Kosong Lima

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 1 November 2015

Pagi yang cerahku kembali masuk ke sekolah yang membosankan. Harus mengerjakan tugas yang aku sendiri tak tahu bagaimana cara mengerjakannya. Namun yang aku suka saat kembali ke sekolah adalah bertemu dengan teman-temanku dan seseorang yang baru-baru ini sedang dekat denganku. Kedekatanku dengan sosok pria ini berawal dari sebuah lokasi kolam renang di daerah bekasi. Laki-laki yang tak mempunyai wajah tampan, tak tinggi, juga tidak memiliki kulit yang putih.

Namun, dari semua kekurangannya ada satu hal yang membuatku terpana. Ya, kesederhanaanya. Laki-laki yang berstatus Kakak kelasku saat ini bernama Robby. Awal berkenalan dengannya aku sudah tahu, bahwa dia anak yang baik. Dulu dia sangat sering sekali mendengarkan curahan hatiku ketika aku sedang terpuruk oleh bayang-bayang seseorang. Dia mampu menenangkanku di saat aku cemas.

Kolam renang itu, menjadi saksi bisu dimana terlihat tingkahnya yang tak karuan di saat melihatku tersenyum. Mulai berbicara banyak dengannya. Dan dari situ pula dia telah berani untuk meminta nomor handphone-ku lewat sosmed. Tanpa ragu, ku berikan nomorku. Bermula dari kejadian tadi, dia jadi sangat sering mengirim pesan kepadaku. Menanyakan kabarku, bercerita, hingga bertanya hal-hal yang menurutku sama sekali tidak penting.
“lagi ngapain far? udah makan belum?” yaa. Pertanyaan yang sering dilontarkan oleh seseorang kepada kekasihnya. Dari situ, sudah sangat terlihat bahwa ia benar-benar menyukaiku
-bukannya aku ge er.

Kencan pertama dengannya. Saat itu aku sedang belajar bersama salah satu teman sekelasku yang rumahnya tak jauh dari tempat tinggal Robby. Syifa namanya. Dia tahu bahwa Robby menyukaiku. Syifa terus memancingku agar aku mau berkunjung ke rumah Robby. Aku terus memberikan alasan agar aku tidak jadi berkunjung ke rumah Robby. Namun, Syifa terus merayuku. Alasan pun kini tak lagi dapat menghindarinya. Kedatangan Angga -kekasih Syifa- menambah dukungan agar aku pergi ke rumah Robby.
“ayo far sebentar doang, cuma ngobrol-ngobrol gitu” rayu Syifa.
“halah ya udah deh, ayo tapi jangan lama-lama ya soalnya udah sore” sahutku mengiyakan rayuan mautnya.

Akhirnya kami bertiga pergi ke rumah Robby. Sial. Jadi kambing ompong saat aku hendak pergi ke rumahnya. Syifa dengan Angga. Dan aku? Sendirian membawa motor Syifa. Namun, peranku menjadi kambing ompong hanya sementara. Karena tak lama selang waktu berlalu kami telah sampai pada rumah Robby.
“ibor” ucap Angga memanggil Robby.
Tak lama Robby ke luar dari balik pintu.
“kalian ngapain? “tanyanya sambil tersenyum salah tingkah setelah melihatku hadir di hadapannya.
“itu si Farah katanya mau main ke sini” ucap Angga lagi.
“ihh apaan sih, gak ngga Angga bohong. Orang tadi Syifa yang ngajak ke sini.” Aku pun mengelak.
“kok bawa-bawa nama gue far? kan tadi lo yang bete, katanya kepingin main”
“bete sih iya tapi kan..”
“udahlah udah sampe ini, manfaatkan aja waktu yang ada.”

Angga, Syifa dan Robby pun asyik berbincang. Sedangkan aku? Aku hanya bisa terdiam duduk di atas motor Syifa. Aku tak tahu harus melakukan apa. Alhasil, aku hanya memainkan scroll handphoneku ke atas dan ke bawah. Tanpa mempedulikan apa yang mereka bicarakan. Salting broo!
“bor jomblo yaa bor?” ledek Syifa.
“wess calon taken gue coy” jawab Robby.
“taken sama siapa bor?” Tanya Angga memastikan.
“samaa..” berbisik, “itu tuh” jawabnya. Terlihat matanya yang menyudut ke arahku.

Salting gila! Emang cowok gila! cewek mana yang nggak salting kalau dilihatin kayak gitu?! Aku pun pura-pura tak menyadarinya bahwa orang yang dimaksud olehnya adalah aku. Mulai memainkan jari jemariku untuk menscroll handphone-ku ke atas dan ke bawah. Tak sengaja ku lihat jam telah menunjukkan waktu pukul 5 sore. Omg! Nyokap bakal marah kalau aku pulang di atas jam 5.

“Syifaa! ayo balik udah jam 5, nanti gue diomelin nyokap”
“ah lagi asyik juga bor ikut anterin Farah ya?” ajak Syifa.
“gue gak ada motor syif” ucap Robby.
“itu pake motor Syifa kasihan Farah dari tadi bawa motor sendirian terus” kata Angga.
“tapi ga…”
“udahlah kalau emang dia gak mau gak usah dipaksa sih, gue masih bisa bawa motor sendiri kok” ucapku ketus.
Come on! ini udah sore. Keadaan membuatku bete sejenak.
“bukan gitu far gue mau kok bentar yaa. Ngambil jaket dulu”

Kedekatanku dan Robby pun semakin meningkat. Semakin ke sini semakin terlihat keseriusannya terhadap aku. Hingga pada tanggal 5 desember kami resmi berpacaran. Awal berpacaran, sangat banyak rintangan yang harus kami lalui. Salah satunya yaitu orangtuaku yang tidak setuju jika aku menjalin cinta. Namun, dengan sabar dan berpikir dewasa kami bisa melewatinya hingga masuk pada bulan pertama. Kosong lima yang pertama, ku berikan kecil kepadanya. Memberikan selamat sambil menodorkan kue mungil yang berbentuk hati kepadanya.
“makasih far aku nggak kepikiran kalau kamu bakal ngasih kayak gini.” ucapnya sambil tersenyum sangat bahagia.

Masuk ke kosong lima kedua. Aku kembali beraksi. Kini yang aku beri adalah suatu karya buatan tanganku sendiri. Ku berikan ia beberapa gulungan kertas yang berisi tulisan hasil tanganku sendiri. Serta ku berikan juga sebuah toples yang berisikan bebatuan warna-warni, dilengkapi dengan selembar kertas dan sebuah kunci. Batu warna-warni melambangkan agar hubunganku denganya akan terus berwarna. Selembar kertas itu berisikan harapanku kedepan bersama dengannya. Serta kunci yang melambangkan bahwa hati ini telah disegel olehnya. Sedikit mengerjainya dengan meletakkan buah salak di atasnya. Ini aku lakukan karena ia tidak suka dengan salak. Ini tantangan. Jadi semua itu melambangkan, dia harus berkorban jika hubungan ini ingin berwarna dan harapan itu dapat terkabul.

Ternyata pada bulan kedua ini bukan hanya aku yang memberikan kejutan kepadanya. Dia pun begitu. Aku mendapatkan sandal piama darinya. Doraemon!! yaa. Sandal itu bergambarkan doraemon. Aku sangat suka sekali dengan doraemon. Saat hari itu aku benar-banar merasa sangat senang sekali. Selang beberapa hari. Kini tiba hari yang katanya orang-orang adalah hari kasih sayang. Namun bagi sekolahku hari ini adalah hari ulang tahun yayasan sekolahku. Valentin seperti itu biasanya orang-orang menyebutkan hari ini. Aku tidak berniat untuk merayakannya. Hanya untuk bersenang-senang, ku berikan lagi satu kejutan kepadanya. Ku berikan dia sebuah buku gambar yang berisikan perjalan hubunganku dengannya. Dari kolam susu, hingga hari ini. Sangat sederhana. Namun, di balik kesederhanaan ini tersirat sebuah hati yang suci dan tulus.

Dan kini lagi-lagi bukan hanya aku yang memberikan kejutan. Wow! Terkaget aku ketika ia menyodorkan setangkai mawar putih yang amat sangat terlihat cantik. Aroma bunganya yang asli menghanyutkanku. Bagaikan aku sedang terjerumus ke sebuah taman yang dipenuhi dengan bunga. It’s so sweet kalau kata teman-temanku. Terus menjalani hari bersama. Masih terus bersama. Hingga kami melewati sebuah rintangan baru. Dapat kabar bahwa aku akan menjalani praktek kerja lapangan atau sering disebut dengan PKL. Masa PKL-ku di sebuah PT industri sekitar 3 bulan lamanya. Itu artinya aku tak akan bisa bertemu dengannya selama tiga bulan. Itu dikarenakan ia juga harus PKL di salah satu pasar swalayan di daerahku. Dengan terpaksa, aku dengannya harus menerima tantangan ini.

Satu hari dua hari tiga hari aku tak bertemu denganya. I’m so missing you baby! Rasanya hati ini ingin berteriak, mengungkapkan bahwa aku sangat merindukannya. Jikalau saja aku diperbolehkan ke luar pada malam hari, pasti aku tidak akan merasakan rindu yang seberat ini. Selama satu minggu ini aku merasa sangat buruk. Karena tidak dapat bertemu dengannya. Baru seminggu saja sudah seperti ini, bagaimana selama 3 bulan? Bisa-bisa aku mati karena merindukannya. Pertanyaan seram itu telah terjawab. Ternyata tak seburuk yang aku kira. Semenjak PKL, Robby sangat sering menggunakan sepeda motornya untuk bepergian. Dengan begitu, setiap harinya aku bisa bertemu dengannya. Meski hanya 10 sampai 15 menit saja. Namun, setidaknya kami bisa bertemu.

Kini mulai masuk pada bulan ketiga. Dan lagi-lagi aku tak kehabisan karya untuk memberikan sesuatu kepadanya. Kali ini, ku kirimkan 100 buah burung origami yang telah ku persiapkan dari 3 hari yang lalu. Selama 3 hari aku terus menghabiskan waktu luangku untuk membuat burung origami ini. Sambil meletakkan sebuah harapan di antara kumpulan burung-burung yang terbuat dari kertas warna-warni tersebut. Dan lagi-lagi dia merasa sangat senang. Aku akan senang jika ia juga senang.

Aku masih terus bersamanya. Hingga kini hampir masuk pada bulan keempat. Namun ada rintangan baru yang harus kami lewati. Sebut saja masalah kecemburuan. Aku tahu, Robby memang tipe cowok yang sangat cemburuan. Dan memang seharusnya aku juga mengerti dengan sifatnya tersebut. Mungkin, karena memang sedang sama-sama lelah dengan keseharian kerja. Masalah itu hingga membat kami hampir berpisah. Namun, dengan sabar dan pemikiran yang dewasa, aku dan dia berhasil melewati masalah itu dengan kepala dingin. Kini masuk pada bulan keempat. Kini aku kehabisan cara, kreatifitas, uang, dan ide. Entah ada apa dengan ku saat itu. Tak biasanya aku seperti ini. Mungkin karena terlalu banyak problem di rumah yang membuat aku ngeblank. Tak dapat berfikir apa-apa. Namun, pada kesempatan kali ini giliran dia yang memberikan sesuatu kepadaku.

Tanggal 5 april ini bertepatan juga dengan hari ulang tahun kawanku yang bernama Gavril. Aku dan teman-teman yang lain berencana untuk memberikan kejutan kepadanya. Di saat sedang bersiap-siap untuk kejutan, tiba-tiba Robby menghampiriku ke sekolah. Saat itu keadaan sekolah memang sangat sepi. Dia menghampiriku dan menarik tanganku. Ia mengajakku ke depan gerbang usni yang tak jauh dari tempat perkumpulanku dengan teman-temanku. Berdiam sejenak. Lalu, ia menyodorkan kardus kecil yang aku yakin berisi sebuah figura berukuran kecil. Dia memberikan itu tanpa dibungkus apapun. Dengan plastik pun tidak. Haha sesuatu yang sangat unik.

Ku buka perlahan kardus yang berukuran kecil itu. Dan terlihat sebuah figura bergambarkan doraemon. Tak kurang di dalamnya telah berisi fotoku bersama dengannya sewaktu aku dan dia sedang car free day ke monas. Its soo ahhh! I’m so happy! Tak henti aku mengucapkan terima kasih dan meminta maaf kepadanya. Karena pada bulan ini aku tidak bisa memberikan suatu yang berarti kepadanya. Tak terasa aku ingin menangis saat itu. Mataku mulai berkaca-kaca. Namun, Robby terus berusaha menenangkanku. Dielus kepalaku bak seekor kucing yang manja. Dan ia mencium keningku. Nyaman. Sangat nyaman. Seraya waktu terhenti. Aku tak ingin ini cepat berlalu. Seandainya doraeomon benar-benar ada, ingin ku meminjam mesin waktunya agar terhenti lebih lama. Ya. Agar aku bisa terus merasakan kenyamanan ini.

Teringat misi pertamaku pada hari ini. Ya. Memberikan kejutan kepada Gavrila. Sontak aku terkaget dan dengan sangat terpaksa aku harus mengklik tombol play pada mesin waktu ini. Aku kembali berkumpul dengan teman-temanku dan Robby pergi ke tempat di mana ia dan teman-temannya biasa berkumpul. Selesai memberikan kejutan, aku dan teman-teman lekas pergi dari sekolah dan menuju ke tempat makan. Ceritanya ditraktir sama Gavrila -kenyataan sih. Ya. Dinner ketigaku bersama dengannya. Dinner pertama. Makan mie ayam waktu dia gajian. Yummy! dinner kedua. Makan di rumahnya waktu adenya ulang tahun.

Satu minggu berlalu. Dan hari ini adalah hari dimana saat aku dilahirkan ke dunia. Ya. Tepat di tanggal 13 april ini aku genap berusia 16 tahun. Robbylah orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Umm. So sweet. Bukan hanya menjadi orang pertama, dia juga memberikan kejutan kepadaku. Dengan membawa kue ulang tahun dia datang ke rumahku untuk memberikan kejutan. Umm. sungguh bahagianya diriku. Dia rela tidak masuk PKL demi ulang tahunku. Umm Robby.

Setelah hari itu, satu minggu dua minggu telah berlalu. Hingga kini tepat tanggal 25 april. Hari banyak uang hohoho Jordan dan Arshy, salah dua temanku mengajakku untuk makan ketoprak. Huwohh ketoprak! I like it! Tanpa ragu ku terima tawaran mereka. Berhubung aku pulang dengan Robby, jadi Robby juga aku ajak. Kami makan di tempat yang tak jauh dari rumah Arshy. Saat itu hujan turun sangat deras. Membuat kami tak dapat pulang saat itu. Hingga larut malam kami baru kembali ke rumah.

H-2. Hari minggu tepatnya adalah hari ulang tahun Robby. Aku sudah merencanakan ini dari jauh sebelum hari H. Robby pernah bilang bahwa ia sangat ingin sekali mempunyai sepatu running. Malam sebelum hari H aku dengan ditemani oleh Kakak dan Adikku mencari sepatu untuknya. Dengan bantuan Kakakku aku berhasil menemukannya. Habis bermaraton di dalam mall, aku merasa sangat lelah. Namun, aku berusaha untuk melawan rasa lelahku demi bisa menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat kepadanya. Sama seperti apa yang telah dia lakukan kepadaku. Namun, ku tidak berhasil. Hampir jam 12 tiba, aku malah ketiduran hingga bangun tepat pukul 5. Bodoh! Bisa ketiduran gini! Padalah sudah pasang alarm.

Aku, merupakan anak perempuan yang hidup dengan penuh peraturan. Aku tidak diperbolehkan ke luar pada malam hari oleh Ibuku. Aku ragu saat hendak meminta izin untuk ke luar pada malam ini. Namun, aku memberanikan diri dan. Alhamdulillah! Mama memperbolehkan aku pergi. Gak afdol memang kalau lagi ulang tahun nggak dikerjain. Maka dari itu, ku bilang padanya bahwa aku tidak bisa hadir pada malam ini. Mamah tidak memperbolehkan aku untuk pergi. Dan wow! Dia percaya itu.

Seharian ini aku berusaha membuat dia geram denganku. Dan usahaku setengah berhasil. Dia bete. Hak.hak.hak. hingga kini tiba pada pukul 18.30 aku berangkat dengan Syifa. Sebelum sampai ke rumahnya, aku berniat untuk membeli kue terlebih dahulu. Cau! menuju toko kue. Sedang asyik memilih kue, seketika aku menoleh ke arah belakang. What the f*ck. Sh*t! Ada Ibunya Robby sedang membeli kue. Sontak aku terkaget. Aku berusaha menyembunyikan tubuhku agar ia tak melihatku. Namun, upayaku gagal. Dia telah melihatku. Tak ingin resiko besar -yaitu ketahuan sama Robby- aku bersembunyi di dapur toko kue tersebut.

“mas numpang ngumpet ya?” ucapku kepada se penjual kue.
“silakan neng emang ada siapa?” Tanya si penjual kue.
“itu Ibunya yang mau dikasih kejutan mas”
Tak lama bersembunyi Robby dan Ibunya kembali ke rumahnya. Dengan badan gemetar dan dengan napas yang agak terengah-engah aku menunjuk sebuah kue yang berada di dalam freezer. Setelah mendapatkan kuenya, aku langsung menuju di mana tempat kawan-kawannya berkumpul.
“lama banget sih far udah laper nih gue” ucap seorang teman saat aku hendak turun dari motor.
“ya maaf udah mau berangkat sekarang?”
“iya udah ayo gue udah laper”

Singkat cerita kejutan pun berhasil. Ku berikan kue kepadanya dan kado itu. Lagi-lagi ia mencium keningku. Entah mengapa, aku merasa sangat nyaman ketika ia menciumku. Bercanda tawa dengan kawan-kawan yang lain. Hingga tak terasa sudah jam setengah sepuluh malam. Aku segera mempersiapkan diri untuk kembali ke rumah. Aku pun pulang dengan diantar olehnya. Di perjalanan aku dan dia terus berbincang.

“katanya nggak dateng tapi tahunya datang woo boong melulu sama aku”
“biarin aja wleeee!!”
“nanti aku cium biarin!”
“ihh kamu genit”
“gak apa-apa, genit sama pacar sendiri ini cium aku dong?” ucapnya sambil menoleh ke arahku. Sontak aku pun mencium pipinya. Dan. wuw! Di balik mecium pipiku dengan lembut. Dan tak sengaja bibirnya menyentuh bibirku. Ihh Robby nakal! Haha itu kejadian yang tidak disengaja.
Sampai di rumah aku sangat merasa lelah sekali. Setelah mereka kembali ke rumah Robby, aku langsung masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di kamar. Dan aku kembali berpikir tentang kejadian tadi. Dia menciumku. Tak lama kantuk pun datang dan aku segera pergi tidur.

Hanya selang 1 minggu. Tepatnya hari ini. Hari senin tanggal 05 bulan 05 tahun 2014. Tepat pada bulan yang kelima bersamanya. Sungguh tak terasa. Susah, senang, sedih, bahagia, tertawa, kecewa, menangis semuanya bisa ku rasakan selama bersamanya. Benar-benar membuat hidupku sangat berwarna. Terima kasih beruk. Selama lima bulan ini telah bersamaku. Telah mewarnai lembaran hidupku. Namun, lembaranku bukan hanya pada hari ini saja, tapi ada besok, besok dan seterusnya. Maka dari itu, ku mohon teruslah mewarnai hari-hariku dengan kasih dan cintamu sayang.

Happy monthversarry yang ke kosong lima yaa baby. Semoga kita bisa ketemu lagi di kosong lima yang selanjutnya. Aku sayang kamu.

Cerpen Karangan: Farah Adhila
Facebook: Farah Adhila Sandi
twitter: @adhilafarah

Cerpen Kosong Lima merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ramuan Keabadian (Part 2)

Oleh:
“Oh! Andre! Ternyata kamu. Dari dulu kamu tidak pernah berubah senang bikin onar!” kataku sambil tertawa mengingat hal kemarin. “Yang pertama aku gak sengaja. Yang kedua dan ketiga mungkin.

Cinta Mu Bukan Untuk Ku (Part 1)

Oleh:
Kalimat itulah yang selalu ku bisikkan dalam hatiku sepanjang kebersamaan kami. Menikah denganya mungkin adalah kesalahan terbesar dalam kehidupanku. Bagaimana aku bisa tiba-tiba hidup bersamanya, andai saja tidak ada

Dirimu Mengalihkan Duniaku (Part 2)

Oleh:
Drrtt.. drrtt.. “Halo?” “Bu Susan, saya mau curhat, ada waktu ndak?” “Eh, iya, Andi ada apa? Saya longgar ini. Anak-anak juga sudah tidur. Suami juga belum pulang.” “Bu, saya

Senja Terakhir

Oleh:
Terkadang, aku merasa menjadi bukan diriku. Apalah artinya jika senyatanya hidup adalah topeng palsu di balik tubuh yang hilang akan sukmanya. Ketika nafas yang ku hirup hanyalah sebuah teori

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *