Melody Terakhir Buat Awan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 5 August 2014

“Ga semestinya, Bel.. gue suka sama cowok kaya dia.” Ucapku di sepanjang perjalanan pulang sekolah.
“Lu ngomong apa sih? Jangan gitu! Semua orang berhak naruh rasa buat seseorang..” jawab Bella, sahabatku.
“Gue tau.. tapi lu pikir deh, Soal Intan. Lu tau kan dari dulu gue benci sama dia?” tanyaku.
“Ehe… trus apa hubungannya Elu, Awan, sama Intan?” Tanya Bella balik.
“Perlu lu tahu, Bel.. Intan juga suka sama Awan.” Jawabku agak keras. Teman-teman yang ada di sekitar kami pun menoleh ke arah kami.
“Ssst… pelanin suara lu!” bisiknya. Aku terdiam. “Kok bisa sih Intan suka sama Awan? Sejak kapan?” sambungnya.
“Gue gak tau pasti, tapi kayanya baru-baru ini.” Jawabku. Bella mengangguk.
“Lah… lu dulu juga gak suka kan sama Awan? Kenapa sekarang jadi cinta?” Tanya Bella lagi.
“Gue juga bingung mau jelasinnya gimana. Dulu, pas di SMP, gue biasa-biasa aja, gak ada perasaan apa-apa, tapi gak tau kenapa semenjak gue SMA ini, gue mulai suka sama dia. Tapi ya itu tadi, Saingan gue Intan Lagi!” Desahku lirih.
“Sabar aja lah… Kalo Awan jodoh lu juga gak akan kemana. Lagian Awan kan alim, mana mau ama cewek gatel kaya Intan?” Ucap Bella. Aku mengangguk. Semoga saja itu benar..

Ku hempaskan tubuhku di atas sofa.. sepi, tak bergeming. Ku tatap atap rumahku. Pikiranku melayang, jauh menembus Awan. Ah.. Awan lagi. Cowok hitam manis itu ternyata mampu mencuri hatiku yang masih menyimpan luka dari Rangga. Aku tahu, tak mudah memiliki Awan meski kelihatannya mudah. Apalagi ada Intan, orang yang dari dulu selalu merebut orang yang aku sukai. Sudah 2 orang yang aku sukai dimilikinya. Akankah Awan menjadi orang ke-3? Ya Allah ku mohon jangan.

‘tok-tok-tok..’ seseorang mengetuk pintu rumahku sesaat aku terbuyar oleh lamunanku tentang Awan. Aku pun segera bangkit dan melihat siapa yang datang.
“Hai, Mel..” sapa orang itu begitu aku membuka pintunya. Sejenak aku terdiam tak percaya, menatapnya dengan penuh Tanya dalam hati.
“Awan?” Tanyaku tergagap. Awan mengangguk. “Oh… eh, kok tumben? Yuk masuk!” ucapku agak grogi. Awan tersenyum dan mengikutiku masuk ke dalam rumah.
“Silahkan duduk!” ucapku mempersilahkan. Awan pun duduk.
“Sorry nih sebelumnya gue ganggu.” Tukasnya mulai bicara. Aku tersenyum.
“Nggak kok… nyantai aja. Ada perlu apa? Kok tumben?” tanyaku.
“Gak ada apa-apa sih sebenernya. Tadi gue lewat depan rumah Loe, trus mampir deh.. itung-itung sambil nunggu waktu ashar.” Jawabnya santai.
“Hmm… okey.. Eh mau minum apa nih?” tawarku. Dia kembali tersenyum.
“Nggak usah repot-repot, gue gak haus. Lagian gue Cuma bentar kok disini. Bentar lagi waktu ashar.” Jawabnya datar. Aku mengangguk.

Sejenak keheningan terjadi di antara kami. Awan sibuk membaca majalah yang tergeletak di meja sambil sesekali berdehem yang membuyarkan tatapanku padanya. “Ya Allah.. dia begitu tampan meski sebagian orang tak bilang dia tampan. Dia Tampan dari hatinya. Ya Allah, andai ajaa…”
“Astaghfirullah, udah adzan nih..” sentak Awan yang menghapus hayalanku dalam hitungan detik.
“Oh iya nih..” Balasku gugup.
“Gue pamit dulu ya? Lain kali kalo ada waktu Gue pasti main lagi.” Ucapnya. Aku tersenyum sembari mengangguk menanggapi janjinya. Kami pun melangkah beriringan menuju luar rumah. Aku melambaikan tangan mengiringinya pergi dengan sepeda motornya. Lambaianku tak terhenti sampai orang yang diam-diam ku sukai menghilang dari tatapanku.

Waktu tak berhenti bergulir, ku lihat jam dinding yang menggantung di sudut dinding kamarku, tak jauh dari meja belajar. Sudah lewat tengah malam, tapi mataku sulit untuk ku tutup. Aku bimbang, resah, memikirkan hal yang sama sekali tak pasti. Tapi yang jelas, pikiran burukku ini tertuju pada Awan. Astaghfirullah…

“Melodii..!” teriak seseorang dari arah belakang saat aku hampir memasuki ruang kelasku. Sontak aku menoleh.
“Elu, Bel… Ada apa? Kok panik?” tanyaku tenang mencoba mencairkan ketegangan yang terlihat di wajah sahabatku itu.
“Awan..!” bisiknya agak kencang di sudut telingaku. Belum sempat ku tanyakan tentang Awan, seseorang menyahut dari belakang sambil memasang wajah lebay dan sok paniknya itu. Siapa lagi kalau bukan Intan?
“OMG… My darling Awan kenapa? Kok Lu berdua ngomonginnya panik banget?” teriak Intan. Aku langsung muak dan menjauh darinya.
“Loh, Mel.. gue belum selesai ngomong!” teriak Bella. Tapi aku masa bodo’ sebelum Intan berhenti ikut campur tentang perasaanku pada Awan.
“My darling pala lu kali!” Timpal Bella menanggapi ocehan Intan dan kemudian pergi menyusulku.

Ku tatap Papan tulis yang berisikan corat-coret tangan bu Siska, guru PKn kami di sekolah. Entah apa yang dibicarakannya, pikiranku melayang, menembus konsentrasiku pada pelajaran. Ku tengok tempat duduk Awan, kosong! Kemana dia? Surat izin pun tak ada di meja guru. Tak biasanya Awan membolos, terlebih dia adalah anggota osis di SMA ini.
“Mel, ngapain sih ngeliatin tempatnya Awan? Lu kangen sama dia?” Sentak Bella membuyarkan lamunanku. Aku menggeleng lemah.
“Nggak, Bel.. gue heran aja. Tumben dia berani bolos sekolah..” ucapku menjawab sentakan Bella.
“Ya elah.. dia kagak bolos!” tukasnya sigap.
“Hah? Lah terus mana surat izinnya?” timpalku.
“Nah.. ya ini nih yang tadi pagi pengen gue omongin ke elu sebelum si Intan nyerocos! Masalah Awan..” ungkapnya. Aku terhenyak.
“Emang Awan kenapa sih?” tanyaku sedikit berbisik, takut ketahuan Bu Siska kalau kami tak memperhatikan pelajarannya.
“Awan tu lagi sakit…” bisik Bella.
“Astaghfirullah, sakit apa? Perasaan pas dia kemaren ke rumah gue, dia masih sehat.” Ucapku tak percaya.
“Sssst… dengerin dulu! Kemaren pas dia pulang dari rumah lu, dia kehujanan. Makanya sekarang sakit… masuk angin kali!” jawab Bella dengan tawa yang sedikit ditahan. Aku mendesah.
“Ya allah, Bella.. elu tuh yang bener napa! Gak lucu tau!” sungutku. Bella makin terbahak pelan.
“Ya abisnya lu panik banget. Nyantai aja kalii.. Awan yang sms gue kalo dia sakit. Dia juga nitip salam tuh..” terangnya. Aku terkejut mendengar perkataan terakhirnya. “Titip salam?” batinku.
“Nitip salam buat siapa? Buat gue ya?” tanyaku girang.
“Cuiih.. pede gede lu! Orang nitip salamnya buat Melody Sastra Pratiwi kok…!” Candanya.
“Ye itu guee Bego!” timpalku sambil menempeleng kepalanya yang tak berjilbab.

Sudah 2 hari Awan tak masuk sekolah. Suasana kelas pun tak seperti biasanya. Sepi, tak ada jeritan, tawa dan canda. Intan pun yang biasanya lebay dan girang saat Awan datang kini diam seribu bahasa. Hanya kata-kata pendek dan senyuman kecil yang kini menemaninya.
“Ntar sore jenguk Awan, Yuk!” ajakku pada Bella saat sedang makan siang di kantin.
“Boleh.. lu yang bawa motor ya, motor gue lagi kosong bensinnya. Haha..” timpalnya dengan canda.
“Iya..” sahutku.
“Gue boleh ikut?” Tanya seseorang. Aku terdiam.
“Ngapain lu ikut? Yang ada ntar malah ngrecokin lu..!” tukas Bella kasar.
“Ssst.. udah! Ikut aja kalo lu mau ikut. Tapi pake motor sendiri!” timpalku. Intan pun melompat sambil teriak-teriak dan memelukku beberapa kali sembari mengucapkan terima kasih.
“Aaaa.. ya ampuuun Melody baik bangeeetz… makasiiih banyak yaaa..” teriaknya histeris. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku melihatnya yang tak beda dengan anak TK di samping rumahku.
“Biasa aja kale…” sahut Bella sambil menirukan bahasa lebay nya. Intan hanya tersenyum.

‘Tok-tok-tok’ Ku ketuk pintu rumah Awan.
“Assalamualaikum..” ucapku sambil sesekali mengetuk pintu.
“Wa’alaikum salam..” sahut seseorang dari dalam rumah. Pintu pun terbuka.
“Permisi, dek.. Awannya ada?” tanyaku lumayan sopan.
“Ada.. kakak temennya mas Awan ya?” Tanya adek itu. Mungkin adiknya.
“Iya dek..” jawabku sambil tersenyum.
“Masuk dulu kak, biar Mentari panggilin mas Awannya.” Ucap anak kecil itu manis. Aku melaksanakannya sambil melihatnya berlari menuju dalam.

“Mas, ada 3 cewek di ruang tamu nyariin mas..” ucap Mentari. Awan mengerutkan kening.
“Cewek?” Tanya Awan.
“He’eh..! cantik-cantik lo mas..” Terang Mentari. Awan terdiam sejenak.” Pacar mas Awan yang mana?” tanya Mentari dengan canda.
“Yang mana aja boleh!” sahut Awan sambil terkekeh pelan dan bangkit menuju ruang tamu.

“Awan..” desahku pelan saat melihat awan melangkah menuju kami bertiga.
“Ya ampuun Awaaan… Kamu kemana aja sih 2 hari ini? Aku kangeen tau sama kamuu!” jerit Intan sambil berlari memeluk Awan. Awan menatapku sejenak tapi setelah itu aku membuang muka.
“Eh.. Intan, Astaghfirullah maaf kita bukan mukhrim.” Sentak Awan sambil melepas pelukan Intan.
“Ummmh.. gak mauu… pokoknya aku mau peluuk.. aku kan kangen sama kamuu Awaan..” Paksa Intan. Aku yang merasakan hawa panas di hati langsung berdiri dan menarik Intan agar menjauhi Awan.
“Intan! Lu keterlaluan ya.. udah jelas Awan itu gak mau lu peluk! Kemana sih rasa malu Lu? Dasar cewek gatel, gak tau diri!” bentakku.
“Eh.. apaan Lu? Kok tiba-tiba nyolot? Terserah gue dong mau apain Awan. Emang apa hak lu sama Awan?” bentak Intan tak kalah hebat. Aku kalap, Ku tampar Intan tanpa basa-basi. Awan yang melihat itu langsung turun tangan memisah kami.
“Aduuh.. stop-stop! Kalian berdua ini apa-apaan sih..” teriak Awan sambil memegangi tangan kami berdua. Bella pun ikut membantu.
“Udah, Mel… sabar… istighfar!” bisik Bella. Aku pun diam, mengatur nafasku yang tak terkontrol. Ku dudukkan diriku di sofa.
“Astagfirullah.. astaghfirullah…” ucapku menyebut kalimat istighfar berkali-kali, mencoba tenangkan diri dengan asma Allah.
Kini suasana sudah bisa terkontrol. Awan yang menunduk sejak tadi mulai berani angkat bicara.
“Sebenarnya tujuan kalian bertiga kesini apa?” Tanya Awan. Baru saja aku mau menjawabnya, Intan langsung nyerocos lagi.
“Kita tuh mau nengokin kamu sayaaang…” ucap Intan manja. Awan tak merespon, dia malah menatapku.
“Ehem… bener kok kata Intan. Gue kesini mau liat keadaan lu aja kok.. Tapi kayanya lu udah baikan?” ucapku. Awan tersenyum.
“Thanks buat perhatiannya.. gue udah baikan kok. Mungkin besok gue udah bisa masuk sekolah lagi..” jelasnya. Aku ikut tersenyum
“Asyiiik! Berarti kita bisa berdua’an lagi dong sayang?” sosor Intan. Aku membuang muka lagi.
“Hmm… mau minum apa kalian?” tawar Awan yang tak menggubris perkataan Intan.
“Nggak usah, Wan.. makasih. Lagian udah sore juga. Takut kemaleman.. kita pamit aja!” sahut Bella. Awan mengeryit.
“Kok buru-buru?” Tanya Awan.
“Mmm.. soalnya mau cari sesuatu dulu di distro.” Jawab Bella. Awan mengangguk. Dan sekali lagi menatapku.
“Ya udah, kalo gitu kita pamit ya, Wan..” ucap Bella. Awan mengangguk sembari bangkit dari kursinya.
“Cepet sembuh ya…” bisikku saat aku berjalan beriringan dengannya. Awan tersenyum.
“Makasih..!” sahutnya lembut. Aku pun tersenyum.
“Sayaang.. aku pulang dulu yaaa.. cepet sembuuh. Kalo kangen sama aku sms aja… okey! Muuaaacch…” sisip Intan. Awan tersenyum getir menanggapinya. Begitu juga aku dan Bella.

“Mel..” panggil seseorang saat aku mau ke perpustakaan.
“Eh Awan.. Alhamdulillah udah sembuh..” sahutku.
“Iya.. lu mau kemana?” tanyanya.
“Ke perpus. lu sendiri?” ucapku balik bertanya.
“Mmm.. sama! Bareng yuk!” ajaknya.
“With Pleasure.” Sahutku. Awan tersenyum dan kami pun beriringan menuju perpustakaan.

“Ngomong-ngomong, lu kok sendirian? Bella kemana?” Tanya Awan di sela-sela membaca.
“Biasa.. lagi apel sama cowoknya.” Sahutku santai tanpa mengalihkan pandanganku dari buku yang ku baca.
“Kok lu gak sekalian?” tanyanya lagi. Aku terdiam. Ku hentikan membacaku dan ku tatap Awan lekat namun sesaat ku alihkan ke arah lain.
“Hahaha… ngaco lu! Mau pacaran sama siapa? Pacar aja gak punya..!” candaku. Awan melotot.
“Seriuusss?” tanyanya. Aku mengangguk cepat.
“Emang kenapa sih? Kok lu tanyanya pake melotot?” tanyaku gantian dengan ekspresi yang tak kalah aneh.
“Hahaha… nggak papa! Lanjutin bacanya..!” sahut Awan. Aku meringis.

Hujan yang turun malam ini memaksaku tuk mengurung diri di kamar. Ditemani susu coklat hangat dan setoples biscuit kering, ku manjakan diriku dengan menyanyikan berbagai lagu kesukaanku. Tak tanggung-tanggung, i-Pod yang ku setel volume nya ku penuhkan agar terdengar keras. Sembari itu, ku bayangkan sosok yang aku sukai. Awan.. hmm, Awan… Andai aja aku bisa memilikinya. Haha.. hayalanku selalu tinggi. Awan pasti akan lari kalau harus bersanding dengan perempuan seperti aku. Bahkan, kalau mungkin Awan disuruh milih antara aku dan Intan atau perempuan lainnya, mungkin Awan akan memilih Intan atau yang lainnya dibanding aku. Tak hanya Awan. Laki-laki lain pun akan memilih Intan dibanding Aku. Jelaas.. Dari fisik sudah bisa dilihat. Dia lebih menggiurkan. Apalagi kalau diadu dengan tampang. Aku pasti tak ada apa-apanya.. Dia cantik, aku akui itu. Tapii… kalau Awan memilih Intan.. ah yang benar saja? Awan kan Laki-laki yang islamnya kuat, sedangkan Intan adalah perempuan yang tak bisa menutup auratnya. Dilihat dari sikapnya saja sudah kelihatan kalau Intan nggak bisa menjaga dirinya dengan orang yang bukan Mukhrimnya. Mana mau Awan sama Intan? Kalaupun mereka pacaran, pacaran model apa yang akan mereka pakai? Huah… pertanyaan tak penting itu kini menyelimutiku. Terserah saja Awan mau pilih siapa itu hak dia. Kita bukan siapa-siapanya ngapain repot? Ckckck…

Sang surya kini mulai meninggi, waktu ke sekolah sudah di depan mata. Ku kenakan jilbab dan sepatuku, setelah itu ku langkahkan kakiku ke luar rumah setelah ku ucap pamit pada Ibuku.

“Eh dapet salam lagi Lu..” ucap Bella di sela-sela perjalanan. Aku tersentak.
“Dari siapa?” tanyaku.
“Awan…” jawabnya.
“Kok pake titip salam segala? Dia nggak masuk lagi?” tanyaku balik.
“Ga tau.. tapi semalem sih dia nitip salam gitu buat lu..”
“Lu gak bo’ong kan?”
“Ya Allah.., SWEAR dah!”
“Okey… salam balik ye..” timpalku sambil tersenyum.

Ku langkahkan kakiku menuju kelas. Ku lihat sekelilingku, masih agak sepi. Maklum, ini masih terlalu pagi untuk berangkat ke sekolah. Aku sengaja datang lebih awal karena kebetulan aku sedang piket hari itu. Ku dudukkan badan sejenak di tempat dudukku. Ku hela nafas, mencoba hilangkan lelah yang amat setelah ku naiki beberapa anak tangga. Masih sepi, hanya beberapa orang yang berlalu lalang di depan kelasku. Sesaat kemudian, ku bangkitkan tubuhku menuju tempat alat-alat kebersihan di sudut belakang kelas. Ku ambil sapu dan kemoceng dan bergegas ku melaksanakan piket hari ini.

Tak berapa lama, Bella masuk kelas setelah semuanya bersih dan rapi berkat aku. Bella tersenyum girang sambil berjalan ke arahku.
“Kesambet ya?” lontarku cuek sambil menngusap dahiku yang terdapat sedikit peluh. Dia tersenyum getir.
“Nggak…” jawabnya datar.
“Trus ngapain senyum-senyum gak jelas kaya gitu?” tanyaku.
“Nih..!” sahutnya sambil menunjukkan sebuah cincin perak yang melingkar di jari manisnya. “Dari cowok gue!” sambungnnya. Aku tersenyum.
“Tumben dia baek sama lu..” ejekku.
“Yee… Ini juga kalo bukan gue yang minta gak dibeliin sama dia..!” timpalnya. Aku hanya ber’ O panjang.

Bel masuk akhirnya tiba, semua teman-teman kelasku berhamburan masuk kelas. Termasuk Awan.
“Kok tumben baru dateng?” sapaku saat dia berjalan di sampingku.
“Nggak papa.. tadi jemput Intan dulu soalnya.” Jawab Awan santai sambil berlalu dari sampingku. Aku terhenyak sejenak. Detak jantung memaksaku tak bergerak sesaat setelah mendengar jawaban Awan.
“Apa Wan? Jemput Intan? Kaga salah lu?” timpal Bella.
“Kenapa sih emangnya?” Tanya Awan dengan muka penuh tanya.
“Nggak papa kok.. hehe” sahut Bella.

Aku tentu masih diam. Tak percaya, mencoba kembali menerka kebenarannya. “Apa mereka sudah jadian?” batinku.

“Awan..!” Panggilku saat awan berlalu di koridor sekolah.
“Apa?” sahutnya cuek.
“Gue boleh ngomong sesuatu?” ucapku ragu. Awan mengangguk dan kami pun berjalan menuju kursi taman yang berada tak jauh dari tempat kami berpijak.
“Mau ngomong apa?” tanyanya. Aku berdehem sejenak.
“Kata Bella.. semalem lu titip salam buat gue ya?”
“yap.. kenapa?”
“Nggak papa.. makasih ya sebelumnya..”
“Biasa aja.. lu kan sahabat gue!” lontarnya. Aku terdiam. “sahabat? Jadi selama ini kamu Cuma anggep aku sahabat?” batinku.
“I..i..ya.. sahabat..!” ulangku. Awan pun tersenyum.
Sejenak, kami berdua terdiam. Hanya gemerisik daun-daunan di taman sekolah yang meramaikan suasana saat itu.
“Lu udah jadian sama Intan ya?” tanyaku memecah keheningan. Awan sedikit terkejut.
“Ehem… ya begitulah.” Jawabnya datar tanpa mengalihkan pandangannya dari daun yang dipegangnya. Ku hela nafas berat, mencoba tenangkan diri jikalau perkataannya memang benar.
“Jadi, lu beneran udah jadian sama Intan?” ulangku. Awan kini menatapku dalam.
“Gak penting buat dibahas… Ada gak topik lain selain itu?” elaknya. Aku mulai bingung.
“Justru ini yang gue pengen omongin sama lu, Wan.. Gue liat akhir-akhir ini lu jadi deket sama Intan. Sering jemput dia, anterin dia.. makanya gue heran sama perubahan lu.. Lu suka sama Intan ya?“ terangku. Awan terdiam sesaat.
“Mmm… sorry Mel, gue harus pergi sekarang.” Acuhnya sambil bangkit meninggalkanku.
“Awan..!”

Bingung masih menyelimutiku sejak perkataan Awan tadi siang. Aku masih mencerna setiap kata yang Awan lontarkan padaku. Tapi.. tak mungkin rasanya kalau Awan benar-benar jadian sama Intan. Hmm.. misteri.. tapi kenapa Awan mau antar jemput Intan ke sekolah?
Hmm.. ku pencet nomor hape Bella, ku ceritakan semuanya pembicaraanku tadi siang. Bella merespon, Dia mnyuruhku untuk tetap tenang menghadapi ini. Dia akan membantuku menyelidikinya.

Ku lendehkan punggungku di kursi kelas, mencoba tenangkan pikiran setalah Ulangan Biologi hari ini selesai.
“Huuft..” desahku. Aku menerawang ke atas. Membayangkan jawaban-jawaban yang ku tulis dalam lembar jawabku tadi. Sesekali sampil ku masukkan tanganku ke dalam laci, mencoba mencari sesuatu yang bisa mengingatkanku akan jawabanku. Tapi.. bukannya jawaban yang ku dapat, malah sepucuk surat dari orang tak dikenal yang aku raih. Karena tak ingin ada orang yang tahu, ku putuskan untuk menyimpannya dan membacanya nanti di rumah setelah pulang sekolah.

“Bell… gue tadi dapet ini di laci gue.” Ucapku sambil menyodorkan surat yang ku temukan tadi. Bella mengerutkan kening.
“Dari siapa?” tanyanya. Aku mengangkat bahu. Dan Bella pun mulai membuka surat beramplop ungu itu.

Dear Melody..
Mungkin loe bingung dapet surat mendadak ini di laci loe.. mungkin juga loe ngira surat ini gak penting sehingga loe bisa berbagi sama sahabat loe, Bella.
It’s okey.. gak masalah.. sekarang, loe pasti bingung sama orang yang ngasih surat ini diem-diem di laci meja loe.. atau mungkin juga loe mikir, apa yang bakal dibahas dalam surat ini..
Melody…
Surat ini adalah surat pengakuan dari perasaan gue ke elo.. Sebenernya, gue udah pengen nyatain ini dari jauh-jauh hari, tapi gue ragu sama perasaan loe ke gue. Gue malu kalo ntar loe nolak gue. Tapi sekarang gue sadar, Cinta gak harus diwujudin dalam sebuah hubungan spesial. Makanya, gue mutusin buat ngomong ini sama loe sebelum perasaan gue ntar jauh lebih dalem.
Melody..
Gue gak peduli loe bakal terima gue apa nggak, gue gak peduli juga kalo loe bakal masih anggep gue temen apa musuh. Yang jelas, gue akan tetep nyatain perasaan gue ke elo..!
Melody..
Gue yakin loe pasti sekarang lagi mikir siapa yang nulis surat ini. Jangan khawatir, loe akan segara tau.. tapi, loe harus dateng ke taman belakang sekolah besok sore, setelah loe selesai latihan vocal. Gue tunggu loe disana dan gue bakal jelasin se jelas-jelasnya tentang kejadian-kejadian kemaren yang mungkin bikin loe bingung dan penasaran.
Sekali lagi, gue tunggu loe di sana. Kalo loe dateng, loe berarti terima cinta gue, tapi kalo loe gak dateng, jangan salahin gue kalo loe gak akan liat gue lagi dalam hidup lu.

cLoud’s

“Maksudnya?” tanyaku.
“Lu harus dateng!” sentak Bella.
“Ngapain? Paling Cuma orang iseng..” sahutku acuh.
“Nggak, Mel! Kali ini gue yakin dia bukan orang iseng.. dia Awan..!”
“Awan? Ngaco lu! Mana mungkin dia ngirim surat kaya gini? Dia kan udah punya Intan..!” bantahku.
“Ah.. terserah lu lah… Tapi loe musti inget, kesempatan kaya gini gak dateng 2 kali!” ucapnya sambil berlalu meninggalkanku. Aku mendesah.. berfikir tentang surat itu. Mungkin benar kata Bella, tak ada salahnya mencoba. Aku akan datang!

Hujan rintik-rintik mengakiri latihan Vokal ku hari ini, ku kenakan jaketku tuk menghilangkan sedikit rasa dingin yang menerpa. Ku ambil surat kemarin di saku OSIS ku. Ku timbang kembali.. “Dateng apa enggak ya?” desahku. Sedangkan, terlihat rintik hujan mulai menjadi butiran air yang lebih besar. Aku mengadah, berfikir dan berfikir. “gue harus dateng!” desahku. Aku pun terjaga dan bergegas menuju taman yang telah di janjikan.

“Hallo… ada orang disini?” teriakku setelah sampai di taman belakang. Sepi, tak ada jawaban. Mungkin benar itu orang iseng saja. Setelah lama menunggu, ku putuskan untuk pulang saja. Tapi, seseorang menahan tanganku dari belakang. Orang itu berjubah..
“siapa lu?” tanyaku panik. Orang itu membuka jubahnya.
“Ini gue..” sahutnya. Aku tercengang.
“Awan?” desahku. Awan mengangguk. “Tapi Intan?”
“Ssst… Intan bukan siapa-siapa gue..” jawabnya.
“Tapi.. kemaren lo mesra sama dia.. jalan bareng terus, dianter jemput, kelompok berdua, ngobrol bareng.. banyak deh!”
“Emang kenapa kalo aku mesra sama dia? Cemburuuu?” ejeknya. Aku tersipu.
“Siapa juga yang cemburu.. Iiih GeEr loe!” elakku. Awan terbahak.
“Udah ngaku aja.. gue juga cemburu tuh sama Rangga pas jemput lu kemaren. Gue kira lu berdua balikan..!”
“Hah… dari mana lu tau?”
“Keciill itu mah.. apa sih yang gak gue tau tentang loe?” candanya.
“Preet… Trus ngapain pake cemburu segala?”
“Karena.. gue sayang sama loe..” ucapnya lirih.
“Wan.. kenapa sih lu jahat banget sama gue? kenapa sih lu gak lakuin hal kaya gini dari dulu? Lu tau gak berapa lama gue nunggu hal ini? Setahun! Ckckck.. tega banget lu, Wan!!”
“Jadii?”
“Iyaa.. gue juga sayang sama lu!” ucapku tak kalah lirih. Awan tersenyum lebar.
“Ehem..”
“Tapi ngapain lu kemaren-kemaren mesra-mesraan sama Intan?” tanyaku sewot.
“Tuh..” tunjuk Awan. Aku menoleh. Ternyata Bella sudah berdiri di belakangku dengan tangan didekap dan tersenyum puas.
“Jadi lu berdua ngerjain gue? surat itu juga akal lu berdua?”
“Yap..! hebat kan?”
“Jahat banget sih lu berduaa..” jeritku. Awan dan Bella terbahak di antara jeritku.

“Melody… jadilah Melody terakhir buat gue, Jangan pernah lari dan pergi dari gue. Karena loe adalah bidadari yang dikirim Allah untuk mendampingiku selamanya…” Ucap Awan.

Cerpen Karangan: R. Eka Putri
Facebook: facebook.com/rohaemy.pudthree
pemimpi yang hanya menuliskan harapannya lewat coretan-coretan tanpa makna :’)
salam kenal…

Cerpen Melody Terakhir Buat Awan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Heart

Oleh:
Aku melangkah menuju ruang tunggu di rumah sakit ini. Ibuku melarangku untuk menemaninya berkonsultasi dengan dokter yang menangani penyakitku. Dengan bosan, aku pun menuju ruang tunggu. Kulihat tidak terlalu

Janji Yang Pudar (Part 2)

Oleh:
Setelah sarapan pagi, Devi datang dan kami pun pergi menjemput teman kami dan langsung pergi ke Gianyar. Kemudian kami tiba di Ubud. Memesan sebuah penginapan dan kami pun menghabiskan

Teman Yang Kucinta

Oleh:
Bagaimana caranya, jika aku mengalah, tapi sebenarnya ku masih cinta. Bagaimana caranya, ku ingin pergi, tapi sebenarnya ku tak bisa meninggalkanmu. Berdiri pun takkan mampu, melawan rasa yang kaku.

Anak Perempuan Pertama

Oleh:
Hai, aku Dinda Puspasari anak perempuan pertama untuk ayah bundaku. Anak yang ditunggu-tunggu kehadirannya oleh mereka. Dan aku sangat senang bisa dilahirkan ke dunia ini dengan selamat. Aku juga

Bukti Kecantikan

Oleh:
Siswa-siswi SMA Harapan 45 Surabaya berhamburan dari ruangan kelas yang berderet di setiap lorong bangunan. Jam pulang sekolah selalu dinanti oleh setiap siswa di dunia. Ada seribu satu rencana

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *