Memories, Remember You in 7 Days (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 31 January 2018

Day 3

Melihatnya lagi untuk kali ketiga rupanya membuat Rain kian terbiasa. Tatkala ia turun dari bus bersama dengan penumpang lainnya, sepasang mata bulatnya langsung mengenali sesosok pria yang duduk dengan tenang di bangku halte. Dia memberi seulas senyum tipis pada Rain seiring gadis itu mendekat.

Hanya tersenyum. Tanpa menyapa atau mengucapkan kata-kata lain padahal Rain sudah duduk di sebelahnya. Pria itu membisu. Kembali seperti hari-hari dimana Rain tidak menyadari keberadaannya sama sekali. Seharusnya itu bukan masalah, tapi entah kenapa kali ini Rain merasa ada yang aneh. Aneh saat ia tak mendengar suaranya. Aneh saat keduanya menjadi secanggung ini. Aneh ketika Rain merasakan hal seperti ini padahal orang itu tidak pernah menjadi temannya sama sekali. Rain bahkan tidak tahu siapa namanya.

Beberapa kali ekor mata Rain bergerak melirik ke arah orang itu, berusaha menelaah makna dibalik denyut jantung yang tak menentu. Kedua tangan Rain mencengkeram tas kuat-kuat. Ia mengatur napas sesaat, berusaha membuat dirinya sendiri tetap terlihat tenang.

“Aku sedang berpikir,”
Suara itu pada akhirnya membuat Rain cepat-cepat mengangkat wajah. Suara yang belum terdengar sejak ia datang tadi. Suara yang entah bagaimana bisa membuat hatinya gundah dan.. rindu.

“Tentang apa?”
“Katamu kamu suka baca, kan?”
Rain mengernyit samar.
“Ya. Kenapa?”

Pria itu menatap Rain sejenak, menghela napas, kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
“Aku berpikir, kalau aku memberikan ini padamu apakah kamu akan suka atau nggak? Apa kamu akan membacanya atau malah membuangnya. Aku memikirkan hal itu sejak tadi,”

Iris hitam Rain bergulir ke arah buku yang dipegangnya. Ia mampu membaca judul yang tercetak tebal dengan huruf artistik yang indah. Memories.

“Apa kamu berniat memberikannya padaku?”
“Apa kamu akan menerimanya?”
“Jika kamu memberikannya,”

Pria itu menatap Rain cepat. Sempat terdiam, tetapi kemudian tersenyum puas. Rain memandangi buku yang baru saja berpindah ke tangannya itu dengan seksama.

“Aku akan membacanya nanti. Terimakasih!”
“Katanya buku itu bagus. Konfliknya menarik, seperti sungguhan. Kuharap itu bisa membantumu,”
“Membantuku? Membantu apa?”

Pria itu mendadak bungkam. Sepasang mata teduhnya masih menatap Rain, tetapi bibir tegasnya terkunci rapat. Dia bahkan menggantung Rain dalam belenggu rasa penasarannya. Membuat gadis itu terus menunggu tanpa mendapat jawaban.

“Membantumu menjadi cewek yang romantis!”
“Apa?”
Demi Tuhan, jawaban itu mengejutkan Rain. Jawaban yang sejak tadi ia nanti-nantikan ternyata tak lebih dari sekadar kalimat konyol yang terdengar sumbang di telinga Rain.

“Kamu sendiri yang bilang kalau kamu bukan tipe cewek romantis meskipun kamu suka baca novel. Itu sebabnya aku berpikir kalau buku ini cocok untukmu. Karena ceritanya benar-benar melankolis. Dan juga romantis.”

Rain tersenyum singkat. Sekali lagi pria itu membuat Rain berpikir kalau ia menemukan kenyamanan bersamanya. Rain suka mengobrol dengannya. Rain suka mendengarnya bicara. Ia suka saat pria itu memandangnya. Tapi apa alasan dibalik segala rasa sukanya itu, Rain benar-benar tidak tahu.

“Ah ya, aku Rain. Rainata.”
“Aku tau,”
“Kamu tau?”
Pria itu menoleh, menanggapi ketidakpahaman Rain dengan seringai kecil.

“Aku pernah mendengar sopirmu memanggil namamu, makanya aku tau!” Jawabnya tenang. Membuat Rain segera membulatkan mulut.
“Oh. Lalu, siapa namamu?”

Pria itu kembali diam. Tatapan hangatnya pada Rain pelan-pelan berubah. Garis wajahnya yang selalu terlihat tenang bertransisi menjadi lebih datar. Dan Rain menyadari perubahan itu.

“Hello.. Siapa namamu?”
“Pria baik hati!”
“Apa?”
Seolah tidak mempercayai apa yang baru saja didengarnya, Rain meminta pria itu mengulang sekali lagi.

“Kenapa? Itu memang namaku. Pria baik hati.”
“Are you kidding me?”

Tepat saat itu, Rain mendengar suara ponsel. Bukan miliknya. Tapi milik pria itu. Dia merogoh saku jaketnya lantas bicara pada seseorang. Begitu percakapannya berakhir, pria itu segera bangkit dan berpamitan pada Rain.

“Aku ada urusan. Aku pergi duluan, ya! Sampai jumpa!” Ucapnya seraya menghambur pergi. Berlalu dari hadapan Rain setelah sebelumnya sempat menoleh satu kali dan melambai kecil pada Rain. Dia bahkan pergi tanpa naik bus. Tidak seperti biasanya.

Rain berusaha membuatnya berhenti untuk beberapa saat, tapi tidak berhasil. Dia tetap berlari kecil meninggalkan halte tanpa mengindahkan panggilannya sama sekali.

Kh.. Pria yang aneh. Tapi kenapa setiap melihat wajahnya Rain selalu merasa kalau semua yang ada dalam diri pria itu tidak asing? Tatapan hangat dari mata teduh pria itu seolah berusaha keras mengajak Rain mengingat sesuatu. Tapi apa?

Day 4

Hujan turun lagi. Dan lagi, Rain lupa membawa jaket saat berangkat ke kampus tadi pagi. Kini ia meringkuk di bangku halte, mendekap lengannya sendiri sambil menunggu pak sopir yang mungkin akan terlambat beberapa menit. Rain mengitarkan pandang ke sekeliling, tapi matanya tak kunjung menemukan sosok itu. Ada banyak pria di tempat ini, tapi si pria yang mengaku bernama ‘pria baik hati’ itu tidak ada di antara mereka.

Rain mendesah singkat. Dia tidak di sini. Ke mana dia? Ah, kenapa Rain jadi memikirkannya? Mereka tidak cukup dekat untuk saling memikirkan satu sama lain. Apalagi mengkhawatirkan. Rain baru mengenalnya beberapa hari dan bahkan sampai sekarang belum tahu namanya. Tapi kenapa hati Rain seolah mencari-cari keberadaannya saat penglihatannya tidak menemukan sosok itu?

Rain tidak tahu kenapa dirinya merasa mulai terbiasa dengan orang itu. Terbiasa melihat senyumnya ketika ia turun dari bus, dan akan merasa sangat gusar saat tiba-tiba dia tidak ada. Ada apa dengan dirinya ini? Perasaan macam apa yang merasukinya kini?

Rain menggeleng cepat, mengerjap satu kali, berusaha mengenyahkan orang aneh itu dari pikirannya. Berhenti memutar ulang suara beratnya dan berhenti bertanya-tanya dimana keberadaannya. Sejenak Rain memejamkan mata. Mendengarkan bisikan angin beradu bersama gemuruh air yang berlomba-lomba jatuh dari langit. Terdengar seperti paduan melodi dengan sejuta hasrat yang tak pernah dimengerti siapapun. Melodi yang tak akan mampu terkomposisikan oleh musisi manapun. Melodi yang hanya bisa dinikmati dan dirasakan oleh orang-orang seperti dirinya. Orang yang terus-terusan merasa kehilangan sesuatu tanpa pernah memahami apa sesuatu yang hilang itu.

Kabut beraroma asa terhirup olehnya. Diiringi semerbak tanah kering yang terbakar oleh elemen bumi bernama air. Petrichor. Hal yang sesungguhnya selalu memikat hati Rain dengan alasan yang tidak bisa ia jelaskan. Hujan selalu membuat Rain larut dalam dunia fantasinya sendiri. Seolah membawa pikirannya melayang menjelajah kisah yang telah terkubur nan jauh di dalam hatinya.

Tiba-tiba Rain tersentak. Sekelebat bayangan melintas di benaknya. Tapi Rain tidak bisa menyimpulkan apa-apa karena semuanya terjadi begitu saja. Sangat cepat.

“Itu dinamakan Petrichor!”
“Petrichor?”

Rain memejamkan mata lebih erat. Aroma itu semakin gencar menusuki penciumannya. Aroma yang membuat Rain kembali berpikir. Memikirkan hal yang sepertinya telah ia lupakan.

“Aroma ini biasanya muncul pada saat hujan pertama setelah musim kemarau panjang. Bukan berarti kita nggak bisa menikmati Petrichor di hari-hari berikutnya, kita masih bisa menghirupnya, tapi jelas nuansanya akan berbeda jika dibandingkan dengan aroma yang dihasilkan ketika hujan pertama datang di musim penghujan,”

Suara itu memenuhi pendengaran Rain. Sekali lagi, pikirannya seakan berusaha pergi ke masa lampau. Yang sampai hari ini belum bisa ia ingat.

“Bagaimana hujan bisa menghasilkan hal seperti ini?”
“Saat musim panas, tanaman hijau tertentu mengeluarkan sejenis minyak aromatik sebagai upaya adaptif terhadap udara yang relatif kering, senyawa aromatik ini diserap oleh bebatuan dan tanah yang ketika hujan akan dilepaskan kembali dan naik bersama udara. Senyawa aromatik ini bercampur dengan geosmin ¡ªzat kimia yang dihasilkan oleh Actinomycetes pada saat pembentukan spora. Geosmin naik ke udara karena percikan air hujan yang turun, lalu terjadilah percampuran senyawa aromatik tanaman dan geosmin dari bakteri. Inilah yang memicu timbulnya aroma khas hujan”

“Luar biasa!”
“Kamu suka aromanya?”
“Ya. Sangat suka!”

“Mereka juga memberikan nama khusus untuk para pecinta hujan dan petrichor,”
“Benarkah? Apa itu?”
“Pluviophile.”

Rain mendengar semua itu. Otaknya memutar percakapan itu dengan sangat jelas, namun ia sama sekali tidak dapat menangkap apapun selain suara yang terasa sangat familiar bagi Rain. Ia bahkan tidak tahu dari mana suara itu berasal. Apakah itu bagian dari masa lalunya sebelum kecelakaan? Atau hanya sekadar dialog dalam film yang pernah ia tonton?

“Hai, Rain!”
Rain tersentak saat seseorang tiba-tiba muncul di sebelah kirinya. Mengagetkan sekaligus merusak renungan Rain dengan suara yang sejak tadi ia nanti-nantikan.

“Kenapa kamu tiba-tiba datang seperti hantu? Mengagetkan saja!”
“Oh, maaf!”

Sepertinya memang ada yang tidak beres dengan dirinya sekarang. Ketika pada akhirnya pria itu datang, kenapa Rain merasa senang?

“Dari mana kamu?”
“Kenapa? Apa kamu menungguku?”
“Eh?!”
“Kubilang, apa kamu menungguku?”

“Nggak! Aku cuma bertanya!”
“Hh.. baiklah. Oh ya, gimana novelnya? Udah dibaca?”

Diam-diam Rain mendesah lega ketika pada akhirnya pria itu mengubah topik pembicaraan.
“Ah, aku masih menyelesaikan novel yang kubeli beberapa hari yang lalu. Mungkin aku baru akan mulai membacanya nanti malam,”

Pria itu tampak mengerti. Lalu ia terdiam sambil memandangi rinai hujan yang mulai mereda. Cukup lama, sampai ia membuka mulut kembali, tanpa menatap Rain.

“Kuharap itu benar-benar akan membantu,”
“Apa? Kamu bilang apa?”
Kali ini Rain melihatnya menoleh. Memperlihatkan kesenduan yang menguar dari iris matanya. Namun dia tetap berusaha tersenyum.

“Kubilang hujannya sudah kecil. Sebentar lagi pasti akan reda,”

Rain sama sekali tidak dapat membalas apa-apa. Wajanya mendadak terasa kaku. Dan atmosfir di sekitarnya berubah menjadi lebih sendu. Bahkan aroma khas hujan yang selalu membawa ketenangan bagi Rain kali ini justru mengubah suasana menjadi melankolis berkepanjangan. Rain merasa sedih, tanpa alasan.

Cerpen Karangan: Tata Kurnia

Cerpen Memories, Remember You in 7 Days (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pacarku Daun Muda (Part 3)

Oleh:
Hatiku hancur… aku baru menyadari jika aku telah meninggalkan seseorang yang sangat istimewa di dalam hidupku. Aku merasa sangat kehilangan Rico, yaa Tuhan aku sangat menyesal dengan perbuatanku. Benar

Peringkat 1 (Part 2)

Oleh:
Hari Minggu. Tidak ada hari yang lebih baik selain hari minggu yang cerah di musim penghujan. Sebuah pemandangan biru terhampar luas di atas kepalaku. Awan-awan saling menunjukkan bentuk pola

Ada Pelangi di Air Terjun itu

Oleh:
Aku selalu menyukai hal-hal yang indah. termasuk pelangi. impianku yang tidak pernah tercapai dan mungkin tidak akan tercapai adalah ketika aku bermimpi menjadi salah satu bidadari yang melewati jalan

Idol Scandal (Part 1)

Oleh:
Suasana riuh penonton memenuhi stadium tempat konser penyanyi papan atas paling fenomenal abad ini, di antara lautan penonton yang berteriak dan menggila disini aku hanya bisa menggelengkan kepala sambil

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *