Like a Light

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 13 November 2017

“Sebuah keindahan telah diciptakan Allah SWT, berupa seorang gadis yang begitu mempesona, dengan senyuman yang sangat menenangkan, membahagiakan dan senyuman yang begitu terang seperti cahaya” – bap
Itu adalah potongan kalimat kalimat yang di tulis oleh Bima di buku catatannya

Bima Aji Prayoga, adalah murid kelas XI di salah satu SMA favorit di jakarta, ia dinilai cuek oleh orang orang di sekolahnya tetapi justru sebaliknya dia adalah anak yang sangat ramah tamah kepada orang yang dekat dengannya. Ia sangat gemar menulis, dia selalu menulis ungkapan hatinya di sebuah buku catatan.

Ia cukup populer di sekolahnya karena prestasinya, oleh karena itu tidak sedikit perempuan yang jatuh hati kepadanya, tetapi selama ini tidak pernah ada satu pun wanita yang membuatnya jatuh cinta, dia hanya sekedar mengagumi saja. Hingga suatu hari

“Bimaaaaa” terdengar suara seorang perempuan memanggilnya
“Dari tadi gua panggil gak denger denger lu bim, payah” ketusnya lagi, ternyata dia adalah Gita, ketua OSIS di SMA tempat Bima menuntut ilmu, perempuan yang Bima kagumi.
“hmm… Ada apa emangnya git, sampai sampai lu rela lari buat ngejar gua kaya gitu.” tanya Bima dengan sangat penasaran
“OSIS angkatan gua punya rencana buat bikin drama di acara perpisahan kelas XII dan gua mau lu bantu gua bikin text sekalian ikut jadi pemainnya, gua denger denger lu jago bikin kata kata.” jelas Gita kepada Bima
“Ta…Tapii…” Jawab Bima gugup
“ga usah pake tapi-tapian, gua mau ke ruang guru nih, tunggu gua ya pulang sekolah kita pulang bareng.” potong Gita.

“Gita… Selama ini aku adalah satu dari banyaknya lelaki yang mengaguminya, entah bagaimana awalnya, bagaimana aku bisa mengaguminya, yang jelas dia adalah ‘ketidakmungkinan’ yang selalu aku harapkan” tulis Bima di catatannya,

Hingga akhirnya bel pulang sekolah berbunyi.
Pukul 14.00 semua murid keluar dari kelas masing masing untuk pulang ke rumah atau untuk main bersama teman teman mereka, berbeda dengan Bima dia menunggu Gita di depan gerbang sekolah, tetapi wanita yang ditunggunya itu tak kunjung datang hingga jam menunjukan pukul 15.30 akhirnya Bima memutuskan untuk pulang, tetapi baru dua langkah dia meninggalkan sekolah terdengan teriakan seorang perempuan yang memanggilnya.

“Bimaaa… Maaf agak lama ya, tadi ada rapat dulu, maaf banget” jelas perempuan itu yang tidak lain adalah Gita
“Ayo kita langsung pulang aja, lu bisa bawa motor kan? Bawa motor gua ya” lanjut Gita menarik tangan Bima tanpa menunggu jawaban Bima.

Di perjalanan mereka terus membicarakan tentang drama yang akan mereka buat, Bima hanya mengiyakan ucapan Gita saja karena sedari tadi Gita terus berbicara dengan cerewetnya dan entah kenapa kecerewetan itu membuat Bima tambah jatuh cinta kepada Gita. Mereka sepakat untuk mengangkat drama tentang masa masa SMA dimana ada kenakalan, percintaan, juga persahabatan di dalamnya.

Setelah kejadian itu mereka menjadi semakin dekat, setiap harinya mereka selalu berbicara untuk membahas drama, dan Bima juga menjadi akrab dengan anggota OSIS yang lainnya. Dan, hal itu juga yang membuat perasaan Bima bertambah, dia selalu menulis buku catatannya dengan nama Gita, Gita Gita dan Gita.

To Gita:
“Semua berubah, perubahannya sangat sangat terasa, ketika aku melihatnya aku mulai tertarik kepadanya, ketika aku di dekatnya aku merasakan kegugupan yang begitu luar biasa, dan ketika aku berbicara dengannya aku mulai merasakan kenyamanan, ya kenyamanan yang begitu dalam.”

Waktu untuk mempersiapkan drama tidaklah panjang, mereka hanya mempunyai waktu kurang lebihnya 45 hari, ditambah lagi mereka harus melaksanakan ujian kenaikan kelas sehingga waktu untuk latihan drama terpotong. Tetapi mereka harus bisa memberikan kenang kenangan yang indah kepada kakak kelas mereka, mereka harus bisa tampil maksimal. Di dalam drama Gita menjadi tokoh utama wanita, yang begitu persis dengan Gita yang sebenarnya. Gadis cantik, populer, idaman semua pria dan gadis yang shalehah, semantara Bima menjadi pemeren utama pria karena paksaan Gita.

“Semua orang salah menilainya, dugaan mereka salah, laki-laki itu dia berbeda dengan laki-laki biasanya, dia dengan segala kesederhanaannya, keluguan dan kepolosannya, dan dengan segala kekurangannya begitu sempurna di mataku, apa ini? Kenapa setiap hari aku memikirkannya? Bahkan aku tak bisa sehari pun tidak mengingatnya, dia merubahku, dia membuatku kecanduan, ya kecanduan untuk berada di dekatnya, aku… Aku jatuh cinta kepadanya.” – Gita

H-5 untuk drama, semua sibuk menghafalkan text mereka masing masing, begitu juga dengan Bima dan Gita, mereka selalu latihan bersama karena mereka adalah lawan main…
“Git, kamu udah makan siang? Makan dulu yok aku lapar” tiba tiba Bima berbicara hal itu kepada Gita dan membuat Gita kaget mendengarnya
“Hah? Apa… Aku? Kamu? Apa gak salah denger?” tanya Gita bingung bercampur senang
“Emangnya ada yang salah ya Git?” tanya Bima lagi dengan kepolosannya
“Eh… Engga kok Bim, justru akuu malah seneng hahahah, ayuk makan” Jawab Gita dengan menarik tangan Bima.
“Eh iya Bim, nanti adegan kamu nembak aku di text udah kamu bikin kan? Bagaimana kalo adegan itu kita jadiin penutup drama aja?” tanya Gita memulai pembicaraan.
“Hmm udah jadi Git, iya rencananya kan emang begitu, jadi kita bikin happy ending” Jawab Bima seraya menyuapkan nasi goreng ke mulutnya
“Hmm oke kalo gitu, mana textnya aku mau baca.” tanya Gita lagi
“Kepo kan, ini rahasia hahaha.” ledek bima dengan mencubit hidung Gita.

Hingga akhirnya h-3 acara drama, Gita pergi ke supermarket untuk membeli beberapa makanan, tetapi di perjalanan Gita melihat Bima, tapi tidak seperti biasanya, Bima bersama dengan perempuan dan keliatan sangat mesra, dan hal itu membuat Gita sakit hati, selama 2 hari Gita tidak membalas pesan dari Bima, dan hal itu membuat Bima menjadi khawatir, dan selama 2 hari pula Bima tidak melihat Gita di sekolah, akhirnya Bima datang ke rumah Gita untuk mencari tau apa yang terjadi, tetapi sesampainya di rumah Gita tidak ada orang di sana, Bima menunggu di depan rumah Gita berharap Gita datang, langit sudah mendung dan awanpun seperti ikut bersedih menyaksikan apa yang dirasakan Gita dan Bima, Gita mengetahui bahwa Bima ada di depan rumahnya, Gita tidak mau membukakan pintu karena dia tidak mau melihat Bima lagi, dia tidak ingin kecewa lagi, tetapi akhirnya Gita keluar membawa payung dan langsung menuju ke arah Bima.

“Kenapa? Kenapa harus hujan hujanan, besok adalah waktu kita buat nampilin apa yang selama ini kita buat dengan susah payah, apa kamu mau ngehancurin itu semua?” tanya Gita dengan nada agak tinggi
“Sedari tadi aku menunggu cahaya, cahaya yang menerangiku selama ini, aku tau bahwa cahaya itu ada di sini aku yakin akan hal itu, dan ternyata aku benar, sekarang cahaya itu ada di depan mataku,” jawab Bima dan tanpa disadari setelah ia berbicara hal itu Gita meneteskan air matanya, air matanya tidak terlihat karena wajahnya terguyur air hujan.
“Apa yang kamu maksud cahaya? Bukanya kamu sudah memiliki cahayamu sendiri?!” jawab Gita, dan ia pun langsung lari masuk kedalam rumahnya

Bima terus memikirkan apa yang dikatakan Gita. Sampai keesokan harinya, saat yang ditunggu tunggu pun tiba, iya perpisahan kelas XII, drama sebagai acara terakhir dan menjadi penutup pesta perpisahan, tetapi waktu untuk drama tinggal 15 menit lagi Bima dan pemeran dalam drama lainnya menunggu Gita yang sedari tadi belum datang, hingga akhirnya drama pun dimulai, tetapi Gita belum datang juga, Bima meminta tambahan waktu 15 menit kepada kepala sekolah untuk menunggu Gita dan hal ini membuat para penonton kecewa dan terdengar sorakan sorakan penonton. Akhirnya setelah menunggu 10 menit Gita pun datang dan drama dapat dimulai.

Selama drama berlangsung penonton yang tadinya tidak tertib menjadi sangat tertib dan pandangan mereka hanya tertuju pada drama, drama yang terlihat seperti kisah nyata yang dialami mereka, hingga akhirnya klimaks cerita pun tiba, dimana Bima akan menyatakan perasaannya kepada Gita

“… Entah apa alasannya yang membuatku membulatkan tekadku ini, berikan aku waktu 5 menit saja untuk mengungkapkan ini… Seperti cahaya… Senyumanmu, seperti sebuah melodi… Suaramu, tak bisa lagi tergambarkan olehku kesempurnaanmu, aku tau… Aku hanyalah salah satu dari sekian banyaknya orang yang mengagumimu, aku sadar hanya kesederhanaan yang aku miliki, tapi tolong jangan sia siakan kebulatan tekadku ini, aku ingin kau terus menemaniku, dan berada di sisiku dan menerangi setiap langkah yang kutempuh… bukan hanya di drama ini, tetapi juga untuk di dunia nyata, sekali lagi aku ingin kau menjadi milikku…” ungkap Bima dengan penuh perasaan.
Mendengar hal itu Gita langsung membalikan badannya dan hendak meninggalkan panggung tetapi Bima langsung memegang tangan Gita dan Gita menganggukan kepalanya tanda dia menyetujui

Akhirnya drama selesai terdengar suara tepuk tangan dari penonton bahkan ada beberapa orang yang menangis karena terbawa suasana. Berbeda dengan Gita, setelah drama selesai dia pergi, dengan air mata yang mengaliri wajah indahnya. Bima mencari Gita tetapi tidak ketemu, hingga akhirnya Bima menemukan Gita di taman dekat sekolah

“Kamu tau aku selalu memikirkan apa yang kamu bilang kemarin, aku gak tau apa maksud kamu,” tanya Bima dengan nada agak sedih
“Jangan pura pura gak tau! Aku ngeliat kamu jalan sama perempuan di dekat supermarket dan…” jelas Gita sambil menangis
“oh karena itu hahahaha, kamu tau 5 hari lalu bibi aku meninggal dunia dan sebelum meninggal bibi nitipin anaknya ke keluarga aku dan aku disuruh nemenin dia selama dia beradaptasi di jakarta, Git git ternyata kamu selama ini suka juga sama aku ya, aku kira cuma aku yang punya perasaan itu ke kamu,” jelas Bima
“Jadi sekarang udah kan selesai?, kamu belum jawab pertanyaan aku yang dipanggung tadi…” Tanya Bima lagi
“Iya Bim aku mau, aku akan jadi cahaya kamu dan aku akan berusaha agar selalu menjadi cahayamu.” potong Gita.

Cerpen Karangan: Bayu Agung Prabowo
Facebook: bayu agung prabowo
Bayu Agung Prabowo
18 agustus 2002
Ig: b.agungp_
Line: b.agung10

Cerpen Like a Light merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Mengalahkan Segalanya

Oleh:
Bian dan Ratih adalah sepasang kekasih yang serasi. Bian adalah seorang manager di sebuah perusahaan swasta sedangkan Ratih hanyalah seorang penjual bunga di kios kecil di pinggir jalan. Sudah

Sebungkus Permen

Oleh:
Matahari bersinar dari ufuk timur. Burung-burung terbang tinggi menimbulkan kebisingan yang menenangkan. Embun menempakan diri di atas dedaunan. Sinar matahari memaksa masuk melalui celah-celah tak tertutup. Seorang perempuan belia

Secantik Sakura

Oleh:
Terik mentari menyambut jiwa yang bangkit dari tidur malamnya. Seperti biasa diceknya hp sebelum pergi ke kamar mandi dan seperti biasa pula pasti ada sms dari kekasihnya, “Selamat pagi,

Tetesan Hujan

Oleh:
Seharian ini hujan lebat. Hujan ini menghalangi jalanku menuju rumah Rara. Aku jadi menunda untuk kesana. Padahal aku ingin sekali ke rumah Rara, bukan sekedar mengembalikan bukunya saja. Tetapi

Hujan

Oleh:
“zal… bangun zal!!!” seorang wanita yang rambutnya telah memutih mengguncang-guncang tubuhku. Baru sekitar 15 menit yang lalu mataku terpejam, dan sekarang dipaksa bangun. “iya… kenapa eyang?” jawabku dengan mata

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *