Love Street (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 18 June 2018

Di kelas
Lalu aku duduk dan mengikuti pelajaran seperti biasa.
Tak beberapa lama kemudian bel istirahat berbunyi, Aku mengeluarkan novel dari dalam tas dan membacanya.
“Hei… lo kenapa?” tanya renita mengejutkanku.
“Apanya kenapa?” tanyaku bingung.
“Tadi kok lo pergi?” tanya renita.
“Gak ada, cuma jelek aja moodku nengok mukanya.” jawabku.
“Yakin?” tanya steven.
“Apa sih?” tanyaku.
“Gak ada.” jawab steven.
“Ya udah.” balasku kembali baca novel.
“Pantas aja ko dev sifatnya gitu ke lo.” sambung steven.
“Apanya sifat?” tanyaku.
“Kan ko dev udah sebutin tipe cewek yang dia taksir dan itu semua mengarah ke lo.” jawab steven.
“Eh tunggu dulu, kan waktu ko dev ditanya alasan kenapa dia telambat dia bilang apa?” tanya renita.
“Tadi aku tersesat di jalan bernama cinta.” jawab steven.
“Itu persis dengan alasan waktu lo masih sd gue tunggu lo, lo telat 1 jam.” sambung
“Lalu apa hubungannya sama aku?” tanyaku.
“Ya banyak lah.” jawab renita.
“Apanya?” tanyaku lagi.
“Berarti dia mirip sama lo.” jawab renita.
“Dahlah malas aku bahas.” sambungku sambil membaca kembali novelku.
“Ahh malas aku bicara sama lo.” balas renita.
Aku hanya diam saja.

Tak lama kemudian bel istirahat pun berbunyi.
“Gimana kalau kita ke kantin aja.” ajak steven.
“Yuk.” jawab renita.
“Tere lo gak ikut?” tanya steven.
“Malas, Kalian aja pergi.” jawabku.
“Lo yakin, masa aku pergi berdua sama dia.” sambung renita.
“Kalian itu cocok dari pada nanti aku jadi nyamuk di antara kalian memding aku di kelas.” jawabku.
“Apa sih tere, kami tuh gada apa apa.” sambung steven.
“Sekarang gak ada apa apa besok atau nanti pasti ada apa apa.” jawabku.
“Ya udah, kami pergi dulu.” sambung steven.
“Bye…” ucapku renita, lalu pergi ke kantin bersama steven.

Tak lama setelah mereka pergi.
“Woi ngapain tadi lo pergi?!” panggil seseorang, ko devin.
“Ooo… lo lagi ya aku gak mau kelamaan di sana, bosan.” jawabku.
“Bosan kenapa?” tanya ko devin.
“Bisa gak sih lo itu diam aja sebentar, hilang dari pandangan aku.” sambungku.
“Kenapa?” tanya ko devin.
“karena gue mau mengundurkan diri jadi anggota osis, nih ambil kembali jaket osisnya.” jawabku sambil mengembalikan jaket osis.
“Enggak lo gak bisa mengundurkan diri gitu aja.” balas ko devin.
“Please gue mohon gue gak mau.” ucapku.
“Tapi.. kena..” ucapnya terpotong.
“Ko please gue mohon, ambil jaketnya, gue gak mau jadi anggota osis lagi.” ucapku.
“Ya udah terserah lo.” ucap ko devin sambil memgambil jeket dari tanganku, lalu pergi meninggalkanku.
“Ko!! koko tau kenapa gue gak mau jadi anggota osis, karena gue takut jatuh cinta ke lo.. karena semejak jadi anggota osis gue merasa ada perubahan di hati gue, maafkan gue ya ko devin.” gumamku sambil menutup novel dan memandang ke luar jendela.

Tak lama setelah kejadian itu.
“Tere, lo mengundurkan diri jadi anggota osis?” tanya seseorang.
“Iya.” jawabku (tidak melihat orang yang bertanya itu.)
“Kenapa?” tanya orang itu lagi.
“karena gue gak mau jadi anggota osis lagi.” jawabku.
“Lihat gue.” panggilnya. Aku menatapnya.
“Renita, steven?” ucapku pelan.
“Kenapa lo gak mau jadi anggota osis?” tanya steven.
“Kenapa lo selalu bilang bosan?” tanya renita.
“Kenapa lo se..” ucap steven terpotong.
“Stop… cukup pertanyaannya. aku gak mau jadi anggota osis karena bosan kenapa bosan karena aku.. aku..” ucapku.
“Kenapa lo berhenti?” tanya steven.
“karena gak ada yang perlu aku jelaskan.” jawabku.
“Ada banyak.” sambung renita.
“Apa sebutkan.” ucapku mulai marah.
“Lo kenapa gak mau jadi anggota osis? lalu kenapa lo selalu jawab bosan? apa lo suka sama ko devin? apa.. lo” tanya renuta terputus.
“Cukup..!!” bentakku. lalu pergi keluar kelas.
“Tere… gue tau lo suka kan sama dia.” teriak renita dari dalam kelas.
“Dari mata lo gue udah tau lo suka sama dia.” teriak renita lagi. Aku hanya diam saja

Setelah satu hari aku melepaskan jabatanku sebagai aggota osis aku jarang melihat ko devin semejak kejadian hari itu. Dan hari ini aku janjian sama steven dan renita mau ke mall cari long dress.
Setelah bersiap siap hanya membawa tas kecil favoritku, aku berangkat ke mall naik taksi.

Sesampainya aku di mall.
“Wah!! sekarang ini jam berapa?” tanya renita.
“Ke mana saja lo?” tanya steven.
“Jam 11.54 menit dari rumah.” jawabku.
“Gue tau itu.” jawab steven datar.
“Sekarang kita bisa langsung carikan?” tanyaku.
“Kita masih nunggu dua orang lagi.” jawab renita.
“Siapa?” tanyaku.
“Yang pasti orang.” jawab steven ketus.
“Gue tau.” jawabku datar.
“Entar lo pasti tau. Tuh orangnya udah datang.” jawab renita. Aku membalikkan badan.
“Ko devin sama kak shellya.” ucapku pelan. Berjalan sambil bergandengan tangan. Saat aku berbalikkan badan dan melihat ke arah renita stevn juga bergandengan tangan.
“Ceritanya ini double date gitu?” ucapku bingung.
“Menurut lo gimana?” tanya renita.
“Sorry kami telat.” ucap ko devin.
“Lama benget.” keluh renita.
“Tadi aku tersesat di jalan namanya cinta.” jawab ko devin masih bergandengan tangan dengan kak shellya.
“Oke kalau gitu gue jalan dulu dari pada jadi nyamuk.” ucapku berjalan meninggalkan dua pasang yang lagi bergandengan tangan.
“Hei… lo mau ke mana?” panggil kak shellya.
“Cari dress.” jawabku singkat sambil mempercepat langkahku.

“Mereka telah berpacaran tinggal aku yang masih jomblo.” ucapku sambil mengambil earphone dan memutar lagu. Aku berjalan ke toko baju.
“Saat hati ini terbuka untuk seseorang pasti langsung tersakiti. Kenapa? apa aku harus menjadi seorang cewek dengan kepribadian alay tapi itu bukan tipeku.” ucapku sambil berjalan mengelilingi seisi toko baju.
“Mereka bersama dan pasti mencari dress code yang couple.” pikirku sambil melintas di depan mereka.
“Eh… ada cewek aneh… udah ketemu dressnya?” ejek ko devin. Aku mendengarnya karena aku hanya memasang sebelah earphone saja.
“Menurut lo gimana?” tanyaku sambil berjalan ke luar dari toko baju.
“Mereka sangat cocok.” gumamku pelan sambil berjalan ke toko buku.
Aku sibuk memilih milih novel hingga lupa waktu.

“Hei…” panggil seseorang sambil menepuk bahuku.
“Eh andre.” ucapku.
“Kukira lo bakal lupa sama gue.” ucapk andre.
“Ya engak lah.” ucapku.
“Lo masih gemar baca novel?” tanya andre sambil menatapku.
“Iya.” jawabku.
“Udah nemu berapa novel?” tanyanya.
“Ya baru 3 sih.” jawabku sambil menunjukan buku novel yang baru saja kupilih.
“Gimana kalau kita beli es cream corrneto matcha-kan itu kesukaan lo banget.” sambung andre sambil tersenyum.
“Lo masih ingat aja, yuk tapi aku bayar ini dulu oke.” ucapku.
“Sip.” balas andre. Aku berjalan kekasir dan membayar semua novelku.
“Yuk.” ucapku lalu berjalan bersama andre ke hypermat.

“Gimana masih sama gak rasanya? sama yang waktu aku belikan waktu sd gak?” tanya andre sambil menatapku.
“Masih.” jawabku.
“Lo masih dingin aja.” ucap andre.
“Ya aku tau itu dan aku tak mau berubah.” jawabku hanya terfokus dengan es creamku.
“Kenapa?” tanya andre.
“karena gue gak mau.” jawabku.
“Lo betul betul gak berubah. Gimana kalau kita ke jco aja. sama waktu sd dulu tapi cuma kurang renita sama marvell.” sambungnya.
“Yuk.” jawabku. Lalu kami berjalan ke jco. Lalu memesan beberapa makan dan minuman.
“Eh gimana kabar marcell?” tanyaku.
“Ya masih begitu, masih keren kece masih jadi cogan di setiap kelas.” jawab andre.
“Dia itu biasa saja, lo berlebihan.” balasku datar.
“Idih sok nolak, gitu gitu dia ganteng ya di mata renita.” sambung andre.
“Wah..!! gua cariin lo di mana mana rupanya lo di sini lagi ngedate juga rupanya.” ucap seseorang dari belakang. Aku dan andre membalikkan badan.
“Renita.” ucap andre. Aku hanya melihat renita masih bergandengan tangan dengan steven dan ko devin dengan kak shellya.
“Eh lo dre, lama gak jumpa ke mana aja lo, marvell mana?” ucap renita panjang lebar.
“Sejak kapan aku ngedate sama andre.” ucapku kasar.
“Gak usah nolak, buktinya aja kalian masih ingat tempat nongkrong kita dulu waktu sd tapi gak lengkap gak ada marvell.” balas renita.
“Ngapain masih diri duduk sini, gak enak bicara.” ucap andre. Lalu mereka duduk dengan kami satu meja.
“Dre dia masih ganteng gak?” tanya renita.
“Masih dia masih jadi cogan kok, lo masih like sama dia kan.” balas andre.
“Eh… dre gimana kalau kita selfi bareng.” tawar renita.
“Kita? siapa saja?” tanya andre.
“Ya gue lo sama si dingin kita.” jawab renita, aku hanya melihat sebentar lalu memalingkan wajahku kembali.
“Iya gue lupa panggil akrab kita, dan lo memiliki julukkan si dingin dan marvell si cuek sedangkan kita si ribut dan si rempong.” ucap andre.
“Iya.. jadi ingat waktu sd dulu.” balas renita.
“Ehemmm… kami dikemanakan?” tanya steven.
“Ya lo di situ aja gak usah ke mana mana.” jawab renita.
“Dia itu pacar lo ya ren?” tanya andre.
“Iya, kenalkan dia steven ini kak shellya dan yang ini ko devin.” jawab renita sambil menunjuk satu persatu.
“Ooo..” balas andre.
“Tapi jangan panggil pake ko devin dan lain lain panggil aja cowok lemot.” ucapku ketus.
“Apa lo bilang?” tanya ko devin dengan nada tinggi sambil menatapku.
“Cowok lemot.” balasku.
“Kan lain mulai lagi kelahinya, tapi cocok juga sih.” sambung kak shellya.
“Maksudnya apa sih kok cocok? jadi sebenarnya mereka pacaran gak sih?” pikirku.
“Eh tunggu dulu.” ucap renita.
“Apa?” tanyaku datar.
“Lo udah nemu dress-nya?” tanya renita.
“Menurut lo?” tanyaku balik.
“Belum.” jawab renita.
“Ya udah.” balasku.
“Lo kena lagi sama si dingin.” ucap andre.
“Wah sama nih sama sih devin gak nemu jasnya.” sambung kak shellya.
“Cocok nih buat cari bareng.” sambung renita.
“Iya juga ya. Biar baju nya jadi couple.” sambung kak shellya.
“Ooo ceritanya mereka gak pacaran?” pikirku.
“Gak mau.” balasku.
“Siapa juga yang mau sama lo.” balas ko devin.
“Jadi gak selfinya?” tanya andre.
“Yuk.” jawab renita sambil menarikku.
“Iya iya.” balasku.
“Ini ceritanya gue di tengah gitu?!” ucap andre.
“Gak usah banyak protes, lo tau ini buang buang waktu gue, gue mau cari sesuatu lagi.” ucapku.
“Iya iya.” lalu kami mengambil beberapa foto.
“Eh gimana kalau kita semua berfoto.” ucap andre.
“Wah gue setuju.” sambung renita.
“Aku gak.” jawabku sambil berdiri meninggalkan mereka.
“Woi..!! gue ikut.” ucap seseorang, ko devin.
“Gak usah.” ucapku.
“Gak usah nolak.” ucap ko devin sambil mengenggam tanganku dan menarikku.
“Ke mana?” tanyaku.
“Entar lo tau juga.” jawabnya masih nenarik tanganku.

“Toko buku?” ucapku pelan.
“Iya gue tau lo suka baca novel jadi makanya gue ajak lo ke sini.” jawabnya.
“Kok lo baik sama gue?” tanyaku.
“karena ada beribu ribu hal yang belum kusadari sebelumnya.” ucapnya.
“Tapi tadi aku udah cari novel.” ucapku.
“Cari aja lagi atau mau lihat lihat yang lain.” ucapnya.
“Kok dia bisa baik? tapi kenapa? ada apa dengannya? apa dia juga suka sama sama aku juga?” pikirku
“Hei..?! lo menung?” ucapnya sambil melambaikan tangan disepang muka ku.
“Eh apa?” tanyaku.
“Jadi gak?” tanyanya balik.
“Jadi jadi.” jawabku grogi. Aku berjalan mencari novel satu persatu.
“Eh lo sama andre pacaran ya?” tanya ko devin membuatku tercengah.
“Sejak kapan?” tanya ku terkejut.
“Tadi renita bilang.” jawab ko devin.
“Impossibel.” balasku.

Tiba tiba pesan masuk dari hpku.
‘Tere cepat pulang.’ rupanya pesan dari mamaku.
‘Iya ma.’ balasku.

“Sepertinya aku harus balik dulu mama udah nyari.” ucapku sambil berjalan kekasir.
“Gue antarin ya.” ucap ko devin.
“Gak usah nanti kak shellya pulang sama siapa? aku bisa pupang sendiri kok.” ucapku berjalan lebih cepat dari ko devin. Kami pertama tapi ke jco dulu.
“Gue balik dulu.” ucapku lalu berlalu dari jco.
“Hei!!! gue antarin lo pulang ya.” ucap andre sambil menyusulku.
“Gak usah.” jawabku sambil terus berjalan.
“Gak usah nolak.” ucapnya sambil menggenggam tanganku.
“Aku bukan nolak tapi gak mau ngerepotin.” ucapku sambil melepaskan genggaman tangannya dari tanganku.
“Sekali aja gue antarin lo pulang.” ucapnya memelas.
“Gue bilang gak usah ya gak usah.” ucapku dengan nada yang tinggi. Lalu aku berlari keluar memcari taksi lalu langsung pulang.
“Sorry ya dre aku gak bisa mainin perasaanku sendiri, aku tu tertariknya sama ko devin bukan lo.” gumamku.

“Ma tere pulang.” ucapku.
“Lama banget di mallnya. dress-nya dapat?” tanya mamaku.
“Engak, tapi dapat novel.” ucapku sambil menunjukkan 3 novel yang baru saja ku beli tadi.
“Beli novel lagi, tapikan udah punya banyak novel bahkan satu lemari lagi.” ucap mamaku. Aku hanya tersenyum malu. Mamaku hanya menggeleng gelengkan kepala melihatku.

Pagi harinya lagi.
“Tere…re… ada kawan kamu tuh datang.” panggil mamaku dari bawah.
“Iya ma bentar.” jawabku memeng sebenarnya aku sudah bangun dari tadi pagi.
“Siapa ma?” tanyaku.
“Mama masuk dulu.” ucap mamaku.
“Lo?!” ucapku kaget.
“Dari mana lo tau rumah gue? kenapa lo datang? Aku ada buat masalah lagi ya? Atau lo mau cari masalah lagi ya?” tanyaku panjang lebar.
“Udah pertanyaannya, dan biar gue jawab satu satu, gak penting gue tau rumah lo dari mana, untuk ngajak lo jalan, engak ada, engak.” jawab ko devin.
“Jalan?” ucapku bingung.
“Tante pinjam anaknya mau ajak jalan sebentar.” teriak ko devin dari luar rumah langsung menarik tanganku.
“Iya hati hati, jangan kesorean pulangnya.” jawab mamaku.

“Mau ke mana sih?!” tanyaku marah.
“Entar lo tau sendiri.” jawabnya.
“Tapi gak usah pake tarik tarik tangan gue segala!!” bentakku.
“Kalau gue gak tarik lo gak akan ikut.” ucapnya.
“Cepat masuk.” ucapnya sambil sedikit mendorongku masuk ke dalam mobilnya.
“Mau ke mana?!” tanyaku lagi.
“Nanti lo tau, cepat aja-lah masuk!!” bentaknya, Aku nurut aja.

Cerpen Karangan: Winne Chintia
Blog / Facebook: Winne chintia

Cerpen Love Street (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Sekedar Cinta

Oleh:
Apa definisi cinta menurut kalian? kalau gue sih seperti ini, Cinta mengajarkan aku betapa indahnya arti sebuah kebersamaan. Cinta mengajarkan aku apa arti sebuah perjuangan. Cinta memberikan aku kesempatan

Belum Ada Judul

Oleh:
“Ck!” Sheira berdecak kesal sambil merebahkan dirinya ke ranjang. “Menyebalkan!” sambungnya, lalu menyimpan hp miliknya di atas bantal. “Kenapa lo kak?” ucap adik kembarnya, Tessa, yang sedang mengobrak-abrik lemari.

Memandang Laut

Oleh:
Inilah aku, panggil saja Fadli, seorang anak kuliahan yang sedang memandang laut pada malam hari tetapi tidak tau apa yang dipandang, oh ya sekarang aku sedang di kapal yang

Thank you, Chalia

Oleh:
“Sekali lagi kamu melakukannya, kamu akan kena hukuman! Paham?!” Aih! Berisik banget nih guru. Daripada lama, gue cuma mengangguk dan tertawa kecil aja. “Hey! Kenapa kamu tertawa? Ada yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *