Kisah Sebuah Cup Cake Berry

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 13 March 2019

“Kau tahu apa yang paling mengecewakan dari hidupku?” Tanya seorang gadis berambut pendek bermodel bob. Gadis itu cantik, dan ketika ia tersenyum, seluruh dunia akan tahu kalau ia adalah gadis yang manis.

“Apa?” Tanya seorang laki-laki yang berusia lebih tua 10 tahun dari gadis itu. Tahun ini ia berusia 27 tahun, dan orang beranggapan mereka adalah kakak beradik. Sesungguhnya mereka adalah teman. Ya teman.

“Ketika aku gagal dalam membuat kueku.” Tatapan gadis itu mengarah ke piring yang berisi kue-kue kecil berbentuk cupcake.

“Bersedih akan hasil karyamu sendiri itu tidaklah baik, Nona.”

Gadis yang dipanggil Nona itu mengangkat kepalanya dan memandang tidak suka ke pria itu. “Kau terus memanggilku Nona? Sudah kubilang aku bukan Nona!”

Pria bernama Andi itu tertegun. Ia sadar ia salah. Salah memanggil gadis kecil di hadapannya dengan sebutan wanita lain yang dicintainya.

“Maafkan aku,” Sesal Andi beberapa menit kemudian. “Aku hanya tak bisa merelakan ia pergi.”

“Cinta itu terlarang, Andi.” Ujar Gaby seketika. “Kau mencintai wanita yang tak mungkin kau dapatkan, Andi.”

“Aku sadar.”

“Biarlah ia berbahagia dengan orang lain, Andi. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik dari dia.”

“Dia yang terbaik.”

“Tapi ia tidak mencintaimu! Ia bahkan tidak tahu kau mencintainya!” Bentak Gaby kesal. “Kau hanya menyiksa dirimu seperti ini, Andi.”

Lalu gadis bernama Gaby itupun bangkit dari tempat duduknya, meninggalkan Andi berserta sepiring kue Cup Cake yang sudah gosong setengahnya. Dengan hati yang sakit mengetahui kalau Andi belum bisa melupakan wanita bernama Nona Elizabeth itu.

Satu tahun kemudian….

Gaby berlari menyusuri lorong rumah sakit yang hanya disinari oleh cahaya remang-remang. Dirinya berpikir semuanya akan terlambat bila ia tak lari secepat mungkin menuju satu ruangan, tempat satu orang penting sedang berbaring di atas ranjang, mungkin menanti kehadirannya.

“Gaby…” Panggil orang itu ketika Gaby sampai di kamar rawatnya.

“Andi?” Gaby melangkah ke sisi ranjang Andi, dan tiba-tiba ia menangis.

“Sstt.. kenapa kau malah menangis?” Tanya Andi lembut.

“Aku.. aku nggak tahu Andi.. maafkan aku..”

Andi terdiam. Namun tangannya terus mengusap rambut hitam Gaby yang sekarang sudah panjang. Pikirannya terbang ke masa lalu ketika pertemuan terakhir ia dan Gaby, di sebuah toko kue cokelat.

“Aku menginginkan kue itu!” Unjuk Gaby sambil mengangkat jari telunjuknya ke arah deretan cup cake berwarna pink yang dipajang rapih di atas sebuah piring bertingkat.

“Baiklah, kita beli saja yang itu ya?” Jawab Andi hendak mengeluarkan dompetnya dari kantong celananya.

“Tidak, aku ingin membuatnya.” Jawab Gaby mantap. “Aku bisa membuatnya, kau percaya?”

Andi menggangguk sambil tersenyum manis. Ia tahu gadis di sampingnya sudah beberapa kali gagal dalam membuat cup cake, namun ia tak rela berterus terang kepada Gaby. Biarkan anak itu terus berkreasi dalam kuenya, dan biarlah dirinya menjadi korban untuk terus memakan habis kue-kue gosong itu.

“Kau tak suka ya kue buatanku?” Tanya Gaby pada saat ia melihat perubahan air muka Andi. “Kenapa kau tak jujur padaku?”

“…”

“Andi? Jawab aku…”

“Aku antar kau pulang.” Putus Andi beberapa detik kemudian. Ia harus bisa menahan sakit di kepalanya, karena ia tak ingin terlihat mengecewakan di hadapan anak kecil ini.

Gaby menatap prihatin Andi, namun ia tak bisa berbicara apa-apa. Karena Andi adalah tipe lelaki yang tidak suka dipaksa, maka Gaby hanya bisa menunggu sampai Andi menceritakan seluruhnya kepadanya.

Beberapa hari kemudian, Andi tak ada kabar sama sekali. Awalnya Gaby khawatir padanya, namun karena pemikirannya yang selalu berisi kalau Andi masih mencintai Nona Elizabeth itu, maka Gaby memutuskan untuk menarik diri, dan memutuskan untuk berhenti menjadi temannya. Hatinya sakit mengetahui laki-laki yang disukainya masih mencintai wanita itu. Jadi lebih baik ia mundur.

Hari-harinya setelah itu dihabiskan dengan berlatih membuat kue. Walau beberapa kali terus gagal, namun menyerah itu tak pernah ada dalam kamus hidupnya. Ia terus mencoba membuat, meski pada akhirnya kue gagal itu harus disantap sendirian atau digerogoti semut karena tidak ada lagi Andi yang memakan kue-kuenya.

Nasib beruntung sepertinya berpihak padanya. Karena melihat kegigihan dari Gaby, maka tantenya yang tinggal di Prancis, memutuskan untuk membiayai sekolah baking Gaby selama setahun di Paris. Gaby tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia tahu ia harus meninggalkan Indonesia, meninggalkan cinta pertamanya, Andi. Ia dan Andi memang tidak ditakdirkan untuk bersama dari dulu.

Tapi yang didapatinya setelah pulang dari Paris adalah, kabar Andi yang sudah dirawat di rumah sakit dengan perawatan intensif. Dan penyakit inilah yang membuat dirinya tak bisa bertemu dengan Gaby, setahun lalu.

“Kalau kau tahu kau kena kanker, kenapa kau terus memaksa diri untuk memakan kue-kue gosongku?! Kau tahu kue gagal itu tak baik dikonsumsi? Kenapa kau tak memberitahuku kondisimu?!” Teriak Gaby sambil menangis. Syukur di ruangan itu hanya ada mereka berdua.

“Gaby..”

“Aku.. aku tak tahu harus benci atau.. atau apa kepadamu..”

“Gaby.. kondisiku tidak penting. Bagaimana dengan kuemu? Sudah kau buat yang enak untuk kau berikan padaku?” Tanya Andi tertatih-tatih. Kondisinya setelah ia menjalani kemoterapi tidak baik, tapi ini sudah lebih baik dari sebelumnya.

Gaby mengusap wajahnya yang penuh dengan air mata. Gadis itu tetap bungkam, tak ingin menjawab pertanyaan Andi.

“Gaby.. Kau tahu apa yang paling mengecewakan dari hidupku?” Tanya Andi mengulang pertanyaan Gaby setahun lalu, saat mereka berdua duduk berhadapan diatas meja, menatap sepiring kue berisi cup cake gosong.

“Apa?”

“Ketika aku berpisah denganmu.”

“…”

“Tapi yang membuatku bahagia adalah, aku adalah orang pertama yang bisa memakan kue-kue buatanmu sebelum mereka yang mencicipinya.”

“…”

“Kau orang pertama juga yang berusaha membuat kue cup cake rasa strawberry untukku, padahal kau tak menyukai baunya.”

“…”

“Karena cupcake itu, aku jatuh cinta padamu, Gaby. Jangan pergi lagi, ya? Kau membuatku bahagia hanya karena berry cake itu.”

Cerpen Karangan: Avril Wong
Wattpad: avrilwong, Storial: avrilwong
A 98’s Kid who has written 4 novels, rejected 12 times by publisher and now trying to be an online writer with a wish that my works can be loved by readers.

Anything ’bout me?
Oh yes, I ‘m.

-Love to make new stories in my brain but doesn’t have the mood to write it.
-I am not author of a book, but I am the author of my life.
-Start writing when Junior High School, I guess.
-Try to do something normal, but in the end, I prefer doing something stupid.
-They call me ‘gila’ (?)
-Hate DURIAN of course. Please don’t judge me, ok? Anyone same?
-Jakarta’s
-I do believe in love but until today I still can’t find the real meaning of true love.

Email: av.wong03[-at-]gmail.com
Wattpad: avrilwong

My Short Story List:
1. Oreo, Novel, dan Cokelat (Media Kawasan, September 2018)
2. Kau Sudah Sukses, Nak! (Cerpenmu.com, Juni 2017)

Cerpen Kisah Sebuah Cup Cake Berry merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Status Adik Kakak (Part 3)

Oleh:
Tak terasa, besok adalah hari ulang tahunku yang ke 17 tahun. Dan liburan sekolah juga hampir selesai. Hem, hari ini aku akan ikut Kak Shadam membeli kue untuk ulang

Duhhh… My Boss!

Oleh:
Aku memandang mukanya sekilas. Sedikitpun nggak ada kesan ramah, beda jauh dengan pak Geri, mantan bosku yang baru resign. Memang sih pak Geri agak pelit, tapi mendingan daripada harus

Penyesalan

Oleh:
“kemana aja sih, kenapa gak ada kabar gini?” “gak ada kabar gimana?” “kamu sebenernya nganggep aku apa? Kamu gak pernah selalu ada buat aku.” “ya udahlah.” “tapi gue sayang

I Love You Leyla

Oleh:
Aku Leyla Kurin Micheopti, panggilnya Leyla, hari ini hari yang sangat menyedihkan!! Aku udah gak bisa bilang apa apa lagi! Aku kemaren lihat cowok main basket di sekolah, ganteng

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *