Menunggumu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Fiksi Penggemar (Fanfiction)
Lolos moderasi pada: 3 February 2017

Mempunyai sahabat karib sejak kecil dan setia sampai sekarang memang membahagiakan bukan selalu ada disaat senang ataupun susah. Itulah yang terjadi pada Aliando Syarief dan Prilly Latuconsina. Mereka bersahabat dari TK dan masih berlanjut sampai sekarang beranjak dewasa. Bersama selama bertahun-tahun, bahkan setiap hari main bersama memang mungkin sudah biasa terlebih lagi rumah mereka yang bersebelahan lebih memudahkan mereka untuk bertemu. Tapi hadirnya cinta dari salah satu sahabat ini memang menyakitinya, terlebih lagi saat yang lainnya cuma menganggapnya sahabat biasa.

‘Ting Tong’ ‘Ting Tong’
Ali menekan beberapa kali bel rumah sahabatnya ini. Tak lama pintu tinggi bercat cokelat itu terbuka, terlihat wanita paruh baya muncul dari balik pintu.

“Loh Ali kenapa ada di sini?” Tanya Ully Mama Prilly kepada sahabat putrinya yang berada di depannya ini
“Ali mau jemput Illy tante. Udah siang takut telat” jawabnya menoleh kearah jam tangan hitam yang melingkar di tangannya lalu menoleh kembali ke arah Ully
“Emangnya Illy gak kasih tahu Ali”
“Kasih tahu apa tante?” Tanya Ali bingung
“Illy kan udah berangkat sama Arbani sejak pagi tadi. Illy gak kasih tahu kamu?”
“Tidak tante Ali tidak tahu! Ya udah Ali berangkat dulu yah tante takut kesiangan” Pamit Ali mencium punggung tangan Ully. Dan beranjak pergi dari rumah mewah itu.
“Hati-hati sayang” Ucap Ully lembut. Dia memang sudah menganggap Ali sebagai anaknya sendiri karena memang ia tidak mempunyai anak laki-laki Prilly dan kakaknya itu berjenis kelamin perempuan. Sudah sejak lama dia mendambakan anak laki-laki tapi masih belum diberikan oleh Tuhan. Tapi semenjak ada Ali dia seperti mempunyai anak laki-laki, yang begitu sangat dia harapkan selama ini.

Ali menaiki sepedanya yang selalu setia menemaninya kemana saja. Dengan segera ia meng gowes pedal sepeda menuju sekolahnya yang berjarak kurang lebih 1 kilo meter.

Prilly. Dia berbeda, sejak seminggu yang lalu dia pacaran dengan Arbani sikap dan sifatnya mulai berbeda pada Ali belakangan ini. Dia seperti menjauh dan seperti orang asing yang baru dikenalnya. Kenapa dengan Prilly? Kemanapun Prilly pergi dia pasti selalu mengabari Ali. Tapi sekarang dia kontek pun Prilly tak pernah menjawabnya. Ada apa sebenarnya dengan Prilly? Apa Ali mempunyai kesalahan padanya? Atau bahkan dia tidak ingin bersahabat atau kenal lagi pada Ali? Beribu-ribu pertanyaan selalu hinggap di pikiran Ali. Selama di perjalanan ia tak luput memikirkan sahabat baiknya itu. Hingga dia sampai di sekolah, pikirannya tetap dihantui beribu-ribu pertanyaan tentang Prilly.

Ali berjalan menyusuri koridor sekolah. Terlihat dari arah kantin Prilly yang sangat bahagia berada disamping Arbani, saling menyuapi makanan satu sama lain, tertawa bersama. Kenapa Ali sakit seperti ini melihat Prilly dengan laki-laki lain. Sungguh sangat menyakitkan.

“Seharusnya aku tidak mempunyai rasa yang lebih pada Prilly, ingat Li Illy itu cuma anggap kamu sahabat gak lebih dari itu. Kamu jangan berharap lebih dari dia, dia sudah bahagia dengan pasangannya sekarang” batin Ali lirih. Dia berjalan ke arah kelasnya dengan rasa sakit yang bersemayam di hatinya melihat Prilly bermesraan dengan Arbani.

Hari menjelang sore Ali tengah duduk di kursi sofa ruang keluarga sambil menonton televisi yang sebenarnya tak sepenuhnya ia tonton. Pikirannya melayang entah kemana, dia melamun sambil bersedekap dada. Tak lama ia pun tersadar dari lamunannya lalu beranjak pergi, tak lupa mematikan televisi yang menyala.

Ali telah duduk di sepedanya. Jalan-jalan sore baik untuk menenangkan pikirannya sekarang. Ia menstandarkan sepedanya di tempat parkir khusus sepeda di taman ini. Udara taman memang sejuk apalagi dengan bunga-bunga yang kebetulan sedang bermekaran sekarang. Ali berjalan santai menyusuri setiap lekuk taman kota ini. Matanya terbelalak melihat seseorang yang ia kenal, dengan segera dia bersembunyi di antara semak-semak supaya tidak ketahuan.

“Arbani? Ngapain dia sama cewek lain? Dia selingkuhin Prilly? Wah dia minta dihajar.” Dengan tak sadar Ali mengepalkan kedua tangannya. Tangannya gatal melihat hal yang dilakukan Arbani, dia menyakiti Prilly walaupun itu tidak secara langsung. Ali segera berlari menuju sepedanya dan meng gowesnya dengan cepat menuju rumah Prilly.

‘Ting Tong’ ‘Ting Tong’
Selama bebepara kali Ali menekan tombol rumah Prilly. Dia menggerak-gerakan kakinya berjalan mondar-mandir seperti setrikaan. Tak lama pintu itu terbuka, keluarlah Prilly dari balik pintu itu.

“Ada apa?” Tanya Prilly mengernyit
“Ly aku mau bicara sesuatu. Itu tadi, aku, itu, aku, aku”
“Bicara yang jelas dong Li kamu dari tadi ngomong itu-aku aja?”
“Itu aku tadi lihat Arbani jalan sama cewek mereka mesra-mesraan” jelas Ali
”APA? Maksud kamu apa sih Li? Arbani gak mungkin lakuin hal itu. Kamu mau coba fitnah dia?” marah Prilly karena tidak rela jika pacarnya dituduh sembarangan.
“Aku serius Illy, aku gak fitnah dia. Ini semua fakta yang aku lihat dengan mata kepala aku sendiri”
“Alah gak usah ngeles deh, kamu emang dari dulu gak pernah suka lihat aku deket sama cowok Ali.”
“Bukannya gak suka Illy aku cuma gak mau lihat kamu disakitin sama cowok”
“Aku tahu kamu mau yang terbaik untuk aku Li tapi kamu jangan terlalu ikut campur dengan hal pribadi aku. Aku yakin Arbani cowok baik buat aku. Dia gak akan mungkin lakuin hal yang kamu bilang”
“Aku serius Ly. Please kamu percaya sama aku”
“Udahlah Ali kamu mendingan pulang. Kamu tega nuduh Arbani selingkuh dibelakang aku.”
“Aku gak nuduh Ly. Ini fakta benar-benar fakta” Ali mengerang frustasi sambil mengacak-acak rambutnya. ”Aku harus bilang apa lagi sama kamu Ly. Yang aku omongin ini fakta sesuai dengan kenyataannya”
“Udahlah aku pusing ngomong sama kamu. Mulai sekarang kamu jangan so care lagi sama aku. Urusin hidup kamu sendiri dan aku urusin hidup aku. Mulai sekarang persahabatan kita putus” marah Prilly membanting pintu dengan keras di hadapan Ali.
“Ly kenapa kamu gak percaya sama aku sih. Kenapa kamu malah percaya sama Bani yang baru saja kamu kenal selama beberapa bulan dibanding aku yang udah bertahun-tahun kamu kenal” lirih Ali menyisir rambutnya dengan sepuluh jari tangannya.

Selama beberapa minggu Prilly sama sekali tak mau berbicara pada Ali. Bahkan Ali sampai melakukan berbagai cara supaya Prilly bisa mempercayainya tapi nihil Prilly sama sekali tak mempercayainya sedikitpun. Entah apa yang sudah Arbani lakukan pada Prilly. Semakin hari Prilly terlihat semakin membenci Ali. Padahal di sini Ali tak salah sedikitpun dia hanya berusaha untuk menyampaikan fakta yang sebenarnya pada Prilly.

Malam ini Prilly dan Arbani akan merayakan hari Anniversary ke 1 bulan mereka. Selama satu jam Prilly sudah menunggu Arbani di cafe yang sudah mereka booking untuk Anniv pertama ini. 2 jam, 3 jam, 4 jam. Prilly masih setia menunggu Arbani di cafe itu sampai akhirnya dia merasa kesal dan pergi dari cafe itu dengan perasaan kecewa. Selama di perjalanan sepertinya sudah tidak ada taksi di tengah malam seperti ini jadi dengan terpaksa dia berjalan kaki untuk pulang. Sampai di taman kota Prilly beristirahat sejenak untuk menghilangkan rasa lelahnya karena berjalan lumayan jauh. Terdengar sepasang suara tawa yang didengarnya. Suara itu? Prilly mengenal suara tawa lelaki itu. Prilly beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah suara itu. Sontak Prilly terkaget melihat Arbani yang sedang bercumbu dengan seorang cewek yang sama sekali tak ia kenal.

“Bani-” teriak Prilly berjalan cepat kearah Arbani dan si cewek itu.

Plakk..
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Arbani. “Oh jadi ini kelakuan kamu? Hah? Aku nunggu kamu selama berjam-jam di cafe tapi kamu malah enak-enakan selingkuh di sini sama cewek cabe kayak gini? Iya?” teriak Prilly matanya memerah karena marah, tangannya mengepal kuat.

“A-Aku bisa jelasin Ly” elak Arbani memegang tangan Prilly. Dengan sekejap Prilly menghempaskan kasar tangan Arbani.
“Gak ada yang perlu dijelasin. Semua yang aku lihat udah jelas. Mulai sekarang kita putus.” tegas Prilly. Dia berlari sekencang mungkin menjauh dari Arbani dan cewek itu.

Brakk.
Suara pintu tertutup sangat keras sampai agak menggema. Prilly menenggelamkan wajahnya di bantal empuknya itu. Isak tangisnya terdengar jelas walaupun tertutup bantal.

“Ali maafin aku. Aku udah salah karena gak percaya sama kamu. Aku malah percaya sama Bani sialan itu. Maaf Li! Aku malu sama kamu karena fakta yang kamu ucapkan itu aku sama sekali tak mempercayainya. Maaf Li, Maaf” isak Prilly sambil melihat fotonya dan juga Ali di figura yang ia taruh di atas nakas.

Selama berhari-hari Prilly jadi gadis pemurung. Ali melihat tingkah aneh Prilly yang dari beberapa hari lalu tidak melihatnya dengan Arbani bahkan ia lebih sering melihat Prilly melamun. Sore ini dia pergi ke rumah Prilly. Menekan bel rumahnya berkali-kali. Ternyata yang membukakan pintu itu adalah tante Ully.

“Tante Illynya ada?” Tanya Ali to the point.
“Illynya gak ada Ali tadi dia pamit mau jalan-jalan katanya. Ali tante mau nanya”
“Nanya apa tante?”
“Sebenarnya ada apa sama Illy. Selama beberapa hari ini tante lihat-lihat dia jadi pemurung, tidak mau makan, terus suka ngurung diri di kamar. Apa yang terjadi sama Illy sayang” jelas Ully. Ali menatap ke bawah. Jadi selama beberapa hari ini bukan cuma dia yang melihat keanehan di diri Prilly ternyata tante Ully juga merasakannya.
Ali menghembuskan nafasnya kasar. “Ali juga tidak tahu tante, selama berminggu-minggu ini Illy gak pernah ngabarin Ali lagi”. Raut sedih terpancar jelas di wajah Ully. “Tapi tenang tante Ali akan usahain untuk bikin Illy ceria lagi kayak dulu” jelas Ali tersenyum
Ully tersenyum simpul. “Tante percaya sama Kamu, bikin Illy ceria kayak dulu lagi yah”
“Pasti tante”

Ully memasuki rumahnya. Ali masih berdiri tak beranjak dari teras rumah Prilly. Tak lama kemudian Ali mengambil sepedanya lalu menggowesnya ke arah tempat yang pasti akan ia atau Prilly kunjungi jika sedang bersedih. Ali menstandarkan sepedanya lalu berjalan ke arah danau yang berada tak jauh dari komplek perumahan mereka. Terlihat Prilly sedang terduduk di bawah pohon besar di samping danau, dia melemparkan batu-batu kecil ke tengah danau.

“Prilly” panggil Ali pelan. Si empunya nama menoleh ke arah datangnya suara. Dia beranjak dari duduknya kemudian seketika memeluk erat tubuh Ali. Prilly mulai terisak di pelukan Ali.
“Hiks. Li maaf. Maafin aku karena aku dulu gak percaya sama omongan kamu yang bilang jika Arbani itu selingkuh. Hiks hiks aku malah marah-marah sama kamu dan percaya sama dia. Dan aku beberapa hari yang lalu lihat dia lagi sama cewek. Ternyata omongan kamu fakta Ali. Aku salah besar karena udah percaya sama cowok kayak dia hiks hiks”
“Udah tenang yah, aku udah maafin kamu sebelum kamu minta maaf. Maafin aku juga karena gak bisa jaga kamu dari cowok kayak Arbani. Kamu mau tahu kenapa aku selalu gak suka lihat kamu deket sama cowok?”
“Apa?” Prilly merenggangkan pelukannya lalu sedikit mendongakkan kepala supaya bisa melihat wajah Ali.
“Karena aku gak mau lihat kamu disakitin kayak gini, gak mau lihat Kamu nangis. Dan karena aku- aku suka sama kamu, aku cinta sama kamu Prilly. Aku udah suka sama kamu dari bertahun-tahun yang lalu tapi! Aku gak berani ungkapin karena aku gak mau ngerusak hubungan persahabatan kita” jelas Ali. Matanya berkaca-kaca mengungkapkan seluruh isi hatinya pada gadis yang dicintainya ini.

Prilly memeluk erat tubuh Ali. Ia semakin terisak dibuatnya. “Maaf karena aku gak bisa peka sama perasaan kamu Li. Aku terlalu egois memikirkan ego aku sendiri. Aku selama ini mencari cowok yang bisa nerima aku tapi aku gak peka jika cowok yang aku cari itu selalu ada di samping aku. Selalu.. Selalu ada disaat aku senang ataupun susah” Prilly mempererat pelukannya. “Aku akan mencoba menerima kamu, membuka hati aku untuk kamu Li. Kamu mau kan bantu aku untuk cinta sama kamu”

“Tentu.” Ali tersenyum kearah Prilly yang melihatnya. Mereka berpelukan diantara sunset yang terbenam memancarkan warna jingga.

Jangan mencari seseorang yang mungkin akan menyakiti kita nanti. Pekalah terhadap seseorang yang ada di sekitar kita. Selalu ada untuk kita, mungkin yang menurut kita itu baik untuk kita gak baik menurut tuhan. Atau bahkan yang menurut kita itu tidak baik untuk kita itu terbaik menurut tuhan. Jadi peka terhadap sesuatu yang ada di sekitar kita.

Cerpen Karangan: Ineu Desiana
Facebook: Ineu Desiana
Haii terima kasih karena sudah berkenan membaca cerpen buatanku. Namaku Ineu Desiana biasa dipanggil Ineu.
Facebook: Ineu Desiana
Email: ineudesiana12[-at-]gmail.com
Semoga kalian juga suka terhadap karya-katyaku selanjutnya. Terima kasih

Cerpen Menunggumu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Awan Tak Bergeming

Oleh:
Cinta duduk dengan santainya di atas rumput hijau yang terbentang luas ini, duduk sendiri tiada yang menemani. Menatap kosong ke arah dengan tatapan yang lirih kadang kala orang yang

The True Love

Oleh:
Hai namaku Ika, kisah cinta ini berawal dari kelas 1 SMA, di SMA Karya Bangsa terdapat 1 cowok yang paling nge-hitz di sekolah, namanya Fery dia adalah kapten tim

Iris (Part 3)

Oleh:
“And I don’t want the world to see me.” Kubanting setir mobilku menuju ke arah yang berlawanan. Menuju rumah sakit. Kenapa aku baru mengingatnya? Kenapa aku baru ingat segalanya

Sleeping Beauty (Part 2)

Oleh:
Promnite akan dimulai satu jam lagi, aku masih duduk mematut di depan kaca dengan bertopang dagu. Memikirkan apa yang akan terjadi setelah promnite nanti. Pasalnya, aku benar-benar menyetujui ide

My First Love is Erica (Part 2)

Oleh:
Adrian berjalan dengan wajah yang lesu dan tertunduk, namun dalam hatinya ia sangat puas bisa membantu temannya bisa dekat dengan cewek yang disuka, meskipun harus merelakan perasaannya sendiri. Sesampainya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Menunggumu”

  1. Nabila says:

    Keren banget ceritanya. bikin baper… 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *