Menembus Waktu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 20 August 2015

Bukan dunia namanya jika tidak dipenuhi oleh hal-hal yang membingungkan. Hampir semua diciptakan selalu memiliki hal yang berseberangan. Ada cinta, ada benci. Ada senang, ada sedih. Ada tua, ada muda. Ada pertemuan dan ada perpisahan. Perpaduan komponen yang jauh berbeda itulah yang kadang membuat hidup terasa lebih indah, atau sebaliknya menjadikan seseorang lebih memilih meninggalkan kehidupannya.

Seorang wanita berusia 38 tahun tengah meringkuk dan menangis di depan sebuah gedung bioskop. Wanita tersebut memang mencuri perhatian orang-orang yang lalu lalang, namun tidak ada yang berani bertindak. Wanita putus asa. Begitu gumam beberapa dari mereka. Hingga setelah setengah jam terduduk menangis di sana, sebuah tangan terulur. Wanita itu hanya bisa menatap tangan itu, tidak berani menyambutnya.

“Sini aku bantu berdiri,” tangan itu menarik tubuh mungil wanita itu berdiri.

Meski matanya sembab akibat menangis, namun wanita itu masih bisa dengan jelas melihat sosok yang ada di hadapannya sekarang. Seorang laki-laki, tampan, gagah, putih, tinggi dan sangat muda, kontras dengan usia wanita.

“Terima kasih.” Ujar wanita pelan sambil tertunduk. Dia merasa malu karena telah memerhatikan lelaki itu terlalu lama hingga lupa mengucapkan terima kasih.
“Aku rasa filmnya nggak begitu sedih. Malah serem.” Begitu komentar laki-laki itu. Wanita hanya tersenyum sambil menghapus air matanya. Tangisnya mulai mereda. “Aku Zaki.” Laki-laki mengulurkan tangannya kembali.
“Fani.” Jawab wanita singkat menyambut uluran tangan Zaki, pemuda tampan itu. “Aku harus pulang. Udah cukup rasanya membuat hal memalukan di sini.”
“Lah, menangis kan hak semua orang. Nggak perlu malu.” Dengan ramah Zaki merespon sekedarnya.
“Terima kasih. Aku beneran harus pulang.” Saat Fani memutar tubuhnya, panggilan Zaki menghentikannya dan membuatnya berbalik lagi.
“Pergi minum, yuk!” Ajaknya. Fani tersenyum tipis.
“Maaf, aku nggak minum.” Jawabnya sopan. Zaki malah tertawa.
“Maksud aku bukan minum-minum. Ke cafe, nge-jus, atau coke. Daripada kamu balik ke rumah sekarang, masuk ke kamar dan melanjutkan acara nangis kamu. Dan nggak mungkin juga kamu kerja malam ini kan? Ayo!” tanpa bisa menolak, Zaki sudah berjalan di depan Fani. Dengan langkah masih berat Fani mengikuti dari belakang.

Ada benarnya juga yang dikatakan Zaki. Saat tiba di rumah aku pasti akan menangis lagi, bahkan mungkin sampai pagi. Fani bergumam sendiri dalam hati membenarkan perkataan pemuda yang baru saja dikenalnya itu.

Cafe Xian The Low, di sanalah mereka duduk di meja yang ada di sudut, dekat jendela yang langsung mengarah ke danau buatan yang indah.

“Aku tertarik ke cafe ini bukan karena view-nya, tapi karena namanya. Aneh nggak sih, Xian The Low, kasian deh lo. Kayanya emang tempat orang-orang galau deh.” Zaki menceritakan kesannya pada kafe yang ia ketahui lima bulan yang lalu.
“Sepertinya nggak banyak orang galau di kota ini.” gumam Fani pelan, namun Zaki mendengarnya dan segera melihat sekeliling mereka. Hanya ada dua pasang orang lagi di sana selain mereka.
“Yah, memang beginilah cafe ini. Nggak pernah ramai sejak pertama kali aku ke sini. Mereka nggak punya menu khusus yang membuat orang terkesan dan pengen datang lagi. Kalau-kalau akhirnya cafe ini bangkrut dan harus dijual, aku rela jual mobil aku dan beli cafe ini. Aku nggak rela orang-orang galau nggak punya tempat lagi.”

Fani tergelak mendengar celotehan Zaki. Zaki tersenyum bangga bisa membuat wanita ini akhirnya tertawa.

“Secara nggak langsung kamu mengatakan kalau kamu pemuda yang lagi galau.” Fani menggeleng tidak percaya sambil meneguk jusnya.
“Kok kamu bisa menarik kesimpulan gitu?” Zaki berusaha menahan hasratnya untuk terus berceloteh. Ia ingin sekali mendengar wanita ini yang bercerita. Melepaskan beban.
“Menurut cerita kamu, kamu pasti udah sering ke sini. Memantau keadaan cafe ini. Bahkan kamu mengenal cafe ini dan rela menjual harta berharga kamu demi cafe ini. Kamu memperlakukan cafe ini seperti pacar kamu.” Fani berkomentar cukup panjang, membuat Zaki semakin bergairah memancingnya untuk bercerita.
“Kadang kita jatuh cinta pada hal yang bukan seharusnya. Apa salah aku cinta sama tempat ini?” Zaki kembali bertanya pendapat Fani dan membuat wanita yang mulai ceria itu berbicara.
“Em,” Fani menggelengkan kepalanya menyatakan tidak. “bukan hanya cinta pada hal yang bukan seharusnya, bahkan kadang aku benci sama keadaan yang aku ciptakan sendiri. Aku benci dengan semua hal-hal yang orang-orang aku cintai lakukan padaku. Mungkin karena aku tidak sanggup membenci subjeknya. Aku seperti objek yang membeci prediketnya, tanpa berani menyentuh subjek.” Fani menyeruput minumannya kembali. Dia menatap kosong ke arah danau. Ada kehampaan di sana.

“Kamu dikecewakan?” Zaki memberanikan diri menyinggung masalah Fani. Wanita itu menggeleng.
“Aku yang mengecewakan.” Mata Fani berkaca-kaca. “Kamu pasti bertanya-tanya kenapa aku menangis seperti orang bodoh tadi.” Fani menatap Zaki cukup lama, kemudian tertunduk, airmatanya jatuh. “Dan aku melakukannya lagi.” Ucapnya terisak.
“Menangis bukan hal yang bodoh, Fani. Daripada terbakar di dalam, lebih baik kamu biarkan emosi itu meluap ke luar. Aku sering menangis.” Mendengar ucapan Zaki, kepala Fani langsung tegak. Ia menghapus airmatanya, dan menatap penuh Tanya pada Zaki. “Dulu. Sebenarnya aku tidak suka membuka kartuku sendiri. Tapi demi menghibur kamu, ataupun tidak,” Fani tersenyum, “ternyata iya menghibur kamu,”
Zakipun tersenyum, “aku ke sini sejak kehilangan seseorang yang aku cintai. Setiap malam, bahkan kemarin, aku masih menangis di meja ini. Mengutuk dan menyalahkan diriku sendiri. Namun aku sadar Tuhan punya banyak cara menyatukan dua manusia. Hanya hari ini malah aku yang menyaksikan wanita berlinang air mata.” Fani tersenyum malu. “Sunyi. Karena itu aku tertarik ke sini. Tidak akan ada yang melihat aku menangis.”

“Kamu masih muda, Zaki. Apa hidup kamu sudah sepahit itu?” Fani dengan serius menanggapi cerita Zaki.
“Kamu salah menerka umurku.” Hanya begitu jawaban Zaki. Memancing Fani untuk bertanya.
“Memangnya usia kamu berapa?” Zaki tersenyum puas. Dugaannya benar karena Fani memang menanyakan usianya.
“23 tahun.” Jawabnya ringan. Fani yang tercengang.
“Aku kira kamu malah lebih tua. Zaki, kamu baru memasuki gerbang kehidupan sesungguhnya. Percayalah, masih banyak hal-hal yang lebih berat di tengah-tengah perjalanan nanti.” Fani tidak percaya pemuda 23 tahun berhasil memesonanya malam ini.
“Seperti?”
“Kalau kamu bertanya tentang kehidupan aku, perlu berhari-hari menceritakannya.” Fani mengangkat tangannya, dan menyeruput jus-nya hingga habis.
“Aku bersedia mendengar hingga kamu lelah bercerita.” Ujar Zaki yakin.
“Orang-orang bilang perempuan itu harusnya hanya menunggu. Sekian tahun aku nunggu orang yang tepat, hingga sekarang, di usiaku 38 tahun, orang-orang memanggilku perawan tua. Aku coba membuka diriku sedikit demi sedikit, tetapi kebanyakan hanya mempermainkan aku, memanfaatkan aku, mungkin karena aku nggak sesuai seperti yang mereka harapkan. Aku yang mengecewakan mereka. Aku yang mengecewakan orangtua mereka karena aku wanita yang nggak laku, tua dan nggak sadar diri mendekati putra mereka yang tampan dan sukses. Hal yang paling memalukan tadi, kamu tahu kenapa? Lelaki yang sudah berjanji akan melamarku, meniggalkanku demi gadis seksi dan muda. Itu salahku, Zaki. Aku sudah tua, masa suburku sudah lama lewat. Mungkin nggak terbayangkan olehnya berumah tangga dengan nenek-nenek.” Fani kembali terisak.

“Fani!” Zaki menyentuh tangan Fani di atas meja. “Kamu nggak tua!” Ujarnya tegas. Fani tertawa sinis.
“Itu sama sekali nggak menghibur, Zaki.” Zaki menggenggam tangan Fani, membuat Fani terkejut.
“Mereka yang nyakitin kamu, benar-benar tertutup matanya nggak bisa melihat kecantikan kamu, keindahan kamu, keteduhan kamu. Aku jujur, bukan mau menghibur kamu. Aku bahkan nggak heran kenapa mereka nggak sadar keindahan kamu, karena kamu sendiri nggak menyadarinya, Fan. Apapun nggak bisa menutupi keindahan itu, kecuali kamu sendiri. Usia? Itu hanya angka. Nggak akan merubah siapa kamu.”

Dengan penuh kesungguhan, kata-kata Zaki berhasil menyentuh lubuk hati Fani yang terdalam. Fani tidak pernah merasa disanjung begitu seumur hidupnya. Fani membalas genggaman tangan Zaki, seolah mengungkapkan betapa berartinya ucapan itu baginya.

“Kamu percaya cinta pada pandangan pertama?” Zaki bertanya, dan Fani menggeleng. Tangan mereka masih saling bertautan. “Aku juga nggak percaya. Dulu. Tapi sekarang aku yakin itu ada.”

Fani tiba-tiba bingung dengan perasaannya sendiri. Dia merasa disanjung dan dipermainkan. Bagaimana mungkin pemuda 23 tahun bisa mengatakan bahwa dia jatuh cinta padanya. Bahkan pria yang hampir seumur dengannya baru saja mencampakkannya.

“Zaki, ini nggak lucu. Aku bukan remaja yang mencari cinta monyet. Aku wanita berumur yang hampir berusia kepala empat. Hal yang serius saja begitu menyakitkan. Jangan ajak aku bermain dalam situasi kamu.” Fani melepaskan genggaman tangannya. Berdiri dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya. “Aku harus pulang.”
“Saat ada orang berumur menyatakan cinta, apa kamu menganggap hal itu serius? Apa akhirnya membahagiakan kamu?” Zaki ikut berdiri tepat di hadapan Fani. “Kali ini, jika masih ada air mata lagi, itu akan menjadi kesalahan aku. Aku nggak akan berhenti menyalahkan diri aku. Jika ada kekecewaan, akulah yang mengecewakan kamu. Tapi jika memang harus ada yang ditinggalkan, kamu yang meninggalkan aku karena kamu telah menemukan pria yang lebih layak bersama kamu.”
Zaki mengusap lembut air mata Fani, kemudian menggapai tangannya. “Kita sama-sama menembus waktu. Remajakan hidup kamu, aku dewasakan pikiranku.” Zaki mendekati wajah Fani hingga akhirnya bibir mereka bertemu. Fani yang tidak berdaya menahan pesona Zaki, membalas lembut ciuman itu. Hanya ada mereka di cafe itu.

Fani mendapatkan hari-hari yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Menjalani kehidupan bersama Zaki, 180 derajat telah merubah keadaan hati Fani. Dia merasa telah jatuh cinta pada Zaki. Bahkan ia merasa malu karena kadang tingkahnya seperti remaja yang kasmaran.

Siang ini mereka janjian untuk bertemu. Zaki sudah berada di parkiran dengan mobilnya, menunggu Fani keluar dari kantor. Saat melihat mobil Zaki, Fani tersenyum senang. Ia tahu akan mengalami hal yang menyenangkan jika bersama Zaki.

“Kita mau ke mana?” Tanya Fani langsung ketika masuk mobil.
“Pakai seatbelt, kamu nikmatin aja perjalanan ini.” Zaki menyalakan mobil dan mereka berangkat menuju ke sebuah tempat, salah satu tempat favorit Zaki.

Setelah menempuh perjalanan kira-kira 2 jam, akhirnya mereka tiba di tempat yang dituju. Berada di pelosok pedesaan yang asri dan sepi, berdiri sebuah bangunan tua yang indah dan megah. Gedung bekas penjajahan Belanda, masyarakat menyebutnya Gedung Vesture. Zaki menggandeng tangan Fani berjalan mendekati gedung itu.

“Kamu banyak tau tempat-tempat sunyi.” Ujar Fani, tanpa bisa menutupi raut wajahnya yang terpesona oleh bangunan yang ada di hadapannya.
“Bangunan ini indah. Usia pun nggak bisa menelan keindahannya.” Zaki menarik Fani ke pelukannya. “Bahkan orang-orang rela menempuh jalan yang jauh, demi melihat karya indah ini, dan ternyata semua pengorbanan itu pantas dan terbayar.” Zaki mengecup rambut Fani.
“Kamu itu seperti mixer. Ngacak-ngacak hati aku.” Fani melihat dalam-dalam mata Zaki. Ia masih susah untuk percaya bisa berada dalam pelukan lelaki muda dan tampan ini.

Hari ini, Zaki kembali menjemput Fani di kantor. Begitu banyak pegawai di kantornya mengatakan hal-hal yang tidak menyenangkan. Fani diam saja dan tidak banyak merespon.

“Kamu udah terlalu putus asa ya, Fan? Sampai-sampai macarin laki-laki yang harusnya seumur sama anak kamu.” Begitu salah satu komentar mereka. Fani hanya tersenyum, dengan ramah merespon.
“Selagi Tuhan memberi aku kesempatan untuk merasa bahagia, kenapa aku sia-siakan? Dia bukan pacar orang, bukan suami orang, bukan teroris, jadi apa aku melakukan kesalahan?” Ia pergi dan menemui Zaki yang dengan setia menunggunya di parkiran.
“Aku mau merayakan 6 bulan hari bahagia kita.” Begitu kata Zaki ketika Fani bertanya kenapa membawanya ke mall.
“Tapi di sana banyak orang.” Fani mencoba menerangkan bahwa dia sedikit keberatan.
“Nggak ada salahnya. Kita kan nggak mau ganggu orang. Jangan pedulikan orang yang nggak ada sangkut pautnya dengan hidup kita.” Zaki berusaha menenangkan Fani, ia genggam erat tangan Fani. Hingga mereka tiba di Mall.

Ternyata apa yang dibayangkan Fani benar. Semua orang memperhatikan mereka. Ada yang memberi tatapan sirik, ada yang mencibir, ada yang melihat dengan tampang prihatin. Sebenarnya Fani tidak kuat lagi, namun karena Zaki terlihat tidak peduli dengan mereka dan seolah tanpa beban terus merangkul Fani, Fani pun serasa mendapat kekuatan.

Zaki membawa Fani ke sebuah resto masakan Cina. Tempat yang sangat ramai dan semakin membuat Fani was-was. Ia sempat berpikir bagaimana jika ada keluarganya di sini dan bagaimana ia harus menjelaskan. Tapi syukurlah karena Zaki memesan tempat privasi, di dalam sebuah ruangan yang hanya ada dua buah meja. Karena meja yang satunya tidak ada orang, berarti hanya ada mereka berdua di dalam ruangan itu.

“Aku harus ke luar kota selama dua hari. Mungkin tiga. Jangan kangen aku, ya?” ujar Zaki seraya menyuap makanannya. Mereka berdua duduk berhadapan. Fani hanya tersenyum. Sudah biasa Zaki pergi ke luar kota.
“Kalau aku kangen gimana?”
“Pejamkan mata kamu, ingat kenangan-kenangan indah kita.” Zaki menyuapi makanan pada Fani.
“Kalau aku malah tambah kangen gimana?” Zaki terdiam sejenak. Kemudian bangkit dari duduknya, dan duduk kembali tepat di sebelah Fani.
“Mana hape kamu?” Fani memberi handphonenya pada Zaki. “Senyuuummm.” Zaki memotret dirinya dan Fani yang ia rangkul. “Kalau kamu tambah kangen, lihat foto ini. Lihat betapa bahagianya kita.” Fani mengangguk dan mengecup pipi Zaki.

Saat selesai makan dan keluar dari privasi room, seorang gadis dan lelaki mendekati Zaki dan Fani. Meski terlihat terkejut, Zaki berusaha untuk tersenyum ramah.

“Hai Zak, udah lama kita nggak ketemu.” Zaki menyalami kedua temannya.
“Tante kamu, ya?” Tanya si gadis. Raut wajah Fani langsung berubah. Ia hanya tertunduk malu. Namun, Zaki dengan cepat merangkulnya.
“Bukan, dia pacar aku.” Kedua teman Zaki tidak dapat menyembunyikan keterkejutan mereka. Namun tanpa komando, mereka menjauh.

Fani melepaskan rangkulan Zaki dengan kesal. Ia berjalan cepat mendahului Zaki. Zaki mengejar.

“Kamu kenapa?” Tanya Zaki. Mereka beridiri di sudut mall yang tidak terlalu banyak orang.
“Kamu nggak tahu rasanya dianggap sebagai orang yang nggak pantas di sisi kamu.” Jawab Fani kesal.
“Siapa yang menganggap begitu?” Tanya Zaki sabar.
“Semua orang! Semua tatapan mereka bicara begitu!” Emosi Fani pecah. Ia menangis.
“Yang menjalankan hubungan ini kita, Fan. Jadi yang berhak merasa apa aku atau kamu pantas saling memiliki, hanya kita berdua.” Zaki memegang bahu Fani, dan menariknya ke pelukan.

Fani mengajak bertemu Zaki di cafe Xian The Low setelah tiga hari tidak bertemu karena Zaki keluar kota. Mereka tidak pernah lagi ke sana sejak pertama kali. Zaki mengira Fani mengajaknya bertemu di tempat itu karena ingin mengenang kenangan mereka bertemu.

“Aku dijodohkan.” Begitu kalimat pertama yang keluar dari mulut Fani. Ia menunduk, tidak berani menatap ke arah Zaki.
“Sudah ketemu sama orangnya?” setelah beberapa menit diam, Zaki bertanya. Ia tidak dapat menyembunyikan perasaan sedihnya.
“Kemarin.” Jawab Fani singkat.
“Baik?”
“Baik.”
“Sudah kerja? Usia?” Zaki terus bertanya, menatap lekat pada Fani yang hanya tertunduk.
“Pengusaha, duda 42 tahun.” Suara Fani mulai bergetar.
“Tanggalnya sudah ditetapkan?” Zaki terus menghujamnya dengan pertanyaan. Dan Fani terus terang menjawab.
“Lamaran bulan depan.”
“Kalau memang dia baik, dan kamu merasa tidak ada yang salah, kamu akan bahagia dengan dia.”

Begitu komentar tulus dari Zaki. Tapi kuping Fani panas mendengarnya. Bagaimana mungkin lelaki yang mengaku sangat mencitainya berkomentar begitu, seolah dia sudah tidak ada perasaan lagi.

“Kenapa kamu bilang gitu? Harusnya kamu kecewa! Mencegah aku!” Fani dengan matanya yang berkaca-kaca menatap Zaki penuh kekecewaan.
“Aku nggak berhak mencegah kebahagiaan kamu, meskipun aku kecewa.” Ujar Zaki pelan dan tulus.
“Hah! Tahu darimana kamu kalau aku akan bahagia? Kamu tahu siapa yang aku cinta!”
“Kalau dengan aku, kamu nggak akan tahu akhirnya bagaimana.” Ucap Zaki dingin. Fani menggeleng kecewa.
“Kalau kamu tahu akhirnya nggak akan jelas, kenapa kamu mengajak aku memulai hubungan ini?”
“Untuk buat kamu bahagia.”
“Hanya untuk batas waktu tertentu?” Tanya Fani terluka.
“Nggak!” Jawab Zaki tegas. “Kamu akan lebih bahagia nantinya. Itu janji aku, di sini, 6 bulan yang lalu. Sampai kamu menemukan seseorang yang layak untuk kamu.” Mendengar kalimat terakhir Zaki, Fani berdiri dan berlari meninggalkannya.
Selepas perginya Fani, Zaki masih duduk di meja sudut cafe, memandang ke arah danau, meneteskan air matanya yang telah lama hilang itu.

6 bulan berlalu.
Fani sudah menikah dan tengah hamil. Zaki tahu kehidupan Fani bahagia dan baik-baik saja. Dia tidak pernah sehari pun luput dari kabar tentang Fani, dari siapapun, dari manapun. Seperti hari-hari biasanya, sejak Fani meninggalkannya, Zaki duduk di meja cafe Xian The Low yang kini telah menjadi miliknya itu. Hal yang mengagetkannya, seorang wanita cantik yang tengah hamil 3 bulan, menghampirinya di meja itu. Fani. Di wajahnya berseri-seri rona kebahagiaan.

“Kamu bahagia?” Tanya Zaki. Fani mengangguk. Zaki tidak bisa berbohong bahwa dia sangat senang Fani datang menemuinya.
“Kalau nggak ketemu kamu, aku nggak akan pernah tahu arti bahagia itu. Terima kasih telah mengajarkan aku banyak hal, Zaki. Telah mengajakku menembus waktu. Membuatku percaya pada diriku lagi. Kamu perlu tahu, kamu adalah kebahagiaan terbesar yang pernah aku miliki. Aku percaya, kamu akan segera menemukan kebahagiaan kamu.” Ujar Fani dengan senyuman penuh ketulusan.
“Aku sudah menemukan kebahagiaan itu, Fani. Melihat kamu bahagia adalah kebahagiaan terbesarku.” Fani terharu dan meneteskan air mata. Zaki mengecup lembut punggung tangannya. Fani meninggalkan cafe itu dengan senyum lebar di wajahnya.

Aku bahagia, Fani. Karena sesungguhnya, lelaki yang kamu nikahi itu adalah diriku yang menembus waktu.
Ingat, Tuhan memiliki banyak cara untuk menyatukan 2 umat manusia.

Cerpen Karangan: Dhea CLP
Blog: seputarinfodunia.blogspot.com

Cerpen Menembus Waktu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Juliet

Oleh:
Untuk kesekian kalinya perselisihan sengit antara sepasang kekasih yang berbeda sekolah. Arga di SMA Khatulistiwa yang merupakan sekolah menengah atas keempat baginya sedang Naya masih di SMA Mentari yang

Salah Ngasih Bikin Jatuh Hati

Oleh:
Pagi yang cerah memberi mentari sinar yang menyengat. sinar mentari yang membuatmu bersinar di tengah lapangan. tawamu seakan menghusir kesepian yang kurasa. namun kau hanya kutatap dari luar jendela

Geography Couple (Miss You)

Oleh:
Hai semuanya. Pertama-tama marilah kita panjatkan puji kepada Tuhan, eh sepertinya gak usah lah ya. Perkenalkan nama ku Nara, Kwon Nara. Kalian boleh memanggilku Nara Cantik, Nara imut, pokoknya

Aku Mulai Panik

Oleh:
Oke sebelum gue cerita tentang hal yang gak penting ini gue mau ngenalin diri gue dulu, ya siapa tahu aja ada cewek jomblo yang kepincut dengan nama gue. Nama

Apa Itu Artinya

Oleh:
Sore hari di rumahku, aku Hana penggemar berat Kimbum. Aku siswi kelas X di SMA nusantara. Aku adalah anak tunggal. Sore itu aku lagi asyik dengerin musik K-pop kesukaanku,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

16 responses to “Menembus Waktu”

  1. Ahmus says:

    Bagus banget cerpennya, ,
    gak nyangka sebelumnya jika akhrnya begitu…
    I like it..

    • Dhea says:

      waw, thankyou. sy sudah lama tdk buka cerpenmu.com dan sangat kaget melihat respon pembaca thd cerpen saya. terimakasih banyak atas apresiasinya.

  2. nia ai says:

    keren ceritanya, Endingnya ga ketebak.
    Feelnya dapet banget. Good Job. terus berkarya ya ^^

  3. Sarah Amalia says:

    Keren banget! nggak nyangka dengan endingnya…

  4. Keren banget!!! 🙂 Top banget sama ceritanya… Dari segi bahasa juga keren. Terus berkarya ya!!!

  5. Rara says:

    Goosebumps in the end of the story ..
    Cerpennyaa kereen ..

  6. ucie says:

    Bagus banget sederhana…tp ending nya g nyangka buat melow…

  7. Maeve says:

    Penulisan cerpennya bagus, alurnya dapat.
    Tapi sudah banyak film yang beredar seperti itu, novel-novel juga banyak…Coba ntn “Time Travel”

    Tetap semangat yahh!!! ^^

  8. Purnama says:

    Bagus Cerpen nya. Walaupun sad ending

  9. helmi rizkia putri says:

    Indah sekali :’) sampai nangis aku bacanya :”
    Nice;) tetap berkarya! Kami menunggu hasil karyamu yg lain 🙂 good job kakak;;)

  10. Fauza says:

    Bagus, sy bkn pcinta genre cerpen gini,
    Tapi feelnya dapet, sy yg tadinya
    Cba cari celah bwt di kritik malah kbawa k critanya.
    Btw, misterinya kerasa, endingnya bisa diartikan bnyk hal.
    5* deh

  11. Muhammad Aldino says:

    Astaga cerpennya bagus banget

  12. Dimas Misbachul Ichsan says:

    Jujur, cerpen ini membosankan di tengah ceritanya. Bahasanya kurang bergam dan masih terlalu banyak penjelasan di ceritanya. Saran saya langsung to the point saja, agar waktu membaca para pembaca tidak terbuang sia-sia. temanya sangat bagus, hanya itu yang mungkin perlu dikoreksi. Terus Semangat!!!!!!

  13. Urip Widodo says:

    Mbak Dhea, saya suka sekali bagian awal cerpennya dan maaf sebelumnya, karena tanpa sepengetahuan mbak, penggalan tersebut saya pakai jadi sumber inspirasi dalam menulis lirik. Sebagai bentuk tanggung jawab saya, ijinkan saya menshare lagu yang inspirasinya dari cerpen karya Mbak Dhea.

    “Simpan Sudah Tangis Itu”
    [OST. Cerpen Menembus Waktu]

    Lagu/Lirik: Urip Widodo
    Vokal/Gitar: Urip Widodo

    [VERSE]
    Kau termenung di ujung jalan
    Sayu tatap wajahmu
    Terperangah dalam penyesalan
    Berderai air matamu

    [PRE-CHORUS]
    Takkan mengapa bila kau hilang arah
    Dalam pencarianmu
    Karena sesungguhnya kau telah temukan
    Jalan lain di hidupmu

    [CHORUS]
    Simpan sudah tangis itu
    Genggam tanganku, jangan bersedih
    Kudengarkan s’gala derita
    Hingga kau lelap dan lepaskan semua pedih

    [VERSE]
    Jika mungkin aku kembali
    Memutar waktu untukmu
    Hingga takkan pernah kembali
    Sayat luka jiwamu

    CHORUS
    INTERLUDE

    [BRIDGE]
    Melangkahlah,
    Meski aku tak s’lalu di sampingmu
    Tertawalah,
    Meski dunia tak bersamamu

    CHORUS (2x)
    CODA

    Sedati, 26.10.2015
    07.06 A.M.

    Link lagu:
    https://soundcloud.com/urip-widodo/simpan-sudah-tangis-itu-ost-cerpen-menembus-waktu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *