Lihat Dengan Hati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 25 June 2014

Katanya sih bulan-bulan berakhiran imbuhan ber itu menandakan musim hujan. seperti bulan September ini. lagi dan lagi aku duduk di taman. aku gak akan pernah lupa ataupun melepaskan kenangan indah di tempat ini. taman yang indah dengan danau di tengahnya. beberapa orang sedang latihan band, beberapa lagi sedang pacaran dan beberapa keluarga yang menghabiskan sore mereka disini. dan aku? entah kenapa selama beberapa bulan ini aku rutin kesini. bukan melaksanakan aktivitas seperti mereka. bukan juga untuk senang-senang. aku disini menunggu, menanti entah sampai kapan. senyuman itu, tawa itu, suara itu dan sentuhan lembut itu gak akan pernah bisa aku lupakan. aku masih disini, setia manunggu sampai dia benar-benar datang. ku luangkan tiap soreku untuk menunggunya, kutinggalkan kesenanganku dengan teman-temanku demi dia. demi orang yang sampai saat ini tak kunjung datang. yang sampai kini gak ada kabar dan aku masih setia menunggunya. apa aku ini bodoh atau naïf? bukan. aku tidak seburuk itu. aku hanya orang yang selalu menepati janjiku.

Aku jadi ingat beberapa bulan lalu dia bilang dia akan pergi sebentar ke luar kota untuk menyelesaikan skripsinya dan akan segera kembali untuk menemuiku. harusnya kami bertemu sejak sebulan yang lalu. tapi dia gak ada kabar sama sekali sampai sekarang. sebelum dia gak ada kabar seperti ini dia menyuruhku menunggunya disini jam 4 sore. aku menepati janjiku tapi dia tidak. bahkan sampai saat ini.

“masih menunggu cowok kamu?” tiba-tiba ada suara di dekatku. aku menoleh ke cowok beralis tebal yang memegangi payung.
Aku menghela nafas. kenapa selalu cowok ini yang datang? aku selalu berharap yang datang itu Revin. sejak hari yang harusnya jadi hari pertemuanku dengan Revin, malah Denis terus yang datang. dulu cowok ini membawakanku payung saat aku nekad menunggu Revin di bawah pohon besar. dan bodohnya dulu aku memeluknya saking sedihnya karena orang yang aku tunggu tidak datang.
“kamu cewek yang setia ya. ini udah mau magrib loh. gak baik disini malem-malem.”
Benarkah? berarti aku sudah hampir dua jam menunggu Revin disini. aku celingak-celinguk barangkali Revin sudah datang. benar-benar datang dan ada di hadapanku. “mungkin dia akan telat.”
Denis tersenyum, sangat manis. whatever lah yang penting aku sama sekali gak menyukainya. senyuman Revin pastilah lebih manis dan aku ingin melihatnya. ingin sekali. “alasannya begitu terus. hayu aku anter kamu pulang.”
Akhirnya aku menyerah dan setuju untuk diantar oleh Denis, toh hampir setiap hari dia mengantarku pulang. gak tau sebenernya dia siapa. tapi dia baik sekali dan aku pun merasa aman dengannya. padahal dia kan orang asing. aku hanya kenal nama saja.

Esoknya aku kembali menunggu Revin di taman. untung saja kali ini langit sangat mendukung, matahari masih setia menemaniku. aku jadi agak bingung, tumben banget Denis gak kesini menjelang magrib begini. biasanya cowok itu selalu datang sambil bawa payung. mungkin dia datang hanya saat hujan aja kali ya untuk membawakanku payung? ah! ngomong apa aku ini. aku kan sedang menunggu Revin, bukan menunggu cowok asing itu.

Sampai menjelang magrib Denis gak juga datang apalagi Revin. aku jadi ingat kata-kata Denis, gak baik sampe malem disini. aku memgusap air mata yang mulai jatuh ini. sampai kapan aku harus menunggu Revin. aku lelah. aku ingin mengakhiri semua ini. tapi aku sangat mencintainya. kenapa ia gak juga kembali? aku sangat merindukannya. merindukan pelukan cowok itu. aku berbalik dan melihat ukiran namaku dan nama Revin di pohon besar di belakangku. perlahan aku menyentuhnya. ini seperti ukiran baru. kelihatan banget. “Revin. apa dia sudah kembali? kenapa gak menemuiku?” aku celingak-celinguk namun tetap tidak menemukan sosok cowok itu disini. aku juga menemukan payung, payung yang biasa dibawa Denis untukku. kenapa payung ini bisa ada disini?

Malamnya aku bertemu dengan teman SMA aku dan Revin dulu di toko buku. “hey, Reno kan?”
Cowok berkacamata itu menatapku, berusaha mengenaliku dan langsung tersenyum lebar. “wah! Febi ya?”
“iya ini aku.”
“kenapa sendirian? gak sama Revin?”
Ah! kenapa sahabat karibnya Revin mengingatkanku pada Revin. aku kan sedang berusaha melupakan cowok itu. “ketemu aja udah gak pernah. ada kali empat bulan. dia menghilang gitu aja sih.”
“masa sih? padahal dia kan udah kembali dari luar kota.” Reno kelihatan bingung juga. padahal ia sering sekali ketemu Revin, sahabatnya itu.
“benarkah?” aku nyengir, miris. ternyata cowok itu sudah kembali dan sama sekali gak menemuiku atau mungkin dia emang gak mau ketemu ya? mungkin dia sudah melupakanku.
“atau jangan-jangan lo belum tau?”
“tau apa?” aku jadi penasaran.
“Revin pernah kecelakaan di lab kimia kampusnya di Bandung. sampe mukanya rusak. dan dia operasi muka. mukanya emang beda sih. tapi matanya masih kayak dulu. jangan-jangan dia belum ngasih tau lo ya?”
Aku terkejut. bagaimana mungkin hal separah ini aku gak tau dan gak ada yang memberitahuku. “gue gak tau. dia sekarang dimana?” aku langsung panik.
“gak tau deh. tapi tiap sore pas ujan dia ke taman. gak tau deh ngapain. yang jelas bukan ngojek payung sih.” Reno berusaha bercanda, dia berhasil membuatku tertawa dan melupakan sejenak soal Revin. tapi kemudian aku mengingat lagi.
Aku membelalakkan mataku, aku jadi ingat pertama kali kita bertemu, senyuman itu. mata itu. sentuhan itu dan hangatnya pelukan itu. aku ingat sekali semua itu sama banget dengan Revin. tapi kenapa? siapa sebenarnya cowok itu? mata kebiruan itu sangat mirip dengan mata Revin. aku terdiam di tempat itu.

Keesokan harinya aku menunggu kembali di tempat biasa. tapi kali ini aku bukan menunggu Revin. dan sekarang aku sedang menunggu Denis. kemarin cowok itu tiba-tiba saja menghilang. tiba-tiba juga aku merindukannya.

Aku mengayun-ayunkan kakiku di air danau yang cukup jernih, membiarkan air hujan membasahi tubuhku. tiba-tiba air hujan berhenti membasahi tubuhku. aku mendongak. ah! payung itu lagi. aku menengok ke orang yang membawakannya dan benar saja itu Denis. “hey.”
“masih menunggu?”
“iya.” aku tersenyum.
Denis membantuku untuk berdiri. “pasti orangnya belum datang ya?”
“tidak. orangnya sudah datang dan memang selalu datang.”
Kali ini Denis mengerutkan keningnya, mungkin dia bingung. lalu tersenyum. “maksud kamu?”
Aku menggeleng-geleng. dan langsung memeluknya. iya. aku gak mungkin salah merasakan hangatnya pelukan ini. rasa nyaman yang menggelitik hatiku. ini benar-benar Revin. aku tidak peduli jika cowok ini berenkarnasi menjadi orang lain. tapi jelas rasa ini masih tetap sama. “aku harusnya sadar kalo ini kamu. kenapa aku gak sadar dari dulu? aku harusnya tau kamu selalu menepati janji kamu.”
Denis kali ini membalas pelukanku dan mencium rambutku. “ternyata kamu sudah mengenali aku. maafin aku yang gak bisa jujur sama kamu. aku terlalu takut. takut kamu gak bisa menerima aku yang sekarang.”
“aku akan selalu menerima kamu. seperti apapun kamu sekarang. walaupun dengan wajah yang beda. aku tidak peduli. yang penting hati kamu masih sama.”
“maaf ya. tapi setelah berpura-pura jadi orang lain… Aku tau kamu selalu setia menunggu aku kembali.”
“kenapa ganti nama jadi Denis sih?” aku cemberut. andai saja aku tau kalau Denis itu adalah Revin. orang yang selama ini aku tunggu.
“biar agak bule gitu. kan mata aku biru.” cowok itu tertawa. persis sekali dengan tawanya yang dulu.
“wooo. pamer ya.” aku mencubit lengannya.

Cinta itu bukan hanya kita lihat pakai mata tapi juga pakai hati. karena cinta akan lebih jelas terlihat jika dilihat dari hati. aku sadar selama ini mataku sama sekali gak mengenali orang yang kucintai namun hatiku mengenalinya walaupun agak terlambat. aku merasa penantianku selama ini sama sekali gak sia-sia. dia memang selalu ada untukku, bersamaku di sampingku dan… di hatiku.

Tamat

Cerpen Karangan: Ade Dwi Lestari
Facebook: Ade Dwi Lestari
namaku Ade Dwi Lestari sekarang masih sekolah kelas XII di SMK farmasi di jakarta. hoby banget nulis cerpen dan novel. nih twitter aku boleh di follow @tarieellSp

Cerpen Lihat Dengan Hati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dirimu Mengalihkan Duniaku (Part 1)

Oleh:
Sore itu mendung kelabu menggantung di langit mengantarkan kepergianmu ke peristirahatan terakhir. Lantunan ayat-ayat suci masih menggema di telingaku, menyertaimu dalam damai. Meskipun ulama memakruhkan kalau perempuan tidak boleh

Dandelion Senja

Oleh:
“Aku suka banget bunga dandelion” ocehmu, saat kita duduk berdua di tepi danau sembari memegang bunga yang kau maksud. Aku hanya diam dan menerawang langit.. tak jelas apa yang

Cinta Sampai Mati

Oleh:
Petualang cinta? mungkinkah itu diriku? Tapi aku lebih suka dengan menyebutnya metaforlova, sebuah perjalanan cinta, dari satu masa ke masa lain dalam kehidupanku. Kali ini aku bertemu dengan seseorang

White or Black?

Oleh:
“Yaraaaa… Cepat dikit dong! Udah jam tujuh kurang lima belas nih! Ntar telat!” Perkenalkan namaku Trisha Chiara biasa dipanggil Icha dan yang tadi kupanggil itu adalah Yara, dia adikku.

Menatap Hujan

Oleh:
Kembali hujan di sore hari mengguyur bumi ini. Di sini intensitas hujan memang cukup tinggi, tidak heran banyak yang bilang kota ini kota hujan. Yap, benar Bogor. Tanah kelahiranku.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *