Kiss in The Rain

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 7 February 2017

Tiba lagi musim hujan, musim yang begitu menyiksa bagi pekerja yang harus pulang malam sepertiku. Tak seperti wanita pada umumnya yang pergi dan pulang kerja diantar jemput oleh pasangan. Aku wanita jomblo yang hidup sendiri di rumah peninggalan orangtuaku.
Malam ini aku hanya merenung membayangkan suatu saat kebahagian itu menghampiriku. Suara hujan yang mengenai atap rumah seakan bernyanyi mengantarku ke alam mimpi dengan damai.

Suara alarm di handphone membangunkanku dari tidur yang panjang semalaman. Ku bangkit dari kasur empukku, kukibas gorden jendela kuangkat pandangan ke langit.

“Mendung lagi… Bentar lagi pasti hujan!” dengan buru-buru ku masuk ke kamar mandi, berharap hujan tak mengantarku ke toko hari ini.

Seperti hari-hari biasanya, sehabis mandi dan bersiap, ku menuju dapur menyantap roti selai dengan susu putih hangat.
Saat ingin melangkahkan kaki ke luar rumah,
Grudukkk… Burrrkkk
“Ahhhhhh” keluhku, buru-buru kubuka payung mengunci rumah dan pergi secepatnya.

Berhubung toko tempat aku bekerja hanya menempuh jarak satu kilo, aku memutuskan untuk berjalan kaki pulang pergi. Hitung-hitung menghemat pengeluaran yang begitu banyak.

Baru setengah perjalanan awan sudah menjatuhkan butir-butir hujan yang begitu besar dan menerpa payungku, percikan air pun membasahi sepatu dan kaki celanaku. Sekali-kali angin kencang menerpa payungku, seakan aku ingin dibawa terbang.

“Ahhhhhh kenapa angin nggak sekalian bawa aku keliling dunia… Siapa tahu di sana aku bisa ketemu jodoh aku!” tutur bibir tipis ini yang mulai kedinginan membalah hujan pagi ini.

Aku sudah hampir mendekati halte itu, ini berarti aku tidak akan berlama-lama lagi berhadapan dengan hujan yang menyebalkan ini.
Mataku kembali menatap hal yang sama kulihat setiap harinya, pasangan yang duduk menunggu di halte perpegangan tangan menghangatkan dari dinginnya hujan.

“Ahhhhhh sialan!” bajuku basah semua, mobil itu dengan kejamnya membuat aku basah.

Ingin berniat mengejar, namun lajunya sangat cepat. Tapi sesaat dia berhenti tepat di depan toko buku tempat aku bekerja.
Kupercepat langkah tak peduli celanaku kotor dan basah kuyup, yang penting aku bisa memarahi pengemudi sialan itu.

Saat aku mengetuk pintu mobilnya, dia membuka kaca. Sepertinya dia anak orang kaya, terlihat dari kaca mata mahal yang menutupi matanya itu.
Tanpa memberi aba-aba sedikitpun padaku, seenak jidat dia membuka pintu mobil dengan keras. Lantas aku terjatuh, kali ini badanku sudah basah semua. Aku harus ganti pakaian lagi, tapi untung segalanya sudah aku persiapkan seperti hari-hari lalu.

“Upppsss maaf!” begitu ucapnya padaku dengan suara keras, melebihi dentuman air hujan.
Dengan segera ku bangun dari jatuh,
“Kamu nggak lihat aku berdiri di depan pintu kamu!!! Nyebelin banget sih!!! Kamu udah nyipratin aku dengan air kotor sekarang jatuhin aku!” kukeluarkan semua suaraku, berharap dia bisa dengar omonganku yang panjang ini.
Sayang tak ada sahutan darinya, dia hanya menatapku. Dan memegang tanganku,
“Mau ngapain pegang-pegang!” aku memukul tangannya.
“Ehhhhh jadi cewek jangan galak-galak… Aku cuman mau numpang payung kamu!” sahutnya dan dengan cepat menarik payung dari tanganku.
Dia sedikit menunduk karena badannya yang lebih tinggi dariku.
“Enak aja… Udah bikin aku basah kuyup kayak gini, malah minta numpang!”
“Udah jangan cerewet… Sini pegang payungnya, aku mau ambilin kamu jaket!!! Biar nggak ngomel mulu!”
Aku menurut saja apa maunya. setelah itu, dia memberikan jaket berwarna hitam dari dalam mobilnya.
“Ini supaya nggak dingin!!! Maaf yah udah bikin kamu basah. Sekarang anterin aku masuk ke sana, aku mau beli buku!” lagi-lagi aku menurut.

Sesampai di toko aku segera masuk ke ruang ganti, untuk menganti pakaian yang sekarang melekat di badanku dengan baju yang sudah kusediakan dari rumah.
Setelah itu segera aku memulai kerja hari ini. Menyusun buku-buku yang baru saja masuk.

“Dinda…!” entah kenapa Michelle menyapaku pagi ini, tidak seperti biasa.
“Iya Chelle… Kenapa?!” segera kuhampiri wanita yang jauh lebih cantik dariku. Terlihat dari dandanannya, tak seperti aku yang hanya mengenakan jeans dan sepatu balet sederhana.
“Tadi cowok kamu? Ini dia nitip buku buat kamu!!! Tenang aja udah dia bayar!” tak seperti biasa dia tersenyum pada aku, ada apa dengan Michelle hari ini.
“Cowok? Yang mana?”
“Yang bareng kamu tadi… Ini!” segera ku ambil buku itu, dan melanjutkan kerja.
Tiba-tiba aku teringat sosok tinggi putih dan mancung itu. Aku jadi penasaran siapa dia? Siapa namanya? Dan kenapa dia membeli buku untuk aku?.
“Buku…!” buru-buru kuambil buku itu.
“Sialan, maksudnya apa? Awas aja kalau ketemu lagi!” keluhku saat membaca judul buku itu.
Michelle yang tidak kutahu sejak kapan berdiri di sampingku, malah mengagetkan aku.
“Kenapa Dinda?!” tanya Michelle bingung, melihat aku marah-marah sendiri.
“Nggak apa-apa!”
Michelle lalu menarik buku yang kupegang.
“Cara menjadi cewek yang baik!” Michelle tertawa.
“Apaan sih? Sini!!!” aku malu, ini karena cowok itu.
“Dinda… Dia pacar kamu bukan? Kok ngasih buku kayak gitu!” Michelle masih cekikikan.
“Udah kamu balik kerja? Aku juga masih banyak kerjaan. Ntar pak Dimas datang lagi malah ngomelin kita!” ucapku.
“Dinda… kamu cocok kok sama cowok itu, pedekate ajah. Supaya pak Dimas nggak gangguin kamu lagi, kamu kan tahu kalau aku!”
“Iya… Aku suka kan sama pak Dimas? Lagian aku nggak ada rasa kok.!” ucapku melanjutkan kerja.

Hari sudah siang, ini waktu dimana pak Dimas datang. Ku mencari kesibukan agar dia tidak berusaha mendekati aku. Aku tidak mau mengecewakan Michelle yang sudah baik denganku.

“Siang pak!” ku dengar ucapan Michelle.

Itu pasti pak Dimas, langkahnya semakin mendekat ke arahku. Kubersihkan rak buku, yang sebenarnya sudah kubersihkan pagi tadi.

“Dinda… Sudah makan siang?!” ahhh suaranya sudah ada di belakangku.

Sebenarnya tak ada alasan untuk aku menolak pak Dimas. Pria yang tampan, putih dan mapan pastinya, tapi tak sedikitpun ada rasa di hatiku untuk bos aku itu. Banyak cara yang sudah dia lakukan untuk menarik perhatian aku, yang sama sekali tak punya rasa padanya. Padahal Michelle yang dari dulu menyimpan rasa tak dia hiraukan sama sekali.

“Belum pak! Ini saya baru mau makan siang sama Michelle!” ucapku.
“Yah sudah… Kalian makan siang dulu biar aku yang jaga toko!”
“Nggak apa-apa pak?!”
“Udah nggak apa-apa!”

Karena sekarang hujan tak sederas tadi pagi aku dan Michelle jalan ke seberang tempat warung makan.

“Michelle… Maafin aku yah?!”
“Maaf buat apa?”
“Karena aku, kamu jadi susah dekat sama pak Dimas. Tapi aku janji sama kamu, aku bakal buat pak Dimas suka sama kamu!” ucapku meyakinkan sahabat lamaku yang sempat cekcok karena pak Dimas.
“Iya… Aku tahu kok, lagian kamu nggak suka kan sama dia? Oh iya… Cowok yang tadi namanya siapa? Keren, cocok sama kamu!” lagi-lagi Michelle membahas orang itu.
“Kita baikan lagi nih yah? Kalau cowok yang tadi aku nggak mau bahas… Mending kita makan, kasihan bos nunggu di Toko!”
Kami tertawa setelah itu menikmati makan siang.

Menjelang malam, suara guntur menggelegar di langit. Aku dan Michelle menikmati coklat hangat yang kami pesan dari kedai sebelah Toko.
Pengunjung sepi tak seperti hari-hari biasa, kami menghabiskan waktu dengan bergosip dan tertawa ria.

Karena sepi dan hujan semakin deras, aku dan Michelle memutuskan untuk menutup Toko. Sebelumnya Michelle menelepon pak Dimas untuk memberi tahu.
Rumah aku dan Michelle tak searah, jadi kami pulang masing-masing.
Angin sangat dingin, aku teringat lagi sosok pria tadi pagi.

“Aku kan dikasih jaket kenapa aku nggak pake aja!”
Aroma parfum dari jaket itu sangat menenangkan.

Ku terus berjalan menggunkan payung. Hanya sinar lampu jalan yang menemaniku, tiba lagi di halte itu. Kali ini pasangan di sana ada 3 orang, dua pasangan sedang asik mengobrol sedang satunya lagi terbius dinginnya angin malam dan hujan deras ini. Dua manusia saling mengecup dengan mesra, seakan tak ada orang di sekelilingnya.

“Kiss in the rain… Pasti sangat menyenangkan!” ucapku terbawa suasana.
“Ahhhh Dinda… Mulai lagi… Pacar aja nggak punya!” aku tersenyum dan mempercepat langkah untuk sampai ke rumah.

Hari demi hari, musim hujan semakin terlihat tak ada celah bagi mentari untuk nampak dan memberi kehangatan. Hanya dingin yang menemani semua manusia saat ini, kerja pun seakan malas-malasan.

Malam ini sehabis pulang kerja, aku teringat sosok itu lagi. Kulihat jaketnya yang tergantung di belakang pintu kamarku. Buku pemberiannya pun yang belum pernah kubaca masih tersimpan rapi di meja.

Tiba-tiba pemandangan itu datang lagi, kuraih buku dengan niat membacanya. Namun yang nampak di lembaran itu adalah wajah tampannya. Ahhhhh sialan aku jadi kepikiran dia terus, mungkin aku rindu ingin ketemu.

“Aku jatuh cinta?!”

Satu bulan berlalu… Hari ini aku kerja sendiri, Michelle sedang liburan dengan pak Dimas. Alhamdulillah usahaku untuk menyatukan mereka akhirnya terselesaikan juga. Kini tinggal aku yang menjomblo meratapi nasib di tengah-tengah buku-buku itu.

Seperti biasa, tak ada matahari sore. Pengunjung yang semakin ramai masuk ke toko membuat aku semakin pusing, apalagi saat melihat sepasang kekasih bergandengan tangan memilih buku.

“Kapan aku bisa merasakan itu semua?!” ucapku.

Tiba-tiba sahutan dari samping menyadarkanku kalau aku tengah melamun.

“Bersama aku?!”

Mataku terpaku, melihat orang itu. Sosok pria yang beberapa bulan lalu membuat aku kesal dan beberapa bulan ini menunggu kehadirannya. Rambutnya acak-acakan, mungkin karena terkena hujan.

“Ehhhh kamu kenapa? Sehat kan?!” dia memegang dahiku. Mungkin dia mau memastikan aku sehat atau sakit.
“Kamu ngapain ke sini?!” ucapku gelagapan.
“Mau ketemu kamu?!” sahutnya senyum-senyum.
Aku menatapnya aneh… Ingin mencubit pipi tapi takut ketahuan salting sama dia.
“Kok diam lagi? Aku mau beli buku kok!!! Tenang aja, tadi becanda!”
Ahhhh? Huuuuuu aku yang tadinya melayang tiba-tiba jatuh terbanting.
“Aku mau cari buku? Kau kenapa diam aja? Itu orang-orang mau bayar!”
Dengan malu-malu, kuladeni pengunjung satu persatu sampai akhirnya yang tersisa hanya cowok itu.

“Kamu mau cari buku apa?!” tanya ku sedikit malu-malu.
“Aku cinta kamu!” ucapnya spontan.
“Kalau itu udah sold out… Atau mau cari yang lain aja? Kita ada beberapa buku romance yang baru datang!!! Siapa tahu kamu berminat!” ucapku menawarkan.
“Nama aku Rizky!!! nggak perlu pakai kamu, nama aja!” dia menjulurkan tangan ke arahku.
“Okey… Rizky!” lagi-lagi aku salah tingkah karena senyumnya.
“Ada novel bertema hujan?!” tanyanya lagi.
“Iya ada… Tunggu sebentar aku ambilkan dulu”
Tapi dia menahan tanganku.
“Aku ambilkan sebentar!” aku melepasnya.

Saat aku ingin meraih buku yang kumaksud dia berbisik ke arahku.
“Dinda…!”
Aku menoleh ke arahnya.
“Kamu tahu nama aku dari siapa?!” tanyaku.
“Cinta!” ucapnya membuatku lagi-lagi salah tingkah, mungkin pipiku saat ini sudah berwarna merah hati.
“Cinta? Maksud kamu apa?!” tanyaku lagi.
Rizky kemudian menjelaskan semuanya. Rupanya dia adalah adik pak Dimas, dia tahu namaku dari Pak Boss. Dan beberapa bulan ini dia selalu mengintaiku, mulai dari berangkat kerja sampai pulang kerja. Begitu ucapnya,

“Jadi kamu tahu semuanya?!” ucapku.
Dia mengangguk, dan dia tiba-tiba menyebut kata yang aku kira tak akan pernah dia tahu.
“Kiss In The Rain” dia tersenyum padaku.
“Kamu tahu darimana?!”
“Aku cinta sama kamu!” hanya itu yang dikatakannya.

Rupanya hari ini sudah direncanakan Rizky, Dimas dan Michelle. Acara liburan Dimas dan Michelle pun untuk menjebak aku supaya bisa berdua dengan Rizky.. Ahhhhh sial.

Hari semakin malam. Rizky menemaniku hari ini, dia membantuku menutup toko dan mau mengantarku pulang. Dengan jalan kaki pakai payung tentunya.
Selama di perjalanan tak ada kata yang keluar dari mulut kami berdua. Saat tiba di depan halte, Rizky berhenti. Aku bingung, apa dia juga tahu kalau aku selalu melakukan hal ini? Melihat orang berpacaran di sana. Namun beda malam ini tak ada orang lagi di sana. Rizky tersenyum ke arahku dan kemudian kembali berjalan.

Saat rumahku semakin dekat, hujan semakin deras. Namun Rizky tiba-tiba melempar payung itu jauh-jauh. Dia menatapku tajam, kedua tangannya dikalungkan di pinggangku, dia semakin mendekatkan wajahnya. Aku hanya menutup mata, berharap yang indah akan terjadi malam ini. Tak kami hiraukan butiran hujan yang begitu sakit menerpa kepala dan badan kami, nafas Rizky yang begitu semakin terasa di wajahku. Kiss In The Rain, akhirnya aku merasakan itu. Ini akan menjadi malam yang indah dan tak akan kulupakan.

Malam itu juga Rizky menyatakan perasaannya dan aku dengan bahagia menerima dia. Hujan pun memberi arti yang indah padaku di musim ini, semoga cinta kami abadi dan tak akan pernah terhapus oleh hujan.

SELESAI

Cerpen Karangan: Yani Mariyani
Facebook: Yani Mariyani

Cerpen Kiss in The Rain merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Risalah Hati (Part 3)

Oleh:
13 November 2015, Mt. Cikuray, 2821 MDPL 13.00 PM Aku dan kawan-kawan dari komunitas Lidi Rimba mendaki puncak Cikuray. 2821 MDPL aku tempuh dengan kawan-kawan komunitas Lidi Rimba. Diperjalanan

Bayangan Masa Lalu

Oleh:
“Kisah ini hampir sama dengan kisahku tiga tahun lalu, awalnya aku bertemu seseorang cowok, lalu aku berkenalan dengan cowok itu akhirnya lama kelamaan hubunganku sama cowok itu semakin dekat

Love The Way You Are

Oleh:
“Ninaaaa…!” Zain tergopoh-gopoh mengejar Nina yang sudah menaiki tangga di lobi sekolah. Tapi, kayaknya Nina nggak menggubris. Dia terus melangkah tanpa menoleh ke arah Zain sedikitpun. “Tega banget! Tadi

Rasa Dan Perasaan

Oleh:
“Kenapa kamu bisa sayang sama aku?” “Kenapa kamu nanya?” Eros dan Rinjani duduk bersama di salah satu sudut tempat ngopi favorit mereka. Berbagi rok*k yang sama, Jani mulai menyalakan

Pelangi Ke Tiga

Oleh:
“Alma, kamu liat ke atas deh!” pinta Fisa. Aku hanya mendongakan kepala mengikuti perintahnya tanpa berkata apapun. Indah! “Kamu tau gak? Ada 3 pelangi yang Kakak suka.” Ucapnya kemudian.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *