Koma

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 20 September 2017

“Ahh..” Aku melenguh pelan, berusaha menutupi cahaya yang menyilaukan mataku dengan telapak tangan. Pandanganku kabur, namun terlihat bahwa ada sesosok di sana. Seseorang yang tampak heboh melihatku, seperti baru melihat idolanya.
“Sahna.. Sahna… ini gue.. Oh terima kasih Tuhan….” Aku tak lagi mendengarkan kata-katanya, namun aku tahu bahwa sejak cahaya menyilaukan itu mengenai mataku, dia tak henti-hentinya mengucap syukur.
“Dokter! Dokter!!” Bahkan orang ini mulai berteriak-teriak di depanku.

Perlahan-lahan aku mulai dapat melihat dengan jelas, dan rupanya dialah si tengil sahabatku yang paling baik. Seiring dengan itu, aku baru menyadari ada banyak hal yang telah kulewatkan. Aku berada di sini, terbaring lemas dengan infus di tangan, selang oksigen di hidung, dan kabel-kabel di tubuh. Juga perban yang membebat kepala dan lenganku. Aku berada di rumah sakit. Sudah berapa lama aku tidur?

Tak lama kemudian datang seorang lelaki memakai seragam putih dan dua orang wanita di belakangnya, juga mengenakan pakaian putih. Dia pastilah dokter yang dipanggil Shafa, dan dua orang di belakangnya pastilah perawat. Dokter mendekatiku, memeriksa. Ia mengatakan satu-dua kalimat sebelum akhirnya melangkah keluar. Aku tersenyum melihat tingkah Shafa yang terlalu heboh melihatku membuka mata.

“Sialan lo, Na..” ucapnya lagi sambil menyeka ujung mata.
Aku kembali tersenyum, “Sudah berapa lama aku di sini?” tanyaku lemah.
“Menurut lo? Oh.. terima kasih banyak Tuhan, Engkau masih memberikan kesempatan untuk sahabatku yang paling nyebelin ini bangun lagi..” Air matanya benar-benar menetes kali ini. Dia memelukku erat.
“Tau nggak, lo itu sahabat yang paling menyebalkan yang pernah gue punya. Setiap hari gue harus datang ke sini demi melihat lo tidur. Gue harus rela ngoceh nggak jelas hanya untuk melihat lo terdiam. Berjam-jam gue harus mondar-mandir demi melihat jemari lo bergerak. Lo itu.. lo itu…”
“Sssttt…!!! Makasih ya, Shaf.” Dia sudah memelukku lagi.
“Dan hari ini, setelah seminggu, akhirnya perjuangan gue nggak sia-sia…”
“Tunggu! Apa? seminggu? Aku tidur selama seminggu?” Aku terbelalak mendengar kalimat Shafa.
Shafa melepaskan pelukannya, mengangguk tersenyum sambil kembali menyeka ujung matanya.

“Apa yang terjadi denganku?”
“Lo nggak ingat?” Shafa balik bertanya, menatapku.
Aku menggeleng, benar-benar tak tahu apa yang telah terjadi pada diriku.
“Sore itu hujan deras, lo nekat pulang dari kampus naik motor. Gue udah coba cegah, tapi lo tetep nekat. Gue bisa apa kalo lo udah keras kepala. Dan beberapa menit kemudian gue dapat kabar kalo lo kecelakaan.”

“KLING!” Ponsel Shafa berbunyi.
“Bentar ya,” pamitnya sambil mengambil ponsel dari dalam tas. Aku mengangguk.
Aku berusaha mengingat kejadian itu. Nihil. Aku tak bisa mengingatnya. Aku benar-benar tak bisa mengingat kejadian itu. Aku kecelakaan? Naik motor? Siapa yang nabrak aku?

“Umm… Na, gue ada kejutan buat lo.” Shafa kembali dari balik pintu sambil tersenyum-senyum.
“Apa?” tanyaku polos.
“Tunggu ya, bentar.”
“HOI!” ucap Shafa dengan nada yang lebih tinggi, seperti memanggil seseorang.
Benar saja, tiba-tiba ada seseorang datang dari balik pintu. Astaga! Apa yang Shafa lakukan? Tidak. Tidak mungkin itu dia! Dia datang kemari? Menjengukku?
“Hai, Na,” sapanya manis sambil tersenyum.

Aku terpaku menatapnya, mulutku seketika kelu. Tak tahu apa yang harus kukatakan, bahkan hanya untuk membalasnya mengucap salam. Kuperhatikan dirinya yang semakin lama semakin mendekati ranjangku, kuperhatikan wajahnya yang terus mengembangkan senyum manis, lalu perlahan dia duduk di sampingku.

“Hello? Masih ingat aku, kan?” tanyanya sambil melambaikan tangan di depan wajahku.
“Ah, eh, iya-iya, masih kok masih,” ucapku gugup.
Tentu saja aku masih ingat dengannya, bahkan setiap saat aku selalu mengingatnya. Mana mungkin aku dapat melupakannya hanya dalam waktu seminggu?
“Ah, syukurlah..” Ia kembali tersenyum.

Hening. Tiba-tiba saja aku merasa canggung di dekatnya, pun jantungku berdegup tidak karuan. Sudah semacam orang jantungan saja. Memang siapa pula yang tidak terkejut melihatnya tiba-tiba datang menjengukku.
Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Lima menit. Waktu terasa begitu lambat. Aku menunggunya membuka suara, hening. Aku melirik Shafa, dia justru asyik dengan ponselnya. Kalau saja dia tidak ada di sini, sudah kutimpuk Shafa dengan bantal. Enak saja dia mengabaikan aku dalam posisi seperti ini.

“Eh, gue keluar ya..” Shafa berkata santai lantas melangkah keluar. Aku hendak mencegahnya, namun urung.
Kini hanya tinggal aku dan dia. Aku terbaring dengan perasaan yang tidak karuan, sementara dia, entahlah apa yang sedang dipikirkannya saat ini.

“Ehm,” Dia berdehem pelan, membuatku jantungku semakin tak karuan.
“Sahna,”
“Eh, iya iya.. ada apa?” jawabku patah-patah.
“Kamu beneran masih ingat aku, kan?” Dia bertanya polos.
Astaga! Aku menepuk dahiku. “Tentu saja aku masih ingat. Aku koma, bukan amnesia,” ucapku sambil terkekeh.
“Syukurlah, habis jawabanmu tadi tidak meyakinkan, sih.” Dia ikut tertawa, membuat suasana mencair.
Apanya yang tidak meyakinkan? Bukankah tadi sudah kukatakan iya. Tapi tak apalah, setidaknya dapat mencairkan kecanggungan yang tiba-tiba menyerbu.

“Sebenarnya aku lupa sih…” Aku membiarkan kalimatku menggantung.
Raut wajahnya seketika berubah. “Eh, katamu tadi?”
“Hahaha… tidak.” Aku melambaikan tangan. “Aku lupa kenapa aku bisa ada di tempat ini,” lanjutku.
Dia terlihat berpikir sebentar, seolah sedang memilih kata yang tepat untuk diucapkan. “Kamu kecelakaan, Na,” ucapnya kemudian.
Aku mengangguk. Sebenarnya aku juga tahu kalau aku kecelakaan, Shafa sudah mengatakannya tadi. Maksud pertanyaanku adalah bagaimana aku bisa kecelakaan. Aku sama sekali tidak dapat mengingat kejadian itu.
“Oh ya, kenapa kamu tiba-tiba ada di sini? Maksudku, kenapa kamu tiba-tiba langsung datang menjengukku?” Aku mengatakan apa yang hendak ingin kutanyakan dari tadi.
“Dia tidak pernah absen menjengukmu, Na,” Shafa yang menjawab pertanyaanku. Dia kembali masuk ruanganku sambil membawa keranjang buah.
“Maksudnya?” Aku menatapnya dan Shafa tidak mengerti.

Tiga bulan sebelum aku mengalami kecelakaan.
Matahari terik di luar sana. Kipas angin yang berada tepat di atas kepalaku tak mampu membuat udara menjadi lebih sejuk. Gerah membuat penjelasan dosen di depan tak ada sedikitpun yang masuk di kepalaku. Juga kantuk yang tak dapat kutahan membuatku malas untuk melirik ke depan. Bahkan mata kuliah apa yang kuikuti sekarang pun aku lupa. Berlebihan banget, ya? Entahlah.

Mungkin ini semua ada hubungannya dengan insomniaku yang kambuh tadi malam. Aku baru bisa memejamkan mata selepas pukul 3 pagi. Insomnia paling parah yang pernah kualami. Penyebab insomnia ini kurasa ada hubungannya dengan hati yang mulai bertingkah di luar kendaliku.

Baiklah, langsung pada intinya saja. Aku sedang jatuh cinta. Pemuda bernama Jovian pelakunya. Dia anak HI, satu kampus denganku. Aku mengenalnya karena kami berada di organisasi yang sama. Ini aneh, selepas beberapa kali pertemuan di organisasi, ada yang mulai tidak beres dengan hatiku. Jantungku berdegup lebih kencang, hatiku selalu berdesir saat berada di dekatnya.

Sikapnya yang dewasa dalam menghadapi persoalan di organisasi, juga ramah pada orang lain bahkan yang baru dikenalnya, ditambah dengan wajah ganteng, lengkap sudah membuatku menaburkan benih cinta di hati. Masalahnya, aku tak berani mengungkapkan hal ini padanya. Selain dia mahasiswa senior, dia adalah orang yang paling disegani di organisasi. Maka dari mana dasarnya aku punya keberanian untuk mengungkapkan ini padanya, sementara aku hanyalah mahasiswa kemarin sore dengan kecantikan dan kepintaran pas-pasan.

Satu setengah jam berlalu tanpa sedikitpun ilmu yang dapat kutangkap juga gerah yang tidak berkurang, akhirnya kelas hari ini selesai. Entah angin datang dari mana, setelah dosen keluar, gerah yang berlebihan tiba-tiba hilang begitu saja. Rasa kantuk yang sedari tadi menggelayut pun mendadak hilang bagai debu disiram air.

“Kantin yuk, laper nih.” Shafa menepuk pundakku saat keluar kelas.
Aku mengangguk.

Sepuluh menit berlalu, dua mangkok mie ayam dan dua gelas es teh manis sudah terhidang di meja kami. Siap untuk disantap.
“Lo udah punya kelompok buat tugas tadi?” Shafa menuangkan sambal dan kecap di mangkoknya.
“Kelompok apa?” tanyaku polos. Memang tadi ada tugas?
“Kayaknya lo tadi ada di kelas deh. Wah, parah nih anak.”
Aku nyengir lebar, mulai menyumpit mie ayam.
“Shaf, aku mau cerita nih sama kamu.” Aku memutar-mutar sumpit di mangkok.
“Hmm..” jawab Shafa enteng.
“Tapi jangan bilang siapa-siapa, ya. Cuma aku dan kamu yang tahu.” Aku memastikan sebelum mulai bercerita.
“Iya.. udah mau cerita apa sih. Ribet banget.” Ih, tengilnya muncul lagi.
Dari sinilah aku mulai menceritakan perasaanku terhadap Jovian. Seluruh detail kuceritakan hingga mungkin Shafa mual mendengarnya. Tapi dia sahabat terbaikku, mengerti apa yang kurasakan. Juga berjanji tidak akan membocorkan rahasia kecil ini kepada siapapun. Aku percaya padanya.

Lantas bagaimana bisa Jovian tiba-tiba muncul di kamar rumah sakit ini? Juga dengan pernyataan Shafa bahwa dia tidak pernah absen menjengukku. Rupanya inilah yang telah kulewatkan selama seminggu terakhir.

Seminggu yang lalu. Hujan turun dengan derasnya sejak kelas dimulai. Sekarang, sudah setengah jam kelas berakhir tapi hujan tak kunjung reda. Aku tak punya pilihan selain menerobos hujan atau perpustakaan kota segera tutup sebelum aku sempat mencari buku yang kubutuhkan untuk mengerjakan tugas. Tak bisa ditunda besok-besok karena besok adalah tenggat akhir tugas dikumpulkan. Shafa berkali-kali sudah mencegahku pulang, bilang bisa pinjam buku di perpustakaan kampus. Tapi aku menolak, aku sudah mencarinya di sana, tak ada buku yang kubutuhkan. Shafa akhirnya menyerah, membiarkanku pergi menerobos derasnya hujan.

Baru beberapa ratus meter dari kampus, ada mobil yang mengerem mendadak di depanku. Aku terperanjat, segera menekan rem motorku kuat-kuat. Kondisi jalanan yang licin membuat motorku oleng sebelum akhirnya jatuh menabrak trotoar jalan. Aku terpental beberapa meter, terantuk mobil melintas sebelum akhirnya tergeletak di jalan. Gelap. Aku sudah tak sadarkan diri.
Beberapa orang yang melihat kejadian itu segera berlari menolongku. Salah satu dari mereka mengambil ponselku, entah bagaimana caranya dia bisa menghubungi Shafa, mengabarkan bahwa aku kecelakaan dan dalam perjalanan ke rumah sakit. Syukurlah, Shafa yang diberi kabar pertama kali, bukan orangtuaku yang mungkin bisa langsung jantungan mendengar anaknya kecelakaan di perantauan.

Singkat cerita, aku koma di rumah sakit. Aku tak punya siapa-siapa di kota ini selain Shafa. Maka repotlah dia mengurusi segala keperluanku di rumah sakit, mulai dari menemaniku hingga membayar biaya rumah sakit. Pada hari ketiga aku terbaring di rumah sakit, dokter berkata bahwa hanya keajaiban Tuhan yang bisa membuatku sadar. Intinya, dokter angkat tangan, sudah melakukan tugas semaksimal mungkin. Kalau dalam waktu lima hari kondisiku tak ada kemajuan, dokter akan melepas seluruh alat bantu di tubuhku. Artinya aku akan mati. Jelas sudah Shafa frustasi mendengar hal itu. Ia bingung bagaimana cara memberi kabar orangtuaku di kampung. Tidak mungkin bukan dia bilang, “Pak, Sahna kecelakaan dan sekarang sudah tak ada harapan lagi untuk hidup.” Bisa-bisa ayahku yang mendahului aku.

Di tengah keputusasaan Shafa atas kondisiku, ia tiba-tiba terpikirkan akan hal konyol. Dia meminta Jovian untuk datang menjengukku. Berharap aku akan sadar setelah dijenguk oleh orang yang kucinta: Jovian. Kurasa pikiran Shafa itu sudah banyak dipengaruhi oleh sinetron.
Tanpa diminta dua kali, Jovian datang menjengukku. Dia datang bersama anggota organisasi. Menatapku penuh prihatin di atas ranjang dengan kabel dan selang memenuhi tubuhku. Hampir dua jam mereka menemaniku tapi aku tak kunjung membuka mata. Mereka pulang dengan kecewa.

Hari keempat aku koma, Shafa meminta Jovian untuk kembali menjengukku. Kali ini dia meminta agar Jovian datang seorang diri. Mungkin kemarin terlalu banyak orang, jadi kehadiran Jovian tidak terlalu berpengaruh pada diriku. Kurasa Shafa sudah mulai gila. Seusai kuliah, Jovian kembali datang menjengukku. Shafa memberitahu alasan konyol mengapa dia memintanya menjengukku kembali. Dan hanya soal waktu ia juga memberitahu rahasiaku padanya.

“Kamu serius, Shaf?” tanya Jovian terkejut.
Shafa mengangguk.
“Sejak pertama mengenal Sahna, aku sudah tertarik padanya. Dia berbeda. Dia tidak suka haha hihi seperti cewek kebanyakan. Selalu serius mengerjakan sesuatu yang dipercayakan kepadanya. Dan yang penting lagi, dia selalu ceria di depan orang lain.” Jovian tak henti memandangiku yang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit.
“Jadi…” Shafa menyimpulkan.
“Kamu tahu, aku tidak tahu apakah aku harus bahagia atau sedih mendengar semua ini. Yang jelas, setiap hari aku akan ke sini untuk menemani Sahna hingga sembuh. Aku tidak mau melewatkan perkembangannya.”

Hari kelima, hari di mana dokter akan membiarkanku mati jika kondisiku tak kunjung ada kemajuan. Shafa menatap nanar surat pernyataan bahwa seluruh alat bantu yang melekat di tubuhku akan dilepas. Shafa dalam posisi sulit, apakah ia akan menandatangani surat itu dan aku mati atau membiarkanku tak sadarkan diri tanpa kemajuan. Tanpa tahu apakah aku akan sadar kembali atau mati. Di samping itu, biaya rumah sakit yang terus membengkak juga membuat Shafa semakin gila.

Jovian yang juga hadir saat itu berusaha menenangkan Shafa. Dia yang masih bisa berpikir dengan kepala dingin, mencoba meminta dokter untuk memberikan kesempatan agar alat bantu itu tak dilepas. Juga meyakinkan Shafa bahwa ia akan membantu menanggung biaya perawatanku. Akhirnya setelah berjam-jam Shafa menangis frustasi, ia menyetujui usulan Jovian, batal menandatangani surat pernyataan.

Sepertinya keputusan Shafa juga Jovian, sesuai dengan kehendak Tuhan. Pukul 9 malam, Shafa melihat jemariku bergerak. Ia segera memanggil dokter yang segera disambut dengan kabar gembira bahwa kondisiku mengalami kemajuan pesat. Malam itu Shafa tidak tidur, menunggu aku akan kembali menggerakkan jemariku. Pukul 4 pagi dia tertidur di samping ranjang karena kelelahan.

Hingga pagi ini, keajaiban Tuhan akhirnya datang padaku. Aku dapat membuka mataku kembali setelah seminggu terpejam.

Hari ini, di ruangan tempat aku dirawat.
“Shafa sudah memberitahu semuanya padaku, Na,” ucap Jovian.
“Dan jangan tanya gimana perasaan dia kalo lo tahu seperti apa perjuangannya selama tiga hari ini.” Shafa menambahkan.
Aku yang baru sadar dari koma seminggu langsung dikejutkan oleh berita seperti ini. Astaga! Kuharap aku tidak akan koma lagi gara-gara jantungan.

“Kok lo diam, sih?” tanya Shafa.
“Aaa…” Aku tak tahu harus bilang apa.
“Setelah sembuh, kamu harus tanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan padaku.” Jovian menatapku tajam.
“Ha?” Aku bertanya tak mengerti.
“Berani-beraninya kamu membuatku tidak bisa tidur berhari-hari. Aku terus memikirkan nasibku nanti kalau akhirnya aku ditinggal mati seseorang yang bahkan tidak bergerak tapi berhasil mengambil hatiku.” Ia masih menatapku tajam, “Pokoknya setelah sembuh, kamu harus pulang, beritahu ayah-ibu aku akan datang ke sana. Satu lagi, kamu juga harus janji mau menjadi milikku selamanya.”

Ya Tuhan! Aku mencubit pipiku, aku tidak sedang koma. Kurasa jantungku sudah lepas dari tempatnya karena saking senangnya. Di tengah kebahagiaan ini aku berpikir, apakah aku harus koma dulu agar bisa bersatu dengannya?

Cerpen Karangan: Nur Hidayah
Blog / Facebook: nuurhidayah23.blogspot.com / Nur Hidayah

Cerpen Koma merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Diary Ku (Part 1)

Oleh:
Aku adalah sebagian orang yang menginginkan dan mengharapkan bisa mendapatkan cinta sejati. Dari segelintir orang yang mencari cinta mereka, berusaha mendapatkan cinta sejati, tetapi aku hanya membiarkan semua itu

Bidadari Tak Bersayap

Oleh:
‘Koridor itu, mempertemukan aku dengannya, sesosok bidadari cantik yang mungkin sengaja turun ke bumi’ Masih jelas ku ingat saat pertama kali kami bertemu. Di sebuah koridor gelap, dan masih

If You’re Not The One

Oleh:
Aku salah satu siswa SMA Garuda. Di situlah dimulainya kisah cinta pertamaku. Bagiku tak semua cinta berakhir bahagia dan ini kisah cinta pertamaku. Entahlah perasaan ini layak disebut cinta

Hanya Untuknya

Oleh:
Satu-satunya, tak akan ada yang lain. Hanya dia seorang. Cinta pertamaku. Kak R. Setiap hari, aku hanya bisa memandang Kak R. Kenapa hanya dia? Karena semua debaran ini, semua

Pertemuan Singkat di Halte Bus

Oleh:
Setiap pagi ku langkahkan kaki dengan ceria menuju Halte Bus dimana akan ada bus yang membawaku ke tempat kuliahku. Ditemani sinar sang mentari dan semilir angin di pagi hari.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *