Malam yang Indah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 12 September 2015

Hakim Pratama, laki-laki yang mempunyai wajah tampan, mahir bermain alat musik, humoris, murah senyum, baik hati, romantis, dan yang pasti, dia adalah laki-laki yang menjadi rebutan wanita di SMA-nya. Tak terkecuali Alifia, sahabat Agnes. Sudah lama Alifia menyukai Hakim, tapi dia tidak pernah berani mengungkapkannya pada Hakim.

“Lo beneran suka sama Hakim?” tanya Agnes saat mereka sedang mengintip Hakim yang berlatih piano.
“Iya.” Alifia menggeleng. “Emangnya kenapa?”
“Lo tahu kan, kalau lo suka sama Hakim, otomatis saingan lo banyak banget! Hampir semua cewek di sekolah ini suka sama dia!”
“Gue tahu.” Sahut Alifia ringan. “Tapi, namanya juga suka. Gue bakal tetep usaha dong, selama janur kuning belum melengkung di depan rumah Hakim.”
Agnes mengangkat bahunya. Soal Hakim, Alifia memang tidak pernah menyerah.
“Lo kok tiba-tiba ngomong beginian sih? Jangan bilang, lo juga suka sama dia?”
“Nggaklah.” Jawab Agnes gugup. “Sama aja gue cari mati. Lo kayak nggak ngerti kelakuan Kakak kelas kita aja. Mereka pasti heboh banget kalau tahu saingan mereka bertambah satu.”
“Iya ya, lo bener juga.” Alifia mengangguk. “Abisnya, si Hakim kemaruk banget sih.”
“Kemaruk gimana maksud lo?”
“Udah ganteng, jago main alat musik, juara kelas, ketua OSIS, cowok impian banget kan?”
Agnes menyenggol lengan Alifia dan berjalan pergi meninggalkannya.
“Bener kan, Nes?” teriak Alifia.

Istirahat kedua, Alifia dan Agnes pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka yang sejak tadi sudah berteriak-teriak minta makan. Saat mereka sedang asyik menikmati bakso pak Min, bakso yang terkenal se-SMA Jaya Sakti, tiba-tiba kedatangan seseorang membuat mulut Alifia ternganga.
“Halo.”
“Eh…” Pentol yang hendak dimasukannya ke dalam mulut, terhenti di udara. “Hakim?”
“Iya, gue Hakim. Kayak ngelihat siapa aja, Fi, pakai kaget begitu.” Jawab Hakim sambil menorehkan senyum yang dengan suksesnya membuat Alifia meleleh. “Oh iya, gue boleh duduk di sini, kan?”
“Boleh-boleh aja lagi, ini kan tempat duduk umum.” Sahut Agnes.
“Oke.”

Mereka kembali melanjutkan makannya. Sesekali Agnes mencuri pandang ke arah Hakim yang sedang serius melahap pentol dari dalam mangkuknya. Tiba-tiba, sebuah perasaan aneh menggeluti hatinya.
“Pantes aja si Alifia tergila-gila sama Hakim. Dia cool begini.” Batinnya. Agnes menggiggit bibirnya, sungguh, pesona Hakim tampak nyata saat ini.
Hakim meletakkan sendoknya, lalu menatap ke kanan dan ke kiri.
“Lo kenapa, Kim?” tanya Alifia.
“Nggak, gue bingung aja, sebenernya kalian lagi lihat siapa, sih? Gue?” wajah Hakim tampak sangat polos. “Ada yang aneh ya sama dandanan gue hari ini? Lipstik gue masih kelihatan, ya?”
“Hah?” alis Agnes terangkat. “Lo pakai lipstik, Kim?”
“Nggak, gue bercanda kali.” Hakim mengibas-ngibaskan tangannya. “Abis kalian kayak ngelihat apa gitu, serius banget.”
Alifia tersenyum samar, begitu juga dengan Agnes. Dia baru tahu, Hakim bisa bergurau juga.
“Gue nggak nyangka lo ada bakat ngebanyol.”
“Ya… Karena gue selama ini keliatan cool.” Hakim terkekeh pelan. “Ngomong-ngomong, gue boleh kan temenan sama kalian?”

Entah kenapa, sejak pertemuan mereka yang tiba-tiba di kantin itu, hubungan ketiganya mulai akrab. Seperti yang terakhir kali dikatakan oleh Hakim, dia ingin berteman dengan Alifia dan Agnes. Alifia yang amat menyukai Hakim tentu saja tidak keberatan dengan permintaan Hakim.

Siang itu, Alifia dan Agnes kembali mengintip Hakim yang sedang bermain piano di ruang musik. Alunan musik yang lembut, tangan yang lincah, bahkan orang yang memainkan piano itu seolah-olah menghipnotis Alifia dan Agnes. Mereka berdiri mematung menatap Hakim. Namun tiba-tiba saja…
BRUK! Agnes terjatuh.
“Nes, lo nggak apa-apa?” tanyanya dengan nada khawatir.
“Nes…” panggil Alifia. “Lo gimana sih, Kim? Buka jendela nggak lihat-lihat dulu!”
“Sorry, gue nggak ngerti. Gue pikir suara siapa yang lagi bisik-bisik di luar. Nggak tahunya kalian. Mana si Agnes berdiri di bawah jendela lagi.” ucap Hakim dengan bingung. “Udah, mending gue bawa si Agnes ke UKS.” Lanjutnya sembari menggendong tubuh Agnes.

Hakim meraih minyak kayu putih, lalu mengoleskannya di kepala dan hidung Agnes. Tak beberapa lama kemudian, Agnes membuka matanya.
“Lo nggak apa-apa, Nes?”
“Kepala gue kenapa pusing begini, ya?” Agnes menyentuh kepalanya yang membiru akibat terkena pinggiran jendela. “Ah…”
“Udah, jangan lo apa-apain. Kepala lo udah gue kasih minyak.”
“Kenapa gue di UKS, Kim?”
“Sori, tadi gue nggak sengaja buka jendela, terus kena kepala lo deh. Abisnya kalian juga iseng banget, ngapain pake nguping di balik pintu? Gue kira siapa yang lagi bisik-bisik.”
“Aduh… Itu ide si Alifia.”

“Alifia?”
“Iya.” Agnes mengangguk. “Dia yang ngajakin gue ngintipin lo. Dih… Kalau tahu kepala gue jadi korban begini, mending gue nggak ikutan tadi.”
“Lagian kenapa lo sama Alifia nggak langsung masuk aja? Gue juga nggak ngelarang, kan? Dari pada diem-diem, akhirnya begini.”
“Udah gue ajakin masuk, tapi dianya nggak mau. Katanya malu ketemu sama lo.”
“Malu ketemu sama gue?”
“Kalau gue jelasin nggak usah diulang-ulang gitu kali, Kim!”
“Sorry-sorry…”
“Udah ah, gue mau balik.” Agnes beranjak dari tempat tidur. “Gue nggak apa-apa, cuman pusing dikit. Awas ya, kalau sampai kepala gue kenapa-kenapa, lo harus tanggung jawab!”
“Udah salah, ngancem lagi.” Hakim menggeleng-gelengkan kepalanya. “Untung-untungan tuh mata nggak bengkak juga gara-gara suka ngintip.”
“Eh, jadi lo doain mata gue bengkak?!”

Keesokan harinya, Hakim melihat Agnes yang sedang berjalan menuju ruang kelasnya. Hakim pun berjalan menghampiri Agnes.
“Pagi.”
Agnes menoleh dan tatapannya segera beradu dengan Hakim.
“Eh, elo. Ada apa pagi-pagi udah nongol di depan gue?”
“Kepala lo udah nggak apa-apa, kan?” tanya Hakim sambil menyentuh kepala Agnes yang kemarin terkena pinggiran jendela.
“Aw… Kira-kira dong, Kim! Masih sakit tahu!”
“Aduh, gue minta maaf ya, Nes. Tapi kayaknya udah nggak bengkak.”

“Jelas aja, semalem gue kompres pakai es batu. Gara-gara lo nih, gue jadi nggak bisa tidur!”
“Kok gara-gara gue sih?” Hakim berkacak pinggang. “Lo juga…”
“Udah gue bilang, ngintip itu bukan ide gue.” Sahut Agnes. “Kuping lo agak terganggu kali ya, nggak ngerti-ngerti mulu!”
“Ya udah, gue minta maaf. Kalau gitu, lo mau nggak nemenin gue ke kantin?”
“Ngapain?”
“Bantuin pak Min bikin bakso!” celetuk Hakim asal. “Ya makanlah, emang mau ngapain lagi?”
Agnes hanya mengangkat bahunya.
“Gue belum sempet sarapan tadi. Lo mau kan? Gue yang traktir deh, sebagai tanda permintaan maaf gue.”
“Bolehlah, kebetulan gue juga belum sempet sarapan.”

Mereka pun berjalan menuju kantin.
“Lo mau pesen apa?”
“Pop mie.”
Hakim berjalan ke kantin paling pojok, sedangkan Agnes duduk menunggu Hakim. Setelah menunggu kurang lebih tiga menit, Hakim kembali membawa dua pop mie dan dua teh hangat. “Aduh, panas…”
“Beginian doang udah ngeluh. Apa gunanya lo sebagai cowok?” Agnes menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Bukannya bantuin, malah ngomel.”
“Bodo!”

Agnes sibuk melahap jatah pop mienya, begitu juga dengan Hakim. Sampai akhirnya, Hakim kembali bersuara.
“Besok lo ada acara nggak?”
“Nggak, kenapa?”
“Lo mau kan nemenin gue jalan?”
“Boleh, asal ada makan.”
“Beres!” jawab Hakim sambil mengacungkan ibu jarinya.

Hari ini, entah kenapa, Agnes banyak tersenyum. Mungkin karena pagi ini Hakim sudah membuat moodnya membaik. Sampai akhir pelajaran pun, Agnes tidak sewot seperti biasanya. Dia terus tersenyum, sampai-sampai Alifia mengiranya tidak waras.
“Halo.” Sapa seseorang.
“lo lagi?” tanya Agnes kesal. “Lo nih nggak ada kapok-kapoknya ya emang? Lo pengen gue jantungan terus mati?”
“Lebay banget non!”
“Abisnya, datang tak diundang, pulang tak diantar. Udah mirip jelangkung aja lo.”
“Rese!” Hakim menjitak kepala Agnes. “Lo sendirian aja? Pasangan lo mana? Si Alifia?”
“Udah pulanglah.”

“Tumben nggak barengan?”
“Hari ini dia dijemput sama kak Malvin. Jadinya gue pulang sendirian.” Jawab Agnes. “Eh, by the way, lo kok ngikutin gue mulu sih? Lo naksir ya sama gue?”
“Cih…” Hakim menggeleng beberapa kali. “Gue cuman mau nawarin lo pulang bareng. Gue nggak tega lihat cewek kayak lo pulang sendiri. Kalau tiba-tiba lo pusing terus pingsan di jalan, gimana?”
“Modus! Bilang aja lo pengen tahu rumah gue biar bisa ngapelin gue, iya kan?” tanya Agnes jahil. “Ya udah, berhubung gue nggak ada uang buat bayar ojek, lumayanlah ada ojek gratis.”
“Iya, terserah lo deh.”

Sepeda motor berwarna hitam milik Hakim melaju kencang di jalan raya. Dalam waktu sepuluh menit, mereka sudah tiba di perumahan yang cukup mewah: rumah Agnes.
“Ya udah, gue pulang dulu ya, Nes.”
“Makasih ya lo udah mau nganterin gue.”
“Sama-sama.” Jawab Hakim sambil tersenyum. “Oh iya, besok gue jemput jam 7, ya?”
“Oke, kalau gue inget.” Agnes melambaikan tangannya dan berjalan menuju rumahnya.

Agnes merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sampai detik ini pun, senyum itu rasanya tidak luntur dari wajahnya. Aneh. Tapi begitulah. Lima belas menit kemudian, seseorang membuka pintu kamarnya tanpa permisi.
“lo nggak bisa baca, ya? Padahal jelas-jelas gue ketik tulisan ‘Ketuk pintu sebelum masuk’ pakai font paling gede. Masih aja masuk tanpa izin.” Protes Agnes.
“Gitu doang, Nes.” Alifia buru-buru tidur di samping Agnes. “Gue mau curhat nih.”
“Lo jauh-jauh ke rumah gue cuman mau curhat?” tanya Agnes dengan tampang kaget. “Mending juga tidur.”
“Aduh… Ini penting, soal Hakim.”
“Kenapa lagi sih sama Hakim lo itu?”
“Kira-kira, mungkin nggak ya kalau dia naksir sama gue?”
“Mana gue tahu.” Jawab Agnes singkat sambil terus memegang ponselnya.

“Barusan gue dapet info, si Hakim ternyata naksir sama salah satu anak dari kelas kita. Mungkin nggak sih kalau itu gue?”
“Lo dapet info dari mana?”
“Gitu deh.” Alifia memeluk salah satu boneka milik Agnes. “Lo kan tahu gue punya banyak mata-mata.” Dia tersenyum licik. “Eh, tapi gue kepo banget deh. Siapa yang kira-kira Hakim taksir?”
“Kan gue udah bilang, gue nggak tahu.”
“Lo kenapa sih, Nes? Gue cerita bukannya di perhatiin malah sibuk sms-an, kayak laku aja.” Bibir Alifia mengerucut. “Pacar baru lo?”
“Bukan.”
“Terus lo lagi sms-an sama siapa, sih?”
“Hakim.” Jawab Agnes ringan. “Ternyata dia asyik juga.”

“Ha-Kim? Hakim yang barusan gue ceritain sama lo?”
“Sejak kapan nama Hakim di sekolah kita nambah?” Agnes balik bertanya.
“Lo sms-an sama dia? Lo juga suka sama dia, Nes?”
“Eh, lo tahu nggak, besok Hakim mau ngajakin gue pergi nonton!”
“Oh…” nada suara Alifia berubah sedih. “Kayaknya gue udah ganggu lo, ya? Ya udah kalau gitu, gue pulang dulu. Sorry udah ngerepotin.” Alifia ke luar dari kamar Agnes sambil membanting pintu, membuat Agnes tersentak kaget.
“Lah? Alifia kenapa? Emangnya gue ada salah?” tanyanya pada diri sendiri. “Astaga!” teriaknya. “Kenapa gue cerita soal Hakim ke Alifia? Dia kan juga naksir sama si kutu kupret itu! Si Alifia pasti marah banget nih sama gue! Ah, bodo!”

“Sorry, gue nggak ada maksud…”
“Nggak apa-apa.” Sahut Alifia.
Kemarin, mereka tidak saling menyapa. Alifia juga menjauhi Agnes. Jadi, baru hari ini Agnes berani meminta maaf pada Alifia.
“Gue cuman… Aduh, sebenernya gue keceplosan.”
“Gue udah ngerti siapa cewek yang Hakim taksir.”
“Serius? Siapa? Pasti lo, iya kan?”
Alifia menggeleng. “Lo.”
“Kenapa gue?”
“Lo masih tanya kenapa?” suara Alifia berubah dingin. “Bodoh atau gimana?”
“Lo masih marah ya sama gue? Gue harus apa biar lo maafin gue?”
“Terima Hakim.”

“Eh, terima apaan?”
“Masih pura-pura lagi?” tanya Alifia sinis.
“Pura-pura apa, Fi? Gue nggak ngerti.”
“Hakim udah nembak lo, kan? Ya udah, lo terima dia! Biar aja gue yang ngalah.” Ucapnya sembari berjalan pergi meninggalkan Agnes.
“Si Alifia kenapa?” tiba-tiba, suara itu muncul dari belakang Agnes.
“Gara-gara lo nih!”
“Kok gara-gara gue lagi? Gue aja barusan dateng?”
Agnes makin kesal menatap wajah Hakim yang tidak bersalah itu. “Tahu deh!” dia berjalan pergi meninggalkan Hakim.

“Lo bohongin gue ya?” tanya Alifia dengan tidak suka. “Kan lo bilang kita cuman berdua?”
“Lo udah salah paham, Fi. Gue nggak mau kesalahpahaman lo makin menjadi-jadi.”
“Maksud lo?”
“Woy tukang bikin keributan, sini lo!” teriak Agnes. Laki-laki yang dipanggilnya menurut saja. “Cepetan jelasin!”
“Lo berdua tunggu di sini. Gue mau lakuin sesuatu.”

Agnes mengangguk dan menyuruh Alifia kembali duduk sambil terus menatap laki-laki yang saat ini sudah berada di panggung itu. Entah apa yang akan dilakukannya.
“Aku tak tahu, apa yang ku rasakan dalam hatiku saat pertama kali, lihat dirimu… Melihatmu.” Laki-laki itu bermain piano sambil bernyanyi. Keren. “Seluruh tubuhku terpaku dan membisu, detak jantungku berdebar tak menentu, sepertinya aku… Tak ingin berlalu.” Dia tersenyum ke arah dua wanita yang sedang duduk di satu meja; Alifia dan Agnes. “Berikan cintamu, juga sayangmu, percaya padaku, ku kan menjagamu hingga akhir waktu, menjemputku.” Dia terdiam beberapa detik sebelum akhirnya kembali berkata, “Gue suka sama lo sejak pertama kali kita ketemu di depan ruang musik. Pas gue ke luar, tiba-tiba lo nongol di depan pintu sendirian. Pas gue tanya, lo-nya malah ngacir. Emangnya gue mirip hantu sampai lo ketakutan gitu?”

“Dia bikin kejutan buat lo!” bisik Alifia. “Gue balik aja.”
“Jangan.” Larang Agnes. “Tunggu dulu di sini.”

“Gue minta maaf udah bikin lo bingung.” Ucap laki-laki itu lagi. “Singkat kata, gue suka sama lo, Alifia Saputri.” Kini, semua mata menatap Alifia.
“Apaan sih? Kalau dia mau bikin malu gue nggak gini caranya!”
“Fi, lo dengerin penjelasan dia dulu kenapa sih?”
“Gue sama Agnes cuman sahabatan, nggak lebih. Kalau pun selama ini kita kelihatan deket, itu karena gue sama dia ngerencanain ini semua buat lo, Fi. Gue pengen, lo jadi pacar gue. Dan ini saatnya. Tepat di malam ini, gue, Hakim Pratama, nembak lo di hadapan semua orang.”

Agnes dan Alifia saling berpandangan. Kebingungan mulai tampak di wajah Alifia, tapi dia juga tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Dengan cengar-cengir, Agnes menarik Alifia ke atas panggung.
“Lo udah tahu semuanya, kan? Gue nggak naksir sama si kutu kupret ini. Dia deketin gue karena dia pengen tahu tentang lo. Jadi bukan karena dia naksir gue. Lo sih, belum apa-apa udah ngambek duluan.”
Alifia menggeleng.
“Kurang meyakinkan apa lagi sih, Fi?” tanya Agnes. “Udahlah, si kutu kupret nungguin jawaban dari lo tuh. Buruan jawab!”
“Lo… Nggak suka sama dia, Nes?”

Agnes tertawa. “Nggaklah! Selera gue tinggi kali, nggak mungkin gue naksir cowok beginian.” Agnes menyenggol lengan Hakim. “Gue naksir kak Malvin.”
“Kak Malvin?”
“Iya, Kakak lo. Gue naksir dia. Cowok yang lebih ganteng dari pada Hakim.”
“Jangan ngomongin hal lain dong!” protes Hakim. “Kalian nggak ngerti apa, dari tadi semuanya pada ngeliatin kita? Fi, buruan jawab. Kamu mau kan jadi pacarku?”
“Aku-kamu nih sekarang?”
Hakim melotot, membuat Agnes buru-buru menutup mulutnya.

“Gue harus jawab apa?”
Hakim menepuk dahinya. “Lo…”
“Iya, gue mau! Gue mau banget, Kim!!!” teriak Alifia sambil memeluk Hakim erat.
“Gue juga mau jadi pacar lo, Nes.” Teriak seseorang di antara penonton. Alifia, Agnes dan Hakim menoleh.
“Kak…”
“Barusan lo bilang naksir gue, kan? Artinya lo nembak gue. Dan sekarang, gue kasih jawaban. Gue mau jadi pacar lo.”
“Apa…” Agnes tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Dia tidak tahu kalau makhluk satu itu akan muncul di saat-saat seperti ini. “Tapi…”
“Udahlah, kita resmi pacaran mulai detik ini.” sahutnya.

Empat orang itu saling berpandangan, lalu, penonton mulai bertepuk tangan. Entah menepuki apa. Yang pasti, semua sudah berakhir bahagia. Alifia sudah bisa mengalahkan lawan-lawannya untuk mendapatkan Hakim, sedangkan Agnes juga bisa mendapatkan Malvin. Ya, kini, mereka tidak akan kesepian lagi.

Itu adalah malam terindah. Karena terhitung sejak malam itu, Alifia dan Agnes telah memiliki seseorang yang akan membuat hidup mereka lebih berwarna. Karena Hakim dan Malvin berjanji akan mencintai kekasih mereka dengan sepenuh hati.

Cerpen Karangan: Anadya Alyasavitri
Blog: www.anadyaalyasavitri.blogspot.com
Facebook: Anadya Alyasavitri
Cewek berkerudung yang cinta dunia tulis-menulis dan penggemar berat Al Ghazali.

Cerpen Malam yang Indah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tatapanmu Adalah Bahagiaku

Oleh:
Betapa menawannya paras cantik Rachel. Seorang wanita cantik yang duduk di kelas 3 SMA. Tutur katanya yang lembut membuat hati Rafa luluh. Getar hati muncul di saat rafa melihat

Cinta Terbaik

Oleh:
Matahari mulai terbenam namun Nathan belum juga datang. Aku menunggu dengan gelisah, sudah satu jam sendirian menunggu. Aku merasa ada yang aneh dengan kekasihku. Hampir sebulan ini dia banyak

Mata Teduh

Oleh:
Senyum simpul merekah saat ku lihat mata teduh itu. Perasaan apakah ini, sungguh aneh terasa. Seolah rasa bahagia merengkuhku saat ku lihat mata teduh itu. Entah mengapa aku menyukai

Sebulat Bola

Oleh:
Kalau cowok suka sepak bola itu sudah biasa, malah kalau cowok tidak suka sepak bola, rasanya aneh. Tapi kalau cewek suka sama sepak bola wajar tidak? Wajar wajar saja

Kenangan

Oleh:
Bulan purnama tergantung di langit Kota Praya. Kelap-kelip bintang mewarnai alun-alun Tastura. Tempat masyarakat kota menghibur diri setelah hari yang berat terlewati. Aku di sana memperhatikan orang-orang yang menikmati

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *