Menunggumu Di Kaki Bromo

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 6 March 2019

Zelo, ini masih sama. Aku masih menunggu saat dimana kita bersama pada hari itu. Saat aku pergi mengunjungi sebuah tempat yang indah dikelilingi beragam bunga edelweis yang bermekaran. Sendu ketika aku menatap ke ufuk timur, kemudian memoto sebuah kemilau cahaya yang terbit dengan sangat mempesona dibalik kabut putih yang dingin itu. Panorama yang melingkar membentuk sunrise yang sangat cantik sekali.

Kemudian, bersama ulasan senyum kerinduan aku mengirimkan gambar sunrise itu melalui akun whatsaap yang kamu miliki. Dengan caption, “salam rinduku untukmu sayang. dari kaki bromo yang sangat indah”.
Dan, hanya menunggu satu jam sembari aku berjalan mendaki menuju ke puncak Bromo, ponselku kemudian berdering memberi kabar jika kamu meneleponku. Sontak, aku pun tersenyum bahagia. Tanpa ragu aku mengangkat telepon darimu.

“Suatu hari nanti kita akan bersama-sama mendaki ke kaki Bromo itu sayang. Kita akan menikmati sunrise yang sangat indah”.
“Aku akan selalu menunggu dan pasti akan tetap menunggunya sayang. Aku merindukanmu, sampai bertemu di Bandung”.
Sehingga, dihari itu menjadi hari yang sangat berharga dan paling menyenangkan di dalam hidupku. Memiliki seorang kekasih yang sangat begitu tampan serta perhatian, seperti yang kudambakan selama ini.

TETAPI…
DI 1 MINGGU KEMUDIAN

Kalimat apakah yang harus kuuntai dimalam minggu ini. Kalimat apakah yang harus kukirimkan lagi kepadamu, agar kamu mengerti bahwa aku begitu sangat rindu.

Aku telah kembali ke kota kembang ini, tapi kamu seketika berubah drastis bukan kekasihku yang kukenal dulu. Kamu tiba-tiba tak acuh dan selalu saja berkata sibuk jika aku berusaha menghubungimu.
Aku mengerti Zelo, kita masih dalam ikatan berumur jagung. Masih 1 bulan menjalani kisah cinta berpacaran.

“Apakah kamu benar-benar sibuk?”
Entahlah, kalimat itu yang selalu kutanyakan kepada diriku.

HINGGA 1 MINGGU BERLALU
Hai Zelo kekasihku, aku masih menuggumu di kamarku. Menunggu kehadiranmu yang datang ke rumahku untuk mencari tahu bagaimana kabarku.
Aku masih menunggu kamu, Zelo kekasihku yang pengertian selalu. Apakah kamu tahu Zelo, walau sudah 1 minggu semenjak aku kembali ke kota Bandung, kami tidak ada mengunjungiku dan begitu cuek denganku, namun karena cinta ini aku senantiasa berfikir positif tentang kamu.

Namun,
bagaimana jika aku mulai jenuh?. Aku hanya punya satu cara Zelo, sepertinya untuk sementara inu aku harus pergi dari otakku yang terus galau memkirkan kamu.
Sembari menunggu, apakah kamu akan mencari keberadaanku, jika aku sementara pergi dari hidupmu.

AKHIR WEEKEND
Tidak bisa kuungkiri, kegilaanku dalam mendaki gunung memang tidak dapat kutinggalkan.

Hufffff,
tinggal menunggu 3 hari lagi, maka aku akan melepas statusku sebagai mahasiswi dengan gelar baru Sarjana Pendidikan.
Selagi menunggu kepergianku ke Malaysia guna melanjutkan sekolah magister Sejarahku, aku mengajak Desi sahabat terbaikku untuk mendaki kaki gunung Bromo bersama.

“Apa yang membuat kamu sangat ingin mendaki ke Bromo ini Fel?”
“Karena tempat ini adalah janji terakhir Zelo kepadaku sebelum dia pergi menghilang begitu saja”
“Kamu masih merindukan kekasihmu yang jahat itu?”.
Mendengar pernyataan Desi, aku hanya bisa melepas senyim tipis, dan melanjutkan kembali pendakian menuju puncak Bromo yang paling atas.

I LOVE YOU FELIA HANIFAH
Aku terkejut…

“Fel, kenapa ada nama kamu di sini?”

Sebuah batu tersusun rapi dan sangat indah membentuk namaku, tepat di puncak kaki Bromo.

“Apakah ini bagian dari rencanamu Des?”

Aku masih kikuk dan bingung entah perihal apa yang terjadi pagi ini di kaki gunung Bromo.
“Apakah ini untukku Des”. Aku bertanya kepada Desi dengan wajah bingung.

5 MENIT KEMUDIAN
“Iya ini untuk kamu Feli”
Sontak, mendengar suara yang cukup familiar itu pun, aku memalingkan wajahku ke belakang. Dan ini semua ternyata adalah surprise dari Zelo untukku. Namun apa dayaku, bibirku seketika terdiam, bungkam, tak mengutarakan sepatah katapun. Melihatnya yang kembali muncul, membuat hatiku ingin rasanya meronta menunjukkan amarah kepadanya. Bukan hanya itu, jikalau memandangnya kembali, rasanya aku ingin memukul pundaknya berulang kali sembari melepaskan amarahku.
‘Darimana saja kamu selama ini Zelo?. Kenapa kamu pergi begitu saja tanpa pamit. Aku sangat mengkhawatirkanmu, apakah kamu tahu itu?’, ucapku dalam diam dan menangis.
Zelo perlahan berjalan mendekatiku. Masih seperti semula, dia terlihat tampan dengan postur tubuhnya yang tinggi tegap mengenakan jacket kulit coklat, sepatu gunung, gazebo hitam dan syal merah yang melingkar di lehernya.

“Maafkan aku Feli”
“Apakah kamu tahu. Jika setiap waktu aku selalu merindukanmu?”.
“Aku tahu itu. Itulah sebabnya aku datang menemuimu di sini, memenuhi janjiku untuk mendaki bersama kamu di kaki gunung bromo ini. Feli, terimakasih telah datang dan ingat dengan janjiku”
“Tapi mengapa saat itu kamu mengacuhkanku?”

Bersama senyumnya yang manis dan tulus, Zelo melepas syal merahnya dan kemudian mendekatiku seraya mengikatkan syal merah miliknya di leherku. Tertera indah, di syal merah tersebut bertuliskan kalimat “ZELO UNTUK FELI”.

“Saat akan menemuimu, aku mengalami kecelakaan. Dan koma. Setelah sadar dari koma, selama satu bulan aku tidak dapat berjalan dan harus melakukan fisiotraphy rutin agar kembali normal.
Disaat itulah, aku tidak ingin kamu tahu, karena aku tidak ingin membuat kamu sedih. Justru disaat itu aku ingin sembuh dan kemudian dapat mewujudkan mimpi kita untuk bisa mendaki bersama di kaki gunung Bromo ini. Feli, aku mencintaimu”.
“Aku juga mencintaimu Zelo”.

Dan di atas kaki gunung Bromo, bersama Desi dan juga Zelo, aku berhasil menikmati indahnya sunrise kedua di kaki Bromo ini. Dengan di sampingku adalah Zelo kekasihku yang menggandeng lengan tangaku penuh cinta dan kehangatan.

TAMAT

Cerpen Karangan: Aisyah Nur Hanifah
Blog / Facebook: Aisyah Nur Hanifah (Nur)

Cerpen Menunggumu Di Kaki Bromo merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Precious Chocholate

Oleh:
Langit mulai berwarna, Matahari sudah mulai tersenyum, aku bergegas dan bersiap untuk segera pergi ke tempat kerjaku, aku bekerja disebuah toko cokelat bernama “Precious Chocholate”, disana aku menjadi pelayan

Pangeranku Tanpa Sayap

Oleh:
Angin bertiup kencang. Langit kelabu. Daun-daun gugur berhamburan. Pohon-pohon bambu bergoyang. Ada suara seperti memanggil-manggil dari jauh. Tak lama kemudian hilang ditelan angin. Lalu guntur di langit seketika bergemuruh.

Nina Dika

Oleh:
“Aku tidak terlalu tergesa gesa, sebab kau tidak lagi menungguku di pinggir jalan.” “Kita adalah rindu yang disembelih waktu” kata lelaki itu, seraya tengadah menatap langit senja sore ini.

Cincin Putih

Oleh:
Senja mulai datang, bersama rintikan hujan yang sepertinya sudah paham betul tentang hati ini yang sedih. Dengan ditemani iringan lagu sendu, seakan-akan membuatku mengingat kenangan tempo lalu. Semenjak aku

You’re Sky, I’m Earth

Oleh:
Kau langit yang tak mungkin tersentuh oleh gapaian tanganku Di sini, bumi, tempatku berpijak Hanya berandai-andai setiap menatapmu Kau yang jauh di sana Akankah bisa bersatu? Nya, lihatlah ke

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *