalan kami. Seorang cowok dengan seragam bola, dia tersenyum pada valley temanku. Valley membalas senyumannya.
“Hei…, Mario…” sapa valley.
“Hai… cewek cantik…” ucapnya sambil senyum, menunjukkan kedua lesung pipitnya. Manis sekali…
“Baru pulang…” tanyanya sambil melirikku.
“Iya nih, habis hujan baru reda sih. Tapi kalian dari tadi main bola ya…” ucap valley sambil memegang baju mario yang ternyata basah.
“Iya, pas hujan lebih seru lagi…” ucapnya sambil tertawa, valley menggeleng melihat mario.
“Temannya nggak dikenalin ni…” ucapnya sambil melirikku.
“Oh… iya, ni kenalin teman kostku.” Ucap valley, sambil melihatku. Mario mengulurkan tangannya.
“Mario…” ucapnya sambil senyum menunjukkan kedua lesung pipitnya yang manis.
“Myura …” ucapku sambil senyum.
“Yo…” suara teman-temannya memanggilnya, sepertinya waktu istirahat mereka sudah habis.
“Aku main dulu ya, lain kali kita ngobrol…” ucapnya pada valley lalu melirikku. Aku dan velley senyum, lalu dia berlari ke tengah lapangan. Sejak itu kami berteman…, dia selalu aja muncul di hadapanku.

Suatu sore mario muncul di fakultasku, kami ngobrol di depan ruang kuliah. Sore itu langit dihiasi awan, kami memandang langit sambil ngobrol. Awan hitam muncul menghias langit.
“Hei kayaknya mau hujan ni.” Ucap mario lalu mengajakku untuk pulang. Lalu kami berjalan menuju gerbang kampus. Tiba-tiba hujan turun, mario menarik tanganku kami berlari di bawah siraman hujan. Saat melewati gerbang kampus mario menarikku berlari ke arah yang berbeda dari arah tempat kostku.
“Yo, mau kemana.” Tanyaku mario tidak menjawab dan membawaku berteduh di cafe tenda depan kampus.
“Kita berteduh dulu di sini, sambil menghangatkan diri…” ucapnya lalu menyuruhku duduk di kursi cafe. Kami duduk berhadapan. Angin berhembus dingin menyerbu tubuhku yang dingin karena basah terkena hujan. Aku melipat tanganku di dadaku. Mario memesan 2 cangkir kopi.
“Aku nggak suka kopi…” ucapku, tapi mario tetap memesan kopi.
“Kamu harus coba. Kopi disini lumayan enak, kopi itu bagus lo untuk tubuh apalagi dingin seperti ini.” ucapnya.
“Aku pesan 1 gulanya dibanyakin…” ucapnya sambil nyengir.
“Kamu nggak suka yang pahit-pahit ya…” ucap mario.
“Iyalah…” ucapku sambil menarik ikat rambut yang mengikat rambutku. Rambutku yang basah terkena hujan ku gerai supaya bisa segera kering.
“Eh…rasa pahit itu bagus lo, kalau nggak tahu pahit gimana tahu yang manis.” Ucapnya sok bijak, aku mendengus dia tertawa. Dia selalu tertawa dan aku suka bila tertawa karena akan menunjukkan kedua lesung pipitnya itu. Kopi pesanan kami tiba, aroma kopi terasa banget di hidungku.
“Ayo minum.” ucap mario, dengan malas aku meraih cangkir kopi di depanku dan meminumnya seteguk, rasa pahit manis terasa di mulutku juga rasa hangat yang mengalir di kerongkonganku. Aku merasakan kehangatan di tubuhku. Aku memang tidak memasukkan kopi sebagai minum favoritku bahkan lebih tepatnya menghindarinya tapi hari ini mungkin aku harus pertimbangkan keputusanku…
“Gimana? Menyenangkan kan?” ucapnya sambil senyum. Aku hanya senyum dan kembali meneguk kopi yang aromanya membuatku nyaman. Ku lirik mario yang masih menatapku sambil meminum kopinya. Aku menyandarkan punggungku di sandaran kursi, angin yang tadinya sangat dingin menusuk kini terasa menyenangkan karena tubuhku yang mulai menghangat. Aku kembali meneguk kopi di tanganku, sesaat kami hanya diam. Mario pun tidak memulai percakapan, kami menikmati hujan dengan secangkir kopi di tangan. Saat hujan reda kami pun keluar dari cafe, kami berjalan bersisian menyusuri jalan menuju tempat kostku. Jalanan terlihat basah dan dipenuhi genangan air. Udara terasa dingin tapi menyenangkan. Sesekali mario melemparkan lelucon padaku, membuatku tertawa. Mario mengantarku sampai tempat kostku lalu segera pulang. Hari itu aku merasakan hangat di tengah angin yang dingin dan tubuh yang basah terkena hujan. Mungkinkah karena secangkir kopi yang ku minum atau karena kamu ada bersamaku… aku tak tahu…

Hari-hari ku lalui dipenuhi kamu…dan aku menikmatinya. Dan secangkir kopi menjadi teman kami ketika hujan. Semua terasa menyenangkan sampai kesibukanku dengan skripsi dan segala permasalahanku membuatku menjauh darimu. Aku sering menolak ketika kamu ajak jalan. Aku tidak lagi duduk di bangku di bawah pohon dimana kamu sering menemukanku duduk sambil menikmati senja di kampus. Aku sibuk dengan duniaku, terkadang ku merindukanmu tapi ku menahan diri untuk menemuimu dan berusaha pada fokus pada skripsiku yang selalu dikejar deadline. Juga bram cowok masa laluku yang muncul secara tiba-tiba memporak-porandakan hatiku dan aku tak ingin mario tahu. Meskipun Mario akhirnya tahu dari teman sekostku. Ketika mario tahu, dia berhenti mendekatiku dan diam di tempatnya. Aku bertanya dalam hati kenapa mario berhenti apakah dia bosan karena aku terus menjauh darinya atau dia hanya membiarkanku sendiri untuk menyelesaikan semua sendiri. Mario tahu kalau aku aku lagi ada masalah aku lebih suka sendiri menyelesaikannya. Bagian Mario adalah mendengar cerita suksesku menyelesaikan masalahku. Ya… selalu seperti itu, Mario pernah protes secara tak langsung padaku. Dia bercanda tapi ku tau ada sesuatu yang serius di dalam candaannya. Dia mengasihani dirinya karena tak pernah ada di masa sulitku. Aku hanya senyum menanggapinya. Aku hanya nggak ingin merepotkanmu mario… ucapku dalam hati saat itu. Yah… aku memang akhirnya menyelesaikan semua, skripsi dan juga tentang bram. Aku menyadari bahwa bram adalah masa lalu yang tak ingin ku bawa ke masa depanku. Mungkin bram adalah cinta pertamaku yang sulit ku lupakan tapi… aku tak ingin menangis dan sakit lagi. Aku memutuskan mengeluarkan bram dari hidupku. Saat aku sudah menyelesaikan semua, aku berlari mencari Mario untuk bercerita tentang kesuksesanku menyelesaikan semua tapi… Aku melihat Mario sudah menatap ke arah lain tidak lagi padaku. Mario sekarang akrab denga vini… juniorku di kampus dan juga tetangga kostku. Vini selalu tertawa dengan leluconnya seperti aku dahulu. Aku terhempas dalam jurang yang ku buat sendiri… Mario… Aku kehilangan seorang sahabat terbaikku.

Selama ini, ketika ku sibuk dengan duniaku sendiri setiap mario datang ke kost dan tidak menemukanku dia selalu berbincang dengan vini. Setiap aku menolak ajakannya vini selalu mengajaknya untuk membantunya mengerjakan sesuatu. Semua itu membuat mario menjadi akrab dengan vini. Sekarang aku benar-benar sendiri melakukan semua. Meski Mario masih suka ngobrol denganku tapi waktunya lebih banyak ke vini. Kemudian Mario sibuk dengan skripsinya dan vini selalu menemaninya. Statusku yang tidak mahasiswa lagi membuatku tidak ke kampus lagi tapi mencari pekerjaan membuatku semakin jarang ketemu Mario. Kemudian papa memintaku untuk kembali ke kotaku, aku pikir itu mungkin pilihan tepat. Entah kenapa aku kehilangan semangat di tempat itu. Aku memberitahukan Mario tiga hari sebelum kepulanganku ke kotaku. Lewat sms singkat di pagi hari, dan Mario muncul 5 menit kemudian. Memang tempat kostnya tidak jauh dari tempat kostku. Aku kaget menatapnya yang sepertinya masih baru bangun tidur dengan rambut yang sepertinya hanya disisir dengan tangan dan pakaiannya yang terlihat kusut. Kami berdiri di teras rumah kost, karena Mario tidak mau diajak masuk.

“Mario…” ucapku heran. Dia menyodorkan handponenya padaku.
“kenapa?” tanyaku lagi.
“Ni handponeku yang rusak atau memang kamu mau pergi.” Ucapnya terburu-buru. Hah…apa karena smsku tadi?
“Iya, aku mau kembali ke kotaku…” ucapku pelan.
“Kenapa buru-buru kembali…” ucapnya.
“nggak buru-buru, aku sudah pikirkan ini beberapa minggu. Ku pikir ini adalah keputusan yang tepat.” Ucapku, Mario menatapku lama tanpa kata, aku hanya bisa diam.
“Kamu… selalu sama, apakah bagimu aku hanya seorang yang tidak penting? Tadi Diki menatapku heran karena tidak tahu tentang kepulanganmu ke kotamu. Diki tahu dan aku tidak. Apakah aku orang terakhir di listmu?” ucap Mario menatapku tajam, ada tatapan marah disana. Aku diam tak mampu berkata apa-apa. Diki adalah teman kost Mario dan juga pacar Valley, mungkin dia tahu dari Valley.
“Aku selalu menunggumu, berharap kamu akan berubah dan mengajakku masuk dalam setiap bagian hidupmu. Tapi aku salah, kamu tak akan berubah. Kamu katakan aku sahabatmu, apakah seperti ini yang kamu katakan sahabat?” ucapnya datar, aku menunduk.
“Maaf Mario…” ucapku pelan.
“Bukan kata maaf yang ku inginkan, aku hanya ingin kamu berubah. Semoga kamu bisa mencapai apa yang kamu impikan di kotamu dan berbahagia.” Ucap Mario.
“Kamu membuat pagi ini begitu istimewa, aku nggak akan pernah lupa bahwa pagi ini kamu membuktikan kalau aku bukan siapa-siapa bagimu.” Ucap Mario bergetar, aku menaikkan wajahku dan menatap Mario, matanya berubah kelam lalu berjalan pergi meninggalkanku.
“Mario…” panggilku, tapi Mario tetap melangkah pergi tanpa menoleh. Dan di hari kepergianku Mario tidak muncul mengantarku, kata diki dia tidak ada di tempat kost. Kami berpisah dalam kemarahan Mario. Setiap aku menatap hujan dengan secangkir kopi aku akan mengenangmu Mario, meski mungkin kamu tidak akan mengingatku lagi. Mungkin saat ini kamu sudah menikah… Setiap aku memikirkan itu dadaku terasa sesak. Karena aku mencintaimu. Aku menyadari semua saat aku ada di kotaku ini. Tapi semua sudah terlambat, dan aku tersiksa dengan cinta ini. Aku merindukannya, merindukan leluconnya, senyum manisnya dengan kedua lesung pipitnya. Aku rindu ngobrol dengannya… rindu dia duduk di sisiku meski kami hanya diam sambil menatap langit senja. Merindukan suaranya memanggilku… Aku terjebak dalam kenangan bersamanya dan sampai sekarang aku tak mampu keluar dari kenangan akannya. Suara ketukan di pintu ruangan membuyarkan lamunanku. Aku menoleh, dea teman kantorku berdiri di pintu ruangan.

“Myu, tadi pesan pak Handi jangan lupa acara kita hari ini di cafe Jingga. Jangan melamun terus…” Ucap dea.
“O iya de, hampir aja aku lupa.” Ucapku sambil senyum. Hari ini kami akan buat acara buat rekan kerja kami yang akan pindah tugas ke kota lain. Lalu dea keluar dari ruangan dan aku meletakkan cangkir kopi yang ada di tanganku di atas meja, kulihat jam di pergelangan tanganku. Sudah setengah lima, hujan juga sudah mulai reda. Aku begitu terhanyut dalam kenanganku sehingga aku lupa waktu. Aku memberesakan meja kerjaku, dan mengecek pekerjaanku di komputer. Setelah semua selesai, jam 5 aku dan rekan kerjaku pergi ke cafe Jingga.

Bersambung…

Cerpen Karangan: Imelda Oktavera

Cerpen Kenangan Di Secangkir Kopi Sore (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia Selalu Ada Untukku Di Dalam Dirinya

Oleh:
Hawa sore ini begitu indah. Langit lazuardi tampak berwarna oren kemerah-merahan. Aku duduk di padang ilalang di belakang rumah. Mataku tajam menatap ke langit. Aku sendiri. Ya, semenjak kematian

Cowok Gila Satu Itu

Oleh:
“Ren, jalanmu terlalu cepat”, Andre berteriak sambil menguap karena mengantuk. Mendengar teriakan Andre, Reni menjawabnya dengan sewot, “EGP”. Kruuyuuk… kruuyuuk… “A… aduh… perutku lapar, aku belum sempat sarapan” “Huh!

Sakura Love (Part 2)

Oleh:
Keesokan harinya. “Mana orangnya ya? Benar di sini kan? Bukankah biasanya orang Jepang itu selalu tepat waktu?” gumam Yume. Yumi baru saja tiba di taman dekat kampus, tempat yang

Hibari dan Hana

Oleh:
Akhirnya, aku sampai juga di Bali. Sudah 5 tahun sejak aku lulus SMA. Ternyata tak banyak perubahan setelah aku melanjutkan studi di Belgia. Rasa rindu kepada orangtua memang sudah

Cinta Dan Gengsi

Oleh:
Cinta memang penuh misteri, tak bisa dimengerti, tak terduga dari mana datangnya, dari siapa, dan entah mengapa bisa berlabuh pada dua insan yang berlainan. Cinta yang berawal dari tatapan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *