Memories, Remember You in 7 Days (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 31 January 2018

Day 5

Hari ini Rain pulang lebih awal dari biasanya. Tapi ia tak berniat meminta Pak Sopir menjemputnya sekarang. Ia memutuskan untuk duduk di bangku halte beberapa saat dan akan pulang ke rumah di waktu yang sama seperti biasa ia pulang dari kampus.

Langit cukup cerah hari ini. Tidak ada mendung. Rain bisa merasa lega karenanya. Paling tidak ia bisa melihat awan putih yang berarak di angkasa sambil menikmati matahari siang yang tak terlalu terik. Rain teringat novel pemberian pria itu dan mulai mengaduk isi tasnya. Membaca sesuatu yang menarik ia pikir akan membuat siangnya menjadi tidak membosankan. Lagipula ia juga penasaran. Semenarik apa buku itu hingga membuat si ‘pria baik hati’ terkesan? Apa itu lebih hebat dari Twillight milik Stephenie Meyer?

Memories.

Rain membuka halaman pertama. Membaca baris pertama. Cerita dimulai dengan seorang gadis yang ditindas habis-habisan di sekolah. Semua orang mencemoohnya, mempermalukannya di hadapan murid satu sekolah. Tapi dia tidak menangis. Dia tetap berdiri tegak tanpa memperdulikan tawa mengejek yang berbondong-bondong meneror dirinya.

Rain berhenti sesaat. Kisah ini.. kenapa Rain merasa tidak asing? Ia seperti mengenal kisah ini. Tapi apa ia benar-benar mengenalnya? Kapan ia membaca cerita ini?

Rain melanjutkan ke paragraf berikutnya. Lembar berikutnya. Bab berikutnya. Semakin ia menyibak lembaran buku itu ke belakang, semakin ia merasa kalau kisah itu benar-benar familiar. Apa yang dialami si tokoh utama dalam cerita itu seperti pernah terjadi dalam hidup Rain. Atau hanya perasaannya saja?

“Kenapa kamu ingin membantuku?”
“Aku memang orang yang sangat membenci bullying di kalangan remaja. Tapi aku melakukan ini bukan semata-mata karena kebencianku itu, tetapi karena aku peduli padamu!”
“Kenapa kamu peduli padaku?”
“Karena aku menyukaimu!”

Kembali ke hari-hari yang semu itu. Hari yang menurut Rain belum pernah terlalui, namun membekas dengan sangat kuat di dalam kepalanya.
Arghh.. kenapa ia jadi begini? Ini benar-benar membuat Rain bingung.

“Aku menyukaimu. Aku benar-benar menyukaimu!”

Kalimat-kalimat itu semakin terurai jelas di kepala Rain, tapi ia tetap tidak bisa mengingat apapun. Tidak bisa melihat kapan ia mengalami semua itu dan siapa yang mengatakannya?

Napas Rain tertahan beberapa saat. Perasaan sesak perlahan-lahan merasuki sanubarinya. Rain bahkan tidak dapat memegang buku itu dengan benar sekarang. Tangannya gemetar. Sementara otaknya masih terus berusaha memahami apa yang sedang melanda dirinya kini.

Perasaan aneh itu menjelma menjadi rasa gelisah. Cemas. Takut. Dan Rain tidak menyukai semua itu. Sungguh. Bagaimana bisa sebuah novel setebal 256 halaman itu berhasil memporak-porandakan hatinya seperti ini?

Day 6

Dia tidak datang. Siapa? Si pria baik hati yang belakangan ini menyelinap dalam kesendirian Rain. Atau mungkin belum datang? Tapi sudah hampir dua jam Rain duduk di halte, dan orang itu masih belum muncul sampai sekarang. Padahal Rain ingin sekali bicara dengan orang itu. Rain ingin bertanya tentang novel yang dia berikan pada Rain tiga hari yang lalu. Tentang bagaimana dan dimana dia mendapatkan novel itu.

Rain mencoba menunggu beberapa saat lagi. Mungkin saja dia akan datang. Sembari menunggu, ia kembali menyibukkan diri untuk membaca. Buku pemberian orang itu. Buku yang sejak lembar pertama sudah membuat pikiran Rain kacau. Semakin ke belakang semakin kacau. Tapi Rain tak ingin berhenti. Ia harus menuntaskannya hingga akhir.

Beberapa kali Rain memberi jeda. Mengerutkan kening, menggigit bibir, berpikir. Berusaha keras memahami sesuatu yang sampai detik ini masih menjadi misteri. Sebuah cerita yang terasa seperti pernah terjadi namun sama sekali tak pernah ia lalui.

Detik berikutnya Rain menyerah. Tangannya bergerak menutup buku itu cepat. Kemudian ia terdiam dengan napas memburu. Guratan ekspresi yang mengukir wajahnya memperlihatkan sebuah kebingungan yang luar biasa.

Rain menarik napas berulang-ulang. Lantas kembali melongok ke ujung jalan. Tidak ada. Orang itu benar-benar tidak datang. Rain sedikit kecewa. Tapi kenapa?

Apa ia berpikir bahwa ia merindukan orang itu?

Day 7

Langit kembali mendung hari ini. Rain tidak begitu memperhatikannya tapi ia bisa merasakan lewat angin yang berhembus kasar di sekitar wajahnya. Udara juga menjadi lebih dingin, membuat Rain berulang kali merapatkan sweaternya.

Rain turun dari bus, duduk di bangku halte seperti biasa. Namun ia sama sekali tak tertarik memperhatikan sekeliling. Seluruh perhatiannya tersita oleh buku itu. Buku yang tinggal beberapa lembar lagi mencapai ending.

“Aku mempunyai segalanya. Termasuk dirimu,”

Dialog itu mengawali penelusuran Rain ke hari-hari semu yang ia rasa hanya ada dalam ruang imajinasinya saja. Dialog yang seolah memaksa otaknya mengingat seseorang yang sampai detik ini tidak bisa ia ingat.

“Apa kamu tau, hal apa yang selalu aku cemaskan selama in?”

Lagi-lagi kalimat dalam buku itu seakan berusaha menggali kisah lama dalam ingatan Rain.

“Sesuatu membuatku merasa cemas. Dan aku selalu memikirkannya setiap hari”

Bahkan suara itu kini seperti memenuhi pendengaran Rain. Mendatangkan perasaan nyeri yang menusuki kalbu.

“Kamu tau apa sesuatu itu?”

Gambaran tentang sosok yang mengucapkan kalimat itu masih terlihat abstrak dalam benak Rain. Hanya saja, ada sesuatu yang membuat dada Rain terasa panas. Ada debar perasaan yang tak bisa ia jelaskan secara detail.

“Apa?”

Kali ini Rain bisa melihat dirinya sendiri. Dirinya yang duduk tenang sambil menggenggam tangan orang itu. Rasa panas yang menyesakkan sedikit demi sedikit merasuki hatinya. Mendung hitam yang menggumpal mulai mendatangkan gerimis. Percikan air yang berbondongan jatuh dari langit itu seakan menjadi pentas tersendiri yang mengiringi kesendirian Rain. Menjadi syair pengiring tatkala hari-hari yang semu itu mulai terurai jelas di benak Rain.

Sosok itu perlahan-lahan muncul dengan samar lalu sedikit demi sedikit mulai jelas. Orang yang memperkenalkan Rain pada takdir alam yang disebut cinta. Yang selalu menjaga dan melindunginya ketika semua orang mencampakannya. Yang sempat hadir menjadi bagian terpenting dalam hidup Rain.

“Itu kamu!”

Kini ingatannya kembali. Ia bisa mengingat hari itu. Satu hari sebelum kecelakaan itu terjadi. Juga orang itu.

“Aku?”
“Ya. Kamu,”
“Kenapa?”
“Karena aku selalu berpikir bahwa aku akan kehilanganmu suatu hari nanti. Kamu akan berada jauh dariku dan melupakanku. Saat kita bertemu, kamu nggak mengenalku. Kamu lupa siapa aku. Karena kamu udah nemuin kehidupan baru yang membuatmu lebih bahagia,”

“Hey! Pikiran apa itu? Kamu terlalu banyak nonton film sad romance sepertinya,”
“Aku nggak bercanda, Rain.. aku serius. Hatiku bilang kalau suatu hari nanti kamu akan ninggalin aku,”
Rain terdiam dengan perasaan berkecamuk. Saat itu, dan juga saat ini.

“Rain, kamu mencintaiku?”
“Kenapa kamu bertanya begitu?”
“Apa kamu akan terus bersamaku?”
“Hey! Ada apa denganmu?”

“Apa kamu bisa berjanji untuk nggak pernah jauh dariku?”
“Hentikan itu!”
“Rain, apa boleh aku memilikimu?”
“Kubilang hentikan!”

“Kalau begitu beri aku jawaban!”
“Jawaban seperti apa yang kamu mau?! Kamu menanyakan hal-hal yang kamu sendiri udah tau jawabannya. Seharusnya kamu nggak perlu nanya lagi. Kecuali kalau kamu memang meragukanku!”
“Aku memang meragukanmu!”
“Apa?”

Air mata Rain jatuh tanpa diminta. Hari itu ia menangis, dan hari ini ia melakukan hal yang sama. Ia menangis tatkala butiran hujan semakin deras turun dari langit. Segala hal yang selama ini ia rasa tak pernah ada, kini ada kembali. Segala hal yang pernah ia lupakan selama dua tahun pelan-pelan kembali. Hal-hal yang sempat menghilang dari ingatannya. Termasuk sosok itu.

Orang yang satu minggu lalu muncul di hadapannya dan meminjaminya jaket. Juga orang yang memberinya sebuah buku. Orang yang membuat Rain terus-terusan berpikir tentang seseorang dari masa lalunya yang terlupakan. Orang yang mencampur adukkan perasaan Rain dalam waktu yang terlampau singkat. Dan orang yang sejak kemarin membuatnya rindu. Dia orang yang sama dengan tokoh utama dalam masa lalunya.

“Aku hanya tidak ingin kamu meninggalkanku, Rain..”

Satu lagi air matanya jatuh melintasi wajah. Tapi kali ini Rain dengan sigap menghapus jejaknya. Ia memejamkan mata, sejenak. Beberapa saat. Sampai suara yang familiar itu menyisir pendengaran Rain.

“Apa hari ini sesuatu membuatmu sedih?”

Rain mengangkat wajah dan menoleh ke samping. Sosok itu masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Hanya saja, kali ini Rain mengingatnya.

“Kamu tau, Rain.. di dalam hujan ada lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yang rindu,”

Tubuh Rain menegang. Udara begitu dingin, namun ia merasa panas. Susah payah Rain berusaha membuka mulut,

“Mars?”

Sosok itu memandang Rain tulus. Tersenyum padanya.

Cerpen Karangan: Tata Kurnia

Cerpen Memories, Remember You in 7 Days (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Dalam Hati

Oleh:
“Alika Maharani” itu namaku. Aku baru duduk di kelas XII SMA. Aku mengagumi seseorang, dia adalah teman sekelasku di kelas X dulu, namanya “Faiz”. Orangnya keren, ganteng, tapi sedikit

Permainan Cinta

Oleh:
Ketika mereka menghabiskan kopi berdua di bawah sinar bulan purnama, mata pun terkunci pada sesama. Namun itu dulu, ya dulu, kini yang bisa Beni lakukan hanyalah mengunci tatapannya pada

Hello, Goodbye (Part 2)

Oleh:
“INI, Mas, kembaliannya,” ucap seorang penjaga kasir di sebuah toko buku. “Hmmmmm,” gerutu seorang pengunjung, sembari menyodorkan telapak tangan kanannya. Sementara tangan kirinya, memegang sebuah buku; di mana empat

Tembok Cinta

Oleh:
“Brak” Bola basket yang dimainkan oleh Egi seketika melayang ke tembok sebelah, dan menabrak sesuatu yang membuat benda tersebut pasti pecah. “Aduuh, apa yang pecah ya, kayaknya pot bunga

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

5 responses to “Memories, Remember You in 7 Days (Part 3)”

  1. anggun says:

    ceritanya bagus bgt..aku tunggu karya berikutnya ya..

  2. Rizki says:

    Semoga supir nya dipecat kalo jemput telat mulu elah

  3. Ivy Adeline says:

    Sukaaa deh.. Semangat untuk berkarya terus ya..

  4. Dayu Swasti Kharisma says:

    Bagus bagus baguuuus sumpeh

  5. miftah says:

    sip bagus. serius!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *