Kenangan Di Secangkir Kopi Sore (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 10 June 2016

“Myu… sudah jangan menangis lagi…” ucap Mario. Untung saat ini cafe tidak terlalu banyak pengunjung, kalau tidak mungkin kami akan jadi tontonan aneh mereka.
“Bicaralah Myu, kenapa kamu hanya menangis…” ucap Mario, aku tetap diam. Di depan kami dua cangkir kopi sudah menunggu untuk kami minum. Kopi ini membuatku semakin menangis… Mario berdiri dan duduk di sisiku.
“Myu… jangan terus menangis…” ucap Mario disampingku, aku menghapus air mataku.
“Kenapa kamu menangis melihatku, apakah aku sudah melakukan kesalahan padamu Myu…” ucap Mario. Aku belum bisa berkata-kata… Ini terlalu mengejutkan bagiku.
“Minumlah dulu…” ucap Mario sambil menyodorkan cangkir kopi di depanku, aku meraih cangkir kopi dan meneguk kopi itu. Dan kembali air mataku mengalir…
“Myu…” kali ini suara Mario benar-benar khawatir. Aku meletakkan cangkir kopi di meja. Aku menghapus air mataku. Sejenak kami diam, aku pun tidak menangis lagi.
“Kamu sudah baikan?” tanyanya pelan, aku hanya diam. Sekarang apa yang harus aku katakan pada Mario. Aku tadi begitu emosional, karena sebulan ini pikiranku selalu dipenuhi Mario dan tiba-tiba dia ada di hadapanku. Mario pasti bingung melihatku.
“Kenapa kamu terus menangis?” tanya Mario, aku diam aja.
“Aku tidak pernah melihatmu menangis…” ucap Mario, aku memang tidak pernah menangis di depan Mario sepelik apapun masalahku dulu. Aku hanya menyimpan semua itu untukku sendiri, aku hanya akan menangis di kamar atau di depan valley.
“Maaf…” hanya kata itu yang keluar dari mulutku.
“kenapa kamu meminta maaf…” ucap Mario, aku diam.
“Setelah sekian tahun kita tak bertemu kamu hanya katakan Maaf?” ucap mario.
“Aku berharap kamu menanyakan kabarku, bertanya tentang kehidupanku selama ini. Aku berharap kamu akan tertawa ketika melihatku dan kita bisa kembali ngobrol seperti dulu. Aku berharap kita akan bercanda seperti dulu…” ucap Mario.
“Aku berharap matamu akan menatapku ceria, berharap kamu… memelukku.” ucap Mario pelan… memeluk Mario… Aku sangat ingin tapi…
“Tapi yang ku temui hanya kamu yang menangis ketika melihatku… Apakah aku adalah hal yang buruk buatmu?” ucap Mario, aku menoleh kepada Mario yang ada di sisiku.
“nggak yo…, kamu tidak buruk bagiku.” ucapku, Mario menatapku dan tersenyum menunjukkan kedua lesung pipitnya.
“Aku sangat rindu dengar suaramu…” ucapnya, senyuman yang sangat ku rindu. Aku menatapnya Mario masih terlihat sama seperti dulu. Hanya sekarang dia terlihat lebih dewasa. Aku teringat saat di cafe Jingga… itu beneran kamu kan Mario…
“Saat di cafe Jingga itu… itu kamu kan…?” ucapku, Mario menatapku lembut.
“Ya…” jawabnya.
“kenapa kamu pergi tanpa menemuiku?” tanyaku, Mario senyum.
“Karena aku cemburu melihat banyu yang bisa begitu dekat denganmu.” Ucap Mario. Mario mengenal banyu?
“Kamu kenal banyu?” tanyaku heran.
“Banyu itu sepupuku, aku tinggal di rumahnya saat ini.” Apa? Lalu kenapa banyu tidak cerita.
“Kenapa… kamu… banyu…” aku bingung mau berkata apa.
“Aku juga baru tahu kamu teman kerja banyu. Saat itu aku nggak sengaja melihat fotomu, kamu ada di antara teman-teman kerja banyu. Lalu aku bertanya pada banyu untuk menyakinkan aku apakah itu beneran kamu Myu. Dan banyu mengatakan nama kamu, aku juga dengar cerita banyu tentangmu.” ucap mario, apa aja yang diceritakan banyu pada Mario.
“Hal yang paling membuatku yakin itu kamu adalah saat banyu katakan kamu wanita dingin dan mandiri.” ucap Mario sambil senyum. Banyu…
“Kamu belum berubah Myu…” ucap Mario, aku teringat kata-kata terakhir Mario padaku saat kami berpisah dulu. Aku menunduk dan menggigit pelan bibirku menahan gelisahku.
“Tapi kamu tetap cantik…” ucapnya lagi. Dadaku berdesir halus, mendengar pujian Mario.
“Masih sama seperti pertama aku melihatmu dulu.” ucap Mario lagi. Mario… Lalu Mario diam, aku pun tetap diam. Suasana hening ini membuatku canggung.
“Kamu belum kasi aku jawaban kenapa saat itu kamu pergi tanpa menemuiku.” ucapku memecahkan keheningan di antara kami. Mario mendesah pelan.
“Saat aku selesai nyanyi waktu itu, aku begitu emosional. Aku pikir aku nggak akan bisa bicara dengan biasa padamu, aku memutuskan untuk pulang. Selain itu sebenarnya malam itu aku harus berangkat ke luar kota, ada pekerjaan yang harus ku lakukan. Dan tadi siang aku baru kembali ke kota ini lagi, karena itu aku baru bisa menemuimu saat ini.” ucap Mario
“Kenapa banyu tidak mengatakan apa-apa padaku?” tanyaku.
“Aku yang memintanya untuk tidak cerita. Aku ingin aku sendiri yang cerita ke kamu.” ucap Mario.
“Aku ada di sini…” ucap Mario, aku menatap Mario. Mario kembali tersenyum.
“Kamu sudah menikah?” tanyaku…, aduh kok aku langsung nanya itu sih…
“Mmm…pertanyaan yang sulit.” Ucap Mario jenaka, masih seperti Mario yang dulu tapi kenapa sulit?
“Mungkin sebentar lagi…” ucapnya sambil senyum, berarti Mario belum menikah. Ada rasa lega di hatiku. Tapi…sebentar lagi berarti Mario akan menikah. Karena itu kah dia menemuiku untuk mengundangku?
“Sekarang aku bertanya, kenapa kamu menangis tadi saat melihatku?” tanya Mario, aduh aku harus jawab apa? Haruskah aku menyimpan semua lagi. Tapi aku nggak bisa menahan ini semua lagi. Kalau pun Mario akan menikah dengan wanita lain setidaknya aku harus katakan semua padanya supaya aku lega dan bisa melepasnya.
“Karena aku pikir tadi aku hanya berhalusinasi ketika melihatmu.” ucapku sambil menunduk.
“Kenapa bisa kamu berpikiran begitu, atau jangan-jangan kamu sering berhalusinasi bertemu denganku ya…” Mario mulai bercanda.
“Ya…” ucapku lalu menatap Mario, senyum di bibir Mario hilang.
“Saat di cafe itu pun aku pikir aku berhalusinasi, aku selalu terjebak dalam bayang-bayangmu yo. Aku nggak bisa berhenti memikirkanmu.” ucapku Mario menatapku tanpa senyum. Aku memalingkan tatapanku dari Mario.
“Belasan tahun kita tidak bertemu, tapi aku belum bisa melupakanmu. Aku selalu ingin menghubungimu tapi aku tak berani. Aku ingin bertanya pada valley tapi mulutku tak mampu bicara. Sampai ketika aku punya keberanian bertanya pada valley… kamu tidak bisa dihubungi lagi. Berulang kali aku mencoba menghubungi nomormu tapi nomormu tak pernah aktif. Aku terus bertanya dimana keberadaanmu. Bagaimana keadaanmu, apakah kamu masih suka langit senja, apakah kamu masih suka menatap hujan sambil meminum secangkir kopi, dan begitu banyak pertanyaan di pikiranku dan aku merindukanmu. Kadang aku berpikir sampai kapan aku kan terus memikirkanmu. Ketika kamu muncul di cafe saat itu, hatiku begitu kacau. Dan kamu pergi begitu saja… aku pikir kamu masih marah padaku. Aku sangat kacau… karena itu saat melihatmu tadi aku menangis. Aku tak sanggup lagi menahannya, dadaku terasa sesak.” ucapku, mataku kembali berkaca-kaca. Aku berhenti bicara. Tiba-tiba Mario memelukku, aku kaget. Tubuhku menegang, Mario memelukku erat.
“Maaf…” ucap Mario di telinggaku, ketegangan tubuhku mengendur. Aku merasakan kehangatan pelukan Mario.
“Jangan menangis lagi…” bisik Mario di telinggaku membuat air mataku kembali terjatuh. Mario melepaskan pelukannya dan menghapus air mata di pipiku.
“Aku rindu senyumanmu dan matamu yang selalu begitu menenangkanku. Karena itu jangan menangis lagi.” ucap Mario. Lalu kami diam.
“Perasaan apa yang kamu miliki itu? Apakah perasaan bersalah?” tanya Mario. Aku meggigit pelan bibirku menahan gejolak di hatiku.
“Atau hanya karena ingin sahabatmu kembali?” tanya Mario, Aku menunduk dan menatap cangkir kopi di depanku. Ku memegang cangkir kopi dengan kedua tanganku. Memegang kedua sisinya berharap kehangatannya menjalar ke tanganku. Tapi kopinya sudah dingin…
“Saat aku kembali ke kotaku ini, aku menyadari bahwa aku bukan kehilangan sahabat tapi kehilangan seorang pria yang baik hati dan lucu. Aku kehilangan pria yang begitu peduli padaku… Aku kehilangan pria yang aku cintai.” Aku tersenyum kecil, sambil mempermainkan cangkir kopi di tanganku.
“Benar kata orang saat kita kehilangan baru kita menyadari arti seseorang itu bagi kita.” ucapku lagi.
“Aku nggak bisa berhenti mencintaimu. Aku hidup dalam bayang-bayangmu. Aku bertanya dalam hatiku, apakah kamu memiliki perasaan yang sama denganku. Aku bertanya apakah kamu juga merasakan kehilangan seperti yang aku alami? Hah… aku begitu lucu ya…” ucapku lagi sambil tersenyum, masih menatap kopi di depanku.
“Kenapa lucu?” tanya Mario.
“Ya lucu dong berharap kamu memiliki perasaan yang sama denganku, padahal aku tahu kalau saat aku pergi kamu lagi dekat dengan vini.” Ucapku sambil melihat Mario dan tersenyum.
“Kamu salah paham…” ucap Mario masih tanpa senyuman di bibirnya.
“Ya sudahlah yo, yang lalu nggak usah dibahas. Maaf membuatmu kaget karena aku terus menangis tadi. Dan kamu jangan terbeban dengan apa yang ku katakan tadi. Aku hanya ingin mengatakan semua isi hatiku yang sudah terlalu lama terpendam. Supaya aku bisa berdamai dengan hatiku dan melepasmu.” ucapku sambil menatap Mario lalu tersenyum, berusaha bersikap biasa. Mario tidak tersenyum dia menatapku tajam.
“Kamu belum berubah, selalu sibuk dengan pikiran kamu sendiri dan menyelesaikannya sendiri.” ucap Mario, aku menunduk lalu aku harus gimana yo… Aku hanya ingin menguatkan diriku supaya aku bisa melepasmu.
“Kenapa kamu bisa melepasku semudah itu…” ucap Mario, aku tetap diam.
“Tidak bisakah kamu berjuang untuk bisa bersamaku? Tidak bisakah kamu membawaku dalam perjuanganmu menyelesaikan semua permasalahanmu? Tidak bisakah kamu membawaku ke dalam setiap bagian hidupmu? Apakah aku tidak pantas untuk itu?” tanya Mario, aku menatap Mario.
“Tidak mengertikah kamu, kalau lagu yang kunyanyikan saat itu adalah ungkapan perasanku? Tidak mengertikah kamu kalau aku sedang berjuang untuk bisa berada di sisimu lagi?” ucap Mario, aku nggak mengerti maksud Mario.
“Aku berharap kamu akan datang dan bilang kamu begitu terluka tanpa aku di sisimu… Aku berharap kamu akan kembali berada di dekatku… Kamu akan berusaha untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu… Dan aku cemburu melihatmu berbahagia tanpa aku, melihat senyuman dan tawamu saat berbicara dengan banyu dan teman-temanmu.” ucap Mario suaranya begitu emosional.
“Tidakkah kamu tahu kalau dari dulu aku mencintaimu, aku nggak sanggup melepasmu dan mengucap selamat jalan padamu. Karena itu aku tidak muncul di hadapanmu saat kepergianmu dan hanya menatapmu dari jauh.” ucap Mario… berarti Mario datang saat itu tapi tidak menemuiku. Mario mencintaiku…?
“Tidak kah kamu tahu aku begitu cemburu dan marah pada bram karena muncul kembali di hidupmu? Tidak kah kamu mengerti kalau saat itu aku begitu terluka… Dan ketika kamu memutuskan pergi tanpa mendiskusikannya denganku aku semakin tidak berharga bagimu. Aku begitu terpuruk ketika kamu meninggalkanku, aku berjuang untuk bangkit. Meski aku tak bisa menghilangkanmu dari pikiranku. Karena itu aku memilih bekerja di pekerjaan dimana aku bisa pergi ke banyak tempat. Ku pikir dengan begitu aku bisa melupakanmu tapi aku salah. Kamu nggak pernah hilang dari ingatanku.” ucap Mario. Mario… aku menatapnya aku membuatnya sangat terluka. Matanya menjadi kelam, Maaf Mario.
“Tidak bisakah kali ini di pertemuan kedua kita ini kamu membawaku masuk dalam hidupmu?” ucap Mario, Mario.. bukannya kamu mau menikah… aku nggak mau menghancurkan pernikahanmu… Mario menatapku, matanya seperti ingin mengatakan banyak hal padaku. Mario…
“Aku ingin sekali tapi aku nggak ingin egois… bukannya kamu katakan kalau sebentar lagi kamu mau menikah…” ucapku, Mario menatapku, ekspresi wajahnya berubah.
“Maksudmu?” tanyanya, aku jadi bingung.
“Kamu katakan kalau sebentar lagi kamu akan menikah, aku nggak ingin menghancurkan pernikahanmu.” ucapku, Mario menatapku lalu tersenyum. Kenapa dia tersenyum. Raut wajahnya yang tadinya kelam perlahan sirna.
“Kamu selalu sibuk dengan pikiranmu… dan sering salah paham.” ucapnya, maksudnya apa?
“Memang aku berharap sebentar lagi menikah, tapi aku belum punya pasangan untuk menikah nanti.” ucapnya, jadi… oh.. Tuhan… aku salah paham lagi… Ku lihat Mario dia tersenyum, matanya tak sekelam tadi. Wajahku terasa panas menahan malu karena salah paham.
“Jadi karena itu kamu katakan ingin melepasku?” tanya Mario, aku mengangguk tak bisa bicara.
“Memang kamu bisa?” tanya Mario, aku menggeleng.
“Terus jika aku menikah dengan wanita lain, apa yang akan kamu lakukan?” ucap Mario.
“Aku akan menangis sepanjang tahun dan mungkin akan selalu sendiri seperti saat ini.” ucapku.
“Lalu kenapa kamu tidak berjuang mendapatkanku?” ucap Mario.
“Kalau kamu sudah punya pasangan, itu akan sangat menyakitkan baginya dan aku nggak ingin dia merasakan hal yang sama denganku. Karena itu sangat menyakitkan, aku paham betul rasanya.” ucapku, Mario menatapku lekat.
“Jadi kalau sekarang kamu tahu aku belum punya pasangan, apakah kamu akan berjuang mendapatkanku?” ucap Mario, aku mengangguk.
“Dengan cara apa?” ucap Mario. Aku bingung mau mengatakan apa, dengan cara apa?
“Oke, aku akan bantu kamu. Langkah pertamanya adalah peluk aku dan katakan kamu mencintaiku.” ucapnya, aku menatap Mario.
“Ayo… kenapa diam aja.” ucap Mario sambil merentangkan tangannya. Aku segera memeluk Mario. Aku nggak akan menundanya lagi… nggak akan menyimpannya lagi…
“Aku mencintaimu…” ucapku bergetar, Mario membalas pelukanku. Aku akan bicarakan apa pun padamu, aku akan menarikmu masuk ke dalam hidupku bukan hanya untuk mendengar kesuksesanku tapi juga ikut ambil bagian dalam kesuksesanku.
“Aku juga mencintaimu Myura…” ucap Mario lembut.
“Jangan pergi lagi dariku…” ucap Mario lagi, aku mengangguk tanpa suara. Aku akan semakin menyukai hujan, langit dan kopi. Karena semua itu mempertemukanku dan kamu Mario.

Tamat

Cerpen Karangan: Imelda Oktavera

Cerpen Kenangan Di Secangkir Kopi Sore (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Mulai Panik

Oleh:
Oke sebelum gue cerita tentang hal yang gak penting ini gue mau ngenalin diri gue dulu, ya siapa tahu aja ada cewek jomblo yang kepincut dengan nama gue. Nama

Kembali

Oleh:
Setiap kali Fuji melewati perempatan jalan itu, selalu ada bayangan seorang gadis disana. Gadis yang membuatnya jatuh cinta, gadis yang membuatnya mengacuhkan gadis-gadis cantik lain. Dan gadis itu pula

Love? Just Be Patient (Part 1)

Oleh:
Sinar telah beranjak turun, bayangnya telah memanjang ke timur, kulihat sudah pukul 16.30 WIB. Baru pulang aku dari kampus karena jadwal kuliah dan kegiatan esktrakulikuler yang padat. Saat ini,

Ingatan Yang Pertama (Part 2)

Oleh:
Setelah aku masuk ke dalam bis, benar saja, Ribka duduk di dekatku, hanya terpisahkan oleh gang di dalam bis. Gary mengabsen semua mahasiswa di dalam bis dan setelah selesai,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *