Ketika Hujan Mengatakan Segalanya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 8 November 2017

Hujan yang turun apakah membawa pesan atau tidak, angin yang berembus apakah membawa kenangan atau tidak. Angin yang terasa panas dengan hujan yang yang menghujam dengan membabi buta.

Kau bilang kau suka hujan. Tapi, kau selalu berlari saat semua rintik hujan itu terjatuh. Kau bilang kau mengagumi hujan., tapi kau selalu berlindung dari rintik-rintiknya. Kau bilang, hujan itu bagai penyampai pesan yang paling baik. Tapi kau selalu menutup mata dan telinga saat rintik-rintiknya terjatuh.

Siapa sebenarnya si pecinta hujan? Siapa sebenarnya si penikmat hujan? Kau yang terus berbicara atau dia yang selalu merenung menatap hujan penuh duka.

“Kau tidak pulang? Sudah mau gelap. Tidak baik anak perempuan pulang saat gelap.”
Viona menatap sekilas pemuda berjaket hitam di sebelahnya. sebelum dia kembali terfokus pada jalanan di depannya. Suara hujan, deru kendaraan dan ciptratan air seolah mengisi seluruh pendengarannya.

“Jangan melamun terus, lebih baik pulang saja. Kau bawa payung kan?”
Viona sekali lagi melirik pemuda di sebelahnya. tapi pemuda itu sendiri tidak sedang melihatnya. Viona tersenyum sopan kepada pemuda itu, walau ia tau senyumannya tak terlihat oleh pemuda itu. Setidaknya dia sudah berusaha bersikap sopan atas perhatian pemuda itu.

“Pulang saja, jika ditunggu pun hujannya tidak akan reda. Lebih baik pulang saja.”
Kali ini, tatapan mata mereka bertemu, mata biru pemuda itu seolah menarik Viona untuk mendekat. Matanya tersirat serius dengan mimik wajah yang lelah. Bagi Viona itu adalah tatapan terindah yang dilihatnya. Tapi, tatapan itu benar-benar menyakitkan. Mengajakmu untuk turut merasakan kekecewaan di dalamnya. Membawamu berputar mencari jawaban di dalamnya.

Viona mengangguk dan bergegas membuka payungnya. Melangkah keluar dari tempatnya berteduh di depan sebuah kafe. Viona berjalan keluar dan mencoba menerobos hujan. Hanya langkah kakinya merasa salah. Seperti sesuatu yang terlewat dan terlupan.
Apa?

Viona membalik tubuhnya secepat yang ia bisa, ciptratan air dari genangan yang diinjaknya terciprat ke celananya. Bahkan sepatunya saja yang berwarna putih sudah terdapat banyak noda coklat.

“Kau..?” napasnya tertahan setelah menyakan pertanyaan yang bahkkan belum selesai diucapkannya.
“Aku suka hujan, aku akan di sini sedikit lebih lama. Viona Xavier kan? Namaku Derin Kyle.”
Viona tau bukan itu jawaban yang dinginkannya tapi wajahnya seolah mengkhianati hatinya. Senyumannya terbentuk membalas jawaban Pemuda itu, Derin.

Dan dengan senyuman yang masih menghiasi wajahnya, dia berlari ke stasiun. Baginya, hujan itu indah. Seindah mata biru dan perhatian kecil yang didapatkannya dikala hujan.

“Semoga besok turun hujan.”

“Vi, tumben bawa payung terus?” Viona hanya tesenyum lebar mendengar pertanyaan dari temannya.
Payung ya? Seperti mengharapkan hujan saja.
Tapi, bukankah hujan terlihat menyenangkan?
Kata orang hujan itu membawa berkah. Katanya saat hujan turun, doa kita akan terkabul. Jadi, hujan itu menyenangkan kan?

Tanpa disadari, ia berharap hujan turun setiap hari. Ketika terbangun ia bertanya ‘Apakah hujan akan turun hari ini?’ dan tanpa sadar, matanya melirik ke langit melihat awan. ‘Apakah awan sudah menumpuk hari ini?’ setiap napasnya seperti doa yang memanggil hujan. Walau ia tau, sekarang adalah awal musim panas.

Setiap hari sepulang dari kampus, Viona akan datang ke kafe, membeli segelas green tea blended dan menunggu di depan kafe. Ya, berdiri. Bertanya-tanya apa hari ini akan turun hujan.

Angin,
kau bilang disetiap embusanmu kau membawa pesan. Jika iya, izinkan ia menyampaikan pesan. Tanyakan kepada langit, bolehkah ia meminta hujan?

Bagi orang lain langit cerah itu, seperti anugerah. Kau bisa melakukan apapun, aku bisa pergi ke manapun. Tapi kenapa, kenapa hatinya terasa kecewa. Tidak bisakah hujan turun hari ini.

Mata biru itu masih menyimpan rahasia yang begitu menyesakkan. Bagi Viona keinginan untuk melihat mata itu lagi sudah seperti doa untuk memanggil hujan.

“Tidak hujan ya?”
“Berharap apa sih Vi? Sekarang kan musim panas.”
Viona hanya dapat merutuki kebodohannya. Kenapa hanya karena hujan dan mata biru, ia dapat menjadi sebodoh ini. Bodoh, bodoh, bodoh.

Tes tes
“Eh?”

Tes tes tes brusssh
“EE—eeh?”

Matanya membulat sempurna, bibirnya tertarik membentuk senyum yang dilanjut tawa, tangannya berusaha menutup mulutnya yang tidak bisa berhenti tertawa.
“Hahaha.”

Apa yang dilakukannya? Ini hanya hujan.

Justru karena ini hujan, karena ini hujan, maka rasanya menyenangkan.

Kakinya tanpa sadar melangkah ke jalan, menikmati rintik-rintik hujan yang menghujam tubuhnya. Angin, kau baik ya?

Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh, hujan dengan tiba-tibanya berubah menjadi deras. Langit yang semula cerah berangsur-angsur memekat. Tapi Viona masih tersenyum di bawah sentuhan hujan.

BRUGH
“KAU MAU MATI HAH? BERDIRI DI TENGAH JALAN SEPERTI ITU?!”

Semuanya terasa begitu cepat, detak jantungnya memburu, otaknya masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Semuanya.
Dia yang masih mensyukuri nikmatnya hujan yang ditunggunya, tiba-tiba terhuyung ke belakang dengan tiba-tiba.
Suara ini..

“Kalau mau mati jangan di depan mataku?!” Mata itu, mata itu. Mata yang ditunggunya.
Semuanya diliputi amarah, menggebu. Mukanya memerah ditengah suhu yang beranjak menurun. Tapi, kelegaan begitu terasa terpendar dari matanya. Sekaan ia baru saja memenangkan lotre setelah percobaan ke seribu kalinya.
Tubuhnya yang basah, terlihat menggigil, matanya menatap lurus ke mataku. Hilang sudah semua kemarahan di matanya. Hanya tersisa pandangan kosong yang menatapku penuh kelegaan.

‘Der, kamu kenapa?’

“Jangan lakukan itu, jangan.. aku tidak mau lagi.”
Dia mendekapku, begitu erat seolah aku akan hilang. Seolah aku tidak akan bisa berada di sini lagi. Tubuhnya bergetar dengan hebat. Hawa dingin semakin menusuk dengan pakaian mereka yang basah.

“Kenapa..”

Suara Viona seperti tertelan diantar suara hujan, tapi Viona yakin Derin kan mendengarnya. Dekapan di tubuhnya tidak mengendur malah semakin menguat.

Mereka tidak pernah berbicara sebelumnya kecuali yang terakhir waktu itu. Hanya saling berteduh di tempat yang sama di setiap hujan. Dan berbicara sekali waktu itu.

“Hujan membenciku Vi, mereka membenciku.”

Tubuh Viona hanya dapat berdiam kaku. Dia tidak mengenal Derin seperti seorang teman. Mereka bukan juga keluarga. Tapi rasanya, Viona begitu ingin membalas dekapan hangat itu ketimbang mendorong tubuh Derin menjauh dan berlari pergi.

Bukankah ini yang kau mau Vi? Melihat mata biru itu lagi dan mengenalnya lagi. Di bawah rintik hujan yang selalu kau inginkan di setiap napasmu.

“Mereka mengambil keluargaku di saat Hujan Vi, sekarang mereka mau mengambilmu. Kenapa hujan membenciku seperti itu!”

Suara hujan seakan meraung, petir menyambar dengan hebat. Angin berembus dengan kencang.
Seperti ingin berkata sesuatu yang tidak mampu untuk diucapkan. Langit begitu gelap seperti menahan kesedihan yang mendalam.

“Jangan benci hujan Der, mereka hanya turut bersedih atas karena kau bersedih. Mereka tidak mengambilku karena kau masih di sini bersamamu. Apa kah kau percaya hujan hanyalah satu dari sekian banyak hal baik yang diciptakan Tuhan.”
Hujan tidak akan menyakitimu, dia terlalu lemah untuk dapat menyakitimu. Hujan tidak akan melindungimu karena ia juga begitu lemah. Tapi hujan akan menemanimu dan menyambut doa mu dengan sukacita.

“Kau bilang kau suka hujan, tapi sekarang kau membencinya.”
Dia mengendurkan dekapannya dari tubuh Viona. Menatap lurus ke mata Viona dengan gurat wajah yang tak terbaca.
“Kau bilang kau suka hujan, tapi aku tidak mau dibasahi hujan. Kau bilang kau suka hujan, tapi kau menuduh hujan dengan tuduhan yang jahat.”
Viona melepaskan diri dari dekapan Derin. Mengambil sapu tangan dari tasnya. Mengelap rambut Derin yang basah. Mengelap wajah Derin yang entahlah antara air hujan atau keringat.
Juga mengelus pelan pipi Derin dengan lembut.

“Jangan salahkan hujan atas kejadian yang sudah berlalu. Hujan hanya berusaha menghiburmu.”
“Kau tau kenapa kubilang kalau aku menyukai hujan?” Viona menggeleng mendengar pertanyaan Deren, “Karena di setiap hujan turun aku bisa melihatmu berteduh di sini, dan melihatmu yang menunggu hujan alih-alih pulang.”
Viona tersenyum malu sembari menunduk.
“Dan aku berdoa setiap hari agar hujan turun, sehingga aku bisa berdalih untuk kemari dan melihatmu.”
Derin mengangkat dagu Viona perlahan.
“Bagiku, hujan terdengar lebih baik jika ada kamu.”
“Hujan memang selalu baik Derin..”
Derin mengangguk.

“Kau benar, selama ini aku menyalahkan hujan yang tidak tau apa-apa. Aku membenci hujan, yang pada dasarnya bukan merekalah yang mengambil keluargaku, namun takdir. Takdir yang telah mangambil keluargaku, tapi apakah boleh aku membenci takdir?”

Viona tersenyum kaku.
“Derin… jika kau membenci takdir, dan memarahinya, apa dengan cara itu takdir akan mengembalikkan keluargamu? Apa dengan emosi semuanya akan berjalan dengan baik? Tidakkah kau berpikir, mengapa takdir mengambil keluargamu?”
“Mereka mengambil keluargaku, karena mereka ingin melihatku menderita kan? Kalau kamu juga ingin berucap seperti itu, aku akan pergi dari hadapanmu sekarang. Memang, aku bukanlah seperti mereka yang memiliki wajah tampan, bukan juga yang memiliki otak cerdas, tetapi apa orang sepertiku ini tidak diizinkan untuk hidup? Kalau iya, mengapa aku harus berada di sini?”

Viona membelak mata. Ia tak percaya, jika mata birunya berucap seperti itu.
“Kau tidak boleh seperti itu. Mereka mengambil keluargamu, karena mereka sayang padamu. Mereka ingin kau bisa hidup mandiri tanpa adanya keluargamu. Mereka ingin kau berhasil tanpa adanya campur tangan jahat keluargamu. Mereka ingin melihatmu tertawa karena ulahmu sendiri. Mereka juga ingin kau bersedih karena ulahmu sendiri. Sekali kamu mengelak takdir, kau tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi Derin… semua sudah diatur dengan Tuhan yang maha esa.”

Derin mengaitkan tanganku pada tangannya. Ia mengajak Viona berlari ke tempat sepi. Tempat di mana hanya mereka berdua. Di bawah rintikkan hujan, Petir pun bersyair dengan sangat kencang, begitu indahnya kisah mereka.

“Apa aku bisa di sini, juga karena Tuhan dan takdir?”
Viona mengangguk. “Aku juga mencintaimu karena Tuhan dan takdir,” bisik Viona di telinga Derin.

Derin menatap Viona dengan tatapan sendu. Ia tidak percaya, bahwa cinta pertamanya akan membalas perasaannya juga. Karena takdir mereka dipertemukan, dan atas seizin Tuhan mereka saling mencintai.

“Kalau bertemu denganmu adalah takdir, aku tidak akan pernah membeci takdir. Kapan pun itu.” Viona tersenyum, ia memeluk tubuh Derin yang sudah basa kuyup.
Cinta tumbuh bukan dari pandangan pertama, juga bukan karena terbiasa, cukup kejadian kecil yang teringat di kepala dan terus kau ingat seperti film di kepalamu. Ya, cukup seperti itu.

Hai kalian para pecinta hujan, para penikmat hujan. Cintailah hujan karena ia memang begitu, jangan cintai hujan karena kau menyukainya tapi kau malah bersembunyi di balik persembunyian.
Cintailah hujan, disaat kau melihat hujan kau bisa merasakan kebahagiaan. Cintailah hujan disaat kau memiliki kenangan manis untuk diingat.
Dan sampaikanlah salam kepada angin, dan panjatkanlah doa di setiap hujan. Kau tidak akan tau kejadian manis apa yang kau lewatkan di antara hujan.

Cerpen Karangan: Zulfa Khoirun Nisa Rofifah
Facebook: Zulfa Khoirun Nisa Rofifah
Zulfa Khoirun Nisa Rofifah. Kerap disapa Fani, mulai suka menulis sejak tahun 2013. Baru duduk dibangku kelas 8. Menulis cerita adalah hobi yang tersingkirkan, hehehhe.
Ig: Zlfns_
Id line: zulfakhoirunnisar
Mari berkawan!!

Cerpen Ketika Hujan Mengatakan Segalanya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Untukku (Part 2)

Oleh:
Hari semakin petang. Segera kukembali ke rumah. Pikiranku melayang. Entalah apa yang kupikirkan. Aku butuh waktu sendiri. Kali ini aku tak langsung pulang. Aku menuju sebuah taman yang cukup

Cintaku Punya Cerita

Oleh:
Kalau saja dari awal aku bisa langsung mengenal Radit, pasti aku tak usah menyia nyiakan waktuku untuk mencintai orang lain. Dia unik, dia baik, aku cinta dia. Dia yang

Romantic Knowledge (Part 2)

Oleh:
Istirahat kali ini aku makan sendirian, tanpa bayang-bayang Zara. Sebenarnya Zara tidak bersamaku karena dia sedang rapat dengan anggota OSIS. Dan di sinilah diriku, sendirian, di tengah keramaian. Dan

Ada Pelangi di Air Terjun itu

Oleh:
Aku selalu menyukai hal-hal yang indah. termasuk pelangi. impianku yang tidak pernah tercapai dan mungkin tidak akan tercapai adalah ketika aku bermimpi menjadi salah satu bidadari yang melewati jalan

Vampir KW 2 Falling In Love

Oleh:
Sekali lagi ia tersenyum tanpa sebab. Sudah hampir satu jam ia di tempat ini. Duduk di bangku kantin paling pojok bersama segelas jus alpukat yang tinggal dua tegukkan lagi.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *