Last Firework’s Festival

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Jepang, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 20 October 2014

Sehari sebelum festival kembang api, aku dan pacarku, Arata, sibuk memilih Yukata yang serasi untuk kami. Festival kembang api tahun ini adalah yang terbaik. Aku sangat mengharapkan momen seperti ini. Apalagi, Arata cuma pasrah dengan apa yang aku lakukan. Biasanya dia memberontak.

“Sayang, kamu mau pakai Yukata biru ini?” tanyaku sambil menunjukkan Yukata biru padanya.
“Jangan panggil ‘sayang’ begitu. Panas.” jawabnya cetus.
Arata tidak suka pacaran yang sok romantis gitu. Dia lebih sering memanggilku ‘Akichan’. Namaku Akita, lho.
“Terus, kamu mau Yukata mana?” tanyaku lagi.
“Yukata yang itu pun bagus. Aku suka biru.” ujarnya tersenyum.
“Benarkah?”
Aku senang dia suka yukata biru pilihanku. Selama ada festival, dia tidak pernah pakai yukata. Katanya ribet, lebih simple pakai T-shirt dan Jeans dengan robekan sedikit di lututnya. Walau dia manis dan cool, dia orang yang jarang mengobrol. Pilang sekolah, langsung kerja paruh waktu. Pulang kerja, mengerjakan tugas sekolah. Selesai itu, langsung tidur. Aku selalu protes dia selalu sibuk dengan pekerjaannya sendiri.

“Aku ingin cari uang banyak untuk melamarmu.” kata Arata di depan teman-temannya.
Aku terdiam. Senang dan bahagia dia bilang begitu tanpa basa-basi.

“Arata, aku ingat ucapanmu waktu itu, lho.” ujarku tersenyum sendiri.
“Kenapa? Kau tak suka?”
“Justru aku suka.”

Kami berjalan sambil bergandengan tangan. Arata membawa 2 tas berisi “Yukata biru kami”. Musim panas tahun ini benar-benar indah. Walau panasnya tak sepanas biasanya, bagiku musim ini begitu hangat.
“Musim panas tahun depan, kita bisa melihat festival kembang api lagi atau tidak ya?” tanya Arata.
“Menurutmu?”
“Mau kamu?”
Mulai jail. Kucubit pinggangnya sampai dia teriak minta maaf dan tertawa.
“Kamu!”
“Maaf!”
Kami pun diam sesaat. Aku baru sadar tangannya begitu dingin.
“Oh.. supaya kamu nggak kepanasan.” sahutnya.
Dia menggenggam tanganku. Dia agak aneh. Dia tidak seperti ini sebelumnya.
“Aku ingin selalu bersamamu, Akichan.” katanya.
“Lho, kita memang selalu bersama kan?” ujarku heran.
Arata hanya tersenyum kecil.
“Aku ingin melihat festival kembang api tahun depan.” katanya lagi.
“Tentu saja.” sahutku.
“Apa aku bisa melihatnya lagi tahun depan?” gumamnya dengan tatapan kosong.
“Maksudmu?”
“Bukan apa-apa.”

Akhirnya, malam festival kembang api pun tiba. Sebelum acaranya dimulai, kami berjalan-jalan melewati stan-stan permainan dan kios-kios penjual makanan. Arata memakan gulali sambil memperhatikanku memilih pita rambut.
“Mana yang cocok?” tanyaku meminta pendapat.
“Semua cocok.” jawabnya.
“Satu saja.”
“Semua saja.”
Arata mengeluarkan dompetnya sambil menggigit tusuk gulali. Pipinya jadi penuh gulali.
“Aku yang bayar.” katanya sambil menyodorkan uang pada si penjual.
“Terima kasih.” ujar si penjual.
Aku agak heran padanya. Biasanya kalau masalah uang dia pelit. Karena melihatku yang ke-heran-an ini, dia tersenyum
“Nggak boleh pacarnya membelikan sesuatu untuk pujaan hatinya?” tanya Arata jail.
“Ah… bukan begitu. Kebetulan aku bawa uang lebih banyak dari biasanya.” kataku asal.
“Kalau begitu, traktir aku makan Takoyaki. Aku lapar.”
“Oke!”

Kami pun pergi mencari kios yang menjualb Takoyaki. Puas berkeliling, kami membeli takoyaki dan mencari tempat yang enak untuk melihat kembang api. Banyak juga para pasangan yang sudah hadir.
“Ayo-ayo! Sebentar lagi dimulai!” ujarku seperti cacing kepanasan.
Kami duduk di pinggir sungai sambil melahap takoyaki. Festival kembang api pun dimulai. Kembang api pertama meluncur ke atas dan langit malam menjadi berwarna. Lalu muncul kembang api lainnya yang membuat orang berdecak kagum. Malam jadi sangat indah. Aku mempotret beberapa kembang api yang menurutku bagus. Kami juga berfoto bersama. Arata tampak senang.
“Bagus kan?”
“Ya, bagus!”
Saat aku sibuk dengan hasil jepretanku, tiba-tiba dia mencium pipiku dan di foto dengan kamera ponselnya.
“Eh..?” aku kaget.
“Dapat!” seru Arata jail.
“Dasar licik!” geramku pura-pura marah. Pipiku jadi memerah.
“Aku kan memperlihatkan foto ini di Facebook-ku. Kamu like ya!” ujarnya tersenyum lebar.
“Ogah!” sahutku.
Pasti aku like, dong! pikirku. Arata tertawa kecil sambil sibuk dengan ponselnya. Dia juga menjadikan foto itu sebagai wallpaper di ponselnya.
“Aku lebih cocok menjadi seorang fotographer daripada kamu.” ledeknya saat melihat hasil fotoku.
“Biarin!” cetusku.

2 jam festival kembang api berlangsung, kami beranjak pergi den jalan-jalan lagi. Nggak capek, deh, jalan bareng pacar.
“Capek, ya? Mau aku gendong?” tanya Arata.
“Kalau jalan bareng kamu, 10 km lah aku sanggup kok.”jawabku.
“Gombal.” celetuk Arata.
“Kamu nggak pernah nge-gombal-in aku, sih. Kayak ‘kaulah bulan, kaulah bintang’ begitu.” katanya tersenyum geli.
Aku tertawa, diikuti olehnya. Malam yang penuh tawa ceria. Tangannya tetap dingin, tapi tidak begitu dingin saat menggandengku.

Kami terdiam sesaat. Arata menatapku.
“Sejujurnya, banyak hal yang ingin kulakukan denganmu.”
Aku tersenyum, tapi matanya tampak sayu dan bibirnya agak pucat.
“Boleh aku panggil kamu ‘sayang’?” tanya Arata.
“Tentu saja. Aku kan, pacar kamu.” jawabku.
Arata tertunduk malu sambil tersenyum.
“Sayang, aku suka kamu.” kata Arata.
Kalimat romantis pertama yang dia ucapkan.
“Aku juga suka kamu, sayang.” balasku.
Arata memelukku dan mencium keningku. Dia melakukan hal yang belum pernah dilakukan pada mantannya.
“Aku ingin berpelukan.” katanya.
“Uwaah… panas.”
Kami tertawa lagi. Hari ini rasanya dia banyak berubah. Aku memeluknya juga. Jadi berpelukan deh!
“Aku akan melindungimu. Aku akan menjadi tameng untukmu.” katanya lagi.
Aku tidak begitu mengerti, tapi aku suka kalimat itu.
“Aku ingin selalu bersamamu…”
“Aku juga.”

Kami berencana pulang ke rumah karena dia tampak tidak sehat. Kami melewati jalan yang agak sepi. Lalu sebuah truk mengangkut besi-besi panjang dan runcing melaju cepat. Melihat kami di pinggir jalan dan nyaris tertabrak, sopir turk itu membelokkan truk dengan kecepatan tinggi, sampai jatuh tergelincir. Isi muatannya berjatuhan.
Arata memelukku dan menjadikan tubuhnya sebagai tameng untukku saat batang-batang besi yang tajam dan panjang itu menghujani kami. Hingga 2 batang besi itu menusuk punggungnya dan tembus hingga nyaris ke perutku.
Arata langsung mendorongku saat gerbong itu meluncur dan menghantam tubuhnya. Yukata biru itu penuh darah. Aku langsung berlari menghampirinya yang tergeletak di tengah jalan.
“Arataaa…!!” teriakku.
Aku cuma bisa menangis saat orang-orang datang membantu. Di sisa tenaganya, tangannya mengusap air mataku.
“Kamu harus bertahan! Aku nggak mau kamu sakit!” kataku sambil memeluknya.
“Akan.. lebih.. baik.. menyakitkan lagi.. jika kamu menangis.” katanya pelan dengan nafas tersenggal-senggal.
Aku menangis sekera-kerasnya.
“Maaf..a, aku.. tidak.. bisa.. me, melihat.. fes..tival.. itu… dengan.. mu…”
“Kamu harus bisa!”
Kini aku harus melepaskannya. Festival terakhirnya, dan aku sadar mengapa dia mengucapkan hal aneh seperti itu. Kembang api terakhir mengantarkan kepergiannya.

Cerpen Karangan: Dinda Bestari
Facebook: Ayuma Hanagisa Chiie Dhienda

Cerpen Last Firework’s Festival merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


4BFL

Oleh:
Namaku Lyneta.. Aku selalu merasa hidup ini tidak adil, semua orang yang kusayang perlahan menghilang dari hidupku. Pertama adalah ayahku, ia meninggal karena kanker empedu langka yang ganas, Colangio

Dinda dan Raffa

Oleh:
“Din.. Dinda!. Duduk dulu dong, Din!.” “Apa? Gue udah ngerasa cukup, Fa!.” Kata cewek itu sebelum melangkah kan kakinya menjauhi tempat itu. “Gue pulang.” Lanjutnya tanpa menoleh ke lawan

Dibalik Senyum Profesi Reporter

Oleh:
Jum’at 18 juli tahun 2007 dimana hari ini aku alvita berprofesi sebagai reporter bersama teman lelaki pemegang kameraku taufiq, kita ditugaskan meliput dan mewawancarai salah satu masinis kereta krl

Pacarku Daun Muda (Part 1)

Oleh:
Memangnya salah ya kalau aku mempunyai pacar yang umurnya lebih muda beberapa tahun dari umurku? Bukankah ada pepatah yang mengatakan cinta itu tidak memandang umur, status, keturunan dan yang

Love The Way You Are

Oleh:
“Ninaaaa…!” Zain tergopoh-gopoh mengejar Nina yang sudah menaiki tangga di lobi sekolah. Tapi, kayaknya Nina nggak menggubris. Dia terus melangkah tanpa menoleh ke arah Zain sedikitpun. “Tega banget! Tadi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Last Firework’s Festival”

  1. Angellica Brillianti Noyala says:

    Aku suka! Langsung ngefeel apalagi sambil dengar lagu ‘Utakata Hanabi’ jadinya ilfeel deh ^-^v, ngomong ngomong kakak terinspirasi dari lagu itu ya? Soalnya mirip sih… \(^-^)/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *