La Saint Valentin

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 27 July 2016

Aku melihat ke setiap sudut di kota itu. Memancarkan aura merah muda di hari itu. Awan, langit, semua merah muda. Gadis-gadis pun merias diri di depan kaca. Pipinya dirias merah muda. Tampak seperti gadis yang malu-malu untuk bertemu pasangannya di hari itu. Di taman-taman, kan banyak pasangan bermesraan. Khususnya di hari ini. Berbagi kasih, berbagi cokelat. Ya, La Saint Valentin.

Pagi buta, Airesz sudah merias diri di depan cermin. Mataku masih lamur dan mengernyitkan dahi melihat gadis itu. Senyumnya terpantul dari cermin. Airesz pun menatapku dan melempar senyum padaku,
“La Saint Valentin, Gyfta!”
“Oh ya? Hari ini? Hmm… Ternyata karena itu ya kamu merias diri sedini ini?”
“Iya. Aku akan bertemu kekasih ku, Gwelion. Hmm… Dia berjanji akan memberiku kejutan manis hari ini.”
“Kejutan manis?”
“Iya. Aku harus menampilkan diriku yang terbaik. Harus! Harus! Sudah cantik kah aku?”
Aku mengangguk dan kembali ke ranjang tidurku. Masa bodoh, tidak ada yang indah di La Saint Valentin. Lagipula, aku hanyalah seorang yang melajang namun bahagia. Yang tak akan merasakan sakit hati dan tak merasakan harapan palsu. Begitulah pikirku.
“Hey! Ayo, ikut aku!”
“Kemana, Airesz? Masa bodoh ah! Aku tak punya pasangan!”
“Ayolah ke Roseraie Du Val De Marne! Disana banyak cowok-cowok ganteng, bisa, bisa cari pasangan disana.”
“Kau pikir itu menyenangkan? Sama sekali tidak.”
“Gyfta, jangan biarkan La Saint Valentin berlalu tanpa hal yang berkesan. Ini momen setahun sekali. Masakah kau biarkan hari indah bagi semua orang berlalu begitu saja? Terlalu bodoh.”
“Pemaksaan benar. Kau pergi dulu saja sana. Aku tak mau ditunggu. Biarkan aku bergerak sendiri.”
“Tapi, janji ya kesana. Temui aku.”
“Bla bla bla… Iya, nanti aku kesana.”
Ia pergi. Kini aku melihat ke luar jendela. Burung-burung tampak terbang berdua diikuti pasangan lain. Kupu-kupu beterbangan riang di depanku. Dan di balkon tetangga, kulihat sepasang kekasih yang telah tua tengah duduk berdua dengan mesranya menikmati hari ini. Kupikir, benar juga kata Airesz. Apa salahnya Si Lajang ini menikmati apa yang mereka nikmati? Bergegas aku merapikan diriku untuk pergi menemui Airesz di Roseraie Du Val De Marne.

Sepanjang perjalanan, mataku tak mampu berhenti melirik ke setiap sudut kota ini. Hampir tak ada raut muka sedih di antara mereka. Baik yang bersama pasangan, maupun sendiri. Aku berpura-pura ikut tersenyum meski aku sendiri tak mengerti mengapa aku tersenyum. Tiba-tiba…
“Hey, berikan senyum yang ikhlas! Tidaklah baik hanya berpura-pura!” begitu sapa pemuda lelaki yang manis dan tersenyum padaku.
“Oh! Maaf, aku melajang. Jadi aku tak tahu apa yang harus kubahagiakan. Selain, aku bisa hidup sampai saat ini. Namun, tetap melajang.”
“Tidaklah mengapa lajang bahagia. Aku pun juga. Tapi, aku suka La Saint Valentin. Di La Saint Valentin lah kita bisa lihat adegan cinta bervariasi selama 1 hari penuh. Seperti film bioskop gratis yang berkualitas namun tak mengocek kantong.”
“Wah! Benar juga ya katamu itu! Bodohnya, aku tadi hampir saja memutuskan untuk bersembunyi di kamar saja sehari penuh ini.”
“Salah…Salah…Salah! Ini hari yang tepat bagi Si Lajang untuk melihat ke depan. Tentang hari depan bagaimana cinta yang akan diwujudkan suatu saat. Bagaimana cara menyayangi pasangan. Justru, inilah tontonan khusus para lajang, bukan?”
“Kalau dipikir-pikir, iya benar juga ya. Oh iya, tidaklah baik jika di La Saint Valentin kita tidak saling mengenal. Namaku, Gyfta. Dan kau?”
“Oh! Iya, namaku Felizco”
“Hai, Felizco. Senang bisa mengenalmu. Tapi, aku harus ke Roseraie Du Val De Marne. Aku sudah berjanji dengan sahabatku kesana. Meskipun disana, aku hanya seorang diri”.
“Biar kutemani saja. Aku tidak punya tujuan kemana-mana namun aku ingin pergi kemana-mana. Mungkin, keberatankah jika aku ikut kau?”
“Wah! Sama sekali tidak. Justru aku senang ada yang menemaniku. Barangkali kita bisa menikmati kopi hangat juga disana sembari mengobrol. Ini hari pendekatan yang baik, bukan?”
“Sangat baik. Terimakasih telah mengizinkanku menemanimu. Kita naik sepeda saja. Musim gugur akan terasa harmonis jika kita naik sepeda bersama.”
“Ide yang bagus, Felizco!”
Kami pun melintasi jalanan di mana guguran daun menjatuhi kami berdua. Senyumku terus terukir sepanjang perjalanan bersamanya. Entah mengapa, dia sosok yang menyenangkan untuk ku. Nampaknya, daun cinta mulai gugur ke hatiku.

Roseraie Du Val De Marne. Begitu banyak pasangan berkumpul di tempat itu mengumbar cinta. Wajah tersipu malu, pelukan hangat, senyum yang manis, begitu kental terasa disini. Apalagi kecupan hangat dan spesial.
“Wah! Filmnya sudah dimulai. Jangan sia-siakan waktu ini!” Ujar Felizco menarik tanganku dan berlari meninggalkan sepeda yang telah diparkir. Kami tertawa bersama. Sepertinya, aku lebih menikmati pendekatan kita berdua dibanding mereka-mereka yang ada di sekelilingku. Kami berhenti sejenak, dan duduk beristirahat. Di sebuah bangku yang kosong, namun masih terasa hangat oleh pasangan yang tadinya duduk disini.
“Lihat! Sudah tua, masih saja mengajak pasangannya menikmati La Saint Valentin di tempat ini. Melangkah jauh-jauh sudah capek, namun melangkah demi menyenangkan kekasih tak akan ada kata lelah hingga akhir menutup mata.”
“Puitis sekali kau, Felizco! Ck… Sungguh hidup cinta yang indah ya. Sampai masa tua tak ada perpisahan dan kebosanan. Cintanya tetap awet muda.”
“Iya. Yang namanya cinta sejati, tak akan membosankan. Terus baru, baru dan baru. Justru semakin memikat hati.”
“Di tengah remuknya cinta pada zaman ini, sungguh langka mendapati cinta utuh sampai mati. Tontonan yang bagus untuk Si Lajang. Mengajarkan kesetiaan dalam cinta.”
“Akhirnya kau menyadari itu, Gyfta.”
Aku mengangguk. Sesekali kucuri pandanganku pada Felizco. Matanya menyimpan sebuah rekaman cinta yang indah. Ia merekam setiap bentuk cinta yang ada di sekelilingnya. Sehingga, terlihat begitu berpengalamannya ia pada persoalan cinta.
“Jangan melamun, Gyfta. Rekamlah setiap bentuk pernyataan cinta. Sangat disayangkan jika kita tidak belajar dari apa yang kita lihat. Padahal sungguh banyak hal yang bisa kita ambil dari semua itu.” Tiba-tiba ia menghentak lamunku. Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Tiba-tiba ia menatapku dan tersenyum,
“Sepertinya kau bosan ya dengan semua ini?”
“Hmm… Iya, sepertinya ini hal yang biasa ku lihat di film. Bedanya, ini bentuk nyatanya.”
“Ya, aku rasa juga begitu. Dari raut wajah, dan tatapanmu memang sudah terlihat. Ya sudah, kita bersepeda ria sajalah. Berpetualang lebih jauh!”
“Ayo!”
Kami berlarian dan pergi dari tempat itu. Mengayuh sepeda ke jalanan, sembari sesekali meraih gugur-gugur daun yang perlahan memenuhi jalanan. Benar saja kata Felizco, musim gugur paling enak dinikmati dengan bersepeda. Apalagi berdua. Felizco memang lelaki ideal yang kutemui. Bersamanya aku hingga lupa janjiku pada Airesz. Masa bodoh ah! Airesz juga tak akan terlalu memikirkan itu. Kan, ada Gwelion yang menemaninya. Kami bersepeda, tertawa, bersenandung lagu-lagu cinta yang menambah keeratan kami berdua. Perlahan, kami menyusuri jalanan yang makin sepi, jauh dari keramaian, dan tidak ada pasangan disana yang dapat kulihat di sepanjang jalanan tadi. Senyumku sedikit memudar. Pikiranku telah berlari kemana-mana. Aku bukan tipe yang baik untuk terlalu cepat lekat dalam cinta yang berlebihan.
“Jangan berpikir yang aneh-aneh. Aku tidak akan macam-macam padamu. Tak akan sampai hati aku demikian padamu. Lagipula, terlalu mahal dirimu untuk menerima itu.” Ia tersenyum menenangkanku. Kami berhenti disana dan berjalan ke arah tempat nisan-nisan tersebar disana.
Tak kudapati pasangan disana. Hanya seorang pria, juga seorang wanita, gadis, membawa bunga ke nisan yang mereka tuju.
“Bingung mengapa aku mengajakmu ke tempat ini?”
Aku mengangguk dan mengernyitkan kening.
“Disini, mereka menaruh bunga kepada kekasih mereka yang telah berbeda dunia dengan mereka. Di La Saint Valentin lah, mereka memberi bunga walau bukanlah untuk mereka yang hidup bersama dengannya. Indah, bukan?”
Aku terdiam, terpaku mengamati mereka dan mengingat apa yang baru saja Felizco katakan.
“Jadi, mereka tetap mengindahkan La Saint Valentin untuk mereka yang tak disampingnya?”, tanyaku.
Ia mengangguk lalu, ia memetik bunga mawar dari pekuburan itu.
Ia mencabuti duri-duri dari batang bunga mawar itu. Hingga tangannya lecet dan mengeluarkan darah.
“Felizco, hati-hati! Jangan berbuat yang aneh-aneh. Untuk apa kau…” Aku berhenti berucap tatkala ia mulai melilitkan batang mawar itu di jari manis tangan kananku. Tidak terlalu kencang karena ia tahu itu menghambat peredaran darah. Setelah itu, ia tersenyum diikuti darah pada jarinya yang terus mengalir.
“Fe…Fe…Felizco…”
“Gyfta. Ini adalah cincin untukmu di La Saint Valentin. Memang tidaklah semahal emas dan perak. Tidak juga seberkilau permata. Hanyalah murahan, hasil jumputan tumbuhan, yang kan layu esoknya. Aku hanyalah sebatang kara, yang tak mampu memberi yang lebih dari semua itu. Semua yang begitu berharga oleh harga yang mahal. Tapi, inilah yang kumampu. Memberi dan melilitkan bunga mawar padamu. Tak perlu kuatir duri yang menusuk dan melukai. Aku telah membersihkannya dari duri. Ini bukti terimakasihku padamu, Gyfta. Telah menemaniku di La Saint Valentin. Telah menghidupkan cinta yang telah layu sekian lamanya. Namun, tak kupaksa kau kumiliki. Hanya kunyatakan bahwa, aku akan melindungimu selama aku masih mampu melihatmu, di sisiku.”
Perlahan airmaku menetes, diiringi darahnya yang terus menetes dan gugur daun.
“Dan darah ini, bukti, aku berani terluka asal kau tak mengapa. Jangan menangis, peri mungil yang cantik.” Ia tersenyum begitu manisnya. Tak ada tatapan penipuan dari kata-katanya, yang dapat kulihat hanyalah tatapan cinta yang begitu tulus dari hatinya. Aku masih menganga terdiam tak percaya. Aku melayang pada dunia yang belum pernah kuhuni sebelumnya. Yang kuabaikan sekian lamanya. Kini ia bersemi.
“Bolehkah aku mengusap airmatamu?” Ia bertanya sembari menghempas lamunku. Kini, aku mengangguk sambil tersenyum meski airmataku semakin deras mengalir. Ia mengusap airmataku dan mengelus pipiku.
“Berikan senyum manismu sebagai hadiah La Saint Valentin!”. Aku tersenyum dan tiba-tiba aku memeluknya erat dan tangisku makin deras. Tangis bahagia yang tak pernah ku alami di hari-hariku yang lalu. Begitu terasa hangat cintanya ketika kupeluk dia. Hari pun perlahan sudah sore. Kami pun bergegas kembali ke rumah masing-masing. Ia mengantarkan aku pulang. Sepanjang perjalanan, kupegang erat dirinya dalam cinta. Begitu berbeda rasanya dibanding hari-hariku yang telah lalu. Kupandangi angkasa, awan senja yang seolah berbentuk hati membuatku tersenyum dan yakin, dialah yang kupilih menjadi cinta pertamaku. Sesampai di depan rumahku, dia pun menatapku dengan penuh kasih sayang. Kami terdiam sebentar. Ia pun menggenggam tanganku,
“Jaga dirimu baik-baik, Gyfta. Aku bersamamu.”
“Terimakasih banyak, Felizco.” Begitu ujarnya lalu pergi dengan sepedanya.

Esok telah tiba, hari yang indah untuk memulai hari baru bersama pengisi hati yang baru. Felizco. Aku kali ini bangun lebih awal dan mencoba ke luar rumah tuk menghirup udara pagi dan menyapa matahari. Namun, aku melihat sepeda Felizco berdiri di dekatku. Sepeda yang kutumpangi bersama Felizco kemarin. Dan ada secarik kertas sengaja ditempel di sepeda itu, “Ke Pekuburan”
Pikirku mulai tak tenang saja. Apa yang terjadi dengan Felizco? Pagi yang harusnya indah, kini berantakan tak karuan begini. Aku segera mengayuh sepeda secepat mungkin ke arah pekuburan. Dengan penampilan yang masih berantakan, masih berbau bangun tidur, hanyalah mencuci muka dan menggosok gigi. Aku tak peduli itu sementara pikiranku mengkhawatirkan Felizco.

Di jalan menuju pekuburan terlihat satu keluarga kecil berkumpul pada satu peti yang masih baru tergeletak disana. Adapun pendeta yang berkumpul juga bersama keluarga itu. Tidak ada Felizco. Semakin pupus harapanku. Airmata kekhawatiran mengalir ke pipiku. Aku tak mampu berkata-kata tatkala seluruh anggota keluarga kecil itu menatapku curiga, dan pendeta itu pun juga demikian. Dan salah satu gadis dari keluarga kecil itu, dengan gaun putihnya yang kusam membawa foto Felizco. Aku histeris tak percaya, begitu singkat waktu untuk kami bersama. Aku berlari mendekati peti dan menangisi tubuh Felizco yang telah pucat tak berdaya disana. Begitu rapuh hatiku dan tak mampu mengucapkan betapa sakit yang luar biasa. Cinta pertama harus lenyap dalam sehari saja. Indahnya bagaikan mawar yang esoknya telah layu. Tiba-tiba mata Felizco terbuka, ia tersenyum melihatku. Ia terbangun dari peti dan menyodorkan cincin dan berkata,
“Maukah kau menjadi pendampingku kelak?”,
Lagi-lagi aku dibuatnya menganga tak percaya. Sedikit lama aku menganga sambil berpikir
“Ya, aku sangat mau!”
Lalu, seluruh anggota keluarga kecil itu bersorak. Aku tersenyum malu sambil menangis terharu. Felizco menggenggam tanganku dan merangkulku.
“Felizco… Kau ini…”
“Sssstt… Sekarang panggil aku dengan sebutan Sayang”
“Ah kau ini! Sayang, aku malu dengan baju kusamku ini, penampilanku, sangat berantakan.”
“Sudahlah, Sayang. Tak usah mewah-mewah. Kecantikanmu tidak akan pudar kok. Wajah naturalmu adalah wajah tercantikmu bagiku”. Walau begitu, aku masih sangat malu apalagi disaksikan oleh mereka-mereka juga.
“Ayah, ibu, adik-adikku, inilah calon pendampingku. Aku sangat mencintainya. Biarkan kami bersatu.”
Lalu, mereka pun bersorak mengiyakan itu. Sungguh suasana yang sangat indah dan harmonis. Bersama keluarga kecil, sederhana itulah aku bertumbuh dalam cinta yang luar biasa mewah, yang tak bisa disamai oleh yang lain. La Saint Valentin yang berkesan, bersama Felizco Fernando.

Cerpen Karangan: Jessica Desideria Tanya
Facebook: Jessica Desideria Tanya

Cerpen La Saint Valentin merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surprised

Oleh:
“Gue capek, gue mati rasa sama dia, hati gue hambar sekarang sama dia” seru Riri membuang tubuhnya ke kasur kamarnya “Loe yakin?” Karin meyakinkan dirinya dengan keputusan sahabat semata

Decision

Oleh:
‘Kebohongan terbesarku saat aku berkata tak lagi mencintainya..’ Maret 2226 Harus ku apakan hujan di luar sana, hm? Petir saling menyambar berlomba gelegar. Biasanya kau meringkuk di bawah meja

Lihat Dengan Hati

Oleh:
Katanya sih bulan-bulan berakhiran imbuhan ber itu menandakan musim hujan. seperti bulan September ini. lagi dan lagi aku duduk di taman. aku gak akan pernah lupa ataupun melepaskan kenangan

Akhirnya

Oleh:
Hey tau kah kamu secret admirer itu apa? Ya seorang pemuja rahasia. Tidak buruk juga mengalami hal semacam itu. Ya setidaknya hanya Tuhan dan kamu yang tau. Sebut saja

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *