Lentera Usai Senja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Cinta Sejati, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 19 November 2016

2012
Langit kota Jogja memerah. Matahari perlahan ditelan oleh batas laut. Aktivitas beberapa remaja begitu asik. Memotret keelokan senja yang menghias pantai. Aku masih duduk dengan anggun. Anggun, mungkin karena aku memang tengah terdiam. Memasuki detik berikutnya, mataku memerah, mengikuti merahnya senja hari ini. Senja. Bagian hari yang teramat aku cintai. Menatapnya memang tiada bosan, apalagi jenuh. Aku mencintai senja. Melebihi cintaku pada lelaki di sampingku kini.

Hari ini, beberapa jam usai acara perpisahan sekolah. Usai semua canda tawa yang membalut rasa duka akan perpisahan. Usai ketidakpahamanku tentang makna perpisahan yang sesungguhnya. Ia masih diam, menahan sesak yang tiba-tiba merajuk. Pun denganku yang masih menahan rasa tak mengerti percakapan beberapa jam yang lalu. Hembusan angin seakan membangnukan kami.

“Bukankah lebih baik Aku meninggalkanmu dengan kejujuran dari pada tetap bersamamu namun dengan kepalsuan?”
Hening, tak ada suara lain selain hembusan napas laki-laki itu.
“Bukankah perpisahan ini menjadi hal yang teramat menyakitkan untukmu? Kau kini masih muda, masih memiliki segala kelebihan yang tak kulihat pada yang lain. Aku melepaskanmu karena Aku sangat menghargaimu. Jika Aku tak mampu memberimu senyuman, setidaknya Aku tak lagi memberikanmu tangisan. Aku pergi, bukan Aku membencimu. Tapi Aku tak ingin melukaimu lebih dalam. Kau masih punya banyak waktu untuk menyembuhkan luka itu. Tak sepertiku yang entah membutuhkan waktu berapa lama untuk menyembuhkan luka dibatinku. Luka, karena telah melukaimu.”
Aku menunduk. Tak ada ekspresi apapun. Ia melanjutkan ucapannya.
“Kau senantiasa lebih baik dari pada Aku. Kau yang mengajarkanku tentang kesetiaan, perjuangan, kejujuran, dan kegigihan. Aku berterima kasih atas semua itu. Kau yang telah mempersembahkan semua itu untukku. Lantas Aku mematahkan semuanya tanpa peduli bagaimana lukamu. Tapi percayalah, lukaku lebih dalam dan menyakitkan. Karena Aku telah menggoreskan luka pada diri kita.”

Aku pergi. Tanpa ekspresi. Meninggalkannya, dengan penjelasan yang masih menggantung. Tak peduli. Senja kali ini beriringan dengan mendung. Menutup keindahan yang telah dinanti. Senja kali ini berhiaskan kesedihan. Menutup kebahagiaan dengan perpisahan. Aku pergi meninggalkannya yang hanya ditemani deburan ombak dan penyesalan.

Satu minggu telah berlalu. Tak ada kabar satu sama lain. Aku bahkan tak lagi peduli dengan kejadian satu minggu yang lalu itu. Foto yang menggantung di dinding kamarku tak memberi efek apapun untukku. Aku serasa menghilang dari duniaku. Entah, sekarang Aku menetap dimana.

Pagi, tepat satu minggu acara perpisahan sekolah. Pintu kamarku ada yang mengetuk. Aku masih diam, memperhatikan cover buku kenang-kenangan sekolah. Ada satu wajah yang menghias disana. Ketukan di pintu tetap tak kuhiraukan. Samar-samar, suara terdengar.
“Yuli, Aku ingin bertemu denganmu. Sebentar saja.” Suara nan lembut. Aku masih mengenalnya.
Bibirku masih terkunci. Ah, betapa bodohnya Aku, hari itu. Tak kuhiraukan yang dengan sabar menantiku di depan kamar. Tisca. Sahabatku sedari kecil yang selalu memberi kabar akurat. Sayangnya, hari itu Aku tak mempedulikannya. Bahkan Aku bertingkah bodoh, mengabaikannya untuk pertama kali.

Malam pun menyapa. Formasi bintang di angkasa begitu indah. Kenangan itu kembali terkuak. Aku mematung. Duduk dengan terus memperhatikan langit yang terhias indah. Tisca menghampiriku. Ia duduk tepat di samping kananku. Memelukku erat, menitihkan air mata.
“Apa yang terjadi?” Tanyaku, pelan.
Tisca masih terdiam. Air matanya tertahan. Beberapa detik berlalu begitu saja. Perlahan, Tisca melepaskan pelukannya. Menatapku lamat-lamat. Menunduk, seakan menahan beban yang teramat berat. Detik ke 59 usai pertanyaanku kulontarkan padanya.
“Semua sudah berakhir. Kenapa semua harus seperti ini? Kenapa satu minggu ini waktu tiada guna untukmu? Tak adakah hal bermanfaat yang bisa kau lakukan? Tak adakah upaya dan daya yang mampu menguatkanmu. Dia telah pergi, Yul. Pergi untuk waktu yang tak bisa ditentukan.” Ia terisak. Aku penuh tanda tanya.
“Apa maksudmu?” Aku masih datar. Tak mengerti dengan ucapan Tisca.
“Yusuf. Dia menantimu 24 jam kali sekian hari. Menantimu mengubunginya, sebagai bukti kau telah memaafkannya. Aku tahu apa yang terjadi, Yul. Aku tahu. Yusuf telah bercerita semuanya padaku. 24 jam dalam sehari. Ia hanya menghabiskan waktunya untuk memikirkanmu. Tadi pagi Aku mencarimu karena pesannya. Dia ingin bertemu denganmu untuk terakhir kali.” Tisca menunduk. Mungkin hatinya perih karena Ia tahu apa yang akan terjadi padaku.
Hening. Hanya terdengar isak tangis Tisca, hembusan angin, dan hembusan napasku yang pelan. Formasi bintang. Entah mengapa, wajahnya tersirat disana.

“Kenapa dia tidak mencariku?” Mataku memerah.
“Menemuimu tanpa kehendakmu, sama saja memasukkan diri pada jurang paling dalam sekalipun. Kau lupa, dia pernah masuk rumah sakit karena menunggumu di gerbang sekolah hampir 24 jam dengan hujan yang begitu lebat? Bukankah waktu itu Ia datang untuk meminta maaf padamu? Tapi sayang, dia datang tanpa kehendakmu. Dia tidak mampu melakukannya lagi. Dia harus mengurusi banyak hal sebelum kepergiannya. Termasuk memikirkan, bagaimana Ia harus meminta maaf padamu.” Penjelasan Tisca terhenti. Air mataku bercucuran. Memoriku kembali terbuka.

Satu minggu yang lalu. Di acara perpisahan sekolah. Yusuf menghampiriku. Mengajakku foto berdua. Walaupun sebelumnya, kami sudah foto berkali-kali. Namun dengan sahabat-sahabat kami, termasuk Tisca. Kala itu, hatiku bercampur aduk. Senang, karena kami resmi lulus SMA. Semua cita-cita kami telah menunggu untuk digapai. Sedih, karena banyak tujuan yang kami rencanakan. Namun, tak ada satu pun tempat yang sama, yang hendak kami tuju.

“Kau bahagia, hari ini?” Ia bertanya, dengan tetap asik memainkan kamera SLRnya. Memperhatikan beberapa foto kami.
“Ehm. Aku bahagia, sekaligus sedih.” Aku masih memperhatikan wajahnya. Melihat matanya dengan seksama. Bagian tubuhnya yang sangat Aku suka.
“Kenapa melihatku seperti itu?” Ia memotret beberapa sudut. Aku tak peduli apa yang sedang Ia lakukan.
“Mungkin, ini hari terakhir Aku bisa melihat matamu, tanpa penghalang. Mungkin saja, besok Aku hanya bisa melihat dari foto-foto yang kita ambil hari ini.” Aku tersenyum. Senang rasanya bisa melihat matanya yang begitu indah.
Aktivitasnya terhenti. Ia balik menatapku dengan tatapan matanya nan tajam. Mengahanyutkanku.
“Bagaimana jika hari ini kita putus?” Ia begitu serius mengucapkannya.
“Putus? Apa kita pernah pacaran. Aku rasa tidak. Kita tidak akan pernah bisa putus.” Aku tertawa. Semua hanya kuanggap lelucon.
“Hari ini, kau bahagia karena kita semua lulus. Namun, hari ini kau pun sedih karena perpisahan. Dan Aku, justru melengkapi kesedihanmu. Bukan kebahagiaanmu.”
Aku terdiam. Tak mengerti apapun yang dia katakan barusan. Aku membuang muka. Masih penuh tanda tanya.

Tisca, Aldo, Ria, Fani, dan Radit, menghampiri kami. Memecah kebekuan beberapa detik yang lalu. Mereka mengajak kami berfoto bersama. Mereka pun mengajak melengkapai kebahagiaan dan perpisahan hari ini dengan menikmati kesejukan pantai. Hal yang sangat Aku suka. Ia pun tahu akan hal itu.
Dan percakapan senja itu, usai. Ketika Aku memutuskan untuk pergi tanpa alasan. Malam ini, Tisca menceritakan semuanya.
“Kepergianmu waktu itu memang tak kami sadari. Tapi, kami tahu apa yang terjadi. Kau tahu? Baru kali pertama, saat senja itu, kami melihat Yusuf menangis. Iya, Dia benar-benar menangis. Hingga Dia tidak bisa mengejarmu.” Tisca mengusap matanya. Menghela napas sejenak. Aku. Terdiam, menunggu Tisca menjelaskan kembali.
“Dia tak bisa menentukan pilihannya, Yul. Dia harus pergi. Dan Dia tidak ingin melukaimu. Yang kami tahu, Dia sangat mencintaimu.”
Air mataku bercucuran. 3 tahun kami bersama. 3 tahun kami tahu perasaan masing-masing. Tapi semua serasa berakhir duka. Aku mengabaikannya. Aku terlalu yakin Dia tidak akan pernah meninggalkanku. Aku menyakitinya, tanpa mampu kuhitung berapa kali Aku melakukannya. Air mataku kian deras. Lantas, apa yang sekarang bisa Aku lakukan?
“Dia tidak berpesan apapun saat itu. Dia hanya menangis di hadapan kami. Dia tidak bisa memilih. Maafkan Aku Yul. Aku menjaga semua ini, karena ini pun permintaan Yusuf. Dia tak ingin melukaimu.” Jeda. Tisca terdiam beberapa detik, hingga Ia pun melanjutkan ceritanya.
“Tadi pagi. Secepat kilat Aku mendatangimu. 5 menit setelah Aku membaca pesan singkat dari Yusuf. Dia ingin bertemu denganmu untuk terakhir kali. Dia ingin sekali bertemu denganmu, sekedar mengucapkan kata perpisahan. Tapi, waktu begitu terhimpit. Tak ada jeda sedikitpun dalam 24 jamnya selama satu minggu ini. Banyak hal yang harus Dia urus. Termasuk merencanakan pertemuan terakhirnya denganmu. Tapi, kau tahu kan bagaimana orangtua Yusuf? Mereka sangat disiplin. 10 jam dari 24 jam yang dimiliki oleh Yusuf, Ia gunakan untuk les Bahasa Perancis dan Bahasa Inggris. Kau tahu, selama satu minggu. 5 jam yang tersisa, Ia gunakan untuk belajar Ilmu Fisika. Itu pun selama satu minggu. 5 jam lainnya, Ia gunakan untuk mengikuti berbagai kegiatan untuk melengkapi persyaratan kuliahnya di Paris. Kamu tahu kan dengan semua rencanaya itu? dan 4 jam tersisa, Ia gunakan untuk memikirkanmu. Bahkan mungkin dalam setiap detiknya, Kamu yang ada dalam pikirannya. Bukan lagi tentang Paris. Apa arti mimpinya Ia gapai, jika cita-cita terbesarnya justru Ia lepaskan.” Penjelasan Tisca, sungguh menusuk hatiku. Hembusan napas Tisca, terdengar jelas.
“Apa yang bisa Aku lakukan?” Aku terdiam. Pun dengan Tisca. Hingga detik ke 49.
Tisca mencoba membongkar semua ingatannya. Hingga akhirnya, puzzle itu Ia temukan.
“Ia akan mengirimkan email padamu. Setelah Dia sampai di Paris.”
Mataku tertuju pada Tisca. Aku segera masuk kamar. Mengechek semua email masuk. Jaringan sepertinya tak bersahabat. 120 detik, masih tertahan pada sesi login email. Dan, tepat. Email yang paling atas, Yusufyu@gmail.com. Pesan masuk yang langsung kubuka tanpa berpikir apapun, selain membaca pesan itu.

“Assalamu’alaikum. Selamat malam, Yuli. Aku menulis ini, ketika langit Jogja sudah gelap. Berbeda dengan tempatku duduk saat ini. Belum ada satu pun bintang yang terlihat. Apalagi Jupiter dan Saturnus. Tak mampu kulihat dengan mata telanjang. Tak seperti di tempatmu duduk saat ini. Kau hanya perlu membuka tirai jendela kamarmu, maka Jupiter, Saturnus, bahkan gugusan bintang lainnya sudah menyapamu dengan anggun.
Yuli, maafkan Aku. Itu kalimat pertama yang ingin Aku ucapkan padamu. Yuli, Maafkan Aku, aku pergi tanpa ada penjelasan. Aku tahu ini sangat menyakitkan untukmu. Satu minggu yang lalu, Aku memutuskan hubungan kita, tanpa penjelasan apapun. Satu minggu yang lalu. Kau pun pergi tanpa mau menungguku menjelaskan. Yuli, maafkan Aku. Aku tak pernah ada niatan untuk meninggalkanmu, apalagi melukaimu. Aku harus pergi Yul. Keputusan yang teramat berat, bagiku. Satu minggu, sebelum Aku memutuskan semua itu. Aku tak henti meminta petujuk dari-Nya. Aku pun tak henti menimbang segala keputusan yang membuatku semakin dilema. Yuli, maafkan Aku. 3 tahun memang bukan waktu yang sebentar. Aku bahkan tak pernah mengungkapkan perasaanku padamu. Aku pengecut. Datang menyapamu, mempersilahkan kau memasuki pekarangan hatiku, membiarkanmu tinggal dan menetap, hingga akhirnya Aku mengusirmu begitu saja. Tanpa penjelasan, tanpa alasan yang jelas. Yuli, maafkan Aku. Tak ada apapun yang bisa Aku berikan saat ini. Tak ada janji masa depan yang bisa kau harapkan dariku. Yuli, maafkan Aku. Isi email ini mungkin sangat mengecewakanmu. Mungkin tak seperti yang kau bayangkan, atau kau harapkan. Yuli, maafkan Aku. Tapi, kau harus tahu ini sejak awal. Kau harus melanjutkan hidupmu. Ingat tujuan dan cita-citamu. Raihlah sepertiku saat ini. Aku telah meraih kursi yang selalu kuincar dari kecil. Paris. Kota ini yang selalu ada dalam mimpiku. Aku memang berharap, kau menjadi bagian dari Paris. Namun apa daya, sepertinya Tuhan telah membelokkan skenario yang telah kurancang. Aku tak punya energi apapun untuk melawannya. Yuli, maafakn Aku. Lupakanlah semua tentang kita. Lanjutkan hidupmu. Aku tak memintamu untuk menungguku. Pun denganku. Aku tak memesan hatimu untukku. Aku tak mau melukaimu untuk kesekian kali. Yuli, maafkan Aku. Kau tak boleh menungguku. Aku takut kau akan lebih kecewa dari ini. Biarkanlah Tuhan yang mengatur segalanya. Jadilah pemain yang baik atas sekenario-Nya. Jangan berharap apapun atas sekenario yang telah kau rencanakan. Bertahanlah Yul. Kau adalah insan yang luar biasa. Aku memang selalu mengagumimu. Namun, hari ini mari kita patahkan hati kita. Percayalah, Tuhan akan menyambung hati kita dengan sempurna, melalui sekenario yang mampu kita bayangkan. Terima kasih untuk 3 tahunnya. Kau tetaplah sahabat terbaikku. Yuli, maafkan Aku.
Paris, 24 Mei 2012.
Yusuf”

Aku diam. Tak ada komentar. Bahkan Aku tak membalas email itu. aku segera memutus koneksi internet di kamarku. Kembali, Aku mematung. Tisca pun demikian. Ia turut membaca email itu denganku. Beberapa menit telah berlalu. Tisca memelukku. Malam yang begitu kelabu. Formasi bintang itu, hilang.

2013
Satu tahun sudah Aku kuliah. Sastra Indonesia. Entah kenapa, Aku memutuskan untuk mengambil jurusan itu. Bahkan, Aku tak pernah berpikir untuk menjadi sastrawan. Aku lebih suka menjadi dokter. Satu tahun memang telah berlalu. Yusuf, tak pernah lagi mengubungiku. Kecuali, ketika kami bercengkrama di grup sosial media. Aku hanya sesekali melihatnya membalas komentar teman-teman. Tapi, tidak denganku. Satu tahun belum sebanding dengan tiga tahun yang telah terlewatkan.

Kami memang kuliah di jurusan yang berbeda. Pun dengan kampus yang berbeda. Hanya Aku dan Tisca yang memutuskan kuliah di kampus yang sama. Hanya saja, kami beda jurusan. Tisca mengambil konsentrasi Psikologi. Sesuai cita-citanya sedari awal. Ya, diantara kami bertujuh, hanya Aku yang tidak sesuai. Yusuf, dengan Fisikanya. Aldo, dengan teknik sipil, Ria dengan Perawat, Fani dengan Seni rupa, dan Radit dengan Ilmu Hukum. Semua memang tak menyangka dengan keputusanku. Jauh sekali. Dokter, yang berbelok menjadi satrawan. Namun, Yusuf turut berperan disini. Sejak email satu tahun yang lalu, Aku memang lebih sering murung di kamar. Tanpa tahu apa yang sebenarnya Aku pikirkan. Email itu membawa hikmah bagiku. Aku pun lebih sering mencurahkan kegundahanku dengan menulis. Hingga aku memutuskan membuat sebuah blog, dengan username “Yustory”. Hampir semua tulisanku memang tentang Yusuf, tentang kesedihanku yang mendalam, tentang pengharapan yang tak berujung, tentang hati yang patah, tentang cinta yang salah. 2 bulan mengisi masa liburan, tulisanku telah menjamur. Hingga akhirnya Aku memutuskan untuk masuk jurusan sastra Indonesia. Tak sia-sia. Satu tahun terakhir ini, banyak karya yang sudah Aku terbitkan. Royalti yang kudapatkan pun kutabung. Aku juga termasuk mahasiswa berprestasi. Duniaku telah berubah. Dan Yusuf, Ia tak pernah berubah di hatiku.

2014
2 tahun tak terasa. Aku tak pernah bertemu lagi dengan Yusuf. Bahkan Aku pun sudah tak mengenal rasaku terhadapnya. Banyak yang datang dan menghampiriku. Banyak. Hingga Tisca sering mendapat teror untuk membantu mereka mendekatiku. Tak ada niatan atau entah apa yang Aku rasakan. Mereka kutepis satu per satu. Alasanku sederhana. Aku hanya ingin konsentrasi dengan duniaku kini. Aku tak mau patah untuk kedua kalinya. Patah yang dulu pun belum kusambung. Bagaimana aku bisa mematahkannya lebih parah?

Malam betabur bintang. Aku meghabiskan waktuku di kamar. Menulis. Angin berhembus pelan. Tirai jendelaku begerak perlahan. Kursorku berkedip. Kuhentikan aktivitasku. Jupiter, Saturnus, dan gugusan bintang. Mereka tertata rapi di angkasa. Yusuf. Hatiku berucap akan namanya. Pesan di email, dua tahun lalu kembali mengusik batinku. Apakah Aku boleh merindukannmu? Aku menghujat dalam hati. Betapa bodohnya Aku. Bukankah Yusuf melarangku mengingatnya, bahkan sekedar merindukannya. Ya, email itu memang tak pernah kubalas. Bahkan sejak kejadian dua tahun lalu itu, Aku mulai menghapus emailku. Aku membuat yang baru. Berharap, tak ada niatan untuk membuka email itu lagi. formasi bintang di angkasa, menjadi saksi kegundahanku malam ini. Reruntuhan waktu telah mengubur semua kenangan. Tak ada lagi rindu yang boleh tertuang dalam hati. Kepada siapa lagi rasa rindu harus mencari yang dirindukan? Sedangkan waktu tak lagi berpihak padanya. Denting jam tak lagi sekuat degupan rindu dalam hati. Namun apa daya, ketika rindu adalah lawan yang telah kalah. Tak ada lagi, tak ada lagi rindu yang tersimpan. Tak ada lagi kenangan. Tak ada lagi tentangmu.
Dua tahun, nyatanya memang masih kurang untuk melupakan semua kenangan itu. Yusuf. Entah kenapa, Aku tak mampu menerka semua imajimu, ataupun imajiku sendiri. Lantas, bagaimana jika waktu tak lagi berpihak? Sedangkan aku masih ingin disini? Menanti fajar hingga senja membawamu kembali. Menatap ufuk timur dengan keyakinan dan pengharapan yang pasti, atau menghujat senja yang tak kunjung membawa berita. Lantas apa yang bisa aku lakukan? Selain menetap, menanti, dan mengharap dalam ketidakpastian. Ah, ketidakpastian hanyalah perkara keyakinan. Maka, ketika aku yakin maka itu pasti. Ketika ketidakyakinan merajai hati, maka ketidakpastianlah yang memenangkan pertarungan ini. Malam kian larut. Aku belum selesai mengerjakan proyekku. Yusuf. Ia selalu saja menggangguku. Sama dengan halnya 5 tahun yang lalu.

2015
Entah apa yang terjadi. Tepat 3 tahun email itu masuk. Aku membuka emailku. yulisant@gmail.com. Email yusufyu@gmail.com berada paling atas. 3 pesan yang belum terbuka. Awalnya, keraguan merasuk dengan dalam. Sangat dalam. Namun kubulatkan tekad. Membuka email itu dengan ketenangan. 3 email yang sama. Terkirim pada tanggal yang sama. 30 juni. Air mataku hendak pecah. Email pertama pun ku buka. 30 Juni, 2013.

“Assalamu’alaikum. Selamat malam, Yuli. Selamat memasuki usia ke 19 tahun. Doaku hanya satu, semoga Allah senantiasa mengabulkan doamu. Aku minta maaf, tidak bisa memberikan apapun untukmu. Aku juga minta maaf, ulang tahunmu ke-18 kemarin tidak sempat Aku ucapkan. Aku tak perlu mengucapkan alasanku bukan? Semoga kau makin dewasa, makin bahagia, dan makin sukses.
Paris, 30 Juni 2013.
Yusuf.”

Singkat. Yusuf memang bukan tipe orang yang pandai berkata-kata. Aku bungkam sesaat. Email kedua pun Aku buka. Pendahuluan yang sama, ucapan yang sama. Hanya saja, ada beberapa perbedaan.

“Yuli, apakah tradisi semasa kita SMA masih berlaku dengan sahabat-sahabat kita? Aku merindukan masa-masa itu. Selamat menapaki usiamu yang ke-20 Yul. Semoga Tuhan segera mendekatkanmu dengan Jodoh.”

Air mataku masih mengalir. Tak ada siapapun di kamar. Tak ada Tisca yang menemaniku membuka email dari Yusuf, seperti halnya 3 tahun yang lalu. Jantungku masih berdebar. Hatiku masih perih. Email ketiga, kembali kubuka. Kali ini dengan intro yang sedikit berbeda.

“Assalamu’alaikum. Apa kabar Yuli? Ini email ke-4 ku setelah kepergianku. Kau masih mengingatku kan? Sahabatmu kala SMA. Yuli, masih kah kau mencintai senja? Seperti yang selama ini kuketahui tentangmu. Kali ini, aku memberikanmu kado spesial. Foto-foto senja terindah yang kunikmati selama tiga tahun di Perancis. Tidak hanya di Paris, tapi di beberapa kota lainnya yang ada di Perancis. Semua Aku siapkan untuk hari ini. 30 Juni ke-21 tahun. Yul, tak terasa, Aku telah meninggalkanmu selama tiga tahun. Sudah tepat tiga tahun kebersamaan kita bukan? Yul, Aku ingin sedikit bercerita padamu. Walau entah kapan Kamu akan membaca emailku ini. Aku hampir menyelesaikan pendidikanku di Paris. Itu artinya, Aku akan segera pulang ke Indonesia. Memang, impianku untuk pergi ke luar angkasa belum tercapai. Aku bahkan belum mampu menginjakkan kaki di planet Saturnus ataupun Jupiter. Tapi, kamu tahu? Ada yang lebih indah buatku saat ini. Menapaki belahan bumi yang lain. Indonesia. Aku ingin segera pulang. Aku merindukan segalanya. Termasuk, kamu. Maafkan Aku yang lancang, Yul. Aku memang tak pernah tahu bagaimana kabarmu. Aku tak tahu, apakah kau sekarang sudah menjadi dokter atau bahkan menjadi istri dari seorang dokter. Yang Aku tahu, Aku memikirkanmu detik ini, dan mungkin detik-detik berikutnya. Aku memang tak memintamu menungguku. Karena Aku lebih menginginkan menunggu indahnya kehendak Tuhan. Maafkan atas ceritaku ini. Semoga kau makin baik Yul.
Paris, 30 Juni 2015.
Yusuf”

Pudar. Pandanganku tak lagi pada layar laptop 14″ itu. mataku banjir oleh air mata. Isak tangsiku kian tak terbendung. Sepahit ini kah? Mengapa Yusuf begitu tega padaku? Pertanyaan yang pernah kusampaikan padanya. Hingga hari pun tak memberi jawaban padaku.

Mataku masih perih, menatap layar monior. Hpku berdering. Tepat pukul 06.00 WIB. Aku meraih HP yang tergeletak di meja samping tempat tidurku.
Private number. Aku mengangkatnya. Mengucap salam, dan suara di ujung telepon itu, jelas sekali.
“Bolehkah Aku menjadi Jupiter yang mengucapkan selamat pagi untukmu?”
Aku segera beranjak. Hanya satu orang yang tahu dengan kode rahasia itu. aku lelah menebak. Aku segera ke luar kamar. Melihat segala kemungkinan yang terjadi. 22 September 2015. Wajah ramah, mata sayu, kulit putih, badan yang sedikit berisi itu, nyata adanya. Aku seperti bermimpi. Namun Aku tak ingin bangun. Aku ingin tetap seperti ini. Langkahnya perlahan, berjalan dengan tenang padaku.
“Kamu tidak sedang bermimpi, Yul.” Ia terseyum dengan khasnya padaku.
Aku masih diam. Mendengarkan hembusan napasnya yang sangat Aku rindukan. Oh Tuhan, jangan bangunkan Aku terlebih dahulu. Tak banyak yang kami lakukan. Ia baru sampai di Indonesia. Hanya 10 menit Ia menemuiku. Ia harus segera pulang ke rumahnya. Keluarganya sudah menanti. Aku melepaskannya. Dan aku seperti bangun dari mipiku. Yusuf. Dia nyata adanya.

Angin berhembus pelan, menyejukkan. Malam itu semua terasa indah. Menenangkan. Aku membuka pembicaraan. Memecah keheningan sesaat.
“Bagaimana jika Aku pergi?” Aktivitasnya terhenti. Menatapku lamat-lamat. Tersenyum. Senyuman yang begitu menentramkan.
“Aku tak kan mencegahmu. Aku laksana pintu sebuah rumah. Jika penghuninya tak lagi berkenan di dalam rumah, tak apa. Ia hanya butuh kesejukan, atau sekedar hiburan supaya tak bosan di dalam rumah. Akulah pintu itu. Kapanpun kamu mau membukanya, buka saja. Aku tak kan menahanmu. Tak akan.” Aku diam. Mematung, seperti disihir kata-katanya. Lantas Aku bertanya kembali.
“Kau tak takut Aku pergi? Bagaimana jika Aku tak kan pernah kembali?”
Senyumnya, tatapanya, menghilangkan segala keraguan dalam benakku.
“Aku adalah rumahmu. Sejauh apapun kau pergi, kau pasti akan kembali. Selama apapun kau pergi, kau akan merindukan rumahmu. Senyaman apapun tempat barumu, rumahmu senantiasa menyimpan cerita yang membuatmu lebih nyaman. Apakah kau akan tetap pergi?” Kaca itu hendak pecah. Tak mampu membendung air mata yang telah tertahan.
“Lantas bagaimana jika Aku harus pergi untuk selamanya?”
Suaraku hilang, bersamaan hembusan angin yang tengah menghampiri.
“Aku akan tetap bertahan hidup untukmu. Mendoakanmu akan menjadi rutinitasku, mengenangmu akan menjadi rentetan ceritaku, memikirkanmu akan menjadi penghias setiap detik waktuku, mencintaimu akan menjadi penyejuk jiwaku. Apa yang masih kau takutkan?” Aku terisak. Lantas setega itu kah Aku harus pergi meninggalkannya?

3 tahun kepergiannya, 3 tahun pula Aku tahu sebuah kenyataan pahit. Aku mengidap sebuah penyakit. Usiaku tak terbatas, tak ada yang tahu. Aku memberinya sebuah kabar duka usai perpisahan kami nan panjang. Yusuf. Ia masih tak percaya dengan semua penjelasanku. Sama halnya ketika Aku bercerita tentang kuliahku. Aku bukan dokter, dan mungkin tak kan menjadi bagian dari kehidupan dokter. Aku lebih memilih menjadi bagian hidup dari seorang fisikawan.

2016
Ada serangkaian kata yang masih terkunci dengan kokoh. Menata dengan pelan, dalam kotak penyimpanan. Terkadang, hanya kutengok. Sesekali, hanya melihat tanpa hendak menyapa. Tak ada daya untuk meraih kunci. Biarkan Ia tersimpan rapi, aman, dan penuh kedamaian. Ya, damai. Karena disanalah tempatnya harus menetap. Jika kelak Ia mengalun lembut, hingga tiada kau sadari, maka anggaplah Ia telah menemukan kuncinya. Bukan perkara mudah, memang. Bersembunyi dalam kebersamaan. Diam dalam candaan. Tak mengerti arah dalam perjalanan. Ah, biarkan rangkaian kata yang telah tersimpan rapi itu tetap tersimpan hingga kini. Tak perlu resah, atau takut dengan segala kemungkinan yang mungkin akan terjadi. Tak ada jaminan akan kepastian. Tengadahkanlah tangan dengan anggun. Dan biarkan, rangkaian katamu dan kataku menemukan kita.

30 juni 2016, usai gelar S1 telah kuraih, Yusuf membuktikan janjinya. Ia mendatangiku beserta keluarga besarnya. Kami resmi menikah, 1 minggu sebelum bulan puasa. Aku memang belum sembuh dari penyakitku. Tapi Yusuf selalu meyakinkanku, jodoh tak selalu berhubungan dnegan kematian. Hingga detik ini, fisikawan muda itu masih setia menemaniku. Ia memang tak memintaku menunggu, tapi Tuhan membuatku menunggu. Demikian inilah sekenario yang begitu indah, yang pernah Yusuf ceritakan padaku. Tak ada yang lebih indah dari skenario Tuhan. Aku tak pernah tahu apa yang akan terjadi. Tapi, selama hidup dan matiku bergantung pada Tuhan, Aku percaya sekenarionya akan selalu indah. Yusuf. Aku belajar banyak hal darinya. Termasuk alasannya melepaskanku. Karena ternyata, Ia sangat mencintaiku. Ia tak ingin membuatku terluka di dunia dan akhirat. Adakah yang lebih romantis dari percakapan seorang insan yang mencinta dan menyampaikan pengharapannya terhadapmu melalui Sang Maha romantis?

Boleh jadi apa yang dia sampaikan memang tak kau tahu. Namun Sang Maha romantis menyampaikannya dengan cara yang lebih romantis. Tanpa kau tahu, sedemikianlah itu pengharapannya. Dan hari ini, Tuhan menyampaikan pesannya dengan amat romantis.

Cerpen Karangan: Laili Ni’amah
Blog / Facebook: blog.uad.ac.id/members/laili1300001034 / laili ni’amah
IG: @Laili_Niam
FB: Laili Ni’amah
Twitter: @LailiNiam
Path: Laili Ni’amah
Blog: http://blog.uad.ac.id/members/laili1300001034/
line: @lailiniam

Cerpen Lentera Usai Senja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Like a Light

Oleh:
“Sebuah keindahan telah diciptakan Allah SWT, berupa seorang gadis yang begitu mempesona, dengan senyuman yang sangat menenangkan, membahagiakan dan senyuman yang begitu terang seperti cahaya” – bap Itu adalah

Rain and Rainbow

Oleh:
“Pelangi butuh hujan untuk menjamah indahnya dunia. Begitu juga hujan, ia butuh pelangi untuk menyicip manisnya dunia dengan warna indah yang mampu menutup semua tangisnya … ” ‘TAP TAP

Pole In Love (Tiang Cinta)

Oleh:
Matahari mulai meninggi dengan sendirinya, Udara yang tadi hangat kini mulai perlahan panas, semerbak wewangian yang tak asing di hidungku terus menyengat. Ya, wewangian ini memang parfum alami dari

Duhhh… My Boss!

Oleh:
Aku memandang mukanya sekilas. Sedikitpun nggak ada kesan ramah, beda jauh dengan pak Geri, mantan bosku yang baru resign. Memang sih pak Geri agak pelit, tapi mendingan daripada harus

Status Adik Kakak (Part 1)

Oleh:
“Ku coba untuk melawan hati. Tapi hampa terasa, disini tanpamu. Bagiku semua sangat berarti lagi. Ku ingin kau disini tepiskan sepiku bersamamu. Hingga akhir waktu” ucapku saat menyanyikan sedikit

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Lentera Usai Senja”

  1. andi says:

    Huhhhh, cerpennya bagus, terus berkarya ya(y)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *