Lelaki Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 9 April 2016

Seorang gadis sedang duduk di halte menunggu hujan reda. Namanya Maya. Mahasiswi semester 3 di sebuah universitas. Dan, hal yang paling tidak ia suka adalah, BASAH. Tiba-tiba seorang lelaki yang baru saja menembus rintikan hujan, masuk ke dalam halte. Ia duduk tepat di dekat Maya. Maya merasa tidak nyaman.
“Mas, bisa duduk jauhan sedikit tidak?” tegurnya. Lelaki di sampingnya malah tersenyum.
“Maaf, saya merasa kedinginan. Dan di samping Mbak saya merasa hangat,” ucap lelaki hujan itu. Maya tersenyum sinis. Gombal, ucap Maya dalam hati.
“Mbak-nya dari mana?” tanya lelaki hujan setelah ia bergeser beberapa centi.
“Dari pulang kuliah.” Maya tersenyum tulus. Lelaki itu mengangguk-angguk.

“Kuliah di mana, Mbak?” tanya lelaki hujan lagi.
“Di UI, Mas!” Maya mulai kesal. Ia tidak suka orang yang cerewet.
“Jurusan apa?” lelaki itu bertanya tanpa dosa. Lagi-lagi dengan senyum manisnya. Maya mulai kesal.
“Saya pulang kuliah dari UI jurusan Sastra semester 3. Rumah saya di Blok M no. 3 Perumahan Nusa Indah. Puas?” Lelaki itu menyadari kesalahannya.
“Kok Mbak gak pulang-pulang, sih? Ups..” lelaki itu menutup mulutnya menggunakan tangan dengan ekspresi yang lucu, setelah ia menyadari ia salah telah bertanya. Maya tertawa.

“Kamu tuh ternyata lucu, ya?” ucap Maya di tengah tawanya. “Ini kan lagi hujan. Dan aku gak suka sama yang yang namanya basah. Jadi aku milih buat nunggu nih hujan sampai selesai aja. Lagian di rumah juga gak ada siapa-siapa, cuma pembantu. Mama pergi kerja dan pulangnya pasti nanti malem. Kakak laki-lakiku gak pernah pulang, selalu nginep di rumah temennya. Ayah, gak tahu di mana. Dia sudah pergi sejak aku kecil. Tapi, bukan meninggal, ya? Lho? Kok aku jadi curhat ke kamu, ya? Aduuuhh.. Maaf, ya?” Lanjutnya. Maya keceplosan curhat. Begitulah Maya. Ketika ia merasa nyaman dengan seseorang, ia akan bercerita tentang beban yang sedang ia rasakan. Lelaki hujan itu hanya tersenyum simpul, menandakan ia nyaman juga berada di dekat Maya. “Tenang aja. Kalau mau diterusin juga gak apa-apa kok,” ucap lelaki hujan. Maya tersenyum lalu menggeleng. Lelaki hujan lalu seperti teringat sesuatu.

“Kamu mau ngeringanin beban kamu, gak?” lelaki hujan itu bertanya pada Maya. Maya menatap mata lelaki itu. Matanya benar-benar penuh kehangatan, ujar Maya dalam hati.
“Heii.. Gimana?” lelaki hujan itu melambai-lambaikan tangan tepat di depan wajah Maya. Maya pun tersadar.
“Eh, iya. Emang gimana?” tanya Maya penuh penasaran.
“Oke. Sekarang tutup mata kamu,” perintah lelaki hujan. Maya kebingungan.
“Udah, jangan takut. Kamu tutup mata aja,” ujar lelaki hujan seperti menangkap kebingungan di mata Maya. Maya pun akhirnya memejamkan matanya. Ia merasakan tangan kekar lelaki hujan menuntunnya dari belakang. Entah akan dibawa kemana ia. Tiba-tiba… ‘BBREESSS”

Maya meronta-ronta melepaskan diri dari tuntunan Lelaki hujan. Ia sangat tidak suka hujan. Tapi, lelaki itu menenangkannya. “Udah, jangan buka mata dulu. Kamu tenang aja. Sekarang tarik napas dalam-dalam. Terus buangnya lewat mulut tapi pelan-pelan. Rasain setiap titik air yang jatuh ke tubuh kamu,” ujar lelaki hujan. Lelaki itu memegang kedua tangan Maya dengan hangat, seolah memberi kekuatan padanya. Maya pun melakukan apa yang diucapkan lelaki hujan. Ia tarik napas kemudian membuangnya. Ia rasakan setiap rintik air yang menjatuhinya.

Satu tetes… Dua tetes… Disusul beribu tetes lainnya membasahi tubuh Maya. Baru kali ini ia merasakan betapa senangnya hujan-hujanan. Lelaki hujan itu masih menggenggam kedua tangannya. Maya kemudian membuka matanya. Ia temukan lagi kehangatan di mata lelaki hujan. “Terima kasih, lelaki hujan,” ucap Maya dengan tulus, setulus senyumnya yang mengembang saat ini. Lelaki hujan itu memiringkan kepalanya tanpa melepas tatapan dan tangannya dari Maya. “Kok lelaki hujan? Aku juga punya nama tahuuu.. Namaku Adam,” ucap lelaki hujan, eh, maksudnya Adam.
“Namaku Maya,” ucap Maya sambil tersenyum.

Selama beberapa menit mereka saling adu pandang. Pandangan yang menggetarkan hati masing-masing. Tak lama kemudian, hujan reda. Maya segera berpamitan untuk pulang. Ia mengambil tasnya di dalam halte. “Aku pamit dulu, ya?” ucap Maya pada Adam. Tanpa menunggu jawaban dari Adam, Maya segera berlalu. Adam gelisah, ada sebuah hal yang belum ia katakan. Maya sudah berlalu begitu jauh. Ia berteriak memanggil Maya.
“May, tunggu! Aku minta nomor telepon kamu boleh gak?” Adam menutup mulutnya setelah mengeluarkan kata-kata yang tak sengaja ia katakan tapi memang ingin ia katakan.
Maya berhenti. Ia menoleh ke belakang. Terlihat Adam dengan ekspresi lucunya. Maya tertawa.

“Hahaha… Boleh. Tapi, kamu yang ke sini,” ucap Maya. Adam segera berlari menghampiri Maya.
“Bawa sini hp kamu.” Maya meminta hp Adam. Adam memberikannya begitu saja, seperti terkena hipnotis.
Maya mengetik 12 digit angka dan memanggil nomor tersebut. Tiba-tiba handphone Maya berbunyi. Sebuah panggilan masuk. Maya segera me-reject-nya. “Itu nomor aku. Aku pulang dulu, ya?” ucap Maya. Maya melambaikan tangannya. Sambil menahan senyum bahagia, Maya berlalu meninggalkan Adam yang masih mematung. Adam menatap handphone-nya. Di situ tertulis dengan indah sebuah nama. MAYA.

Sudah pukul 10.00 malam. Tapi, Maya masih saja berguling-guling di kasurnya dan belum bisa menutup matanya. Ia teringat peristiwa tadi sore bersama Adam. “Dia lucu juga. Pandai memainkan ekspresi. Matanya juga hangat. Tangannya lembut kayak tangan cewek. Aahhh.. Kok jadi mikirin dia gini, sih.” Maya tersenyum-senyum memikirkan Adam. Ia melihat layar handphone-nya barang kali ada sms. Dan ternyata tidak. Dari tadi sore Adam belum mengiriminya sms.

‘DDRRRTT…DDDRRRTT..’ Handphone Maya berbunyi. Sebuah sms masuk.
“Tok..tok..tok… Assalamu’alaikum. Boleh sms gak?” Maya tersenyum melihat sms dari Adam. Ia pun membalasnya.
“Wa’alaikummussalam. Lah ini kamu kan udah sms. Emangnya kenapa?” Sent. Tidak lama kemudian, sms dari Adam masuk.
“Iya, ya. Aku grogi deket kamu. Hehehe. Oh, ya. Aku mau ajak jalan kamu besok. Mau gak?”
“Hah? Dia ngajak aku jalan,” Maya berteriak kaget sekaligus senang. Ia pun membalas sms Adam.

“Boleh, ke mana?”
“Ada deh. Secret. Besok aku jemput, ya?”
“Emang kamu tahu rumah aku?”
“Kan kamu udah pernah bilang ke aku.”
“Oh, ya? Kapan?”
“Udah deh, lupain aja. Besok aku jemput. Oke?”
“Oke.” Maya tersenyum lega setelah sms-an dengan Adam. Ia tidak sabar untuk bisa jalan bersama Adam.

“Permisi.”
“Iya sebentar.”
“Maya ada, gak?”
“Ada. Sebentar saya panggilkan. Mari masuk dulu.”

Adam segera masuk ke dalam rumah Maya. Rumah yang besar, tapi seperti tak berpenghuni. Ia dapat merasakan kepedihan yang dirasakan Maya selama ini. “Hai, Dam! Udah lama nunggu? Kenapa gak sms dulu?” tanya Maya ketika dilihatnya Adam sudah berada di ruang tamu. Adam segera menoleh ke arah datangnya suara. Seorang gadis cantik turun dari tangga dengan memakai jins biru tua dan t-shirt berwarna senada. Sekarang ia terlihat begitu cantik, ucap Adam dalam hati.

“Hei, ngelamun aja. Pasti karena lihat aku yang cantik, kan?” celoteh Maya. Yang diajak bicara diam dan hanya tersenyum. “Udah, yuk keburu gelap, nih. Oh, ya. Kamu pake ini dulu,” ucap Adam pada Maya. Ia mengeluarkan sebuah sapu tangan dari sakunya.
“Apa lagi, sih? Mau main kejutan kayak kemarin?” protes Maya. Dia memang tidak terlalu suka kejutan.
“Udah ikutin aja,” ucap Adam dengan arti jangan-membantah.
Ia segera memakaikan sapu tangan itu di mata Maya.
“Sekarang, kita berangkat!!”

“Kita udah sampai, nih. Tapi, jangan dicopot dulu sapu tangannya. Sekarang kamu jalan lurus terus. Jangan belok-belok. Oke?” Maya hanya menghela napas panjang. Dari tadi ia hanya mengikuti permainan Adam tanpa tahu apa tujuan dari permainan ini. Ia terus melangkah maju. Satu langkah… dua langkah… tiga langkah… dan….

‘BYYUUURRR’

Sebuah ombak yang cukup besar mengenai kakinya. Ia cukup terkejut dan hampir saja kehilangan keseimbangannya. Ia pun membuka sapu tangan yang menutupi matanya. Kini di hadapannya, terbentang laut bermeter-meter luasnya. Pasir putih yang lembut tengah dipijaknya. Langit biru yang mulai menjingga, juga sang Surya yang telah habis setengah termakan oleh laut, menambah keindahan sore itu. Ia terdiam tak tahu harus berkata atau berbuat apa. Sesaat ia larut dalam keindahan ciptaan Allah ini. “May!” Seseorang memanggilnya. Ia hadapkan badan sepenuhnya kepada orang yang telah membawanya melihat pemandangan seindah ini.

“Kamu suka?” sambung Adam. Maya mengangguk dengan penuh keyakinan.
Ia berlari membelakangi matahari yang mulai terbenam menuju seseorang yang sudah menunggu senyumannya.
“Makasih, Dam.” ucap Maya dalam pelukan Adam.

“Makasih, ya, Dam,” ucap Maya kepada Adam ketika mereka sampai di depan rumah Maya. Maya tersenyum dengan penuh ketulusan. “Iya, sama-sama. Santai aja. Kalau mau nanti aku bisa ajak ke tempat yang lebih indah lagi.” Adam tersenyum. Mereka saling beradu pandang. Mata Adam yang penuh kehangatan membuat Maya merasa nyaman.
“MAYA!” Panggilan dengan suara membentak itu mengagetkan Maya dan Adam. Mereka segera memalingkan pandangan ke arah datangnya suara. Seorang perempuan berwajah dewasa sedang memandang mereka dengan mata marah.

“Malam, Tante!” Adam menyapa Mama Maya seramah mungkin. Tapi, Mama Maya tidak mempedulikannya.
“Dari mana jam segini baru pulang?” Bentak Mama kepada Maya. Maya hanya menundukkan kepalanya. Adam tidak tega melihat Maya tertekan seperti itu.
“Tante, ini semua salah saya. Saya yang ngajakin…”
“Diam! Saya tanya sama anak saya, bukan kamu,” potong Mama Maya. “Siapa kamu? Kenapa deketin anak orang kaya seperti Maya? Pasti kamu hanya parasit aja! Iya, kan?” lanjutnya dengan kata-kata yang begitu menusuk. Adam memegang jantungnya untuk menenangkan dirinya.

“Mama!” Panggil Maya dengan suara bergetar. Ternyata ia sedari tadi sudah menahan tangisan. Ia tidak tega orang yang ia cintai dituduh-tuduh seperti itu.
“Diam kamu, Maya! Sekarang kamu masuk, kita selesaikan masalah ini di dalam bersama kakakmu. Dan kamu parasit! Cepat pergi dari sini atau saya suruh satpam untuk ngusir kamu!”
“Tapi, tante. Maya gak salah. Ini semua salah saya..”
“Kalau tahu kamu salah, cepat pergi dari sini!” potong Mama Maya lagi. Mama pun segera menarik Maya masuk rumah. Sedangkan Adam hanya memandangi penderitaan orang yang ia sayang tanpa bisa ia meringankannya lagi.

Sudah seminggu handphone Maya disita oleh Mamanya. Setiap hari ia juga diantar jemput untuk kuliah, sehingga tidak ada kesempatan untuk bertemu lelaki hujannya. Hari itu hujan turun dengan derasnya. Mengingatkan Maya akan lelaki hujan yang sangat ia rindukan. Saat ia tengah melamunkan lelaki hujan, terdengar suara pintu diketuk. ‘Tok…tok..tok…tok’

“Non, ini saya Mbok Nah,” ucap seorang perempuan dari luar pintu kamarnya. Maya menoleh ke arah pintu.
“Masuk aja Mbok. Gak dikunci kok,” ucapnya kemudian. Mbok Nah segera masuk dengan segera dan menutup pintunya.
“Ada apa sih, Mbok? Kok kelihatannya gelisah gitu,” ucap Maya sambil turun dari kasurnya.
“Ini, Non. Tadi ada laki-laki. Dia ujan-ujanan ke sininya. Terus dia kasih kertas ini ke saya. Dia bilang jangan sampai ketahuan Ibu. Makanya saya ke sininya juga diem-diem,” jelas Mbok Nah pada Maya. Maya pun segera meminta kertas itu dari Mbok Nah dan berterima kasih padanya. Ia buka kertas itu dengan hati-hati, karena kertas itu basah terkena air hujan. Ia baca tulisan di dalamnya.

“Untuk, Maya. Ini aku, lelaki hujanmu. Hehehe maksudnya Adam. Aku kangeeeennn banget sama kamu. Udah seminggu ini aku gak dengar suara kamu, gak lihat senyum kamu, gak genggam tangan hangat kamu. Aku kangen itu semua. Kok kamu jadi lost contact gini sih. Handphone kamu dihubungi gak bisa. Kamu juga gak pernah nunggu hujan di halte lagi. Aku kangen kamu, deh. Sekarang aku lagi nginget-nginget semua tentang kamu. Di tempat pertama kita ketemu. Di bawah rintik hujan yang sama. Cuma suasananya beda. Dulu aku sama kamu, sekarang aku cuma sendiri. Kalau surat ini sampai ke kamu, berarti aku gak salah percaya sama pembantu kamu. Dia orang yang baik, kok. Aku rasa dia bisa jadi temen kamu kalau kamu lagi sendirian di rumah. Udah dulu, ya! Oh, ya ada satu hal yang kelupaan. I LOVE YOU. Salam hangat penuh cinta, Adam.”

Maya tersenyum membaca surat dari Adam tersebut. Selain itu ungkapan perasaan rindu Adam pada Maya, ada satu hal yang membuatnya serasa melayang. Kata ‘I LOVE YOU’. Tidak hanya Adam yang merasakannya. Tapi Maya juga. Ia segera berlari menuruni tangga menuju pintu utama. Ia akan pergi ke halte, tempat ia dan Adam bertemu untuk pertama kalinya. “Maya, mau ke mana?” ucap seseorang yang membuatnya berhenti berlari. Itu suara Mamanya. Maya segera berbalik. “Mau ke luar, Ma! Nemuin Adam,” ucap Maya tanpa menatap mata Mamanya.
“Kamu lebih milih cowok itu daripada Mama sama kakak? Kamu bisa gak sih ngehargain Mama sama kakak?” ujar Mama tanpa melepas pandangannya dari putri satu-satunya.

“Gimana aku bisa ngehargain Mama sama kakak kalau Mama sama kakak sendiri gak pernah ngehargain perasaan Maya!” ucap Maya dengan sedikit berteriak. Air mata menggenang di pelupuk mata Maya. “Dulu aku selalu sendiri. Mama sama kakak gak pernah ada buat aku. Saat penerimaan rapor, gak pernah sekalipun Mama yang ambilin. Saat libur semester, gak pernah sekalipun kakak temenin aku liburan. Sekarang, ketika aku udah punya temen yang selalu ada di samping aku, Mama usir dia! Mama jelek-jelekin dia, Mama tuduh dia yang enggak-enggak. Hingga kini, walaupun Mama sama kakak di rumah, aku gak pernah ngerasain ada kalian di sini,” lanjutnya. Kini air mata sudah tidak bisa terbendung, keluar begitu saja dari mata indah Maya.

“Kakak sama Mama tuh cari uang buat kamu, dek! Bukan gak perhatian sama kamu!” Kak Rio, kakak laki-laki Maya, membela diri. “Aku gak butuh uang kalau ujung-ujungnya aku gak punya cukup perhatian dan kasih sayang dari Kakak sama Mama,” ujar Maya dengan berlinangan air mata. Ia segera berlari menembus hujan, meninggalkan kakak dan mamanya yang sedang merenungi kesalahannya. Di halte itu, seorang lelaki tengah berdiri menantang langit. Berteriak dalam diam. Menyebut nama seseorang yang sangat ia rindukan saat ini.

“Lelaki hujan!”

Panggilan itu mengagetkan sang lelaki. Ya. Lelaki itu adalah Adam. Dan ia berharap, suara gadis yang memanggilnya tadi adalah suara Maya. Ia menoleh ke arah datangnya suara. Seorang gadis berdiri tenang di seberang jalan. Gadis itu tersenyum ke arah Adam. Senyum itu sangat dirindukan olehnya. Senyum dari Maya. Maya pun berlari menyeberang jalan. Tanpa ia sadari sebuah mobil berkecepatan tinggi melaju ke arahnya.

‘TIN…TIN..”
“Maya, awas!”
‘BRUUKKK’

Maya kini tergeletak lemah di ranjang. Perlahan ia buka matanya. Cahaya lampu begitu menyilaukannya. Ia yakin, sudah berhari-hari ia tak sadarkan diri. Hal terakhir yang diingatnya adalah sebuah mobil melaju dengan kencang ke arahnya. Ia coba gerakkan tubuhnya. Seluruh sendinya seperti mau lepas dari tulangnya. Perih sekali. Ia lihat sekelilingnya. Mama dan Kakaknya sedang tertidur di sofa di bagian lain dari kamar rawatnya. Tapi, yang membuatnya terkejut bukan itu. Seorang lelaki tertidur di samping ranjangnya. Lelaki itu mendekap erat tangannya. Seperti kejadian beberapa hari yang lalu di halte. Saat ia pertama kali bertemu dengan lelaki itu. Lelaki hujan, panggilan yang ia sematkan untuk Adam. Ia menangis, betapa sulitnya hubungannya dengan lelaki yang ia cintai itu. Tapi kini ia yakin, mama dan kakaknya telah menyadari bahwa ia memang sangat mencintai Adam. Tiba-tiba, Adam menggeliat. Ia membuka matanya. Seperti tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang, Adam mengedip-ngedipkan matanya, lalu menguceknya. Gadis di hadapannya tersenyum.

“Kamu ngapain, sih?” ucap gadis itu. Tulus.
Adam terbelalak, gadis di depannya malah tertawa.
“Kamu… Kamu udah sadar, May?” ucap Adam tak percaya.
Gadis itu berhenti tertawa, tapi kemudian tersenyum sangat tulus.
“Terus menurut kamu, ini arwah aku gitu,” canda Maya. Adam segera menghampiri Mama dan Kakak Maya.
“Tante, Kak Rio, bangun, Maya sadar!”
Mama dan Kakak Maya terkejut dan langsung menghampiri Maya. Adam segera ke luar menghampiri dokter.

Sore itu Maya sudah boleh dijenguk. Setelah 3 hari koma, rasanya aneh mendapat perlakuan yang berlebihan. Senja menjelma menjadi malam. Mama dan Kakak Maya pamit pulang untuk mengambil pakaian ganti. Di kamar itu hanya ada Adam dan Maya. Adam menatap Maya dengan pandangan rindu. Tatapan itu yang selama ini ia rindukan. Tatapan hangat dari Maya, gadis yang ia cintai.

“Kamu ngapain, sih? Kok lihatinnya gitu banget?” ucap Maya memecah keheningan. Adam hanya tersenyum.
“Aku kangen kamu. Senyum kamu, aku udah lihat terakhir kita ketemu sebelum ini. Genggam tangan kamu, baru aja. Dan mata kamu, aku baru nikmatin itu sekarang. Kamu penyebab rindu yang paling sakit, tapi kamu juga penawar yang paling mujarab,” jelas Adam. Maya malah tertawa.
“Hmm… Gombal aja kerjanya,” seloroh Maya.

“Ini bukan gombal, May.” Adam mendekati Maya. Ia menggenggam tangan Maya. “Aku bener-bener sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu. Kamu jangan pernah tinggalin aku lagi. Aku sakit banget berhari-hari tanpa kamu. Kamu harus janji, kamu gak akan tinggalin aku lagi, oke?” lanjutnya.
Maya tersenyum. Matanya berbinar-binar. Setetes air mata haru ke luar dari mata hangat Maya.
“Aku janji sama kamu, aku gak bakal tinggalin kamu. Tapi, kamu juga gak boleh tinggalin aku.”
Adam mengangguk. Pelukan ia berikan untuk gadis yang sangat ia cintai.

3 minggu kemudian. Maya sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Kini ia sedang di halte tempat ia dan Adam bertemu untuk pertama kali. Kali ini suasananya lengkap. Ada hujan, Adam, dan Maya. “Kamu tahu, gak?” ucap Adam. “Hujan itu kadang baik, kadang jahat,” lanjutnya. Maya terkejut, ia kebingungan. Adam melanjutkan tanpa mengalihkan pandangan dari rintikan hujan.

“Dulu hujan yang mempertemukan kita. Menyirami rasa di hati kita hingga tumbuh suatu rasa yang tak seharusnya. Kemudian hujan pernah hampir mengambilmu dariku. Aku hampir putus asa melihat keadaanmu saat itu. Tapi, kata dokter, air hujan yang membasuh lukamu mencegah iritasi pada luka. Aahh… Hujan masih menyelamatkanmu. Sekarang di sini… hujan masih menemani kita.” Adam mengakhiri kata-katanya. Ia menoleh ke arah Maya untuk mengetahui ekspresinya. Ternyata Maya menangis.

“Aku tidak bercerita untuk membuatmu menangis, May!” seloroh Adam. Maya terkejut kemudian menghapus air matanya yang mengalir. “Aku gak nangis. Aku cuma terharu. Ihh.. Pede banget,” ucap Maya. Adam tersenyum.
“Ingat, ya! Kita bakal selalu bersama selamanya,” ucap Adam sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
“Selamanya! Dan sampai kapan pun kamu tetap lelaki hujanku,” Maya mengaitkan jari kelingkingnya di jari kelingking Adam. Pandangan mereka saling bertemu. Dan pertemuan mereka kali ini merupakan awal kebahagiaan mereka.

Cerpen Karangan: Sekar Pinestri
Facebook: Sekar Rafa

Cerpen Lelaki Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rainy Days

Oleh:
Tiga tahun yang lalu, tepatnya hari minggu pada pertengahan bulan Februari, aku bertemu dengannya. Gadis yang membuat hatiku tiba-tiba bergetar saat pertama kali melihat mata besarnya. Aku dan teman-teman

Ketika Semua Berlalu

Oleh:
Pagi yang cerah. Sinar mentari yang berkilauan, hangat. Seperti biasa setiap akan berangkat sekolah, aku selalu memanggil adik sepupuku, Sita, yang rumahnya hanya bersebelahan denganku. Kami selalu berangkat bersama.

Undangan Untuk Adrian

Oleh:
Aku gusar ketika ayah tiba-tiba mengundang Adrian untuk menjadi tamu kehormatan di rumah baru kami. Kami belum lama pindah ke daerah ini, tak banyak tetangga yang kami kenal, meski

Masa Masa Yang Tak Akan Kembali

Oleh:
“Rumah Angker Pondok Indah, Kaw*n Kontrak 3, Per*wan Seberang, cih, apaan nih, engga jelas banget nih film film Indonesia.” Aku menggerutu sendiri, lirih, melihat daftar filem filem Indonesia yang

Cinta Mu Bukan Untuk Ku (Part 2)

Oleh:
Hari ini aku ke rumahnya. Jarak yang lumayan jauh. Tanpa kesulitan yang berarti aku menemukan lokasi rumahnya. Ku parkirkan motorku di halaman rumahnya sambil berjalan untuk mengetuk pintu, lalu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Lelaki Hujan”

  1. Keren banget kak (y) tetap semangat nulisnya 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *