Menunggu Hingga Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Pengorbanan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 20 October 2014

Hari ini, hujan turun lagi..
Akhir-akhir ini memang sedang terjadi musim penghujan di kota Semarang. Hampir setiap hari, kota Semarang selalu basah karena hujan yang bisa tiba-tiba saja turun tanpa pertanda.

Hari sudah larut malam, hujan turun sangat deras malam ini, sehingga membuat sebagian daerah di Semarang pun tergenang air. Toko-toko dan usaha-usaha lain di pinggir jalan pun sudah tutup, jalanan pun tampak lengang. Sementara, seorang gadis cantik yang diketahui bernama Niki itu malah masih duduk-duduk di pelataran gedung bioskop sambil menyaksikan deraian hujan. Gadis ini memang sengaja tak ingin pulang karena ia masih ingin menunggu temannya yang sejak awal mengajaknya untuk menonton bioskop. Tapi, orang yang ia tunggu belum juga datang sejak tadi, sejak awal film yang akan mereka tonton dimulai, hingga film itu berakhir dan hingga saat ini bioskop itu sudah tutup sejak satu jam yang lalu. Tetap saja tidak ada tanda-tanda dari Dean, teman dekatnya sejak SMA; orang yang selalu Niki tunggu. Bagi Niki, menunggu Dean tanpa ada kepastian yang jelas seperti ini dan menunggunya hingga berlama-lama seperti ini pun sudah sangat biasa baginya.

Sebenarnya, Niki bisa saja menunggu Dean lebih lama lagi dari ini. Tapi, karena malam itu hujan turun sangat deras dan dapat dipastikan hujan seperti ini tidak akan reda. Niki pun putus asa dan memutuskan untuk pulang dan saat itu juga saat Niki hendak pulang, tidak seperti biasanya Niki lupa membawa payung, itu berarti pertanda bahwa Niki harus tetap pulang walau ia harus rela basah-basahan karena hujan. Ya mau tidak mau, Niki nekat pulang dengan berjalan kaki agar bisa sampai ke rumahnya, ia harus rela menerobos kegelapan, merasakan dinginnya angin malam yang begitu kencang merasuk raganya dan membiarkan seluruh tubuhnya basah kuyup karena kehujanan.

Niki sedang duduk-duduk di samping perpustakaan kampus.
“Haatttchiii…” Niki tiba-tiba bersin.
“Nih ada tisu.” Ucap seseorang yang tiba-tiba datang dan suaranya sudah tak asing lagi di telinga Niki, yap itu adalah suara Dean yang tiba-tiba menyodorkan tisu pada Niki dan kini pria itu duduk di samping Niki.
“Makasih De.” Ucap Niki sambil mengosok-gosokkan hidungnya dengan tisu.
“Iya sama-sama. Oh iya Nik, maaf ya kemaren kita gak jadi nonton soalnya kemaren aku…” Dean memanjangkan ucapannya sambil mencari-cari alasan yang tepat.
“Kemarin kamu gak bisa datang karena pergi sama Fika kan? Mahasiswa baru anak fakultas ekonomi itu kan? Iya aku tau kok.” Ucap Niki sepertinya tau betul.
“Iya, kok kamu tau sih?” Dean terlihat gugup mendengar jawaban dari Niki.
“Kemarin aku lihat kok. Kenapa sih kamu gak ngabarin aku kalo emang saat itu kamu gak bisa datang? Jadi, aku kan gak perlu nunggu kamu lama.”
“Iya maaf, handphone aku tiba-tiba lowbat jadi gak bisa hubungin kamu. Maaf ya. Emang kamu nunggu aku sampe berapa lama?”
“Oh ya udah gak papa. Aku tuh nungguin kamu dari jam janjian kita, dari jam 3 sore sampe jam 10 malam. Kamu sih ditungguin gak ada kabar eh ternyata malah jalan sama cewek itu.”
“Ya maaf. Terus semalam kamu pulang naik apa? Jangan bilang kamu hujan-hujanan deh semalam makanya sekarang kamu sakit gini, kan?” Dean mencoba menebak.
“Kalo iya emang kenapa? Lagian aku gak papa, Dean. Aku cuma sedikit flu doang, nanti juga sembuh sendiri kok.” Jawab Niki seperti menyepelekan.
“Kamu tuh ya kebiasaan suka nyepelein.” Tiba-tiba Dean menyentuh kening Niki. “Tuh kan, badan kamu panas. Kamu demam ya?” Niki lalu melepaskan tangan Dean dari keningnya. “Aku gak papa, Dean.” Tegas Niki sekali lagi.
“Emang kemarin kamu gak bawa payung apa sampe kamu harus hujan-hujanan?” tanya Dean.
“Enggak. Aku lupa.” Jawab Niki singkat.
“Semalam itu hujan deras, Nik. Terus kenapa kamu gak naik angkot atau taksi sih? Kan setidaknya kamu bisa lebih aman, Nik.” Ucap Dean seperti mengintrogasi Niki.
“Malem-malem mau nyari angkutan umum dimana, lagipula lebih sehat jalan kaki kan daripada naik angkot atau taksi yang justru buang-buang uang?” jawab Niki lagi seperti tidak mau kalah.
“Lebih sehat kata kamu? Percuma juga kalo kamu jalan kaki sambil hujan-hujanan yang ada malah bikin sakit tau gak. Lagipula kalo kamu naik angkutan umum, kamu jadi gak bakal kehujanan dan gak bakalan sakit. Kamu ngerti gak sih?” kata Dean dengan nada membentak.
“Iya aku tau. Tapi, kamu kan tau sendiri rumah aku deket sama bioskop tempat kita janjian kemarin itu jadi ya apa salahnya aku jalan kaki. Ya udah lah gak usah dibahas lagi.” Ucap Niki seakan menghentikan pembicaraan. Lalu, hening.

Baru beberapa saat setelah pulang kampus, Niki mendengar handphone nya berdering, ternyata itu adalah pesan singkat dari Dean.

“Nik, kamu masih sakit? Bisa gak kita ketemuan sekarang di Café deket kampus? Aku tunggu, ya.”

Begitu selesai membaca pesan dari Dean, Niki menyempatkan diri untuk membalas sms Dean itu, lalu ia segera bergegas keluar mencari taksi untuk mengantarkannya bertemu Dean. Walaupun sebenarnya, Niki masih tidak enak badan, tapi demi Dean, Niki selalu tidak punya alasan untuk bilang tidak.

Hari itu, hujan turun lagi. Saat Niki sedang dalam perjalanan, tanpa diduga-duga jalanan macet. Niki tak mau membuat Dean menunggu lama. Tanpa pikir panjang, Niki segera saja meninggalkan taksi itu dan memilih untuk meneruskan berjalan kaki untuk sampai disana. Walaupun diluar sedang gemiris, Niki rela berjalan kaki dengan jarak yang lumayan jauh tanpa memperdulikan lagi kondisi badannya yang sedang sakit, kini justru malah membiarkan rintikkan hujan itu menerpa badannya yang panas itu.

“Dean, maaf ya udah bikin kamu nunggu lama, tadi di rumah aku hujan deras terus pas naik taksi jalanan malah macet, akhirnya aku nerusin jalan kaki untuk sampe disini. Maaf ya.” Ucap Niki yang baru saja datang lalu menarik kursi untuk duduk di bangku depan Dean. Dan kini, keduanya berhadap-hadapan.
“Kamu kemana aja sih? Aku nungguin kamu lama banget tau gak. Bukannya biasanya kamu selalu tepat waktu ya?” ucap Dean marah-marah pada Niki.
“Iya aku tau kamu nunggu lama, makanya aku minta maaf. Aku kan tadi udah jelasin sama kamu. Di luar lagi hujan dan tadi pas aku naik taksi jalanan macet, makanya aku nerusin jalan kaki sampe sini. Apa masih kurang jelas, De?” balas Niki dengan nada sedikit membentak.
“Tapi, aku capek nungguin kamu lama. Aku bosen. Aku capek.” Ucap Dean mempertegas ucapannya.
“Iya aku minta maaf. Tapi, berapa lama sih aku bikin kamu nunggu? Toh, kamu sendiri kan yang tadi sms aku, kamu bilang, kamu akan tunggu aku. Tapi, nyatanya sekarang baru sebentar aja kamu nunggu aku, kamu udah marah-marah gini. Paling juga baru 20 menit kan? Baru juga sekali kamu nunggu 20 menit, kamu udah marah-marah kayak gini sama aku. Gimana dengan aku yang setiap hari kamu janjiin ketemuan dan aku selalu setia nunggu kamu berjam-berjam, berlama-lama tanpa ada kepastian kapan kamu datang. Kamu sendiri bahkan gak pernah nepatin janji kamu untuk datang. Kamu juga gak pernah ngehargain penantian aku selama ini ke kamu. Selama ini, setiap aku nunggu kamu lama, apa pernah aku marah-marah sama kamu? Apa pernah aku ngeluh sama kamu ketika aku sudah bosan, ketika aku sudah capek, bahkan ketika aku sedang sakit seperti ini. Aku bahkan tetap menunggu kamu kan, De? Bahkan aku juga gak pernah memperlihatkan betapa capeknya aku, betapa bosannya aku menunggu kamu berjam-jam. Gak pernah kan, De?” tegas Niki yang baru kali ini memperlihatkan kesedihannya pada Dean seperti ini. Dean juga agak terkejut mendengar perkataan Niki barusan, Dean tak tahu harus menjawab apa. Dean hanya diam saja menatap wajah Niki yang kini basah karena hujan dari airmata nya.
“Maaf, De. Baru kali ini aku terlihat serapuh ini di depan kamu. Maaf, untuk kali ini aku gak bisa setegar biasanya dan maaf juga karena hari ini aku emosi sampe-sampe aku ngeluh kayak gini sama kamu. Maaf ya.” Ucap Niki berusaha tegar sambil sesekali menghapus hujan yang membanjiri pelupuk matanya itu.
Digenggamnya tangan Niki. “Gak papa, Nik. Dengan kamu bilang seperti ini, aku jadi tau apa yang kamu rasain selama ini. Maaf, aku tadi juga emosi, sebenernya aku gak bermaksud bikin kamu nangis. Maaf juga ya karena setiap janjian aku selalu aja gak bisa datang, entah itu sibuk, entah kadang aku males untuk datang, entah kadang juga aku malah jalan sama Fika, dan lain-lain. Aku minta maaf ya, Nik.” Ucap Dean seperti merasa bersalah.
“Iya udah lah. Maaf ya kali ini emang aku gak bisa datang tepat waktu, tapi aku gak bohong, De. Aku pun tadi usaha keras supaya aku bisa sampe disini tepat waktu sampe-sampe aku rela turun dari taksi dan rela jalan kaki sampe sini dengan kondisi di luar hujan. Aku juga gak pengen bikin kamu nunggu lama, De.” Ucap Niki perlahan hujan di pelupuk matanya itu mulai mereda.
“Iya, aku percaya kok sama kamu, Nik.”
“Terus, sebenernya kamu mau ngapain ngajak aku kesini?”
“Nih tadi aku sengaja ke apotik buat beliin kamu obat tuh biar kamu cepet sembuh, terus sama ada tissue satu kotak juga tuh buat kamu. Biar kalo kamu lagi di kampus atau di luar rumah gitu kamu bisa bersihkan hidung kamu.” Kata Dean sambil menyodorkan beberapa obat dan satu kotak tissue.
“Kamu tuh ya biar cuek dan suka marah-marah kayak gitu tapi ternyata perhatian juga.” Sindir Niki.
“Aku marah-marah ke kamu kan demi kebaikan kamu juga.”
“Demi kebaikan aku? Ternyata kamu peduli juga ya sama aku, De.” Batin Niki.
“Oh iya, kamu jangan sedih lagi ya. Semarang udah banyak yang banjir karena hujan. Masa iya kamu mau bikin Semarang tambah banjir lagi?” ledek Dean mencoba membuat Niki tertawa.
“Haha enggak kok enggak.”
“Nah gitu dong ketawa kan jadi lebih manis.” Ucap Dean sambil tersenyum. Niki hanya bisa senyum-senyum gak karuan. Padahal dalam hatinya bertanya-bertanya apa maksud dari ucapan Dean barusan.
“Hmm… Nik, mulai sekarang aku janji deh gak bakal bikin kamu nunggu lama lagi. Aku juga janji bakal selalu tepat waktu dan nepatin semua janji-janji aku. Aku juga janji akan datang di setiap kita janjian untuk ketemuan. Aku gak pengen bikin kamu nunggu terlalu lama… lagi.” Ucap Dean sambil menatap mata Niki yang sembab seusai menangis.
“Dean, lebih baik kamu jangan janji-janji kalo memang kamu gak bisa nepatin semuanya. Aku gak mau kamu terpaksa lakuin semuanya karena ucapan aku tadi. Aku gak mau kamu ngasih aku harapan palsu lagi. Aku… aku…” Niki tak tau harus berbicara apalagi pada Dean sehingga ia gugup. Dean langsung menggenggam kedua tangan Niki. “Kamu gak perlu khawatir. Sekarang, orang yang kamu tunggu selama ini udah ada di hadapan kamu. Dia janji akan menepati semua janji-janjinya dan gak akan pernah ninggalin kamu lagi.” Kata Dean meyakinkan Niki. Sementara, mata Niki terus meneteskan gerimis sehingga membuat pipinya sedikit basah.
“Maksud kamu?” tanya Niki tak mengerti. Dean menatap dalam-dalam bola mata Niki yang berwarna kecoklatan itu sambil memantapkan ucapannya, “Aku sayang kamu, Nik.” Niki mendongak, “Dean, kamu bercanda ya?” Dean menggeleng. “Aku sayang kamu, Niki. Apa masih kurang jelas?” Tatapan Dean semakin dalam. “Selama ini ternyata kamu gak peka ya. Masa kamu baru bilang sayangnya sekarang? Aku udah sayang sama kamu sejak dulu, Dean. Hahaha.” Tawa Niki memecahkan gerimis di pelupuk matanya yang sembab, Niki mencoba menghapus gerimis airmata itu. “Aku peka kok, kamu aja yang gak tau. Weee…” Kata Dean sambil menjulurkan lidahnya. “Hahahahaha” gelak tawa keduanya sudah benar-benar memecahkan suasana kesedihan sebelumnya.

Cerpen Karangan: Iyasa Nindya
Blog: iyasalahtingkah.blogspot.com
Terimakasih telah membaca 🙂
Bagi yang ingin tau saya lebih dekat, bisa kontak kesini:
Facebook: Iyasa Nindya atau Iyasa Nindya II
Twitter: @iyasanndya

Cerpen Menunggu Hingga Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Masa SMA Ku

Oleh:
Nama gue Vino. Lengkapnya Vino G. Bastian. Hehehe. Kagak, gue cuma bercanda. Nama lengkap gue sesungguhnya adalah… Jeng jeng jeng… Vinokio. Bukan, bukan. Lengkapnya Vino Pradipta Pinnata. Nama gue

Krayon Keajaiban

Oleh:
Sajakku berhenti, lamunanku terputar kembali tentang warna krayon kehidupan yang pernah beliau berikan. Teringat lima belas tahun silam, aku lahir sebagai peri kecil satu-satunya di gubuk ini, tinggal sebagai

Ketulusan

Oleh:
Saat ini seorang gadis kelas 3 SMP yang bernama Queen sedang tersenyum memandang layar handphonenya, ia baru saja mendapatkan SMS dari Andra, orang yang disukainya. Andra mengirimkan pesan yang

I Hate U Somad (Part 1)

Oleh:
Kenalin nama aye Somad ramdan, aye sekolah kelas 2 SMA. Aye anak pertama dari dua bersaudara. Sekarang aye lagi suka banget sama perempuan cantik di kelas, namanya Anggun. Dari

Nathalie Horsen

Oleh:
Pagi mulai menyapa dengan kicauan burung-burung di belakang kediaman megah milik keluarga horsen. nathalie horsen, gadis berparas cantik yang baru menginjak umur 16 tahun ini terkesan malas untuk bangkit

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *