Krasava (Mengungkapkan Lewat Puisi)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 12 August 2017

Sudah sejak dulu aku pendiam, sudah sejak dulu aku lebih suka menyendiri, sudah sejak dulu aku kaku kepada perempuan. Kadang aku merasa aku akan lebih senang jika orang-orang di sekitar tidak menganggap keberadaanku. Orang-orang kadang menyebutku si tanpa ekspresi. Aku tidak keberatan.

Aku seperti laki-laki pada umumnya. Misalnya sering mengikuti perkembangan berita di dunia sepak bola, atau hanya sekedar bergadang untuk menonton pertandingan sepak bola di televisi pun aku mampu melakukannya, meskipun selalu sendiri. Tentang asmara pun, aku sama seperti laki-laki normal, menyukai perempuan yang berwajah cantik, berprilaku baik, dan yang laki-laki normal idamkan dari seorang perempuan. Hanya saja mungkin.. aku tidak pandai untuk mengungkapkan perasaan, bahkan aku belum bisa meski hanya sekedar bercerita kepada teman-teman bahwa aku menyukai seseorang .. ya, aku juga punya teman, tetapi di antara mereka akulah orang yang jarang ikut berkumpul dalam tongkrongan. Karena seperti diawal tadi, aku lebih suka sendiri.

Siang itu sepulang sekolah, hujan turun sangat deras. Bulan Oktober memang selalu identik dengan hujan. Jelas saja aku yang tidak pernah berfikir untuk membawa payung ke sekolah terpaksa menunggu hujan reda. Sembari menunggu, aku melihat-lihat majalah dinding sekolah yang sangat luas dan penuh warna. Di sekolah ini memang semua siswa bebas untuk menempelkan karya mereka, dan aku termasuk salah satu siswa yang pernah menempelkan karyaku di majalah dinding ini. Aku lumayan sering menulis puisi, menuangkan segala ekspresi yang tak bisa kutunjukkan kepada orang-orang dengan menulis puisi. Jadi, sebenarnya aku bukan orang tanpa ekspresi. Aku bisa saja berekspresi, tapi aku punya cara sendiri untuk mengeluarkannya.

Aku melihat sebuah puisi yang terpajang di majalah dinding tersebut, puisi yang tidak dicantumkan nama pengarangnya. Puisi itu adalah buatanku. Puisi itu adalah puisi romantis yang kubuat untuk seorang perempuan yang aku sukai, sudah lumayan lama aku sukai. Bahkan sudah puluhan puisi yang aku buat untuknya, untuk menunjukkan perasaanku padanya, tapi aku terlalu pengecut untuk memberikan puisi itu padanya. Hari kemarin, setelah kebimbangan dan keraguan yang terus menghantui pikiranku, dan setelah hampir dua tahun aku sering membuat puisi untuknya, aku berani sekedar menempelkannya di majalah dinding. Dia adalah Krasava, perempuan yang membuatku jatuh hati sejak pertama aku melihatnya. Dia adalah perempuan yang selalu ceria, selalu hangat pada setiap orang, aktif dikelas, dan mempunyai jiwa sosial yang tinggi. Aku tahu karena dia teman sekelasku. Puisi yang selama ini aku buat kebanyakan puisi-puisi untuk Krasava. Entah kenapa bisa seperti itu, Mungkin tipe-tipe orang sepertiku adalah orang yang mengagumi dalam diam.

Hujan masih deras, aku masih belum bosan memperhatikan puisi yang aku buat dan kutempel di majalah dinding, dan dengan sangat nekatnya puisi yang kutempel ini berjudul “Krasava”. Saat sedang sibuk memperhatikan, Tiba-tiba ada seseorang yang bertanya dari belakangku, “tahu gak siapa yang buat puisi ini?”, saat aku menoleh ke belakang, aku lumayan kaget karena orang yang bertanya adalah krasava. Dia tersenyum kepadaku. “Eh Krasava”, kataku pelan, “Musa serius banget lihat puisinya, hehe”, kata dia ramah, “perasaan biasa saja ah”, kataku, “Eh Musa, kamu belum jawab pertanyaan dari aku tadi”, katanya lagi, “pertanyaan yang mana?”, tanyaku, “kamu tahu gak siapa yang buat puisi ini?”, katanya mengulangi pertanyaan diawal, aku hanya menggelengkan kepala, “krasava kenapa belum pulang?”, tanyaku kemudian, “lagi nunggu jemputan nih”, jawabnya, “kamu kenapa belum pulang?, kan rumah kamu lumayan dekat dari sekolah?”, lanjutnya kemudian, “hujan, aku gak bawa payung”, jawabku. jujur baru kali ini kita berdua ngobrol dalam keadaan berdua saja, biasanya kita ngobrol hanya saat kerja kelompok ataupun diskusi pelajaran.”Hmmm Musa, ke kantin yuk! Kita di kantin aja nunggunya, aku nunggu jemputan, dan kamu nunggu hujan reda hehe. Kan kalau di kantin bisa sambil minum”, ajaknya padaku, “ayo”, jawabku singkat.

Sejujurnya aku sangat gugup menghadapi keadaan ini, tapi aku mencoba normal seperti ketika sedang bersama teman-teman yang lain. Ketika hendak duduk di bangku kantin, dia kembali membahas tentang puisi tadi, “eh Musa, mungkin gak yaa kalau puisi yang di mading itu dibuat untuk aku hehe”, katanya polos, “mungkin saja”, responku singkat, “hehe aku terlalu kepedean ya”, katanya manis, senyum yang tergurat di wajahnya benar-benar seperti namanya, Krasava yang artinya indah, aku hanya sedikit tersenyum.

Kami duduk saling berhadapan, hanya terhalang oleh sebuah meja kantin yang panjang, “kamu mau minum apa?, biar aku ambilkan”, tawarnya padaku, ini adalah salah satu hal yang membuat aku jatuh hati padanya, yaitu sikapnya yang hangat dan ramah. “Biar aku saja yang ambilkan, kamu mau minum apa?”, aku balik menawarkan dan kemudian beranjak dari kursi, “oh oke, samain aja sama kamu”, jawabnya, “makasih ya musa”, lanjutnya sembari melemparkan senyum, aku menuju tempat ibu kantin dan memesan dua teh manis hangat.

Sambil menunggu teh manis jadi, aku terus memandangi wajah Krasava dari tempat ibu kantin. “Mas, teh manisnya sudah jadi, mau saya antarkan ke sana?”, kata ibu kantin mengagetkanku, “oh iya bu, biar saya saja yang bawa, terimakasih bu”. Kemudian aku kembali ke meja tadi dengan membawa 2 gelas teh manis, Krasava berkata, “wah pilihan yang bijak Mus, terimakasih ya”, “sama-sama”, jawabku. Kemudian dia meminum teh manis itu sambil memandangi hujan di luar yang terus turun semakin deras.

Lima menit kami saling berdiam diri, akhirnya dengan sedikit gugup aku berkata, “krasava!”, hanya itu, “iya musa”, jawabnya, “menurut kamu, puisi yang berjudul krasava tadi bagus tidak?”, tanyaku sambil melihat wajahnya, “menurutku?”, tanya dia memastikan, “i iya menurutmu, siapa lagi”, kataku, “hmm menurutku puisi yang tadi bagus sekali, jujur saja aku sampai terbawa perasaan. Hehe”, jelasnya tulus, “bagaimana jika puisi itu memang benar ditujukan untuk kamu”, kataku. Entah kenapa kali ini aku sangat berani sekali berbicara lumayan banyak kepada krasava. “Aku akan senang sekali tentunya, puisinya sangat bagus”, katanya berterus terang, “hmm memangnya kenapa?”, tanyanya kemudian, dan pertanyaan itu sejenak membuatku sedikit bingung untuk menjawab, belum sempat aku menjawab, “apalagi, jika itu buatan kamu, aku akan lebih suka”, dia berkata sambil tersenyum, dan membuatku semakin bingung untuk berkata.

Sejenak pikiranku melayang kepada kejadian beberapa tahun lalu, saat awal masuk SMA. Ketika itu buku catatanku tertinggal di perpustakaan, saat aku kembali ke perpustakaan dan hendak mengambil bukunya, aku melihat seorang perempuan sedang duduk di kursi yang sebelumnya aku tempati. Perempuan itu adalah Krasava. Saat aku mulai mendekat, aku melihat Krasava sedang membaca buku catatanku, dimana dibuku catatan itu terdapat banyak puisi-puisi yang aku buat. Krasava terlihat tersenyum saat membaca bukuku itu, dan sejak saat itu aku mulai menyukainya. Kemudian aku menghampirinya dan berkata, “maaf ini buku saya”, dia melihat ke arahku dan berkata, “eh maaf”, kemudian menyerahkan bukunya kepadaku. Jadi aku mengambil kesimpulan, bahwa sejak dulu mungkin Krasava sudah tahu aku sering menulis puisi.

“Musa, kita jalan keluar yuk! Ternyata boring juga diam terus Di sini”, ajaknya, aku lumayan kaget waktu itu, “masih hujan”, responku, “tunggu, aku mau pinjam dulu payung ke ibu kantin”, katanya sambil beranjak dari kursi. Dan Dia kembali dengan membawa payung dan berkata, “Kamu yang pegang payungnya ya!”, “oke”, kataku singkat, kami berdua pun keluar, dengan aku yang membawa payung. kami saling berdekatan, bahkan saling bersentuhan, baru kali ini aku merasakan jarak yang sedekat ini dengan dia, dengan Krasava.

“Jadi, apakah kamu masih menulis puisi?”, tanyanya memulai percakapan, “maksudmu?”, jawabku sambil memandang wajahnya, “hmm kamu punya penyakit alzheimer ya? Kan dulu aku pernah membaca buku kamu”, katanya meledek, aku sangat suka saat dia bercanda, “hmm itu, aku masih ingat”, kataku sambil tersenyum sedikit, mungkin hanya Krasava yang saat ini Sanggup membuatku tersenyum, “terus?”, tanyanya, “ya.. masih mungkin”, jawabku. Kami kemudian duduk di sebuah halte, halte yang kosong tanpa orang. Setelah menutup payung aku dan krasava duduk dan melihat kendaraan yang lalu lalang. Kemudian Krasava bertanya, “Mana? aku mau lihat buku puisi kamu!”, “hm kenapa mau lihat?”, tanyaku, “hmm jujur, dulu waktu bukunya aku kembalikan padamu, aku masih ingin melihat-lihat”, katanya berterus terang, “oh gitu”, kataku singkat, “ih kamu”, katanya jengkel sambil mencubit lenganku, kami pun tertawa, meskipun tertawaku sedikit kaku, “oke, jika kamu mau melihatnya”, lanjutku, kemudian aku membuka tasku dan menyerahkan buku puisiku padanya, “akhirnya aku bisa melihatnya lagi”, katanya, aku kemudian bertanya, “kalau kamu memang ingin melihatnya, kenapa tidak meminjamnya dari dulu?”, “hmm malu lah”, katanya, wajahnya merah merona, kemudian dia membaca puisi-puisi yang ada di dalam buku itu. “sejak kapan kamu menulis puisi?”, tanyanya, “sudah lama” jawabku, “ouh”. Aku melihat dia senyum-senyum saat membaca bukunya, persis seperti saat pertama aku melihatnya, senyum yang membuatku jatuh hati.

“Krasava, sebenarnya puisi yang ada di mading itu adalah buatanku”, kataku yang akhirnya berterus terang, “oh ya?”, tanyanya kagum, “iya, dan itu puisi yang aku buat untuk kamu jadi puisi itu aku beri judul Krasava, dan kamu tidak perlu bertanya”, lagi-lagi aku berterus terang, perkataanku seolah-olah mengalir begitu saja, “Terima Kasih Musa! puisinya sangat indah, dan aku terkesan kamu membuatkan puisi untukku”, ucapnya, kemudian aku bertanya, “kamu tidak marah?”, “mana mungkin aku marah, dulu setelah aku membaca buku puisimu, aku jadi ingin dibuatkan puisi olehmu, karena puisimu bagus”, jawabnya menjelaskan, “tapi aku tidak mau membicarakan keinginanku itu, karena takut akan mengganggumu, karena aku merasa mungkin itu tidak penting bagimu”, lanjutnya, aku kaget, sedikit belum percaya dengan apa yang dikatakan olehnya, “serius?”, tanyaku konyol karena penasaran, “ih serius”, jawabnya sambil tersenyum, “ini, lihat ini”, kataku sambil menunjukkan puisi-puisi di buku yang aku buatkan untuknya, “ini, aku buat semua puisi ini khusus untuk kamu, untuk Adinda Krasava”, lanjutku berkata jujur, aku menyebutnya Adinda karena itu adalah nama lengkapnya. “Ini semua?”, tanyanya, “iya, aku membuatnya secara diam-diam, semua puisi ini menggambarkan tentang perasaanku padamu”, entah apa yang membuatku berani berterus terang.

“Sudah sangat lama aku menyukaimu”, lanjutku mengungkapkan. Krasava meneteskan air mata, “kamu kenapa?”, tanyaku sembari mengusap air matanya. “Aku terharu ih”, kata Krasava tersenyum. “Terus bagaimana?”, tanyanya padaku, “bagaimana apanya?, justru aku yang mau bertanya, bagaimana perasaanmu terhadap aku?”, tanyaku. “Hmm.. aku juga menyukaimu”, jawabnya, “dan aku lebih suka lagi saat kamu bisa banyak bercerita seperti ini”, lanjutnya. “Hmm aku juga bingung kenapa aku bisa berbicara banyak sekali seperti ini padamu”, ungkapku, “tapi aku suka saat kamu seperti ini” terangnya. “Jadi, kamu mau?”, tanyaku polos, “mau apa?”, jawabnya mengejekku, “ya mungkin kita bisa lebih dari sekedar teman”, jawabku. Aku jadi lebih terbuka.

Tiba-tiba suara klakson mobil menghentikan obrolan kami, dan itu adalah mobil yang menjemput Krasava. “Musa aku harus pulang dulu”, katanya, “iya silahkan dan hati-hati”, pesanku, Krasava berdiri dan masuk ke dalam mobil, aku pun berdiri. Dia membuka kaca mobil dan berkata, “soal yang tadi, aku mau, terimakasih Musa”, kemudian tersenyum hangat padaku. “Iya kembali kasih Krasava”, jawabku sembari membalas senyumnya. Mobil melaju meninggalkankan Halte. Dan ternyata buku puisiku dibawa Krasava.

Hari ini hujan telah menjadi saksi bahwa Krasava telah membalas perasaanku yang kutuangkan lewat puisi, aku merasa senang karena selama ini ternyata perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan. I Love U Krasava..

Cerpen Karangan: Ay Rahmatillah
Facebook: Rahmat Illahi Ai

Cerpen Krasava (Mengungkapkan Lewat Puisi) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Matanku Hidayahku

Oleh:
Angin pukul tiga sore di balkon lantai tiga gedung kuliah mengantar sebingkis kenangan beserta rindu kepadaku. Lagu lebih indah dari Adera menjadi pengiring film pendek yang menggantung di bulu

Tabir di Balik Cintaku

Oleh:
Malam tampak sunyi, kegelapan menutupi batas cakrawala. Bulan tak menampakkan sinarnya. Bintang-bintang entah kemana rimbannya, yang membuang gelisah seorang gadis mungil. Sesekali terdengar suara katak yang mengiringi hujan yang

Petrichor

Oleh:
Pernahkah kalian mencium bau tanah saat hujan baru turun?. aroma menenangkan, aroma yang menjadi penanda bahwa bulir-bulir air mulai beranjak turun membasahi bumi. Aroma yang telah menjelma menjadi candu

Perhatian

Oleh:
Wanita berparas cantik rupawan wajahnya seperti Nirwana yang sangat indah. Wanita itu bernama Zainab, dia yang selalu memberi motivasi kepadaku untuk menjadi yang lebih baik lagi. Zainab ialah orang

Sahabat

Oleh:
Ini hari pertama duduk di bangku SMA bagi Tina. Gadis dengan rambut lurusnya yang menjuntai bak air terjun Angel itu bergabung bersama kawan-kawannya. Tak ada kata yang tepat untuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *