Kepergianmu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 5 December 2016

“Kalau aku panggil kamu dari jauh, kamu bakal dengar nggak?”
“Seberapa jauh?”
“Nggak jauh-jauh amat kok, paling cuma 5000 Km.”
“…”
“Aku akan teriak sekencang mungkin, supaya kamu dengar.”

Aku mencoret satu tanggal lagi dari kalenderku. 1826 hari, tepat 5 tahun sejak dia pergi. Tepat 5 tahun juga semenjak aku terus-terusan sendiri, tanpa teman ataupun kekasih.

Aku bukannya introvert atau tak bisa bergaul, aku cuma takut akan melupakan dia. Aku takut tenggelam dalam kehidupan baruku dan kehilangan dia dari dalam memoriku.

Kamu boleh bilang bahwa aku berlebihan. Memang benar, aku juga tahu bahwa aku berlebihan. Tapi kamu tak pernah merasakan jadi diriku. Kamu tidak pernah merasakan mengenal dia.

Dia yang ramah. Dia yang supel. Dia yang selalu ada di sampingku. Dia yang telah membuat aku jatuh ke dalam lubang bernama “cinta”.

Memang, sekarang aku bisa bertemu dengannya di dunia maya. Aku bisa tetap berbicara dengannya walaupun ada samudera yang membentang di antara kita.

Tapi, apakah kau tak sadar? Bahwa itu terasa sangat semu. Palsu. Aku tidak bisa merasakan dia di sisiku. Aku merasa bahwa aku bisa melupakan dia kapanpun jika aku tidak melakukan hal seperti ini. Menutup diriku dari semua orang agar hanya ada dia di dalam pikiranku.

Tik.. Tik.. Tik..
Aku mendengar suara hujan yang menetesi genting. Dulu, Aku tak pernah suka hujan tapi selalu menyukai pelangi. Dia selalu suka hujan dan tak pernah suka pelangi. Bagiku, hujan menyebalkan, berisik. Bagi dia, hujan itu menenangkan. Bagiku, pelangi itu indah. Bagi dia, pelangi itu kebohongan. Dia bilang, warna-warna yang ada di pelangi itu palsu. Tapi itu dulu. Sekarang, setiap aku melihat hujan, aku akan teringat dia. Aku suka hujan, karena hujan membantuku untuk tidak melupakan dia. Dia juga berkata bahwa dia mulai menyukai pelangi. Ia bilang wajahku seolah-seolah terlukis di sana saat ia melihatnya. Dan dia suka itu, katanya.

Kamu kapan pulang? Di sini lagi hujan, kamu pasti suka.

Aku menekan tombol send di layar HP-ku.

Aku mengalihkan pandanganku ke seberang jendela. Entah mengapa, tetesan hujan itu terdengar menenangkan.

Aku mulai memahami dia.

Lewat 24 jam sejak Aku mengirimkan pesanku padanya. Aku menatap layar HP-ku. Terdiam seraya membaca tiap-tiap kata yang tertulis di situ.

Aku tak akan pulang. Lupakan saja diriku.

Aku merasa duniaku hampa. Gelap. Matahari seolah-olah menghilang.

Bisakah kamu bayangkan perasaanku? 5 tahun aku menunggu dan jawaban yang aku dapatkan hanyalah kalimat itu.

Aku tak mengerti. Aku tak mau mengerti. Yang aku mau cuma dia. Sungguh.

Hujan turun lagi. Lebih deras dari yang kemarin. Seolah-olah mengerti betapa sedihnya aku. Aku berlari ke luar dari rumah menuju ke tengah hujan. Berharap dengan begini, aku bisa merasakan pelukannya. Aku ingin teriak, melepaskan amarahku padanya. Tapi aku tidak bisa, aku tidak bisa marah padanya. Dan aku hanya bisa marah pada diriku sendiri. Aku diam di situ. Di tengah jalan sepi tanpa satu kendaraan ataupun orang yang melewatinya kecuali aku. Ditemani hujan dan langit senja yang tertutup awan, aku menangis.

“Bodoh, nanti kamu sakit.” Suara berat terdengar dari belakangku. Sebelum aku menoleh, si pemilik suara itu sudah terlebih dahulu memelukku.

Aku terdiam. Walaupun 5 tahun sudah berlalu, walaupun tubuhnya sudah jauh lebih tinggi dari yang dulu. Aku tetap tahu, aku tetap bisa merasakan bahwa itu adalah dia.

“Yang bodoh itu kamu.”

Dia membalikkan badanku sehingga aku sekarang menatapnya. Dia tersenyum, masih sama manisnya dengan 5 tahun yang lalu.

Dia menatap mataku lekat-lekat. Seakan-akan ada sesuatu di sana. Padahal yang ada hanyalah bola mataku.

“Mata kamu masih cantik.”

Dia tersenyum lebih lebar lagi. Seakan memaksaku untuk ikut tersenyum.

“Bodoh.” Aku memukul dadanya pelan.

“Maaf. Aku memang bodoh.” Dia mengelus rambutku lalu mendekapku lagi ke dalam pelukannya.
“Aku cukup bodoh untuk tetap mencintai orang yang sama setelah 5 tahun,” dia berbisik pelan.

Aku memeluknya balik.

“Maaf kalau teriakan aku tidak terdengar.”
“Aku pikir kamu benar-benar tidak akan kembali.”
“Aku janji, itu terakhir kalinya aku pergi.”

Cerpen Karangan: Divangelis
Blog: divangelis.wordpress.com

Cerpen Kepergianmu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gadis Hujan

Oleh:
Langit kotaku berubah menjadi mendung kehitaman, mengusir indahnya senja yang digantikan oleh awan hitam yang menakutkan gemuruh juga mulai bersuara. Raina Ruslan, itulah namaku orang-orang sering menyapaku Rain karena

Bestfriend and Lovers

Oleh:
“Osaa! Ayo bangun udah siang nih! Ntar aku tinggal lo!” teriak Vallery membangunkan aku yang tengah asik berada di alam mimpi. Aku membuka mata sesaat menatap Valery dengan kesal

I Want To Sing A Loud

Oleh:
Aku rasa kopi ini sama sekali tidak membantuku. Aku menyingkirkan secangkir kopi yang mulai mendingin, demikian juga dengan gitar yang sejak tadi ku peluk. Akhirnya aku hanya menekuk lutut,

Keping Hati Di Senja

Oleh:
Semburat jingga di sudut langit memantul ke air danau. Menghias bias bayangan diriku dan haruka yang juga ikut terpantul. Angin lembut menghembus wajah kami, dan menerbangkan desah jiwa kami.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *