Kunanti Kinanti

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 18 December 2017

Hari ini tahun ajaran baru, yang artinya aku resmi duduk di bangku kelas 12. Leganya, karena artinya ini tahun terakhirku harus berdamai dengan orang-orang yang senantiasa mengusik ketenanganku ditambah tugas sekolah yang menyebalkan itu, eits bukan berarti aku anak yang nakal ya, aku bukan tipikal orang yang suka kekerasan kok, aku nggak pernah mau kalo diajakin berantem apalagi tawuran, mottoku adalah bersaing secara sehat, dalam konteks apapun itu, aku malah tergolong cerdas dan populer. Nggak bermaksud sombong, tapi tanpa belajarpun aku selalu menempati peringkat pertama baik di kelas maupun di sekolah.

Aku Alan Narendra, panggil saja Alan, bisa dibilang tipe ideal cewek-cewek. Aku nggak bermaksud membesar-besarkan diriku tapi memang begitu kenyataannya, siapa sih yang bakal nolak cowok yang tampangnya lumayan, udah gitu pinter dan populer? Ayo deh kita bertaruh, karena dua tahun terakhir ini saja sudah banyak yang mulai dari diam-diam sampai ketingkat agresif memberiku hadiah, saking seringnya yang aku ingat terakhir kali hanya Dinda, datang dengan penuh percaya diri mendatangiku saat lagi asik nongkrong dengan Edo, Rezza dan Juan teman segengku saat selesai UTS.
“Untukmu.” Kemudian pergi begitu saja setelah menyerahkan coklat beserta surat. Kalau diingat-ingat suka ngeri sendiri, karena kupikir tetap saja lelakilah yang harus gerak duluan, ah sudahlah mari bahas kejadian hari ini.

Aku sedang berusaha menahan kantukku akibat semalam terjaga nonton pertandingan tim favoritku, Chelsea yang berlaga melawan Arsenal, sialnya timku kalah diwaktu yang tidak tepat. Pertandingan jam 3 pagi itu membuatku ngantuk maksimal, sekarang ditambah hujan yang membuat semuanya terasa pas, ditengah usaha kerasku itu, wali kelasku masuk ke kelas dengan membawa seseorang yang tampak asing, karena sudah dipastikan aku belum pernah melihatnya di seantero sekolah ini selama dua tahun.

“Pagi, anak-anak, hari ini kalian kedatangan teman baru, namanya Kinanti, ayo Kinanti perkenalkan diri kamu,” ajak Bu Ratih. “Halo, nama saya Kinanti, Kinanti Sekar Wulandari, boleh dipanggil Kinan, saya baru saja pindah dari Bandung karena Ayah saya yang dipindahtugaskan ke Jakarta. Mohon bantuannya ya dan salam kenal,” ujar Kinanti ditutup dengan senyum. Kuperhatikan beberapa teman kelasku terutama yang lelaki menatapnya lekat-lekat, pasti mereka juga beranggapan sama denganku, batinku.

Namanya Kinanti, Kinanti Sekar Wulandari, sampai hapal diluar kepala dengan nama gadis itu padahal dia hanya menyebutkannya sekali. Memang manis sekali rupanya, tak bisa kulepaskan pandanganku padanya semenjak Ia resmi menjadi anggota baru di kelasku hari ini, bagaimana tidak, kelasku mendadak gaduh seolah sudah disetting untuk menyambut kedatangannya, ya Kinanti baru saja pindah ke sekolahku, dan beruntungnya menempati kelasku sebagai ruang persinggahannya kali ini.

“Kamu bisa menempati bangku yang kosong di sebelah Mega itu Kinanti”, ujar Bu Ratih, wali kelasku mempersilahkan sebelum kembali melanjutkan pelajaran. Kinanti menyunggingkan senyum saat dipersilahkan duduk, dan lagi, senyum itu membuatku tak bisa berhenti memperhatikannya. Ah sudah gila aku rupanya, gelengku dengan cepat, kalau saja Edo tidak menyenggolkan lengannya kepadaku, mungkin aku masih terlarut dalam lamunanku sendiri.

“Woi, ngapain lu bengong Lan? Ngeliatin anak baru itu rupanya ya. Hahahaha”, ledek Edo. “Lumayan sih tapi kalo gue perhatiin juga, ya nggak Za?” Edo melemparkan pertanyaannya pada Rezza, temanku yang duduk tepat di belakangku dan Edo. Rezza balas tertawa. “Sial.” Gumamku pada diri sendiri.

Bel istirahat berbunyi, kuputuskan untuk tidak pergi ke kantin bersama teman-temanku, Edo, Rezza, dan Juan walaupun mereka sudah sedikit memaksaku ikut, tadi. Aku ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk berkenalan dengan Kinanti, karena tadi Bu Ratih tidak memberikan waktu untuk kami berkenalan. Kulihat Kinanti masih sibuk menyesuaikan dirinya, sesekali beberapa temanku yang tinggal di kelas mengajaknya berbicara untuk sekedar berkenalan dan masih Kinanti terlihat canggung, syukurlah dia duduk dengan Mega, yang terkenal mudah berbaur dan bisa nyambung dengan siapapun, pasti itu akan membantu Kinanti beradaptasi lebih cepat.

Setelah separuh kelasku hampir kosong karena ditinggal penghuninya istirahat lengkap beserta Mega, kuberanikan diriku menghampiri Kinanti, biar sajalah kalau kalian menganggapku agresif kali ini, aku pun tak tahu mengapa, hm mengalir saja sepertinya.

“Hai Kinanti, gue Alan” sapaku berusaha akrab. “Hai, hehe” jawabnya masih sungkan, bisa dilihat dari betapa singkat kata yang diucapkannya. Tapi aku tak lantas berhenti disitu, aku mencoba mengajaknya berbicara hal-hal ringan lainnya. Kalau saja bel selesai istirahat belum berbunyi, kupastikan aku dan Kinanti masih larut dalam pembicaraan yang ku mulai, ternyata Kinanti asik juga, pikirku.

“Senang berbicara denganmu Kinanti,” ucapku mendadak kaku. “Hahaha,” gelaknya lepas. “Aku juga.” balasnya sambil tersenyum. “Nanti kita sambung lagi ya” kataku lantas kembali ke tempat dudukku sembari meluruskan pinggangku.

“Wah, ada yang udah gece banget pdkt kayanya, guys” lagi-lagi Edo meledekku sekenanya sembari duduk di bangkunya. “Gak bisa banget ditinggal lu Lan hahaha lain kali kalo doi nggak ikutan kita, kita ekorin aja terus.” sambung Juan. “Tumben-tumbenan seorang Alan yang cool ngajak cewek kenalan duluan, ngobrol lama lagi” Rezza tak mau kalah. “Gue cuman pengen tau temen-temen gue” jawabku seadanya. “Hahahaha, boleh juga alasannya” Juan menimpali, lalu disahuti tawa masing-masing mereka sementara aku masih sibuk terbayang obrolanku barusan yang terbilang singkat namun entah mengapa, mengena sekali.

Beberapa bulan berlalu, uts bahkan tinggal seminggu lagi, tak terasa sama seperti hubunganku dengan Kinanti yang kian hari kian dekat. Mungkin karena aku yang menganggapnya begitu, tapi Kinanti juga baik-baik saja selama dekat denganku. Sampai teman-temanku juga yang awalnya semangat menggodaku dengan ocehan-ocehan mereka tentang Kinanti, kini berbalik mendukungku untuk segera menyatakan perasaanku pada Kinanti. Aku tak bohong bahwa dari awal Kinanti datang, aku sudah jatuh cinta pada Kinanti. Aku pernah kok pacaran beberapa kali, tapi tak ada yang bisa membuatku sebegininya kalau bukan Kinanti. Berlebihan dan klise mungkin, sehari saja tak melihat Kinanti, seperti kurang rasanya, aih.

Akhirnya hari itu datang juga, tepat setelah uts, aku dan Kinanti jadian. Hari-hari semakin terasa indah jadinya. Bahkan kabar kalo aku dan Kinanti jadian cukup membuat heboh seisi sekolah, aku berhenti dikirimi hadiah entah oleh siapa itu melainkan dikirimi surat permohonan agar aku segera putus dengan Kinanti, yang notabene kami baru saja jadian. Kuberitahu Kinanti tentang ini, tapi dia hanya tertawa menanggapinya.

Satu bulan, dua bulan, tiga bulan Kinanti semakin membuatku bahagia, hubungan kami adem-adem saja sampai dia diharuskan pindah lagi padahal ujian akhir tinggal beberapa bulan lagi. Sedih sekali rasanya baru saja aku merasa sebahagia ini, tapi sudah harus ditinggal lagi. Kinanti akan pindah ke Pontianak, membayangkannya saja sudah jauh sekali rasanya, tapi tetap kudoakan juga yang terbaik untuknya semoga lekas bertemu lagi, secepatnya.

Sebelum keberangkatannya ke Pontianak, pagi itu itu kuhabiskan menemani Kinanti berkemas dan memastikan tidak ada lagi yang tertinggal. Kinanti duduk di sebelahku sesudahnya, tiba-tiba tangisnya pecah. “Lan, maaf ya nemenin kamunya baru sebentar, bukan mauku juga” ucapnya sedikit terisak. Kusibakkan rambut yang mulai menutupi wajahnya “Kinan cantik, nggak papa, kan cuman bentar, kita masih bisa teleponan atau video-call, ya kan?” balasku sok bijak. Aku hanya tak ingin Kinanti merasa berat untuk pergi walaupun kenyataannya aku juga enggan mengizinkannya pergi. “Nanti, kalo udah selesai sekolah, kita masih bisa ketemu kan, nanti bisa kuliah bareng-bareng, nggak papa.” Imbuhku lagi.

Klise sekali kisah cinta SMA-ku ini, masih sekolah saja sudah berat begini melepas pacar yang baru seumur jagung, maafkanlah memang sebegitunya sayangku pada Kinanti, cinta pertamaku. Beberapa bulan ini, jujur saja, kami tidak pernah bertukar kado ataupun mengumbar kata-kata mesra satu sama lain, buat bilang sayang aja aku dan Kinanti perlu berpikir beberapa kali untuk mengungkapkannya agar tidak terkesan selalu mengumbar sayang, nanti bosan kalau diucapkan keseringan. Tapi kali ini, Kinan menatapku sesaat, “Aku sayang kamu, bukan karena kamu pinter, populer atau apapun itu yang orang lain bilang, aku sayang kamu, karena kamu.” Aku terdiam, nggak biasanya Kinanti ngomong ‘manis’ begini, kutangkap aura matanya yang benar tulus mengungkapkannya. “Aku bahkan udah sayang sama kamu dari awal kamu jadi temen baruku di kelas Nan.” Ujarku sambil memeluknya.

“Kunanti Kinanti.” Tambahku lagi, “Mau kita sekarang ataupun nanti keadaannya lagi nggak bisa sama-sama, tetap kunanti Kinanti,” imbuhku menenangkan. Cinta yang terkesan klise ini pun mengantarkan Kinanti pergi jauh dari Jakarta, belum tahu sampai kapan, tapi yang pasti aku sudah meyakini apa yang kuyakini, menanti Kinanti adalah pilihan yang paling tepat, karena ku yakin Kinanti juga sama. Sama-sama enggan untuk melepaskan karena pertemuan yang sebentar namun menggetar. Titip pesanku untuk Kinanti yang akan selalu kunanti, cinta pertamaku.

Cerpen Karangan: Agatha Novita
Facebook: Agatha Novita Sr.

Cerpen Kunanti Kinanti merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perpisahan

Oleh:
Hai! Namaku Alexandra Farrelsya Putri, kalian bisa memanggilku Arrel. Aku mempunyai seorang sahabat, namanya Vina. Dia itu sahabat terbaikku di dunia ini. Dia itu sangat baik, cantik, juga manis

Hujan Penghantar Kerinduan

Oleh:
Malam ditemani hujan deras memilukan hati, di situ Randy terkulai di pojokan kamar menatap kosong jendela basah yang dihantam hujan. Sesekali guntur menyapa, raut mukanya pucat, Lesu, lunglai tak

Kekuatan Cinta

Oleh:
Geany, cewek berumur 13 tahun yang duduk di bangku SMP. Dia cantik dan kaya, namun dia cuek sekali. Di sekolahnya, banyak yang menyukai dirinya karena dia cantik dan kaya.

Garis Alger

Oleh:
Jantung yang berdegup kencang, semakin aku sadar ia bukan milikku, membawa ku pada realitas yang ada. Aku melihatnya berdiri disana sama kakunya, seperti telur rebus yang dipertontonkan. Aku selalu

2 Days

Oleh:
Di sebuah kamar, seseorang sedang melamun di atas tempat tidurnya sambil memegangi ponselnya. Suara orang itu terdengar “Aku belum tahu persis perasaanku, 7 bulan ini kau memberikan perhatian yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *