Little Memory of You

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 31 May 2016

Melenia:
Apa hal pertama yang biasa dilakukan oleh cewek Indonesia saat pertama kali bangun? Yup, that’s right. Buka ponsel. Kenapa bisa begitu? Gue sendiri juga nggak tahu sih. Tapi entah kenapa, every damn cellphone has its own way to pull us to check it up in the morning. Seperti prioritas. Dan gue juga sadar kalau itu ironis banget. Bukankah seharusnya kita bersyukur dulu atas pagi hari di mana kita dihidupkan kembali? Ok. Skip. Iphone gue sudah berbunyi beberapa kali. Ampuh juga gue setel lagu rock sebagai alarm. So now, here I am. Senyam-senyum gak jelas melihat layar Iphone. Dua Imessage dari cowok Rusia itu. Sudah berapa hari ya gue nggak ketemu dia? Habisnya dia sibuk tiap kali gue ajak hang out. Terakhir gue minta dia ajarin gue ice skating, katanya tumpukan dokumen yang harus dia selesaikan masih banyak. Jadi ya gue terus menunggu sampai saat ini datang.

‘Melenia, hari ini kamu sibuk?’
‘Kalau tidak, aku jemput kamu jam 9 pagi ya.’
Dua pesan singkat yang langsung bikin gue panik. Segera gue balas pesan si Raksasa itu. Antara panik, excited, sama bingung dicampur jadi satu.
‘Hi Ivan. Gue lagi gak sibuk kok. Emang mau ke mana?’

Dan dengan itu, gue langsung menyerbu kamar mandi. Gue tahu kalau gue mandi, gue menghabiskan tiga puluh menitan. Gue bersyukur banget pas tahu kalau sekarang masih jam delapan. Semoga make-up natural gak makan waktu banyak. Cream skirt, white tee plus lace cardigan. Entah kenapa dari sekian banyak baju, itulah yang gue pilih. Mungkin karena gue seneng banget warna-warna itu. Kesannya netral dan simple. Who doesn’t like that? Tinggal gue yang sarapan dengan cemas-cemas harap. Dan suara ketukan terdengar. Oh my god. He’s here.

“Iya bentar.” Sahut gue saat ketukan ketiga selesai. Dengan langkah tergopoh-gopoh itu, akhirnya gue sampai. Pintu apartemen gue terbuka dan di ambangnya sudah berdiri cowok tinggi berkulit putih pucat itu. Cowok yang sudah gue rindukan sejak seminggu yang lalu. Lebay banget kan gue? Tapi serius. Ada sesuatu yang bikin gue kangen ketemu sama dia.

“You look beautiful.” Pujinya sambil menggamit tangan gue dengan lembutnya. And he kissed it. I mean, zaman sekarang mana ada sih cowok yang kayak gini? Ataukah faktor budaya di negaranya?
“Gue kangen berat, Van.” Ujar gue tiba-tiba. Wajar nggak kalau gue menerobos batas antara teman dan lebih dari teman sekarang?
“Kamu sudah sarapan?” Aksen Rusia yang kental itu terdengar lagi. Sialan lo. Pernyataan gue gak digubris. Dan di situ gue cuma mengangguk kayak mainan kucing yang ada di tokonya Kokoh Icin.

“Oh iya. Lo mau bawa gue ke mana nih? Jangan ke tempat yang enggak-enggak ya.” Canda gue sambil mengunci pintu. Gue mengangkat sedikit kunci tersebut. Memperlihatkan gantungan kunci yang dia kasih waktu dia bilang dia bakal sibuk sama kerjaannya. Small things.
“Maksudmu? Aku cuma mau bawa kamu kabur kok.” Polos banget lo, Ivan.
“Hah? Kabur? Ivan, gue masih 19 tahun! Lo gak bisa bawa kabur anak orang seenak udel lo!” Lengan dia yang besar itu gue pukul agak keras. Gue tahu dia gak akan merasa sakit. Tapi perasaan wajib memukul dia itu tetap ada. Dia menatap gue dengan lembut sambil mengelus lengannya yang gue pukul tadi.

“Hey.. it hurts. Kamu habis latihan weight-lifting belakangan ini?” Tanyanya. Iih.. Mau nyindir apa ngasih pujian sih lo? Bikin gemes aja kerjaannya.
“Enggak kok. Kali lo nya aja yang jadi lemah.” Gue menekan tombol lift.
“Mobilku di parkiran luar.” Ujarnya sambil menekan tombol lantai dasar. Mengabaikan ejekan gue.

Lalu tiba-tiba, aura di sekitar gue berubah jadi menakutkan. Gue lirik Ivan dengan perlahan. Ya, saudara-saudara. Sepertinya kita akan adakan pemakaman untuk saudari Melenia Sudarsono. Just saying. Nampaknya dia bakal membekap gue pake Teal scarf-nya yang panjang itu. Atau gue bakal dihantam pake pipa besi yang selalu dia bawa di mobil. Mata gue sudah terpejam sampai akhirnya pintu lift terbuka. Masih dengan senyuman polos dan aura gelap yang sama, dia menoleh dan menggenggam tangan gue sekali lagi. Menuntun gue supaya ke luar dari lift itu. Oh god, gue belum mau mati lah. Please. “Melenia, kamu takut naik lift?”

What?
Huh?

Maksudnya? Gue tidak takut naik lift. Belum ada tuh ya, sejarahnya Melenia Sudarsono ketakutan naik lift. Apalagi di sampingnya adalah cowok cakep yang social aloof kayak Ivan. Enggak banget. Tapi wajah dia waktu itu kelihatan cemas. Gue kira seharusnya dia tahu apa yang bikin gue ketakutan sampai memejamkan mata begitu. Syukurlah dia enggak sepeka yang gue kira.

“Oh.. Enggak sama sekali. Mungkin gue cuma terlalu senang bisa hang out sama lo lagi setelah beberapa lama gak ketemu.” Jawab gue sejujurnya. Kan gue sudah bilang tadi. Gue kangen berat Ivan.
“Hehe.. Maaf ya aku belum bisa luangin waktu.” Iya. Gue maafin kok.
“But still. Lo mau bawa gue ke mana?”
“Ke tempat yang jauh. Kamu pasti suka kok, Mel.” Dia tersenyum simpul sambil membukakan pintu mobil sedannya setelah kami sampai di parkiran.

“Tapi besok kan senin. Lo enggak apa kalau kita pulang malam?”
“Aku cuti besok. Kamu kan juga dikasih libur sama Miss Ita, kan?”
“How did you know?”
“Secret, podsolnechnik.”
Kayaknya gue tidak akan lepas dari panggilan itu. Panggilan khusus dari Ivan yang artinya ‘bunga matahari’.

“Podsolsenik?” Gue mengulang ucapannya bagaikan bayi yang tertatih untuk belajar berbicara. Gue lirik dia sebentar. Yah.. Gue diketawain. Cowok ini.. Kan tahu kalau gue agak susah dalam pengucapan bahasa dari negara yang dingin itu. Mobil melaju dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Di jalan tol berdua, mendengarkan lagu-lagu akustik yang rasanya pas dengan cuaca Jakarta hari ini. Sedikit berawan. Tapi gue suka. Nggak hujan ataupun panas. Dan gue rasa dia juga fine sama keadaan ini. Damai, tenang, dan agak melankolis. Kalau saja kebiasaan gue yang gak bisa berhenti mengoceh bisa dikontrol.

“Pernah gak sih lo ngelihat pertunjukan akustik yang live?”
“Nope. I haven’t. Memang kenapa?”
“Lo harus coba nonton Coldplay waktu event Apple Keynote. Waktu Almarhum Steve jobs masih ada. Bisa lo bayangin betapa kerennya mereka waktu bawain lagu Fix you? Chris Martin waktu itu..”
“I get the point. You love it. Tapi kenapa?”
“Ya keren, Van. Terutama kalau yang dibawain itu lagu Yellow. Nih gue puterin.” Dengan cepat gue menyambar kabel aux dari dashboardnya dan segera gue colokkan Iphone gue.

‘Look at the stars; look how they shine for you And everything you do
Yeah, they were all yellow
I came along; I wrote a song for you And all the things you do
And it was called yellow So then I took my turn
Oh what a thing to have done And it was all yellow
Your skin, oh yeah your skin and bones
Turn into something beautiful
D’you know?
You know I love you so
You know I love you so’

Ivan:
Matanya memandangi jalanan dengan tatapan takjub. Jakarta pada hari minggu memang nampak lengang. Karenanya aku suka sekali berkendara di hari ini. Lebih tepatnya, aku suka hari ini. Melihat wajahnya yang ceria begitu, benar-benar membuat semua tumpukan pekerjaan kemarin terbayar lunas. Bahkan sedikit bonus. Sepertinya rasa rindu ini sudah terlalu lama terbendung. Dia mulai mengoceh soal band favoritnya. Suara yang manis itu terdengar antusias. Sayangnya aku harus fokus pada jalanan. Pasti wajahnya berseri-seri dan tidak terlihat lelah walau sudah berceloteh sebanyak itu.

Akhirnya ia memutar sebuah lagu dari band tersebut. Mungkin saja kalau aku bohong soal aku nggak tahu lagu itu. Sebetulnya lagu itu sudah ku putar berulang kali sejak aku tahu dia suka. Naif sekali ya? Tapi menurutku, lagu itu memang cocok buat dia. Well.. Dia orang pertama yang nggak takut padaku. Secara keseluruhan. Perjalanan tiga jam ini kami nikmati tanpa gangguan. Untung tadi pagi aku sudah meminta Rai, Tori, dan Edward supaya tidak meneleponku. Kak Rina dan Natalya juga sudah ku mintai juga, walau Natalya masih mengancam akan mengecek akun sosial mediaku. Dasar adik kecil posesif. Menjelang jam 12 siang, terdengar bunyi yang mengganggu dari kami berdua. Iya, 3 jam di jalan membuat lapar. Ku harap dia masih bisa bertahan beberapa saat lagi. Lagi pula kami sudah masuk kawasan kota yang dituju.

“Mel?”
“Yaa.. Laper juga kan?” Tanyanya polos.
“Iya. Kita ke kedai rekomendasi Miss Ita yuk!”
“Eeh.. Tapi..”

Melenia:
“Lo hafal jalanan Bandung?” Gue memperhatikan papan penanda jalan yang hijau itu. Pasteur, Bandung? Cowok ini ngajakin gue jalan sampai sejauh ini? Effort banget, so sweet! Gue tahu iklim Bandung memang dingin. Cocok buat dia. Tapi gue nggak pernah ngukur sih di Moscow berapa derajat kira-kira. Wong baru saja jadi mahasiswi jurusan sastra Rusia.

“Tahan ya, Mel..” Ujarnya lirih. Ya ampun. Kalem aja kali. Gue sudah biasa makan telat sedikit. Tahu lah.. Kalau sudah merantau gitu, kadang nggak ada yang mengingatkan makan. Hehehe.
“Well.. I’m sure I can handle this, big guy.” Dia manggut-manggut mengerti. Rasanya wajah gue mulai menghangat mengetahui dia cemas akan keadaan gue.

Beberapa saat kemudian, kita sudah ada di daerah Dago, di pinggir jalan pas perempatan Dago-Pasupati. Menyeberang sedikit di belakang gedung BCA Dago. Sebuah plang unik bertuliskan “Bakso Boedjangan” dan maskotnya menyambut kami berdua. Dari luar pun, aroma khas bakso yang agak berbeda menyeruak. Mengaktifkan indra penglihatan untuk mengamati tempat ini. Kesan hangat terpancar saat melihat tembok bata berwarna kecokelatan yang berhiaskan foto-foto unik berbingkai. Obrolan riuh rendah terdengar di sana-sini. Ramai juga ya. Untung masih ada tempat untuk berdua. Ivan segera melihat-lihat menu.

“Eh, mau ngelihat menu? Gue ikut!” Tangan gue terulur mencengkeram lengan bajunya yang panjang.
“Nggak apa-apa. Aku tahu kesukaan kamu.” Senyuman simpul itu kembali hadir di wajahnya.
“Oke. Kalau salah, lo yang makan!”
“Siap bos!”

Akhirnya Ivan balik lagi usai memesan. Sempat gue lihat tadi, mas-masnya ketakutan gitu lihat dia. Yah.. Di mana aja, pasti dia kelihatan nyeremin. Dijamin kalau ke rumah hantu, yang ada hantunya duluan yang kabur. Kenapa sih nggak ada yang melihat pesona senyum polos dan mata berkilau itu? Atau gue saja yang aneh sampai memperhatikan dia sejauh itu?

“Mel.. Aku nggak mau ganggu lamunan kamu. Tapi ada apa sih di mukaku? Dari tadi dilihatin melulu..” Argh.. Dia sadar rupanya kalau lagi gue perhatikan.
“Enggak kok. Tadi lo ngapain sampai mas-masnya takut begitu?” Gue mulai mengalihkan topik. Sumpah, malu banget tertangkap basah begitu.
“Entahlah.. Aku aneh ya?” Tanyanya. Mulai down. Dia menatap gue lurus. Meminta jawaban jujur dari seorang Melenia. Apa susahnya?

“Nggak kok. Cuma sedikit intimidating aja.” Bloon lo, Mel.
“Oh..” Dia menunduk. Kopi yang dia pesan tadi ditatap dengan seksama. Aduh Ivan, tatap gue aja deh.
“I mean.. Kan lo emang tinggi. Wajarlah orang Indonesia terintimidasi sama orang Eropa dilihat dari fisik.”
“Tapi tadi yang tinggi juga ketakutan.” Pandangannya makin menunduk. Ada apa sih di bawah?
“Maksudku buat sebagian orang. Jangan diambil hati. Ini gue pendek tapi nggak takut.” Ya, ralat terus aja, Mel.

“Oh iya. Aku lupa. Untung ada kamu, Mel!” Wajahnya cerah lagi. Yes. You did a great job, Mel. Seriously. Kemudian pesanan kita berdua datang. Dan saat itu gue nggak tahu pengen peluk dia, pengen nangis, atau pengen minta tukar pesanan. Soalnya pesanannya persis apa yang gue pikirkan saat tadi. Sebetulnya gue saja nggak tahu makanan ini ternyata di sediakan di sini.

“Silahkan.. Bakso Teriyaki dan Bakso cengek.” Mas itu menaruh pesanan kami dengan gemetar dan segera pergi sebelum Ivan sempat bilang terima kasih.
“Thank you. Lo hafal..” Gue mulai menyantap bakso gue. Jujur, gue bingung kenapa dia pilih bakso cengek. Secara, biasanya kalau di Jawa Barat, sudah ada kata cengek, pasti makanannya pedas sampai bikin muka merah.
“Kalau aku pilih ini karena namanya lucu. Cengek.” Dia nyengir bagai anak kecil baru berbuat kesalahan kecil. Yah.. Sebetulnya rada fatal sih.

“Hufft.. kok.. Panas sekali..” Iya itu bakso dengan cabe Ivan.
“Namanya juga bakso cengek. Yang mesen siapa hayo?” Gue mulai menggoda dia yang mulai kelihatan menderita. Oh Ivan. How amusing. Muka merona, napas terengah-engah begitu. Ambigu.
“Kopi.. Habis..”
“Nih, mau teh botol gue?” Gue langsung menyodorkan teh botol itu tanpa pikir panjang.
“Yah..” Segera minuman gue disambar secepat kilat. Langsung tandas.
Saat itu gue baru sadar. Indirect Kiss.

“Thank you..” Sekarang mukanya sudah normal. Sebaliknya, muka gue yang memerah. Damn.
“Ya.. Sama-sama Ivan.” Gue berusaha menutupi muka gue. Sialan lo. Lo sudah tahu bakal begini kan? Makanya lo langsung menghabiskan secangkir kopi itu, ya kan?

Dengan begitu, dia lanjut makan dan memesan dua teh botol lagi. Tapi kali ini dia kelihatan biasa saja. Nggak kepedasan atau apa. Sengaja banget kan? Waktu kita mau bayar makanan, terdengar suara dari luar. Bau petrichor semerbak mengharumi. Hujan. Padahal gue sudah beberapa kali ke Bandung. Tapi selalu lupa kalau kota ini mirip London yang sering hujan juga. Alhasil, gue nggak bawa payung. Tapi cowok di sebelah gue merencanakan hal lain.

“Yuk!” Dia melepas mantel dan menaruhnya di atas kepala gue. And you know what kind of cliche that happened after that. Kita berdua lari menembus hujan menuju mobil berpayungkan mantel yang kelihatannya hangat dan mahal itu. Suara derap langkah kaki menginjak genangan air menggema. Orang-orang mulai mencari tempat berteduh. Sebagian lagi mengembangkan payung.

Ivan:
Itu pengalaman indirect kiss pertamaku sekaligus pengalaman pertama menembus hujan berdua. Jangan salahkan aku kalau aku belum bisa berbuat yang lebih manis dari itu. Ini memang pengalaman pertamaku dekat dengan gadis selain Kak Rina dan Natalya. Tapi nampaknya Mel nyaman saja dengan keadaan ini. Mungkin mencapai harapanku kalau dia menikmati hari ini seperti aku menikmati keberadaannya.

“Thanks for today..” Gumamnya. Rupanya ia mulai terlelap di kursi penumpang. Biarlah dia beristirahat selama perjalanan pulang. Rambutnya terurai menutupi wajah cantiknya yang terhias senyuman mengantuk. Tangannya dengan tenang ditaruh di atas pahanya. Ia Nampak sangat damai.
“Ya lyublyu tebya, Mel.” Bisikku perlahan.

Ingatan kejadian hari itu memenuhi otak mereka berdua. Membuat senyum di wajah mereka mengembang dengan caranya masing-masing. Entah mengapa keduanya merasakan kehadiran yang lain walau terpisah jauh Jakarta-Moscow. Lalu mereka memandang jari manis kiri mereka. Mengusap sebuah cincin yang simbol pengingat itu dan menghela napas perlahan.

“I miss you, dear podsolnechnik.”

Cerpen Karangan: Aninda Asshifa
Facebook: Aiko Harayui

Cerpen Little Memory of You merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bidadari Tak Bersayap

Oleh:
‘Koridor itu, mempertemukan aku dengannya, sesosok bidadari cantik yang mungkin sengaja turun ke bumi’ Masih jelas ku ingat saat pertama kali kami bertemu. Di sebuah koridor gelap, dan masih

Pejamkan Cinta Sejenak

Oleh:
Malam sendu ditemani hujan rintik, seakan ikut bersedih melihat tiara yang kali itu sedang memandangi sebuah potret. “aku tahu kamu selalu menyayangiku, bahkan ketika aku belum juga bisa mencintaimu”

Ramuan Keabadian (Part 2)

Oleh:
“Oh! Andre! Ternyata kamu. Dari dulu kamu tidak pernah berubah senang bikin onar!” kataku sambil tertawa mengingat hal kemarin. “Yang pertama aku gak sengaja. Yang kedua dan ketiga mungkin.

Lelaki Hujan

Oleh:
Seorang gadis sedang duduk di halte menunggu hujan reda. Namanya Maya. Mahasiswi semester 3 di sebuah universitas. Dan, hal yang paling tidak ia suka adalah, BASAH. Tiba-tiba seorang lelaki

Menunggumu Di Kaki Bromo

Oleh:
Zelo, ini masih sama. Aku masih menunggu saat dimana kita bersama pada hari itu. Saat aku pergi mengunjungi sebuah tempat yang indah dikelilingi beragam bunga edelweis yang bermekaran. Sendu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *